
Mendengar suara keributan di ruang tamu, Sofie berjalan tertatih. Dia lumayan terkejut melihat kedatangan Erlangga. Namun, secepatnya dia menetralkan keterkejutannya.
"Loh, Nak Elang kapan datang?" tanya Sofie seraya mendudukkan bokongnya di kursi.
Erlangga langsung mengangkat kepalanya mendengar suara orang yang menyapanya. Sedari tadi dia asik mengirim pesan pada Calvin untuk menyiapkan bingkisan. Dia berencana akan melamar dan langsung menikahi Rafika secepatnya. Erlangga tidak mau jika nanti gadis itu kabur lagi dan membuat kelimpungan berkali-kali
"Eh, Ibu. Tadi pagi Bu. Aku langsung menyusul Fika ke sini saat dikasih tahu kalau Fika pulang karena Ibu sakit. Bagaimana keadaan Ibu?" Erlangga langsung bangun dari duduknya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Ibu baik. Hanya tulang kaki sedikit retak. Fikanya ke mana?"
"Tadi pergi ke dapur, Bu. Tulang kaki retak? Apa Ibu habis terjatuh?"
"Kemarin Ibu terkena tabrak lari di pasar, saat akan pulang. Entahlah, tiba-tiba motor itu datang saat ibu akan menyeberang jalan."
"Apa pelakunya tertangkap?" tanya Erlangga dengan mimik serius.
"Tidak ada.yang bisa mengejar motor itu. Plat nomor pun tidak terpasang."
"Aneh, sepertinya penabrak itu sudah merencanakan dengan matang," gumam Erlangga.
"Lama sekali Fika di dapur. Dia memang tidak pandai untuk urusan dapur. Berkali-kali ibu mengajak dia untuk belajar memasak, selalu saja menolak." Sofie langsung mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa, Bu. Ada bibi yang memasak. Aku tidak akan menyuruh Fika untuk membereskan rumah atau memaksa dia belajar memasak. Cukup dengan menyiapkan semua keperluan aku saja," ucap Erlangga berusaha meyakinkan Sofie.
"Terima kasih, sudah menerima putri Ibu apa adanya."
Tidak lama kemudian, Rafika datang dengan nampan di tangannya. Dia membawa segelas air putih hangat untuk Erlangga. Tadinya dia akan membuat teh manis, tetapi tidak menemukannya setelah lama mencari di dapur.
"Bu, gula putih habis ya?" tanya Rafika seraya menyimpan air putih di depan Erlangga.
"Habis, Fika. Kemarin ibu belanja juga, barang-barangnya tidak bisa dibawa pulang karena hancur berantakan terlindas mobil," jelas Sofie.
"Udah jangan diingat lagi, Bu. Aku takut saat membayangkan hal yang tidak-tidak," ucap Rafika. "Bos, aku pergi ke warung dulu ya. Mau beli kopi. Apa Bos mau ngopi juga?"
__ADS_1
"Tidak! Aku mau numpang tidur saja," ucap Erlangga malu-malu.
"Istirahat di kamar Fika saja, Nak Elang. Ibu mau keluar dulu, menghirup udara pagi." Sofie langsung bangun dari duduknya.
Dia dibantu oleh Rafika agar duduk di kursi teras. Begitupun dengan yang ingin membantu. Namum, Rafika langsung memberinya kode agar diam di tempatnya.
"Biar sama aku saja, Bos."
Erlangga hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan Rafika. Dia pun kembali duduk di tempatnya semula. Tidak berapa lama kemudian Rafika kembali masuk ke dalam rumah. Dia segera membereskan tempat tidur, sebelum Erlangga menempatinya. Namun, Erlangga langsung mengikuti gadis itu dan memeluk Rafika dari belakang.
"Fika, jangan menghilang lagi. Aku bisa gila jika sampai tidak bisa menemukan kamu," bisik Erlangga.
"Bo-Bos ... Ja-jangan seperti ini. Tidak enak kalau keluarga aku melihat seperti tadi," ucap Rafika pelan. Dia mendadak gugup dengan apa yang Erlangga lakukan.
"Kamu harus janji dulu, tidak akan kabur lagi!" pinta Erlangga.
"I-iya, tapi cepat lepaskan!"
"Aa tunggu di luar ya!"
"I-iya!" sahut Rafika singkat. Dia terlihat gugup dengan apa yang Erlangga lakukan padanya.
Melihat kegugupan gadis yang dicintainya, Erlangga menahan senyumnya dengan melipat bibir ke dalam. Dia merasa gemas pada gadisnya. Seandainya mereka sedang berada di apartemen, sudah pasti Erlangga akan melakukan hal yang lebih. Selesai membereskan tempat tidurnya, Rafika pun menemui Erlangga.
"Bos, istirahat saja dulu. Aku ke warung sebentar. Ada yang mau dititip?"
"Ada, Aku hanya titip hati kamu, agar tetap utuh untuk aku." Erlangga tersenyum menggoda Rafika. Membuat pipi gadis itu langsung bersemu merah.
Rafika langsung saja keluar rumah, tanpa membalas ucapan Erlangga. Sementara Erlangga langsung masuk ke dalam kamar gadis itu. Dia mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling kamar yang berukuran 3x2,5 meter itu.
"Mungkin, selama Fika dan ibunya merawat aku, kamar ini yang aku tempati. Karena sepertinya rumah Fika hanya ada dua kamar," gumam Erlangga mulai memejamkan matanya. "Meskipun kamar ini sangat sangat sederhana, tapi aku merasa betah tinggal di sini," lanjutnya.
Tanpa terasa, mentari sudah merangkak naik tepat berada di atas kepala. Erlangga baru membuka matanya saat terdengar suara orang mengobrol di ruang tamu. Setelah dia memperjelas pendengarannya, ternyata Calvin sudah ada di sana. Dia pun segera bangun untuk menemui sahabatnya.
__ADS_1
"Sepertinya nyenyak sekali, Bos. Sampai aku datang pun tidak bangun," sindir Calvin.
"Aku hanya tidur dua jam. Sudahlah, aku mau mandi dulu. Mana bajuku?" tanya Erlangga
"Di sini sudah lengkap semua keperluan kamu. Mandilah dulu, biar lebih segar!" suruh Calvin.
"Bos, memang sudah tahu kamar mandinya?" tanya Rafika heran saat Erlangga berlalu pergi ke dapur.
"Ada di sebelah timur dapur kamu, kan?" Erlangga terus saja melangkah pergi menuju ke kamar mandi.
Dia kho tahu? Bukankah dia tidak bisa mengingat semua kejadian pas amnesia itu? batin Rafika.
"Kamu jangan kaget, Fika. Sebelum hari ini, dia pernah datang ke rumah kamu. Coba saja tanya Ibu dan saudara kamu," ucap Calvin.
"Kho bisa tahu rumah aku? Katanya dia tidak ingat kejadian saat amnesia."
"Dia memang tidak ingat. Tapi dia bisa melihat identitas kamu dari resume yang kamu kirimkan ke perusahaan," jawab Calvin enteng. "Oh, iya. Apa Elang sudah sarapan?"
"Kayaknya belum. Tuh masih utuh. Tadi pagi aku pulang membeli sarapan, Bos sudah tidur. Mau aku bangunkan kasian, kayaknya lelah sekali."
"Bagaimana tidak lelah? Dia pulang kerja langsung ke Cikarang mencari kamu. Saat apartemen kosong, dia langsung berkeliling dan menghubungi semua orang yang dia tahu dekatdengan kamu. Kamu hebat, Fika. Bisa membuat seorang Erlangga seperti orang gila saat mencari kamu."
Apa sampai segitunya dia mencari aku? Tapi bukankah orang yang dia pedulikan bukan aku tapi Caithlyn. Tetap saja, aku hanya jadi seseorang yang selalu dia sembunyikan, batin Rafika.
"Bang, apa aku pantas berada di sampingnya? Sementara status sosialku dengan Pak Bos, seperti langit dan bumi. Jangan membuat aku memiliki harapan, jika akhirnya aku hanya akan kecewa. Aku sedang belajar realistis, tidak mau lagi terlalu berharap banyak."
"Kamu tidak berharap banyak, Fika. Karena aku akan mewujudkan impian kita secepatnya."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1