Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 78 Kiran Jatuh


__ADS_3

Semakin hari hubungan Calvin dan Kiranti semakin mesra. Kini mereka tidak segan untuk menunjukkannya di depan umum. Bahkan di hadapan karyawan Rivers pun, mereka sudah tidak menutupinya lagi. Namun, bagi orang-orang yang merasa iri, hal itu membuat ego mereka merasa terinjak-injak.


"Kiran, memang benar kamu menikah dengan Pak Calvin karena kebobolan?" tanya Audy, rekan kerja Kiranti.


"Siapa yang bilang? Aku aja belum hamil. Bagaimana aku bisa kebobolan?" tanya Kiranti heran.


"Katanya kamu gugurkan, karena malu."


"Astaga! Siapa yang sudah membuat gosip seperti itu? Kalau kamu ingin tahu lebih jelas, coba tanya Mbak Helen."


"Selvi yang bilang. Dia bilang, kamu dan Fika sengaja menjebak Pak Bos dan Pak Calvin agar mereka menikahi kalian. Kita salut loh, kalian pakai cara kotor seperti itu."


"Ya ampun! Kalian kalau bergosip yang benar saja. Aku bilang sama Bang Calvin kalau kalian menggosipkan aku seperti itu," ancam Kiranti.


"Kamu aji mumpung ya, mentang-mentang sudah jadi istri assisten-nya bos. Apa-apa mau ngadu," cibir Audy.


"Kiran kamu kenapa? Kayaknya kesal gitu," tanya Helen yang baru datang ke ruangannya.


"Nggak, Mbak. Mereka hanya menggosipkan aku yang tidak-tidak. Kalian tuh berani ganggu aku karena Fika tidak masuk kerja. Coba kalau Fika masuk kerja, kalian tidak akan dikasih ampun sama dia. Bisa-bisa, kalian dikeluarkan dari sini."


Audy hanya pergi begitu saja mendengar ucapan Kiranti. Karena memang, mereka tidak berani mengusik gadis itu saat bersama dengan sahabatnya.


"Kiran, kamu jangan dengarkan omongan mereka. Biarkan saja, mereka mau bicara apa. Kamu hanya perlu fokus pada pekerjaan," ucap Helen.


"Tapi mereka memang keterlaluan. Kayaknya, dari mulai aku dan Fika masuk ke sini, selalu ada aja yang dipermasalahkan."


"Itu karena kehadiran kalian berdua terlalu mencolok. Apalagi Fika, dari awal masuk dia tidak segan menentang Elang. Ternyata mereka memang sudah memiliki hubungan sebelum Fika datang ke sini."


Setelah Helen merasa cukup menasehati adik iparnya, dia pun kembali bekerja. Meninggalkan Kiranti dengan bibir yang dia majukan. Tanpa disadarinya, Calvin sudah berdiri di belakang istrinya.


"Kenapa cemberut?" tanya Calvin dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak apa. Bang, aku mau keluar kerja boleh? Atau aku pindah bagian saja. Aku risih selalu jadi bahan gosip mereka," keluh Kiranti.


"Siapa yang sudah berani menggosipkan kamu. Memangnya mereka tidak tahu kalau kamu istri Abang?"


"Tahulah, aku sebel pokoknya." Kiranti merajuk. Dia langsung pergi meninggalkan Calvin yang bengong melihatnya.


Laki-laki itu pun segera menyusul istrinya yang pergi ke toilet. Namun, dia mampir dulu ke tempat kakaknya sebentar. Saat Kiranti akan masuk ke dalam toilet, dia bertemu dengan Selvi. Kiranti pun langsung menegur teman kerjanya itu.


"Hei Selvi, yang benar saja kalau bikin gosip. Kamu tuh seenaknya saja fitnah aku. Siapa yang menikah karena kebobolan? Apa mungkin itu kamu, tapi kamu malu mengakuinya sehingga melimpahkan hal itu ke orang lain?" Kiranti mendorong sebelah bahu Selvi karena dia sangat kesal pada temannya itu


"Aku gak gosip. Emang benar kan kalau kamu nikah dadakan dengan Pak Calvin? Kalau tidak kebobolan, alasan apa lagi yang mau kamu pakai?" Selvi pun mendorong balik Kiranti dengan kuat, sehingga Kiranti terpeleset karena lantainya baru saja di pel. Membuat dia jatuh terduduk, sehingga perut dan bokongnya terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Awww ... perutku sakit sekali," keluh Kiranti dengan memegang perutnya.


"Cih! Alasan saja. Masa segitu saja sakit?" Selvi langsung berlalu pergi meninggalkan Kiranti seorang diri.


Tidak berapa lama kemudian Calvin datang menyusul istrinya ke toilet. "Kiran, kamu tidak apa-apa?" tanya Calvin yang memang sengaja mengikuti istrinya. "Astaga, Kiran. Ada darah di kaki kamu," panik Calvin.


"Perutku sakit, Bang."


"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Calvin langsung menggendong istrinya.


Kiranti menangis dalam gendongan Calvin karena tidak kuat menahan sakitnya. Sementara Calvin berusaha tenang dengan apa yang terjadi pada istrinya. Meskipun sebenarnya dia sangat panik karena melihat darah yang terus keluar dari pangkal paha istrinya.


Ya Tuhan, tolong istriku. Apa mungkin, darah itu ....


Calvin hanya terdiam dengan menahan sakit hatinya melihat Kiranti terus menangis kesakitan. Dia langsung menuju ke mobilnya dan menuju ke rumah sakit.


"Pak tolong percepat mobilnya!" pinta Calvin pada Pa Supir.


"Baik, Bos!" sahut supir.


Saat dia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ponselnya berbunyi. Terlihat nama Elang di layar ponselnya. Dia pun segera mengangkat panggilan telepon dari Erlangga.


"Hallo Elang," ucap Calvin saat sudah tersambung.


"Aku mau ke rumah sakit. Tadi Kiran terpeleset dan keluar darah dari pahanya," ucap Calvin dengan suara yang bergetar.


"Apa? Bagaimana bisa? Aku menyusul ke sana."


Klik!


Erlangga langsung menutup ponselnya. Dia bergegas turun ke bawah dan menuju ke parkiran. Tidak lupa dia menjemput dulu Rafika sebelum pergi ke rumah sakit.


"Sayang, bangun!" ucap Erlangga membangunkan istrinya yang sedang tidur siang. Semenjak masa ngidam yang moody, Rafika akhirnya pergi bekerja sesuka hatinya. Apalagi ibu hamil itu bawaannya mengantuk terus membuat dia tidak bisa konsentrasi untuk bekerja.


"Aa kenapa sudah pulang? Katanya mau ke pusat," tanya Rafika dengan mengucek matanya.


"Aa tidak jadi ke pusat. Kiran jatuh dan sekarang dibawa ke rumah sakit."


"Apa? Jatuh? Kenapa bisa jatuh?" tanya Rafika kaget.


"Aa juga tidak tahu. Makanya Aa ke sini mau mengajak kamu menjenguk Kiran. Nanti tidak Aa kasih tahu, kamu marah."


"Hehehe ... Aa memang yang the best. Aku mandi dulu, badannya keringetan."

__ADS_1


Astaga lagi buru-buru malah mau mandi dulu. Tapi kalau diburu-buru pasti Fika kesal, batin Erlangga.


"Sayang, mandinya jangan lama ya!" pesan Erlangga.


"Iya, A. Aku sebentar aja kho!"


Benar saja apa uang dikatakan oleh Rafika. Dia pun memakai jurus mandi kadal. Hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit, dia sudah berpakaian rapi dan siap berangkat ke rumah sakit. Erlangga hanya tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya.


"Ayo, A. Aku sudah siap. Aku bilang ke bibi dulu untuk menyiapkan keperluan Kiran."


"Aa sudah menyuruh bibi untuk ikut. Siapa tahu, tenaganya dibutuhkan di sana."


"Oh, ya sudah. Ayo kita berangkat A!"


Mereka pun langsung menuju ke rumah sakit tempat Kiranti dirawat. Terlihat di sana Calvin sedang menunggu di depan pintu ruang IGD. Dia sangat murung khawatir dengan keadaan istrinya.


"Calvin, bagaimana keadaan Kiran?" tanya Erlangga saat sudah di depan sahabatnya.


"Elang, anakku tidak bisa diselamatkan. Sekarang dokter sedang menyiapkan ruang operasi. Kiran harus dikuret," jawab Calvin sendu.


"Apa? Ja-jadi Kiran hamil?" tanya Rafika yang terlihat syok mendengar penuturan suami sahabatnya.


"Iya, ternyata dia sedang hamil muda. Tapi karena dua jatuh terduduk, membuat Kiran harus keguguran."


"Bagaimana dia bisa jatuh? Kejadiannya bagaimana Calvin? Aku harus mengusutnya. Aku tidak mau terjadi lagi pada karyawan lain," tanya Erlangga kaget.


"Aku menemukan dia jatuh terduduk di depan toilet perempuan. Mungkin lantainya licin karena habis dipel, sehingga dia terjatuh. Tadinya dia mengeluh teman kerjanya menggosipkan dia terus."


"Tidak bisa dibiarkan, aku harus bikin peraturan ketat soal buliying di perusahaan ku. Siapa pun yang menjadi penyebab Kiran keguguran, aku akan memecatnya."


"Paling Selvi and the genk. Dari awal aku masuk ke situ, mereka tidak suka sama aku dan Kiran. Karena kami hanya orang desa dan berpakaian sederhana. Tidak seperti mereka anak-anak marketing yang selalu berpenampilan modis," celetuk Rafika. "Kalau Aa mau pecat orang, pecat saja mereka semua. Aku gak suka sama mereka karena suka menyindirku dan Kiran."


"Baik, Aa pasti akan memecat mereka. Tinggal buka lowongan, posisi mereka pasti ada yang mengisi lagi," ucap Erlangga langsung menyetujui keinginan Rafika.


"Elang tidak usah semua. Kamu pecat yang jadi sumber masalahnya saja. Biasanya mereka akan kapok kalau salah satu temannya kena PHK."


"Nanggung amat sih, Bang. Pecat saja semua yang sudah menggosipkan Kiran dan Aku. Beres kan?


Beres apanya, Fika. Harus ngajarin lagi anak baru itu prosesnya lumayan lama, batin Calvin.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih ...


__ADS_2