
Di sinilah sekarang Erlangga, di ruang kerja Tuan Ageng yang terlihat luas dengan beberapa rak buku yang berjejer rapi di sisi kanan ruangan. Sebuah meja kerja di ujung ruangan serta sofa yang empuk berada di tengah-tengah ruangan. Sementara sisi kiri ruangan, terpajang senjata api dari yang berlaras panjang sampai pistol tanpa suara seperti yang dimiliki oleh Erlangga.
"Elang, apa kamu sudah mendengar dengan apa yang terjadi pada perusahaan sekarang?" tanya Tuan Ageng memulai pembicaraan.
"Aku tahu, tapi itu sudah bukan urusan aku lagi. Bukankah sekarang Elang Group menjadi tanggung jawab Leon?" Erlangga bersikap tenang di depan kakeknya.
"Kamu benar, memang Leon yang sekarang bertanggung jawab atas perusahaan. Tapi tindakannya telah menyingung para petinggi perusahaan, sehingga mereka meminta agar Kakek menurunkan dia dari jabatannya dan mengembalikan padamu. Selain itu juga, Leon sudah menggelapkan uang perusahaan sebanyak satu triliun."
"Lalu apa yang akan Kakek lakukan? Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang. Hanya memegang satu perusahaan membuat aku lebih banyak waktu untuk keluarga. Kakek kan tahu kalau sekarang aku dan Calvin sudah sama-sama menikah," tanya Erlangga.
"Kakek tahu, tapi tetap saja Kakek akan meminta kalian untuk kembali memegang Elang Group. Kakek janji tidak akan mengganggu kehidupan pribadi kalian, asalkan kamu kembali pada Elang Group." Tuan Ageng menarik napas sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Elang, kamu kan tahu kalau perusahaan itu peninggalan dari papa kamu. Apa kamu akan membiarkan perusahaan itu hancur di tangan Leon? Leon tidak seluwes kamu dalam mengurus perusahaan. Tindakannya seringkali gegabah."
"Kakek, aku perlu bicara dulu dengan Fika. Karena saat aku memegang Elang Group, sudah pasti banyak waktuku yang tersita untuk pekerjaan. Aku tidak ingin Fika merasa terabaikan jika waku aku bersamanya hanya sedikit," tutur Erlangga.
"Baiklah! Kakek juga akan bicara pada istrimu agar dia bisa mendukung karier suaminya."
"Tidak usah, Kek. Biar aku saja. Aku tidak mau Fika merasa tertekan jika Kakek yang memintanya."
"Ternyata kamu sangat mencintai gadis itu. Sampai kamu takut Kakek akan menekannya. Kamu jangan khawatir, Kakek tidak akan bertindak gegabah pada istri kamu. Karena Kakek sudah tahu siapa istri kamu sebenarnya. Sudahlah, ayo kita makan malam dulu. Pasti yang lain sudah menunggu."
Kedua laki-laki beda generasi itu langsung keluar dari ruang kerja Tuan Ageng. Erlangga mampir sebentar ke ruang bacanya, karena sudah pasti Rafika sedang menunggu di sana.
Benar saja, gadis itu sedang tertidur dengan album foto dalam pelukannya. Erlangga sempat terkejut karena yang Rafika lihat, foto kebersamaannya dengan Felisha saat mereka memakai baju putih abu.
Perlahan dia pun mengambil album itu. Dia hanya tersenyum samar melihat gadis yang dulu pernah sangat dia cintai. Namun sayang, gadis itu memutuskannya sepihak tanpa alasan yang jelas.
Merasa tidurnya terganggu dengan apa yang Erlangga lakukan, Rafika pun membuka matanya perlahan. Dilihatnya Erlangga seperti sedang termenung melihat album foto yang ada di tangan laki-laki itu.
"Itu mantan pacar Aa, ya!" tebak Rafika.
__ADS_1
"Hm ... Dia sudah lewat, sekarang aku sudah memiliki istri yang luar biasa." Erlangga menutup album foto itu dan menyimpan kembali ke rak buku.
"Apa Aa masih mencintainya?" tanya Rafika penasaran.
"Aa hanya mncintai istri Aa satu-satunya. Kalau Aa masih mencintainya, mana mungkin Aa menikah dengan kamu. Sudahlah, kita makan malam yuk! Sudah ditunggu sama yang lain," ajak Erlangga.
"Aku mau ke kamar dulu buat cuci muka," ucap Rafika.
"Untuk apa ke kamar? Di sini juga ada kamar mandi, meskipun tidak besar." Erlangga menunjuk sebuah pintu yang ada di sisi rak buku.
Melihat arah tangan suaminya, Rafika pun langsung berlari ke sana. Tidak butuh waktu lama untuk Rafika mencuci mukanya. Dia segera menemui Erlangga yang setia menunggunya.
"Sini Aa lap dulu mukanya." Erlangga menarik tangan Rafika agar duduk di sebelahnya. Dia pun mulai mengeringkan wajah gadis itu yang terlihat basah.
Rafika hanya diam melihat wajah Erlangga yang sedang serius. Tidak hentinya gadis itu mengagumi wajah tampan suaminya. Sementara Erlangga yang menyadari sedang diperhatikan oleh istrinya, dia langsung tersenyum dan melihat ke arah Rafika.
"Kenapa? Apa Aa sangat tampan?" tanya Erlangga.
"Tampan banget. Sampai-sampai Kiran mengira kalau Aa itu pangeran leuwi."
Erlangga langsung mengecup singkat bibir istrinya. Lagi-lagi dia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Dia merasa gemas melihat ekspresi wajah Rafika yang kaget karena mendapat ciuman mendadak darinya.
"Sudah selesai, ayo kita makan dulu sebelum bekerja!" ajak Erlangga.
"Kerja apa, A? Apa kita kan ke pabrik?"
"Iya, kita akan ke pabrik milik kita berdua."
"Malam-malam begini? Mau inpeksi dadakan anak produksi?"
"Itu bukan kerjaan Aa. Aa mau kerja di pabrik pengolah bayi."
__ADS_1
Lagi-lagi Erlangga tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Dia benar-benar merasa gemas melihat ekspresi wajah Rafika yang cengo. Berbeda dengan Rafika yang kemudian cemberut karena sudah dikerjai oleh suaminya.
"Dasar Kang Asep omes!"
"Omes juga hanya sama istri, bukan sama wanita lain." Erlangga merangkul bahu istrinya seraya berjalan beriringan menuju ke meja makan.
Merlina dan Leon terlihat menampilkan wajah masam, saat Erlangga dan Rafika duduk bersama dengan mereka. Hanya Tuan Ageng yang menyamut hangat cucu dan cucu menantunya.
"Rafika, jangan sungkan pada Kakek. Seandainya dulu Kakek tahu kalau kamu cucu Kang Arya dan Kang Anja, mungkin Kakek tidak akan bersikap tidak baik sama kamu," ucap Tuan Ageng.
"Tidak apa Kek, aku mengerti kenapa Kakek bersikap seperti itu." Rafika tersenyum ramah pada Tuan Ageng. Tapi saat dia melihat ke arah Leon dan Merlina, dia langsung tersenyum kecut pada mereka.
Cih! Dasar cewek kampung! Berasa di atas awan karena sekarang Ayah sudah menyetujui hubungan mereka, batin Merlina.
Meskipun dia selalu jutek, tapi body-nya lumayan juga, aku jadi ingin untuk mencobanya, batin Leon.
Setelah Tuan Ageng memimpin do'a, suasana hening pun menyelimuti meja makan. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Mereka tidak ada yang berani mengeluarkan suara sebelum Tuan Ageng selesai makan.
"Kakek sudah selesai makan, kalian habiskan makanannya! Jangan sampai menyisakan di dalam piring!" pesan Tuan Ageng sebelum dia beranjak pergi.
"A Elang, aku sudah kenyang tapi nasinya masih sisa. Apa harus aku habiskan juga?" tanya Rafika.
"Tidak usah, biar dikasih ke ayam saja. Di belakang rumah Kakek, ada peternakan. Jadi setiap makanan sisa diberikan pada hewan peliharaan," ucap Erlangga.
"Syukurlah!" Rafika mengelus dadanya sendiri.
"Lain kali, tidak boleh ada makanan sisa kalau makan sama Kakek. Ambil makanan secukupnya saja." Erlangga mengelus lembut rambut istrinya.
"Siap, Kang Asep!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
...Terima kasih....