
Terlihat jelas binar bahagia dari wajah Rafika. Gadis itu terus saja tersenyum selama perjalanan menuju ke ibu kota. Hatinya sedang berbunga-bunga karena laki-laki yang dicintainya kini sudah bersikap baik kepadanya.
"Pak Bos, memang nanti mau gathering di mana?" tanya Rafika.
"Untuk semua staf, aku akan mengajak mereka bersenang-senang di pulau Dewata. Tapi untuk operator produksi sampai supervisor, cukup di Ancol."
"Kenapa dibedakan Pak Bos? Gak adil banget," protes Rafika.
"Dua puluh ribu karyawan, harus diangkut semua ke sana, berapa budget yang harus perusahaan keluarkan? Coba kamu hitung kalau biaya untuk satu orang sepuluh juta, harus berapa banyak biaya yang harus perusahaan tanggung?"
"Memang Rivers karyawannya ada dua puluh ribu orang?" tanya Rafika kaget.
"Tidak, jumlah segitu karena sudah dijumlahkan dengan Elang Group."
"Omset perusahaan juga besar kali Pak Bos. Gak bakalan rugi." Cebik Rafika.
"Kalau semuanya buat gathering, lalu buat modal nikah CEO dan asistennya bagaimana? Kamu kan tahu kalau Aku dan Calvin belum menikah," goda Erlangga.
"Iya, nikah dengan model cantik itu. Nyebelin banget sih! Kenapa harus diingatkan kalau dia mau nikah dengan model cantik itu," gerutu Rafika pelan.
Erlangga hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan gadis itu. Entah kenapa, dia merasa senang karena dicemburui oleh gadis itu. Sampai akhirnya, dia mendekat ke arah Rafika yang memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela mobil.
"Kamu mau gak, nikah sama Kang Asep?" bisik Erlangga.
"Bos, jangan memper ...." Rafika tidak melanjutkan ucapannya, saat dia menengok malah terjadi tabrakan bibir dengan Erlangga yang sedang mencondongkan wajahnya ke arah Rafika.
Bukan hanya Rafika, tapi Erlangga sama kagetnya dengan gadis itu. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sampai ada guncangan mobil karena sedang menyalip, membuat keduanya tersadar.
"Fika, ternyata bibir kamu manis," goda Erlangga setengah berbisik.
Sontak saja wajah Rafika langsung bersemu merah. Dia memang dekat dengan teman laki-lakinya tapi mereka selalu memperlakukan dia layaknya anak laki-laki. Tidak ada yang berani menggoda dia ke hal yang menjurus pada hubungan intim.
"Apaan sih, Bos?" gugup Rafika.
__ADS_1
Astaga, kenapa dia terlihat lucu sekali saat malu begitu? Sepertinya dia bisa menjadi hiburanku, batin Erlangga.
Ya ampun malu banget! Ini kedua kalinya aku dan dia berciuman, kekeh hati Rafika.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, akhirnya mereka pun sampai di gedung bertingkat milik Putra Group. Erlangga langsung keluar dari mobilnya begitu mobil itu sudah terparkir rapi. Tidak jauh beda dengan Calvin dan Rafika, yang sudah bersiap untuk menemani bos mereka meeting dengan petinggi perusahaan Putra Group.
"Fika, kita duduk saja di kursi tunggu, biar Calvin yang mengurusi semuanya," ucap Erlangga saat mereka sudah masuk ke lobby perusahaan.
Setelah Calvin mengkonfirmasi kedatangannya pada resepsionis, mereka pun dipersilakan menuju ke ruang meeting. Rafika hanya mengikuti langkah kaki bosnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dia begitu sibuk mengagumi interior gedung itu.
Sampai di ruang meeting yang dituju, kedatangan mereka sudah disambut oleh seorang lelaki yang kharismatik dan terlihat masih tampan meskipun sudah tidak muda lagi. Laki-laki dengan mata elang itu tersenyum tipis menyambut kedatangan Erlangga dan yang lainnya.
"Selamat datang, Nak Elang! Bagaimana kabar Tuan Ageng!" tanya Tuan Aldrich.
"Alhamdulillah kakek sehat, Om." Erlangga mengulurkan tangannya untuk menjabat pemilik Putra Group. Hubungan baik di antara keluarganya dan Keluarga Putra membuat keduanya tidak terlalu formal saat bertemu.
"Ayo, silakan duduk!"
"Terima kasih, Om!"
"Baiklah, Om. Kalau begitu saya permisi," pamit Erlangga.
"Semoga acaranya berjalan dengan lancar," ucap Tuan Aldrich.
"Iya, Om. Terima kasih untuk semuanya."
Erlangga langsung menjabat tangan Aldrich begitupun dengan Calvin dan Rafika. Sebelum akhirnya Erlangga dan yang lainnya keluar dari ruangan meeting. Namun, saat mereka berada di lift, terdengar bunyi yang sangat nyaring yang berasal dari perut Rafika. Erlangga dan Calvin saling berpandangan, hingga akhirnya mereka terkekeh menertawakan Rafika.
"Hahaha ... Kamu lapar?" tanya Erlangga di tengah-tengah tawanya.
"Tidak Bos, aku ingin pup." Cebik Rafika kesal.
"Kita mampir saja dulu ke kafe yang ada di seberang kantor." Tanpa sadar Erlangga mengusak rambut Rafika.
__ADS_1
"Rambutku kusut, Bos. Kenapa diacak-acak?" gerutu Rafika.
Seminggu tidak bertemu dengan Elang, kenapa sikapnya banyak berubah. Terutama pada gadis itu. Kebenciannya seakan-akan menguap begitu saja. Sikapnya pada Rafika berubah seratus delapan puluh derajat, batin Calvin.
Setelah kemarin aku menemui keluarganya, rasanya aku malu dengan sikapku selama ini pada Rafika. Dia yang telah menyelamatkan nyawaku, rasanya tidak pantas jika aku bersikap galak dan selalu merendahkannya. Meskipun memang benar, gadis itu jauh dari kriteria aku, batin Erlangga.
"Sini aku sisir." Erlangga langsung menarik tangan gadis itu menempatkan Rafika di depannya. Dia menyisir rambut gadis itu dengan jari-jari tangannya.
"Sudah, Bos. Biar aku saja," Rafika langsung menjauh dan merapikan rambutnya sendiri. Bertepatan dengan lift yang berhenti bergerak karena sudah sampai di lantai yang di tuju.
Tanpa ada yang bicara lagi, ketiganya langsung keluar lift. Mereka bergegas menuju ke kafe yang ada di depan perusahaan Putra Group. Hanya dengan memutar balik sejauh seratus meter. Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan.
"Fika mau pesan apa?" tanya Erlangga saat dia akan mendudukkan bokongnya di kursi yang dekat dengan jendela.
"Bentar, Bos. Aku lihat menunya dulu," ucap Rafika.
"Bos, kita mampir ke kantor pusat apa langsung ke Rivers saja?" tanya Calvin.
"Apa ada dokumen yang harus aku tanda tangani di sana?" Bukannya menjawab, Erlangga malah balik bertanya.
"Ada, tapi bukan hal yang urgent."
"Kalau begitu, kita langsung pulang ke Cikarang saja. Kasian dia kalau kita ajak berkeliling," ucap Erlangga dengan menunjuk Rafika dengan dagunya.
"Bos, kenapa di sini harganya mahal-mahal?" tanya Rafika yang masih asyik membolak-balik daftar menu.
"Kamu pesan saja. Aku yang traktir," suruh Erlangga.
"Pesan saja, Fika. Mau dibungkus buat Kiran juga boleh," timpal Calvin yang teringat saat waktu itu mengajak Rafika bicara di kafe.
"Emang boleh, Bos? Kalau minta dibungkus juga?"
"Boleh! Pesan saja."
__ADS_1
...~Bersambung~...