
Sehari sebelum acara sakral itu digelar, Rafika mengadakan siraman di rumahnya. Dengan memakai baju bunga melati dan kain jarik, dia dimandikan dengan air dari tujuh sumber air yang berbeda oleh keluarga terdekatnya. Prosesi ini bertujuan agar menyucikan calon mempelai wanita secara lahir dan batin.
Setelah acara siraman, barulah keesokan harinya digelar pesta pernikahan paling meriah di kampungnya. Wa Enok sengaja menyewa gedung balai desa untuk acara resepsi pernikahannya. Sementara untuk akad nikahnya digelar di mesjid yang berdekatan dengan balai desa.
Semua nampak bahagia. Apalagi sebelum ke tempat resepsi, pengantin naik kuda renggong terlebih dahulu. Tidak tanggung-tanggung, ada sepuluh kuda yang akan membawa pengantin dan juga pengiring serta orang tua dan anak-anak ke tempat acara pernikahan.
"Biar aku yang menaikkan Fika ke kuda," ucap Erlangga saat saudara Rafika akan membantu pengantin wanita naik.
"Oh, iya silakan, A!"
Erlangga pun langsung membantu Rafika naik ke atas kuda. Beruntung gadis itu tidak memakai kain jarik tetapi gaun pengantin dengan atasnya kebaya modern. Barulah nanti, saat akan akad nikah dia berganti baju kembali.
Suara musik tanji menjadi pengiring kuda renggong menuju ke lokasi. Erlangga yang menaiki kuda di sebelah Rafika, terus saja tersenyum dengan melirik ke arah kekasih hatinya. Dia sangat bahagia akhirnya bisa bersama dengan gadis yang dicintainya.
Fika beda sekali kalau berdandan. Aku hampir saja tidak mengenalinya kalau tadi tidak mendengar suaranya, mungkin aku akan mengira kamu orang lain. Fika, kamu seperti mutiara dalam lumpur, batin Erlangga.
Sesampainya di mesjid tempat acara akad nikah, Erlangga langsung menghadap penghulu yang sudah menunggunya. Mendadak dia menjadi gugup berhadapan dengan Pak Penghulu. Apalagi, Aki Anja sudah duduk dengan menatapnya lekat.
"Ananda Erlangga Bramantyo, apakah Anda sudah siap" tanya Pak Penghulu.
"Siap, Pak!" sahut Erlangga.
"Pak Anja, apa sudah siap jadi wali?"
"Siap!"
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu mari kita mulai acaranya dengan mengucapkan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim."
Pak penghulu pun mengajari dulu Aki Anja dan Erlangga dalam mengucapkan ijab kabul agar tidak terjadi kesalahan. Setelah semuanya mengerti, Aki Anja pun mulai mengucap ijab kabul dengan lancar.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Ananda Erlangga Bramantyo dengan cucuku Rafika Qatrunada binti Bagas Wardhana dengan maskawin emas murni seberat dua kilogram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rafika Qatrunada binti Bagas Wardhana dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi apakah sah?"
__ADS_1
"Sah ...."
"Alhamdulillah." Pak penghulu pun langsung berdoa untuk kebaikan kedua pengantin.
Namun, baru saja semua yang hadir mengucapkan kata aamiin, terlihat ada orang tua yang datang tergesa-gesa dengan seorang wanita cantik dan anak laki-laki yang sedikit mirip dengan Erlangga.
"HENTIKAN SEMUANYA! PERNIKAHAN INI TIDAK SAH KARENA TANPA PERSETUJUANKU," teriak Tuan Ageng.
Mendengar ada yang ingin mengacaukan pesta pernikahan cucunya, Aki Anja langsung berdiri dari duduknya. Dia langsung menghampiri Tuan Ageng yang berdiri di ambang pintu mesjid.
"Siapa kamu? Kenapa membuat keributan di tempat ibadah?" tanya Aki Anja dengan mendorong dada Tuan Ageng agar keluar.
Tuan Ageng hampir terjatuh mendapatkan dorongan dari Aki Anja. Untung saja Leon sigap menangkap tubuh kakeknya dari belakang. Sehingga Tuan Ageng langsung berdiri tegak lagi.
"Kang Anja?" Tuan Ageng sangat terkejut saat melihat orang yang telah mendorongnya. "Kanga Anja masih hidup? Bagiamana kabar Kang Arya?"
"Siapa kamu, kenapa mengenali aku dan kakakku?" tanya Aki Anja heran karena dia merasa tidak mengenali orang yang akan membuat kekacauan di acara pernikahan cucunya.
"Aku Ageng, Kang. Prajurit yang pernah Kang Anja dan Kang Arya tolong waktu dikepung penjajah saat agresi dulu. Saya tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Akang."
"Tapi saya selalu ingat dengan jawara yang pernah menolong saya beberapa kali. Saya ingin berterima kasih tapi selalu tidak sempat," ungkap Tuan Ageng.
"Kakek, belum terlambat jika Kakek ingin berterima kasih. Asalkan Kakek merestui aku dan cucunya Aki Anja menikah, mungkin itu sudah mewakili ungkapan terima kasih Kakek," ucap Erlangga yang segera keluar menghampiri Kakeknya, setelah dia dan Rafika selesai menandatangani dokumen yang diperlukan.
"Maksud kamu?" tanya Tuan Ageng.
"Fika itu cucunya Aki Anja. Baru saja Aki menikahkan aku dan Fika. Apa sekarang Kakek ingin menghancurkan pernikahan kami?" tanya Erlangga dengan menggenggam erat istrinya.
"Ja-jadi gadis itu cucu Kang Anja?" tanya Tuan Ageng mendadak gagap.
"Iya, Fika memang cucuku. Berani kamu menganggu cucuku, maka kamu berhadapan denganku," ancam Aki Anja.
"Ti-tidak Kang. Kalau saja, saya tahu dari awal, mungkin saya langsung menyetujui hubungan mereka. Saya senang bisa berbesanan dengan Akang."
Mana mungkin aku berani berhadapan dengan Kang Anja dan Kakaknya. Kompeni yang begitu banyaknya saja bisa dia kecoh dan ilmu pamacan yang dimilikinya itu tidak bisa aku ragukan, batin Tuan Ageng.
__ADS_1
"Bagus! Kita yang sudah tua begini, jangan terlalu banyak mengatur anak muda. Biarkan mereka menemukan pilihannya sendiri. Kita hanya perlu mengawasi dan memberi petuah jika jalan yang mereka ambil tidak sesuai dengan norma," ucap Aki Anja dengan merangkul Tuan Ageng.
"Tapi kenapa Akang tinggal di kampung ini? Bukankah dulu pas Akang menolongku jauh dari sini?" tanya Tuan Ageng heran.
"Waktu masih muda aku memang berkelana dengan Kang Arya. Tapi setelah bertemu dengan istriku, aku memilih untuk menetap di sini. Begitupun dengan Kang Arya."
Kedua kakek tua itu akhirnya asyik bercerita dan berbagi cerita hidup yang mereka jalani setelah peperangan itu terjadi. Sementara Erlangga dan Rafika akhirnya bisa bernapas dengan lega. Kedua pengantin baru itu merasa senang karena akhirnya, batu sandungan yang begitu besar bisa mereka singkirkan.
"Fika, ternyata keluargaku banyak berhutang pada keluargamu," ucap Erlangga di sela-sela menerima ucapan selamat dari kerabat yang datang.
"Tidak ada hutang piutang dalam hal tolong menolong. Karena itu kewajiban kita semua sebagai makhluk Tuhan."
"Aku sangat bangga bisa menikah dengan gadis yang luar biasa seperti kamu," ucap Erlangga dengan menatap lekat istrinya.
"Aduh, Elang. Jangan lihatin terus Fika-nya. Nanti kamu gak kuat loh pengen cepat-cepat masuk kamar," goda Helen yang baru naik ke pelaminan untuk memberi selamat.
"Bisa aja nih Kak Helen," ucap Erlangga tersenyum ramah.
"Selamat ya buat kalian, semoga langgeng, sakinah, mawadah warahmah."
"Makasih, Mbak Helen!" ujar Rafika.
"Bagaimana, apa sudah dibeli baju saringan minyaknya?" bisik Helen.
"Hehehe ... Udah, Mbak." Rafika tersenyum malu-malu menjawab pertanyaan dari seniornya.
Setelah berfoto bersama, Helen pun turun kembali. Dia menghampiri Calvin yang sedang duduk sendiri seraya melihat ke arah pelaminan. Dia menepuk pundak adiknya yang tidak menyadari kedatangannya.
"Calvin, Elang sudah berkeluarga. Sudah waktunya kamu juga mencari pasangan. Jangan terus terpaku pada masa lalu. Tidak semua gadis yang mendekatimu hanya karena ingin memanfaatkan kamu."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1