Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 54 Dihadang Penguntit


__ADS_3

Rencana awal Erlangga akan pulang ke rumah besar untuk membereskan barang-barangnya, tetapi dia urungkan. Saat tahu Rafika mendapatkan bullyan dari teman kerjanya. Dia menyuruh Calvin yang membereskan barang-barang untuk dibawa ke Cikarang.


Brak!


Erlangga langsung membanting pintu apartemennya. Dia pikir, Rafika sudah pulang kerja karena hari sudah sore. Namun, orang yang dicarinya ternyata tidak ada di apartemen. Dia pun segera menghubungi ponsel Rafika.


"Hallo, Fika. Lagi di mana?" tanya Erlangga degan tergesa saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Aku lagi di kontrakan Baim, nganter Kiran. Kenapa, A?"


"Cepat pulang! Aa sudah sampai di apartemen."


"Iya-iya, katanya gak pulang."


"Gak jadi. Tunggu di sana ya, jangan ke mana-mana. Aa jemput!"


"Iya, Akang. Kenapa sih panik banget?"


Astaga! Dia masih tanya kenapa? Padahal aku panik karena mikirin dia, batin Erlangga.


"Aa tutup dulu ya!"


Klik!


Erlangga langsung menutup sambungan teleponnya, tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari calon istrinya. Dia bergegas menuju ke kontrakan Rafika yang dulu.


Sesampainya, terlihat Rafika dan Kiranti sedang berbincang dengan penghuni kontrakan yang lain. Mereka terlihat begitu akrab dengan teman laki-laki yang tinggal di sana. Erlangga langsung menghampiri Rafika dan merangkul bahu gadis itu.


"Eh, Akang sudah sampai? Kho gak terdengar suara mobilnya?" tanya Rafika kaget saat ada seseorang yang merangkulnya dari belakang.


"Mobilnya gak masuk, tadi ada yang bongkar pasir di depan," jawab Erlangga dengan melihat satu per satu teman laki-laki Rafika.


"Oh, iya Bro. Kenalin calon suamiku, Kang Asep." Rafika tersenyum bangga di depan teman SMA-nya.


"Wah, jadi juga Fik sama Kang Asep. Kirain dulu Kang Asep itu hanya cerita khayalan kamu," goda Edo. Dia langsung tersenyum pada Erlangga karena memang dia sudah mengenal laki-laki yang dikenalkan oleh temannya itu.


"Enak saja cerita khayalan, ganteng kan? Awas loh kalau ada yang naksir, tak bejek-bejek jadi perkedel."


Erlangga yang tadinya kesal melihat Rafika bersama dengan teman laki-lakinya. Seketika berubah senang dengan apa yang Rafika katakan. Wajah suramnya langsung berubah jadi bersahabat pada teman-teman calon istrinya.


"Santai aja, Fika. Masa iya terong makan terong. Mending juga dibikin balado. Iya gak guys?" Baim langsung menanggapi ucapan Rafika.

__ADS_1


"Iya benar, Fika. Salam kenal Kang Asep, saya Zaenal."


"Oh, iya saya Baim, Kang."


"Saya Edo dan ini temanku yang sibuk chatting namanya Ali Topan. Kalau nama aslinya sih Rojali," ucap Edo cekikikan.


"Saya sudah tahu nama kamu, bukankah kita bekerja di tempat yang sama?" tanya Erlangga. "Saya harap, kamu bisa menjaga calon istriku."


"Fika tidak usah dijaga Kang. Dia kan premannya sekolah kita," celetuk Baim.


"Huh! Baim bongkar-bongkar terus," cibir Rafika


"Sudah yuk pulang! Sudah malam," ajak Erlangga.


"Ya udah, kita pulang dulu ya! Yuk Kiran!"


"Iya, Fika bentar. Kamu duluan aja ke mobil," suruh Kiranti.


Gadis itu tidak langsung mengikuti Rafika tetapi berbicara dulu dengan Baim. Entah apa yang mereka bahas, tapi sepertinya ada hal yang tidak Rafika ketahui tentang Kiranti dan Baim.


"Ada apaan sih, Kiran? Kenapa lama sekali bicara dengan Baim. Apa benar, kamu jadian sama dia?" todong Rafika saat Kiranti sudah duduk di dalam mobil.


"Aku emang jadian sama Baim dari kita masih sekolah," jawab Kiranti.


"Aku takut kamu gak setuju, karena aku tahu kalau kamu selalu bertentangan dengan dia."


"Kamu ada masalah dengan Baim?"


"Aku hanya minta uangku dikembalikan. Meskipun tidak semua. Soalnya lagi butuh. Kemarin Ibu minta uang buat modal tanam padi, tapi Baim gak mau kasih."


"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Erlangga ikut menimpali.


"Lima juta," jawab Kiranti.


"Kenapa tidak bilang sama Akang. Sudah biar dari Akang saja," ucap Erlangga.


"Kalau sama Akang, aku pinjam namanya. Tapi kalau bilang sama Baim, aku mau mengambil uangku yang pernah dia pake."


"Memang, berapa uang yang dia pake?" tanya Rafika semakin penasaran.


"Pastinya aku gak tahu. Karena Baim pinjam uangnya gak sekaligus, tapi dia gak pernah balikin kalau pinjam uang. Sekarang aku lagi butuh. Makanya aku minta sama dia," ungkap Kiranti.

__ADS_1


Kenapa Kiranti mau saja dibodohi oleh laki-laki. Aku yakin kalau pacarnya itu tidak benar-benar mencintainya, batin Erlangga.


Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja ada yang menghadang mobilnya. Sampai saat tiba di jalanan yang sepi dan pencahayaan yang kurang, pengendara motor yang menguntit mereka bisa leluasa melakukan aksinya.


"TURUN!" bentak orang yang memakai kain penutup di wajahnya.


"CEPAT TURUN! KALAU TIDAK MAU AKU RUSAK MOBILNYA."


Rafika akan keluar dari mobil. Namun, Erlangga menahan tangan gadis itu. Dia sudah bersiap untuk memundurkan mobilnya. Akan tetapi, ada mobil yang datang mengepung mereka.


"Shitt! Kita terkepung, kalian tunggu di sini. Biar Akang yang turun," umpat Erlangga seraya mengeluarkan senjata api dari dalam dashboard mobilnya.


Erlangga pun segera keluar dari mobilnya. Dia langsung mengarahkan senjata api itu pada para penjahat. "Apa mau kalian? Aku tidak pernah punya masalah dengan kalian? Apa kalian ingin uang?"


"Cih! Sombong banget orang kaya. Aku tidak punya urusan dengan kamu, tapi dengan gadis itu. Cepat turun!" suruh laki-laki bertopeng itu.


Rafika keluar dari mobil dan melewati Erlangga yang berdiri di samping pintu mobil. Gadis itu terlihat santai, tidak seperti Erlangga yang tegang. Dia duduk di kap mobil dengan menaikkan kedua kakinya seraya mengorek kupingnya yang tidak gatal. Dia lihat satu persatu keempat orang yang ingin menculiknya.


"Apaan sih Bang? Nyari aku segala. Perasaan kita gak kenal deh. Apa Abang mau kenalan sama aku?" Rafika mengibaskan rambut panjangnya dengan menaikturunkan alisnya.


"Abang suka gayamu, Neng. Tapi sayang, Abang harus membawa kamu," ucap salah satu pria bertopeng dengan berjalan mendekat ke arah Rafika.


"Stop! Selangkah saja kamu mendekati calon istriku, aku jamin kepalamu bocor," ancam Erlangga.


"Uh, takut!" ledek laki-laki bertopeng itu.


"Tenang, Kang! Kita tidak tahu mereka mau bawa aku ke mana, apa ke hotel?"


"Iya, hotel bawah tanah. Sudah jangan banyak bacot, ayo kita bawa gadis itu!"


"Tidak semudah itu kalian membawa istriku."Erlangga langsung melepaskan timah panas ke arah penjahat itu, tapi sepertinya bidikan Erlangga tidak tepat sasaran. Penjahat yang menjadi target bidikannya langsung berkelit.


Sial! Kenapa tidak kena? batin Erlangga.


Sementara Rafika langsung menendang orang yang datang mendekat ke arahnya. Dia hanya tersenyum miring seraya menyerang. Gerakannya yang gesit, membuat mereka yang terkena tendengan Rafika terjatuh.


Erlangga pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera membantu calon istrinya. Saat para penjahat itu terdesak, dia segera menjambak rambut salah satu penjahat itu dengan menodongkan senjata api ke arah kepala pria itu.


"Katakan! Siapa yang sudah menyuruhmu?" tanya Erlangga.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2