
Mata Rafika membulat sempurna mendengar apa yang Erlangga katakan. Dia tidak menyangka bos galak yang diam-diam dicintainya itu akan mengakuinya sebagai assisten pribadi. Dia ingin menyangkalnya, tetapi Erlangga langsung menarik tangannya keluar dari ruangan itu.
Namun, saat tiba di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. Tentu saja hal itu membuat Rafika menabrak punggung kokohnya. "Leon, kamu selesaikan sisanya. Aku harus pergi, karena ada meeting di kantor pusat. Kamu pulang pakai mobilku, heli aku pakai. Cepat Calvin, kita harus bergegas!"
"Kak Elang tunggu! Aku baru saja sampai, kenapa Kakak langsung pulang?" tanya Caithlyn.
"Aku sibuk Cai. Semua karena sepupumu, sehingga aku harus menyelesaikan masalah yang ada di sini. Kalau kamu ingin ikut pulang bersamaku , ayo!" ajak Erlangga seraya berlalu pergi.
Dia tidak menyadari kalau sedari tadi masih menggenggam tangan Rafika. Sampai akhirnya gadis itu bersuara. "Pak Bos, lepaskanlah tanganku! Haish, kenapa terus menarik aku?"
Rafika terus saja menggerutu sepanjang jalan menuju ke atap gedung. Akan tetapi, Erlangga tidak peduli dengan apa yang Rafika. Dia enggan melepaskan genggaman tangannya.
"Pak Bos, kira-kira dong! Kakimu dan kakiku tidak sama panjangnya. Aku tidak bisa mengimbangi langkah kakimu."
"Berisik, cerewet! Bisa diam tidak? Atau mulutmu ingin aku sumpal?
"Sumpal saja, Pak Bos. Tapi pake uang warna merah jambu satu gepok. Ikhlas lahir batin."
Rafika setengah berlari untuk menyeimbangkan langkah kaki Erlangga yang berjalan cepat. Sampai saat sudah sampai di atap gedung, barulah Erlangga menghentikan langkahnya.
"Fika, bukankah kamu tinggal di Jakarta?" tanya Erlangga.
"Aku sudah kost di Cikarang, Pak Bos. Jadi, lebih baik turunkan saja aku di sana. Aku tidak mau ikut ke Jakarta. Nanti pulangnya pasti kemalaman. Kasian Kiran sendirian," pinta Rafika.
"Baiklah, nanti aku turunkan dulu kamu di River's."
Tumben nih orang bicaranya bener. Biasanya hina aku terus. Dasar Kang Amnesia, dulu saja bilang cinta sama aku. Tapi sekarang malah sering galak sama aku, batin Rafika.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, Caithlyn datang bersama dengan Calvin. Sepertinya model cantik itu memilih pulang agar bersama dengan Erlangga. Kesibukannya dan kesibukan Erlangga, membuat mereka jarang bertemu. Kalau pun bertemu, Erlangga hanya mengajak dia makan malam lalu mengantarnya pulang.
Meskipun mereka sudah bertunangan lama, sedikit pun Erlangga tidak pernah bersikap manis padanya. Apalagi sampai menanyakan kabar beritanya. Laki-laki itu selalu bersikap acuh tak acuh. Andai saja tidak ada dorongan dari mama dan tantenya, mungkin Caithlyn sudah memilih mundur dari perjodohan itu.
"Kak Elang, duduk bersama aku ya!" Caithlyn langsung bergelayut manja di lengan kekar Erlangga dan langsung membawa laki-laki itu menuju ke helikopter.
Rafika hanya tersenyum samar melihat semua itu. Dia semakin yakin untuk melepaskan perasaannya pada cinta pertama yang meninggal dia. Meskipun sebenarnya, dia tidak yakin bisa melakukan semua itu.
Selamat tinggal cinta pertamaku. Terima kasih atas semua kenangan indah yang telah tercipta di antara kita.
...***...
Sebulan sudah Rafika bekerja di perusahaan Erlangga. Sejak hari itu, mereka tidak pernah bertemu lagi karena Erlangga disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga dia tidak bisa setiap saat melihat keadaan pabrik Cikarang. Tentu saja hal itu membuat Rafika menjadi senang. Karena dia tidak usah berhubungan lagi dengan laki-laki yang mampu memporak-porandakan hatinya.
Sampai pada siang itu, saat mentari tepat berada di atas kepala dan waktu sudah menunjukkan angka dua belas. Semua karyawan berhamburan menuju ke kantin untuk makan siang. Tidak terkecuali Rafika dan Kiranti.
Kedua gadis itu berjalan beriringan dengan Rafika merangkul pundak Kiranti. Mereka akan ke cafetaria perusahaan yang tempatnya tidak jauh dari pintu gerbang perusahan. Namun, jika dari tempat mereka bekerja, maka harus keluar gedung.
"Boleh, deh. Aku juga udah jenuh tiap hari bikin laporan penjualan. Lebih baik kita refreshing otak dulu," jawab Kiran yang sedang asyik memainkan ponselnya.
Mereka terus saja berjalan seraya berbincang. Sampai saat keduanya akan keluar gedung office, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Erlangga dan seorang wanita cantik yang bergelayut manja di lengan kekar laki-laki itu. Rafika hanya tersenyum samar melihat kemesraan bos-nya. Dia pun langsung mengajak Kiranti bergegas dari sana.
"Kenapa sih Fika, aku diseret-seret?" tanya Kiranti.
"Gak apa, ayo kita makan. Kayaknya enak kalau makan bakso yang pedas. Yuk Kiran, kita balapan makan bakso pedas! Siapa yang juara, dia yang ditraktir."
"Boleh, siapa takut! Tapi tambah jus ya!"
__ADS_1
"Gak masalah!"
Keduanya pun berlomba memakan bakso pedas. Rafika yang sedang panas hatinya karena melihat kemesraan Erlangga, dia pun menghabiskan bakso yang pedas itu terlebih dahulu.
"Aku menang. Selamat traktir aku, tapi aku ke toilet dulu ya. Perutku sakit," ucap Rafika.
Gadis itu buru-buru masuk kembali ke dalam gedung office. Dia langsung menuju ke toilet yang ada di ruangan marketing dan langsung menangis dengan menutup mulutnya. Hatinya sangat sakit harus menerima kenyataan kalau laki-laki yang dicintainya akan menikah dengan gadis lain.
Meskipun aku berusaha melupakan Kang Asep dan menganggap Pak Erlangga sebagai orang asing. Tapi tetap saja, aku merasa sakit hati saat melihat dia bersama dengan gadis lain. Sudahlah, Fika! Bukankah kamu akan melepaskan perasaan kamu padanya. Kenapa kamu lemah seperti ini? batin Rafika.
Puas menumpahkan semua rasa sakit hatinya, Rafika pun segera membasuh wajahnya berkali-kali. Dia tidak mau jika nanti ada orang tahu kalau dia menangis. Setiap kali dia mengingat kemanjaan Caithlyn pada Erlangga, hatinya selalu terasa teriris. Apalagi saat sebulan lalu pulang dari Eastern Elang Groups, semalaman dia tidak bisa tidur, teringat terus dengan Caithlyn yang bermanja-manja pada Erlangga.
"Fika! Kamu di dalam? Kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa lama sekali ke toiletnya?" cerocos Kiranti yang merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Kiran, kamu duluan saja. Perutku masih sakit," teriak Rafika di dalam bilik toilet.
"Sebentar aku ambilkan minyak kayu putih dulu, agar perut kamu baikan."
Kiranti langsung bergegas menuju ke kubik tempat dia bekerja. Dicarinya minyak kayu putih yang selalu dia simpan di laci mejanya. Setelah mendapatkannya, Kiranti pun bergegas kembali ke toilet untuk menemui Rafika.
"Kiranti tunggu!" pinta Calvin. "Apa kamu melihat Rafika?"
"Dia sedang sakit, Pak. Ini aku mau memberikan minyak kayu putih untuk dia. Memangnya ada apa mencari dia, Pak?" tanya Kiranti heran.
"Kalau dia sudah mendingan, tolong suruh dia ke ruangan bos ya!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....