
Benar saja dugaan Erlangga, keesokan harinya Tuan Ageng langsung datang ke Rivers. Dia tidak sabar ingin membicarakan soal pernikahan Erlangga dan Caithlyn. Apalagi keluarga Wijaya terus saja bertanya tentang kelanjutan pertunangan Erlangga dan Caithlyn.
"Elang, kenapa semalam tidak pulang?" tanya Tuan Ageng.
"Semalam tidak enak badan, Kek. Jadinya aku istirahat," kilah Erlangga.
"Bukankah kemarin kamu ke Putra Group, kenapa tidak langsung pulang ke rumah?"
"Di sini masih banyak pekerjaan. Kakek juga tahu kalau aku lebih sering di kantor pusat dibandingkan di sini."
"Iya, Kakek mengerti. Kakek ke sini hanya mau tanya, kapan kamu akan mempersiapkan pernikahan kamu? Sudah empat tahun Elang, Keluarga Wijaya terus saja bertanya pada Kakek. Bagaimana kelanjutan pertunangan kalian?"
"Kakek, kalau dibatalkan saja bagaimana? Aku merasa malas menikah dengan Caithlyn. Kakek bayangkan saja. Dia seorang model, pasti dia merasa enggan untuk punya anak."
Ada benarnya juga apa yang Elang katakan. Aku harus memastikannya dulu, batin Tuan Ageng.
"Kalau kamu bisa membawa seorang gadis dari keturunan yang baik bibit bebet bobotnya, Kakek bisa saja mempertimbangkan usulan kamu. Tapi kalau dalam bulan depan kamu tidak bisa membawanya ke hadapan Kakek, maka mau tidak mau kamu harus menikah dengan Caithlyn."
Kakek tua ini benar-benar kolot. Gadis baik tidak harus karena bibir bebet bobotnya tapi karena hasil didikan orang tua dan lingkungan yang baik, gerutu Erlangga dalam hati.
"Baiklah! Aku setuju. Aku pasti akan membawanya dalam waktu dekat, setelah itu aku ingin Kakek membatalkan rencana pernikahan aku dengan Caithlyn," pinta Erlangga tegas.
Aku ingin tahu, gadis seperti apa yang mampu menggeser posisi Felisha di hati Elang? batin Tuan Ageng
Mereka pun akhirnya membicarakan tentang perkembangan perusahaan baru Erlangga dan masalah yang terjadi di Eastern Elang Group. Sampai akhirnya terdengar suara pintu ada yang mengetuknya.
"Masuk!" suruh Erlangga.
__ADS_1
Terlihat pintu itu ada yang membukanya. Perlahan Rafika pun masuk ke dalam ruangan bosnya itu. Dia sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati bos besarnya yang dia tahu sedang berkunjung.
"Maaf, Tuan. Ruang meeting sudah siap. Apa meeting dengan karyawan sudah bisa dimulai?" tanya Rafika hati-hati. Bukan apa-apa, dia khawatir Tuan Ageng mengenalinya. Apalagi, dia ingat pasal demi pasal perjanjian ibunya dengan Tuan Besar itu. Rasanya tidak mungkin dia membuat Tuan itu marah dan membuat ibunya menderita.
"Sekarang saja, Elang. Kakek sudah mau pulang. Kamu mau membahas soal gathering, kan? Buat karyawan kamu puas agar kinerja mereka lebih baik lagi," serobot Tuan Ageng.
"Baiklah, kalau Kakek mau pulang sekarang. Ayo aku antar sampai depan!"
Selepas mengantar kepergian kakeknya, Erlangga berbalik dan menelisik penampilan Rafika. Dia memiliki rencana agar bisa meyakinkan kakeknya kalau gadis itu adalah gadis yang berkelas. Tapi dia masih berpikir bagaimana caranya membuat penampilan dan pembawaan Rafika agar berubah?
"Bos, jangan melihat aku seperti itu! Aku takut dengan tatapan bos yang seperti singa kelaparan," tegur Rafika dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Erlangga hanya tersenyum miring, dia sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengan gadis itu. "Aku memang lapar, ingin makan kamu!"
"Oh, ya? Memang berani?" Rafika yang tidak mau kalah di ghosting oleh bos-nya. Dia malah menantang balik.
Jantungnya tidak karuan saat tadi Rafika malah menantang balik dengan membusungkan dadanya. Entah kenapa jiwa liar lelakinya seperti terpanggil melihat dada gadis itu yang membusung di depan matanya.
Sementara Rafika hanya tersenyum dalam hati. Saat melihat Erlangga langsung mengalihkan pembicaraan. Dia pun langsung mengikuti langkah kaki Erlangga menuju ke ruang meeting.
Saat sampai di sana, sudah banyak perwakilan dari karyawan dan staf sedang menunggu kedatangan bos besarnya. Mereka langsung berdiri, saat Erlangga memasuki ruangan itu. Rasa segan karyawan pada Erlangga yang tidak banyak bicara dan selalu menjaga jarak dengan para karyawan perempuan membuat mereka tidak ada yang berani pada lelaki itu. Tentu saja selain Rafika, yang memiliki keberanian super duper pada Erlangga.
"Silakan duduk kembali!" suruh Erlangga setelah dia duduk di kursi khusus untuknya.
Setelah melihat semua orang duduk kembali, dia memberi kode pada Calvin agar memulai meeting-nya. Dia hanya mendengar apa yang dijelaskan oleh Calvin dan orang yang ditunjuk sebagai ketua panitia gathering. Setelah cukup mendengarkan apa yang dijelaskan bawahnya, barulah dia mulai menimpali.
"Saya merasa senang melihat antusiasme para karyawan dalam menyambut acara gathering perusahaan. Saya hanya berharap, kita semua bisa menjaga diri dan lingkungan di sekitar acara. Jangan sampai, kehadiran kita membuat tempat yang kita kunjungi menjadi kotor dan tercemar. Untuk mekanisme jalannya acara, silakan koordinasi dengan panitia yang sudah ditunjuk. Apa kalian mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti, Pak!" sahut semua peserta meeting kompak.
Kang Asep beda sekali kalau sudah berbicara dengan karyawannya. Aku sampai terkesima melihatnya. Padahal apa yang dia katakan hanya pesan umum saja. Tapi auranya sangat berbeda-beda, batin Rafika.
Setelah cukup lama mereka berada di ruang meeting, Erlangga pun memilih keluar ruangan dan menyerahkan meeting dilanjutkan oleh panitia acara gathering. Dia kembali ke ruangannya dengan diikuti oleh Rafika dan Calvin. Sementara orang-orang yang berada di ruang meeting itu hanya melihat kepergian Rafika yang terus saja mengekor di belakang Erlangga.
"Keren banget anak baru itu, baru saja bekerja satu bulan tapi sudah bisa menggaet hati bos."
"Tidak usah iri! Mungkin ada hal istimewa yang dimiliki oleh gadis itu sehingga dia bisa meluluhkan hati bos."
"Mungkin saja, dia sudah memberikan tubuhnya pada bos, makanya dia bisa berada di sisi bos terus.
Kiranti yang ikut meeting hanya diam saja mendengarkan apa yang mereka katakan. Sedikit pun dia berniat untuk mengklarifikasi, karena menurutnya akan percuma jika menjelaskan sesuatu tentang kita jika orang itu dari awal sudah tidak menyukai kita. Begitupun dengan orang yang menyukai kita, tanpa kita jelaskan pun perasaan suka itu akan datang dengan sendirinya.
Bukan hanya tubuhnya yang akan Rafika berikan tapi jiwa raganya sudah dia dedikasikan untuk mencintai Pak Erlangga dengan tulus. Aku tahu bagaimana Fika. Dia tidak mudah jatuh cinta, tapi sekalinya hati dia berlabuh pada seorang lelaki, makanya dia akan sulit melepaskan diri dari orang itu, batin Kiranti.
Sementara itu, sesampainya di ruangan, Erlangga kembali menelisik penampilan Rafika. Dia ingin gadis itu tampil berbeda saat nanti di acara malam keakraban karyawan. Dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat sempurna, akhirnya Erlangga pun berbicara.
"Calvin, carikan salon terbaik yang bisa make over penampilan Rafika dari ujung kaki sampai ke ujung rambut."
"Apa Bos? Make over? Untuk apa aku make over?" tanya Rafika kaget.
"Tentu saja agar kamu terlihat cantik dan lebih elegan dari sekarang. Sudah kamu tidak usah protes. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang aku suruh."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....