Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 28 Pura-pura Sakit


__ADS_3

Rafika keluar dari toilet dengan wajah yang memerah. Tentu saja hal itu membuat Kiranti khawatir. Dia takut Rafika sakit karena makan bakso pedas bersamanya.


"Fika, kamu gak apa-apa?" tanya Kiranti panik.


"Gak apa Kiran. Tadi perut aku sakit sekali, tapi sekarang sudah mendingan. Ayo, nanti telat lagi!"


"Ini aku bawa kayu putih," tunjuk Kiranti dengan memperlihatkan pada Rafika.


"Makasih ya!" Rafika langsung mengambil minyak kayu putih yang diberikan oleh Kiranti. Lalu dia langsung mengoleskan ke perutnya. Tidak mungkin dia bilang pada Kiranti kalau sebenarnya dia tidak sakit perut melainkan sakit hati.


"Fika, kalau sudah mendingan disuruh menghadap bos." Kiranti bicara seraya sambil berjalan ke ruangannya.


"Ngapain?"


"Aku gak tahu. Tadi Pak Calvin bilang, kamu suruh ke ruangan bos."


"Bilang saja, aku masih sakit. Tidak bisa konsentrasi. Kamu antar aku ke klinik saja ya!"


"Katanya sudah mendingan?" Kiranti menatap heran sahabatnya.


"Sekarang sakit lagi," kelit Rafika.


Mau tidak mau, Kiranti pun mengikuti apa yang sahabatnya katakan. Namun saat sampai di lobby, mereka berpapasan dengan Darwin yang baru datang setelah makan siang.


"Kalian mau ke mana?" tanya Darwin.


Dug dug dug


Jantung Rafika langsung berdegup lebih kencang dari biasanya. Dia tidak pandai berbohong, karena setiap kali dia berbohong, lawan bicaranya pasti tahu dia sedang akting. Makanya Rafika lebih memilih untuk menghindar.


"Fika sakit, Mas. Mau aku bawa ke klinik. Kami Permisi dulu ya, Mas." Kiranti langsung menjawab pertanyaan Darwin untuk mewakili sahabatnya.


"Iya, Mas. Aku istirahat sebentar ya!" ucap Rafika dengan wajah melas.


"Ya sudah kalau mau istirahat gak apa. Nanti kalau parah, bilang saja ya! Biar Mas antar ke rumah sakit." Darwin menahan tawa di hatinya melihat Rafika yang terlihat melas.

__ADS_1


Astaga malah didoain parah lagi, batin Rafika.


"Iya, Mas tenang saja! Kalau begitu kami permisi, Mas." Kiranti langsung berpamitan dan membawa Rafika menuju ke Klinik yang berada di gedung terpisah dengan gedung tempat dia bekerja.


Sementara Darwin hanya melihat kepergian dua gadis itu. Dia selalu teringat dengan adiknya setiap kali melihat Rafika dengan kekonyolannya.


"Fika Fika, kamu dan Daisy sebelas dua belas," gumam Darwin seraya berlalu pergi menuju ke ruangan Erlangga. Tadi dia ditelpon agar menemui bosnya itu selepas jam makan siang.


Sampai di ruangan Erlangga, nampak di sana Erlangga sedang duduk di kursi kebesarannya, sementara Caithlyn duduk di sofa sedang berselancar di dunia maya, sedangkan Calvin sibuk dengan tumpukkan berkas yang sedang dia pilah sebelum diberikan pada Erlangga untuk diperiksa


"Siang Bos, sudah lama tidak ke sini. Aku pikir, kamu lupa dengan perusahaan ini," ucap Darwin seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Mana mungkin aku lupa. Aku hanya tidak sempat untuk ke sini. Mana anak buah kamu yang jorok itu?" tanya Erlangga.


"Siapa maksud kamu?'


"Rafika."


"Oh, dia sedang sakit. Tadi bertemu saat dia mau ke klinik."


"Sakit apa?" Erlangga menatap lekat ke arah sahabatnya.


"Mau kasih dia hadiah, karena dia bisa mencapai target penjualan. Padahal dia masih baru di sini."


"Gak rugi kan merekrut dia. Dulu aja kamu keberatan saat dia diterima di sini. Padahal HRD itu punya penglihatan yang tajam saat menilai orang yang kompeten atau tidak," celetuk Calvin yang sedari tadi diam.


"Maksud kalian, Rafika itu cewek norak yang bulan lalu ikut ke Eastern?"


"Iya!" sahut Calvin.


"Bukankah dia baik-baik saja. Tadi saja berpapasan di lobby saat kita baru sampai di sini. Kak Elang, sepertinya karyawan kamu itu sedang membodohi kamu." Caithlyn langsung saja memprovokasi Erlangga.


Hal itu sukses membuat laki-laki bertubuh tegap dengan rahang yang tegas itu, langsung berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja. Dia tidak peduli dengan tatapan heran dari sahabat dan tunangannya. Dia juga tidak peduli dengan tatapan keheranan dari karyawannya saat melihat laki-laki itu berjalan dengan sangat tergesa. Hingga sampai di klinik, dia langsung bertanya dokter yang berjaga.


"Ada pasien yang bernama Rafika?" tanya Erlangga.

__ADS_1


"Ada, Pak. Dia di kamar sana!" tunjuk dokter itu dengan menggunakan jempol kanannya sebagai kesopanan.


Tanpa bicara lagi, Erlangga langsung menuju ke kamar yang ditunjuk oleh dokter tadi. Namun, saat sampai di sana, rahangnya langsung mengeras saat melihat Rafika sedang video call dengan seorang lelaki. Apalagi, gadis itu sambil tertawa cekikikan seperti ada yang lucu. Dia pun berjalan perlahan ke arah Rafika yang tidur membelakanginya. Dengan satu gerakan, dia langsung mengambil ponsel milik gadis itu.


"Apa begini cara orang sakit beristirahat? Bukankah kamu bilang sedang sakit, tapi kenapa aku melihatnya segar bugar?" tanya Erlangga dengan menaikkan tangannya yang memegang ponsel Rafika.


Lalu aku harus bagaimana? Agar sakit hatiku saat melihatmu bersama gadis lain terobati. Apa mungkin aku harus belajar membuka hati untuk laki-laki lain, batin Rafika.


"Pak Bos, balikin dong! Itu harta aku satu-satunya," pinta Rafika dengan berusaha meraih ponselnya.


"Akan aku balikin saat jam kerja sudah selesai. Kamu cepat kembali kerja!"


"Pak Bos jahat banget sih! Aku kan lagi sakit perut. Tadi habis dikasih obat sama Pak Dokter ganteng jadinya sekarang agak mendingan," ucap Rafika melas.


"Apa kamu bilang? Aku tidak mau karyawan perusahaanku menggunakan sakitnya sebagai alasan untuk dia bermalas-malasan. Kamu kembali ke tempat kerjamu dan istirahat di sana," suruh Erlangga.


"Oke, Bos! Tapi balikin ponsel aku. Nanti kalau ada costumer yang menghubungi bagaimana?"


"Ambil setelah pulang kerja di ruangan aku. Soal costumer itu urusan aku."


Dasar Bos Sedeng! Bisa-bisanya dia merampas ponselku. Lagian tahu dari mana kalau aku di sini? Apa mungkin Mas Darwin yang bilang sama dia? gerutu Rafika dalam hati.


"Rafika, tidak usah mengomel dalam hati. Tidak ada satu pun perusahaan yang mengijinkan karyawannya untuk bermalas-malasan. Sekarang cepat kamu kembali ke tempat kerjamu!"


Mendengar apa yang Erlangga katakan, Rafika pun langsung berjalan mendekat ke arah Erlangga. Semakin dekat, semakin dekat, membuat Erlangga merasa heran. Dia pun berjalan mundur dengan perlahan saat Rafika semakin mendekatinya.


"Oh, ya? Benarkah begitu, Bos? Aku sebenarnya tidak malas Bos. Hanya saja, perutku memang sedang tidak enak. Apa Bos ingin tahu, bagian mana tubuhku yang sakit? Bos bisa memegangnya untuk meyakinkan kalau aku tidak bohong." Rafika langsung mengulurkan tangannya seperti akan mengambil tangan Erlangga.


Sementara Erlangga seperti terkesiap dengan sikap gadis itu. Dia sibuk menetralkan degup jantungnya yang berirama tidak beraturan. Sampai akhirnya dia kembali tersadar saat ponsel Rafika sudah diambil oleh pemiliknya.


"Bos, suara detak jantungnya sampai terdengar loh. Apa di dalam jantung Bos ada toa?" tanya Rafika seraya berlari pergi meninggalkan Erlangga yang masih mematung di tempatnya.


Tidak biasanya jantungku berdetak kencang seperti ini. Tidak mungkin aku mulai suka dengan gadis jorok itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2