Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 29 Dipanggil Bos


__ADS_3

Laki-laki dengan sorot mata tajam itu, keluar dari klinik dengan wajah yang suram. Dia terus merutuki dirinya sendiri karena bukan hanya kali ini, dia mati kutu di depan Rafika. Entah sihir apa yang Rafika gunakan sehingga mampu membuat dirinya terkesiap.


"Cai, nanti kamu pulang dengan Darwin saja. Hari ini aku mau lembur," suruh Erlangga setibanya dia di ruangannya.


"Kho lembur sih Kak? Tadi katanya mau sebentar saja di sini. Bukankah kita akan mencari kartu undangan untuk pernikahan kita?"


"Aku sibuk, Cai. Lain kali saja," kilah Erlangga.


"Ck! Kak Elang tuh selalu saja cari alasan. Kita sudah tunangan empat tahun loh, Kak. Bukankah kemarin sudah setuju kita akan menikah bulan akhir tahun ini."


"Kamu bisa urus sendiri, kan? Bukankah kamu yang begitu ingin kita menikah? Makanya kamu urus saja sendiri semua hal yang kamu inginkan. Karena pernikahan itu, atas keinginan kamu dan kakek tua itu."


"Kak Elang nyebelin!! Awas saja, aku akan bilang sama Kakek. Kak Darwin, ayo antar aku pulang!"


Sia-sia aku ikut ke sini. Lebih baik aku main ke apartemen Reno, batin Caithlyn.


Erlangga hanya melihat kepergian Caithlyn begitu saja. Sedikitpun tidak ada niat buat dia mencegah kepergian gadis itu. Apalagi sampai merayunya agat tidak marah kepadanya.


"Calvin, kamu suruh satpam agar menahan gadis itu. Jangan biarkan dia kabur dari sini sebelum bertemu denganku!" suruh Erlangga saat Caithlyn sudah tidak ada di ruangannya.


"Siap, Bos! Tapi kenapa kamu begitu penasaran dengan gadis itu?"


"Tanpa aku jawab pun, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Kenapa kamu tidak bisa memberikan informasi yang akurat tentang gadis itu kepadaku?" Erlangga menatap tajam sahabatnya, dia ingin tahu kejujuran Calvin. Karena Erlangga yakin, kalau sahabatnya itu menyimpan sesuatu yang disembunyikan.


"Jangan melihatku seperti itu, Elang! Aku sudah memberikan semua informasi yang aku tahu tentang Rafika."


"Tapi aku yakin, masih ada hal yang belum kamu beritahukan kepadaku dan aku masih menunggu kejujuran kamu."


"Sudahlah! Aku mau kerja. Lihat, masih banyak berkas yang harus aku lihat!" kelit Calvin.


Sementara di tempat yang berbeda, terlihat Rafika mulai serius dengan pekerjaannya. Tanpa dia sadari, seniornya diam-diam sedang memperhatikan gadis itu. Bukan tanpa sebab dia mendadak diperhatikan. Tapi tadi, seniornya itu tidak sengaja melihat Erlangga bersama dengan Rafika di klinik.


"Fika, kamu ada hubungan apa dengan Pak Elang?" tanya Helen, senior Rafika.

__ADS_1


"Hubungan? Owh, maksud Mbak Helen seperti hubungan atasan dan bawahan gitu?"


"Bukan seperti itu, hubungan yang lebih dekat lagi. Apa kalian berpacaran?" tanya Helen dengan menatap lekat Rafika.


"Hehehe ... Mbak Helen tuh ada-ada saja. Maunya sih gitu, tapi sayang dia sebentar lagi akan menikah. Mana mungkin aku sanggup bersaing dengan model terkenal itu," Rafika tertawa sumbang menjawab pertanyaan seniornya.


"Tapi tadi aku lihat, dia seperti kesal saat kamu meninggalkan dia. Kamu apakan dia?"


"Aku hanya mengambil ponselku yang dia rampas. Memangnya salah ya?"


"Bukan salah, tapi kamu terlalu berani sama dia. Hati-hati Fika! Dia tidak akan melepaskan kamu."


"Bagus dong, Mbak. Biar aku ajak sekalian ke kantor urusan agama kalau dia tidak mau melepaskan aku," ucap Rafika asal.


"Siapa yang mau nikah di KUA? Kamu Fika?" serobot Restu yang tanpa sengaja mendengar obrolan dua orang bawahan itu.


"Eh, Mas Restu. Gak ada kho, Mas. Tadi Mbak Helen curhat, kapan Mas Restu mengajak dia ke KUA," jawab Rafika asal.


"Sudah sudah! Kalian kembali kerja. Ini masih jam kerja loh. Kalian tidak takut dimarahi bos, mengobrol di jam kerja?"


"Iya, Mas. Fika kerja dulu ya! Dah Mbak Helen, jangan ganggu Fika lagi!"


Helen hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar apa yang Rafika katakan. Sementara Restu hanya tersenyum tipis melihat keduanya. Dia tahu kalau Helen menyukainya sedari dulu. Akan tetapi, dia belum bisa memastikan perasaannya pada gadis itu


Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Sampai tidak terasa, siang pun sudah berganti sore. Rafika yang memang sudah menyelesaikan pekerjaannya, segera berkemas, bersiap untuk pulang. Apalagi, dia dan Kiranti berencana untuk pergi ke mall dulu. Membuat kedua gadis itu merapikan riasan wajahnya di kamar mandi.


"Fika, sini aku dandanin! Kamu harus terlihat girly karena kita akan karaoke dulu. Siapa tahu ketemu mister ganteng dan kaya raya," ucap Kiranti.


"Kamu aja yang dandan. Aku males pakai banyak make-up. Cukup pelembab sama bedak tabur aja."


"Ya udah kalau gak mau make-up kayak aku. Kamu pakai lipstik aja, kita samaan warna lipstiknya," rayu Kiranti dengan memaksa gadis itu.


Rafika pun akhirnya menyerah. Dia mengikuti begitu saja keinginan Kiranti. Kedua gadis itu kini terlihat lebih fresh dan bertambah nilai kecantikannya. Mereka dengan penuh percaya diri keluar dari toilet karena sudah terdengar bunyi bel pulang kerja.

__ADS_1


Namun, saat Rafika tiba di mesin absensi, seorang satpam segera menghampirinya. "Mbak Fika, silakan ikut dengan saya. Ada hal yang harus diselesaikan," ucap Satpam itu.


"Hal apa ya, Pak? Perasaan aku gak bikin masalah deh." elak Rafika.


"Nanti saja kita bicarakan hal itu. Silakan Mbak ikut dengan saya!"


Rafika hanya bisa mengekor, mengikuti ke mana pun satpam itu membawanya. Sampai akhirnya dia mengerti tujuan satpam itu membawanya.


Gila! Ternyata Kang Amnesia dendam sama aku. Dia sampai menggunakan kekuasaannya agar bisa mengerjai aku, batin Rafika.


Setelah satpam itu mengetuk pintu, terdengar ada suara orang yang menyuruh mereka masuk. Perlahan Satpam itu melongokkan kepalanya ke dalam. "Permisi Pak, saya membawa Mbak Rafika."


"Suruh dia masuk dan kamu boleh kembali bekerja."


"Silakan, Mbak Rafika!" ucap Satpam itu.


Kepalang tanggung, Rafika masuk ke dalam ruangan Erlangga dengan cengengesan. Gadis itu seperti tanpa beban, melangkahkan kakinya mendekati Erlangga.


"Maaf, Bos! Ada apa ya, saya dipanggil ke sini?"


"Duduk!" suruh Erlangga.


Tidak ingin berdebat, Rafika hanya mengikuti apa yang Erlangga katakan. Dia pun segera menarik kursi yang ada di depan meja kerja Erlangga dan segera mendudukinya.


"Pak Bos, ada perlu apa memanggil aku ke mari? Aku kan tidak punya salah. Tadi hanya mengambil apa yang jadi milikku," tanya Rafika.


"Yakin kamu tidak punya salah?" tanya Erlangga dengan menatap lekat wajah Rafika


"Yakinlah, Pak Bos. Lagipula tidak baik loh menyimpan dendam. Lebih baik kita saling memaafkan," cerocos Rafika.


"Tidak semudah itu kamu mendapatkan maaf dariku. Setiap kesalahan harus ada konsekuensinya."


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2