
Kala fajar mulai menyingsing, Rafika terbangun dari tidurnya. Dilihatnya wajah tenang Erlangga yang menelusupkan wajahnya pada bukit kembar istrinya. Rafika hanya tersenyum melihat kebiasaan suaminya itu. Dia pun mengelus lembut rambut tebal ayah dari anak-anaknya.
"A, bangun! Sudah pagi," ucap Rafika pelan.
"Aa masih ngantuk, Sayang." Bukannya bangun, Erlangga semakin mengeratkan pelukannya pada Rafika.
"Papi Sayang, udah pagi. Kita lihat sunrise yuk! Pasti indah," ajak Rafika.
"Boleh, tapi beri Aa satu ciuman dulu. Baru kita lihat sunrise bersama-sama di balkon."
"Kho di balkon, kenapa tidak ke pantai?"
"Di sana pasti banyak orang yang sama-sama ingin melihat, balkon kamar ini kan langsung menghadap ke laut, ayo!" Erlangga Langsung bangun dari tidurnya. Dia beranjak ke kamar mandi dengan Rafika yang mengekor di belakang.
Keduanya bergegas mandi besar untuk menghilangkan sisa-sisa percintaannya semalam, sebelum pergi melihat sunrise. Setelah semuanya selesai, pasangan suami istri segera menuju ke balkon kamarnya. Benar saja, setibanya di sana, Sang Surya sudah menampakkan sinarnya dengan gagah.
Erlangga memeluk Rafika dari belakang dengan menumpukan dagu di pundak wanita cantik itu. Dia memejamkan mata merasakan kehangatan sinar mentari yang menerpa wajahnya.
"Fika, kamu seperti sinar mentari dalam hidup Aa. Yang memberikan kehangatan dan harapan baru," ucap Erlangga.
"A Elang juga seperti sinar rembulan yang memberikan ketenangan dan kedamaian dalam hidupku. Makasih A, sudah memberikan semua hal yang aku impikan. Sudah mewujudkan semua keinginan aku yang sangat sulit untuk aku gapai."
Rafika membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya. Dia tersenyum cerah melihat wajah laki-laki tampan yang sudah memenuhi hatinya. Begitupun dengan Erlangga yang ikut tersenyum memandangi wajah cantik gadis yang selalu menghantui hidupnya.
Sampai akhirnya, kedua sejoli itu saling mendekatkan diri. Rafika mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan Erlangga memegang pinggang istrinya. Ciuman yang hangat dibawah terpaan sinar mentari menjadi pengantar pagi mereka.
Namun sayang, saat keduanya sudah memulai terbakar oleh hasrat yang menggelora, suara gedoran pintu membuat mereka saling melepaskan diri. Rafika yakin, itu pasti putri mereka yang tidak sabaran karena pintunya belum juga di buka saat dia mengetuk.
"Aya datang, Papi. Pasti dia dan Agya ingin mengucapkan selamat pagi pada kita," ucap Rafika dengan tersenyum geli dengan kebiasaan putri mereka yang tidak jauh dari sifatnya.
"Ayo kita menyambut mereka," ajak Erlangga dengan menarik tangan Rafika.
Benar saja dugaan Rafika, kedua anak kembarnya terlihat berdiri di depan pintu kamar dengan wajah yang cemberut. Mereka pasti kesal karena Mami dan Papinya lama membukakan pintu kamar.
__ADS_1
"Pagi, sayang-sayangnya Mami. Ayo beri Mami pelukannya!"
"Aku marah sama Mami sama Papi," cebik Alya dengan menghentakkan kakinya. Namun, tak urung gadis kecil itu berlari ke pelukan Rafika dengan Agya yang mengikuti.
Seperti sudah hapal dengan sifat adik kembarnya, Agya lebih suka mengalah dari Alya yang sangat pecicilan dan manja. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Maminya, adiknya itu harus mendapatkan perhatian paling awal dari Rafika.
"Papi gak dikasih pelukan nih," ucap Erlangga dengan memasang wajah melas.
"Papi ...." Alya langsung mengurai pelukannya dan berpindah pada Erlangga. Namun, Agya lebih dulu yang memeluk papinya. "Bang Agy curang!"
Gadis itu terlihat kesal karena ternyata Agya yang lebih dulu memeluk papinya. Anak laki-laki itu tidak menyahut ucapan adiknya, dia hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek sang adik.
"Sudah-sudah, ayo kita berjemur sama Papi dan Mami! Matahari pagi baik untuk kesehatan kita," ajak Erlangga.
"Mataharinya baru keluar, Pih. Belum hangat di badan," sanggah Agya.
"Anak Papi pintar," puji Erlangga dengan mengacak-acak rambut putra kesayangannya.
Erlangga tahu, kalau pemikiran Agya lebih dari anak-anak seusianya. Makanya, terkadang dia mengetes putranya dengan berpura-pura melakukan kesalahan, untuk mengasah pemikiran kritis anaknya.
"Lalu, beli peralatan medis dan obat-obatan dari mana?" tanya Erlangga.
"Kan ada Papi. Kata Mama Kiran, uang Papi tidak akan pernah habis," jawab Aya jujur.
"Astaga Kiran! Dia ngajarin apa aja sama Aya," gumam Rafika.
"Aamiin ... Aya do'akan saja agar usaha Papi lancar. Atas seijin Allah, Papi pasti akan bangun klinik untuk Aya membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan," ucap Erlangga.
"Papi Aya yang terbaik!" seru Alya girang.
"Sebentar-sebentar, tadi kata Aya kalau Cherryl sakit, benar begitu?" tanya Rafika yang baru sadar dengan ucapan putrinya.
"Iya, Mih. Kata Papa Calvin kalau adik Cherryl badannya panas."
__ADS_1
"Ya ampun! Kenapa Kiran tidak bilang apapun sama kita. Ayo kita melihat adik dulu!" ajak Rafika langsung pergi dengan terburu-buru.
Erlangga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Dia pun mengikuti langkah kaki Rafika dengan menggendong Alya di depan, sedangkan Agya di punggungnya.
Saat tiba di kamar Kiranti, terlihat gadis kecil itu sedang digendong oleh mamanya dengan koyo pereda demam menempel di kepalanya. Sementara Calvin, baru saja memandikan putranya.
"Kiran, kenapa tidak bilang kalau Cherryl sakit?" tanya Rafika dengan berapi-api.
"Maaf Fika, aku terburu-buru semalam, soalnya kaget saat tahu badan Cherryl panas sekali," jawab Kiranti.
"Kesayangan Mami cepat sembuh ya, Sayang." Rafika mencium pucuk kepala gadis itu. "Sekarang keadaannya bagaimana?"
"Panasnya sudah mendingan."
"Syukurlah! Sini sama Mami, Sayang. Biar Mamanya mandi dulu," ajak Rafika saat melihat Kiranti yang masih memakai baju tidur.
"Aku titip dulu ya Fika!" kata Kiranti saat dia memberikan putrinya pada Rafika.
"Iya, nyantai aja. Wah Kelvin sudah ganteng nih dimandiin sama Papa," puji Rafika.
Kelvin hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari sahabat mamanya. Matanya melirik ke arah Alya, berharap mendapatkan pujian dari gadis itu. Akan tetapi, apa yang dia harapkan ternyata tidak terjadi.
"Mami, ayo kita mainkan di ruang tengah saja," ajak Erlangga.
"Iya, Pih. Kita di depan ya Kiran," pamit Rafika.
"Iya Fika, Sayang sama Mami dulu ya. Mama tidak lama kho!" kata Kiranti yang mendapatkan anggukan kepala dari putrinya.
Rafika pun langsung membawa Cherryl ke ruang tengah. Dia duduk menonton televisi dengan memeluk tubuh putri sahabatnya. Rafika membaca jampi-jampi lalu ditiupkan pada ujung kepala gadis kecil itu. Perlahan Cherryl tertidur di pelukannya dengan panas tubuhnya yang perlahan berangsur normal. Rafika tersenyum tipis saat merasakan tubuh gadis kecil itu sudah tidak sepanas tadi.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....