Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 89 Ghibah


__ADS_3

Acara syukuran kelahiran Baby Kelvin baru saja digelar. Semua keluarga dekat berkumpul di rumah Kiranti. Begitupun dengan Rafika yang ikut mempersiapkan syukuran kecil-kecilan itu. Raut bahagia, terlihat jelas di wajah Kiranti dan Calvin. Mereka senang karena semua keluarga berkumpul di rumahnya.


"Kiran, kamu tahu tidak? Dulu tuh Calvin pernah menolak kamu loh. Waktu Mbak suruh deketin kamu. Eh ternyata sekarang malah jadi anak. Hahaha...." beber Helen dengan gelak tawa.


"Masih mending Mbak. Hanya ditolak, lah aku dibilang gadis jorok, tapi diembat juga. Malah sekarang jadi anak dua," timpal Rafika.


"Iya bener. Mereka berdua tuh awalnya aja bilang gak mau tapi akhirnya jadi budak cinta. Tapi Mbak salut loh sama kalian. Fika dan Kiran bisa menaklukan mahkluk kaku dan arogan seperti mereka," puji Helen.


"Fika gitu loh, Mbak. Cucunya aku Anja, hahaha ...."


"Sayang, suaranya pelankan," tegur Erlangga yang sedang berkumpul dengan para laki-laki lainnya.


"Iya, A. Maaf," ucap Rafika.


"Tumben banget Fika mau ngaku salah," celetuk Kiranti yang sedari tadi diam karena sedang memberikan ASI pada putranya.


"Kamu gak tahu sih, tiap malam aku disuruh baca buku soal parenting. A Elang malam ngetes lagi. Kalau salah, aku pasti dihukum enak sama dia. Makanya sekarang aku sedang belajar untuk menjaga sikap. Agar anakku tidak mengikuti kejelekan aku," tutur Rafika.


"Keluarga Elang, memang selalu mendidik anak-anaknya dengan tegas. Apalagi Tuan Ageng, beliau tidak segan menghukum Elang jika cucunya itu melakukan kesalahan. Apalagi kalau Elang sampai membantah dan melawan pada kakeknya, pasti hukumannya berat," timbrung Bu Riani.


"Tapi ada hasilnya juga, Mah. Elang bisa sukses karena dia sangat disiplin orangnya," timpal Helen.


"Bu Wulan, akan di sini terus kan menjaga cucu?" tanya Bi Riani mengalihkan pembicaraan


"Besok, saya pulang. Soalnya sudah waktunya tanam padi. Ada perawat juga yang membantu Kiran menjaga Kelvin."


"Wah Kelvin mau ditinggal Oma nih," goda Rafika.


Seperti yang sudah mengerti, bayi yang baru berumur itu tiba-tiba saja menangis. Membuat Rafika menjadi kelimpungan. Namun, saat Bi Wulan menggendongnya, bayi itu pun kembali terdiam.


"Jangan sedih ya, nanti Oma ke sini lagi." Bu Wulan terus saja menimang cucunya sampai Kelvin akhirnya tertidur pulas.


Baru saja baby Kelvin anteng, kini anak kembar Rafika yang mulai rewel. Sepertinya mereka mengantuk, tetapi tidak bisa memejamkan mata karena di sana terlalu berisik. Rafika pun berpamitan pulang ke rumahnya dengan Erlangga mengikutinya.


"Sayang, tadi seru sekali ghibahin Aa," ucap Erlangga saat mereka sudah menidurkan kedua anaknya.

__ADS_1


"Siapa yang ghibahin A, Fika kan cuma ngobrolin sedikit."


"Yakin? Apa itu cara kamu agar dapat hukuman dari Aa?" Tangan Erlangga mulai mengelus lembut pipi Rafika.


"Beneran! Seriusan enggak, A. Fika hanya cerita kalau Aa suka kasih hukuman." Rafika ingin menghindar dari mata elang suaminya, tetapi dengan sigap Erlangga mengarahkan wajah Rafika agar melihat ke arahnya.


"Jangan menghindar! Apa hukuman dari Aa menakutkan, Aa kan cuma menghukum kamu seperti ini." Selesai bicara, Erlangga langsung meraup candunya. Dia begitu menikmati pertautan bibir yang selalu membuatnya merasa tidak puas jika tangannya tidak menjelajahi setiap inci tubuh istrinya. Karena baginya suara desahhan dan lenguhan Rafika terdengar sangat merdu di telinganya.


Tidak pernah cukup dan tidak akan pernah puas saat mereka hanya melakukan pertautan bibir. Keduanya akan merasa puas saat sudah mendapatkan pelepasan.


...***...


Keesokan harinya, mereka terbangun karena mendengar suara gedoran di pintu kamarnya. Rupanya, kedua anak kembar itu sudah lebih dulu bangun dari orang tuanya. Mereka mencari keberadaan mami papinya saat keduanya terbangun dari tidurnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Tuan Elang, Mbak Fika ... Kembar ingin bersama mami papinya," teriak Rina, pengasuh baru si kembar.


"Sebentar, Mbak Rina!" teriak Rafika di dalam.


"Anak mami sudah bangun, sudah dimandikan belum, Mbak? tanya Rafika.


"Belum, Mbak. Tadi hanya ganti popok, mereka keburu nangis. Jadinya diajak ke sini," ucap Rina.


"Oh, ya sudah gak apa. Siapkan saja air hangatnya. Nanti aku ke sana," ucap Rafika. Dia segera mengambil alih kedua anaknya dari Rina.


Setelah di kamar mami papinya, Agya dan Alya minta diturunkan dari gendongan. Awalnya mereka berjalan merayap berpegangan. Namun, lama kelamaan mereka melepaskan pegangannya dan berjalan cepat menuju ke arah Rafika yang bengong melihat keduanya.


"Alhamdulillah A, kembar jalan A, cepat sini!" teriak Rafika heboh dengan merentangkan tangannya menyambut kedatangan kedua anaknya.


Erlangga yang sedang berada di kamar mandi, terburu-buru keluar. Dia tidak ingin melewatkan moment pertama kali anaknya berjalan sendiri. Sampai-sampai dia lupa dengan handuk yang seharusnya dia pakai.


"Alhamdulillah kesayangan papi udah jalan," ucap Erlangga berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Pa-pa Pa-pa ...," panggila kedua anaknya berjalan menuju ke arah Erlangga.

__ADS_1


"Aa, kenapa tidak pakai handuk?" tanya Rafika kaget saat melihat ke arah suaminya.


"Astaga! Aa lupa, karena tadi kaget mendengar kamu berteriak," ucap Erlangga segera berjongkok. Merasa malu pusaka saktinya dilihat oleh kedua anaknya. Mau pergi ke kamar mandi, anaknya sedang berjalan ke arahnya. Makanya Erlangga memilih berjongkok.


Sementara Rafika langsung pergi ke kamar mandi mengambil handuk untuk Erlangga. Setelah mendapatkannya, dia pun segera memberikan pada suaminya. Untung saja, Erlangga sudah selesai mandi, jadi dia tidak perlu melanjutkan lagi mandinya.


"Sayang, nanti mandi sama papi ya!" ujar Erlangga seraya membawa kedua anak kembarnya menuju ke tempat tidur. Dia meninggalkannya di sana dengan Rafika yang menjaganya. Sementara dia berpakaian lebih dulu.


Selesai Erlangga berpakaian, pasangan suami istri itu membawa anak kembar itu ke kamar anaknya, untuk memandikan mereka. Terlihat di sana Rina dan Santi sedang menyiapkan baju untuk anak kembar yang menggemaskan itu. Karena saking bahagianya, Rafika medadak heboh bertemu dengan kedua pengasuh itu.


"Mbak Rina, Mbak Santi. Kembar udah bisa jalan loh. Wah hebat juga ya Mbak Santi! Selalu kasih pijatan di kaki Agya dan Alya, jadinya mereka bisa cepat jalan. Padahal baru sepuluh bulan," ucap Rafika heboh.


"Benarkah, Mbak? Wah kita ikut senang, Mbak Fika," ucap Rina.


"Alhamdulillah, Mbak. Saya juga turut bahagia mendengar kembar sudah bisa jalan."


"Nanti kita adakan syukuran karena Agya dan Alya sudah bisa jalan," ucap Erlangga seraya berlalu pergi menuju ke kamar mandi dengan menggendong putranya. "Ayo, Sayang. Mandikan dulu anak-anak. Nanti kita bawa mereka bermain di taman."


"Siap, Papi Sayang!" sahut Rafika.


Mereka pun memandikan kedua anaknya bersama-sama dengan penuh canda tawa. Kedua pengasuh itu hanya ikut tersenyum saat mendengar candaan Erlangga dan Rafika. Mereka tidak menyangka, tuannya yang terlihat cuek dan arogan itu, begitu hangat pada keluarganya.


Saat selesai mandi pun, Rafika dan Erlangga yang memakaikan baju pada anaknya. Mereka terlihat kompak. Apalagi, Rafika bisa mencairkan suasana.


"Mbak Rina, Mbak Santi, kalian sarapan saja duluan. Kami masih ingin main dengan kembar. Selesai sarapan, tolong siapkan makan pagi untuk anak-anak ya, Mbak."


"Baik, Mbak Fika. Kalau begitu kami permisi. Kalau ada yang diperlukan, calling saja ya, Mbak."


"Siplah, Mbak Rina."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift. dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2