Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji


__ADS_3

Dengan wajah yang ditekuk, Rafika akhirnya memijat kaki Erlangga yang menjulur ke arahnya. Laki-laki itu terlihat senang mendapatkan pijatan dari gadis jorok yang selalu mengusik hari-harinya. Dia terlihat begitu menikmati setiap pijatan dari Rafika.


"Fika, bahu aku juga ya!" pinta Erlangga.


"Bos, aku kan lapar," keluh Rafika dengan memasang wajah melas.


"Satenya juga belum siap. Lihat! Baru ada kelapa ijo yang di simpan di meja," seru Erlangga.


"Ya udah deh," sahut Rafika pasrah. "BANG! SATENYA CEPETAN, LAPAR NIH!" teriaknya yang sukses membuat Erlangga kaget. Dia langsung membekap mulut Rafika dengan telapak tangannya yang lebar.


"Malu, Fika!" geram Erlangga.


"Hmm ...." Rafika langsung menghempaskan tangan Erlangga dengan keras saat dia merasa sudah kehabisan napasnya.


"Fika, tenaga kamu gede juga. Tanganku ampe sakit," keluh Erlangga.


"Itu belum seberapa, Bos. Coba saja cari lapangan luas kalau Bos ingin mencobanya," celetuk Kiranti


"Kiran!!!" seru Rafika dengan penuh penekanan.


Kiranti hanya cengengesan karena dia memang salah sudah keceplosan bicara. Sementara Erlangga hanya tersenyum seraya tangannya mengusap wajah Rafika yang melotot ke arah Kiranti.


"Matanya tidak usah dikeluarkan seperti itu, Akang sudah tahu kho." Erlangga berbicara setengah berbisik di telinga Rafika. Dia hanya menaikturunkan alisnya saat Rafika melihat ke arahnya.


Hatinya sangat senang bisa menggoda gadis itu. Apalagi, dia mengetahui hal yang orang lain tidak ketahui. Erlangga teringat saat malam itu, dia baku hantam dengan Rafika, gara-gara ingin membuka baju gadis itu yang terkena muntah saat mabuk. Meskipun dia berhasil membuka semua baju Rafika, tapi pelipisnya harus lebam terkena tonjokan gadis itu.


"Sudah sudah, ayo kita makan!" ajak Calvin saat pelayan menyiapkan semua pesanan di meja.


Akhirnya mereka pun makan dalam diam. Namun, Erlangga sesekali melihat ke arah Rafika yang begitu bersemangat menikmati makanannya. Sampai saat bumbu kacang ada masih tersisa di sudut bibir Rafika, Erlangga langsung membersihkannya dengan tissue.


"Fika, makannya belajar rapi ya!"


"Biar aku saja, Bos." Pipi Rafika langsung bersemu merah. Dia merasa tidak enak mendapatkan perlakukan yang seperti itu dari Erlangga.


"Bos, perhatian banget sama Fika. Cinta lama bersemi kembali nih," goda Calvin.

__ADS_1


"Bukan cinta lama, Bang. Tapi Cinta yang belum usai. Orang mereka pisah pas lagi sayang-sayangnya. Gimana gak nyesek coba?" celetuk Kiranti di sela-sela makannya.


"Benarkah begitu, Kiran? Wah ternyata Fika hanya mencintai Kang Asep. Padahal sudah ada di depan mata, kenapa tidak dikasih ciuman?" goda Erlangga.


"Ternyata Kang Asep sama omesnya ya, saat masih amnesia sama sekarang sudah jadi Kang CEO. Masa Bang, mereka mau ci ...." Kiranti tidak melanjutkan ucapannya saat ada satu tusuk sate masuk ke dalam mulutnya. Dia memilih untuk memakan sate itu terlebih dahulu.


"Karena Kang Asep dan Erlangga itu orang yang sama, hanya ingatanku saja yang tidak sama. Aku senang, kamu sudah tidak takut lagi saat melihat aku, Kiran." Erlangga tersenyum ramah pada Kiranti.


"Apa Pak Bos, sudah ingat semuanya?" tanya Kiranti.


"Aku tidak bisa mengingat tentang kebersamaan kita. Tapi aku tahu apa yang terjadi saat aku hilang ingatan," jelas Erlangga. "Terima Kiran!" lanjutnya.


"Maksud, Bos? Bos tahu darimana?" tanya Rafika kaget.


"Kamu tidak perlu tahu. Yang perlu kamu tahu, Kang Asep pasti akan memenuhi janjinya," ucap Erlangga dengan mengusak rambut Rafika.


Setelah mereka menikmati hidangan makan malamnya, Erlangga pun langsung mengantar Rafika pulang ke kontrakannya. Karena dia merasa penasaran dengan tempat tinggal gadis itu, akhirnya Erlangga mengantar Rafika sampai ke kontrakan gadis itu.


Untung saja, laki-laki dengan sejuta pesona itu tidak memakai jas mahalnya. Dia sengaja turun dari mobil dengan menggulung kemeja putihnya dan mengganti sepatu pantofel dengan sendal. Namun, tetap saja kedatangan dia ke kontrakan Rafika mengundang semua mata untuk terus melihat ke arahnya.


"Banyak kho! Baim juga ganteng, memangnya kenapa, Bos?" tanya Rafika heran.


"Kenapa mereka terus melihat ke arahku?"


Rafika langsung mengedarkan pandangannya. Benar saja, tetangga kontrakan yang sedang mengobrol di teras semuanya melihat ke ara dia dan Erlangga yang baru turun dari mobil. Rafika hanya bisa cengengesan karena dia pun bingung harus berbuat apa.


"Udah yuk, Bos! Masuk ke kontrakan aku saja," ajak Rafika dengan menarik tangan laki-laki itu.


Sementara Kiranti menyusul karena dia menemani Calvin untuk mencari parkiran.


Setelah Rafika dan Erlangga masuk ke dalam kontrakan. Gadis itu kembali ke luar untuk membeli minuman. Namun, ternyata dia bertemu dengan Baim di warung.


"Fika, pulang sama siapa?" tanya Baim kepo.


"Itu Im. Bos aku kepo ingin survey kondisi kontrakan karyawannya," jawab Rafika sekenanya.

__ADS_1


"Hebat banget kamu di datangi Bos. Pantas saja gak mau sama Zaenal, gebetannya Bos." Baim bicara dengan nada yang tidak suka.


"Jangan fitonah deh, Im. Bukan karena itu aku gak mau sama Zaenal. Tapi emang karena aku sudah nyaman jadi teman dia," ucap Rafika yang mulai terpancing dengan apa yang temannya itu katakan.


Sampai saat Calvin menepuk pundaknya, dia dengan refleks memelintir tangan laki-laki itu. Tentu saja pemuda itu langsung meringis kesakitan. Ditambah lagi, dia kaget dengan reaksi gadis itu. Padahal dia hanya ingin menanyakan di mana Erlangga.


"Aw ... Fika sakit!" keluh Calvin dengan meringis.


"Eh, maaf Bang! Aku refleks tadi," sesal Rafika langsung melepaskan cengkeraman tangannya.


Apa yang Zaenal suka dari gadis itu. Cewek kasar kayak gitu bikin sahabat aku gagal move on. Padahal banyak cewek yang menyukainya, batin Baim.


Mungkin ini yang Elang bilang kalau Fika tidak selemah yang aku pikirkan, batin Calvin.


"Elang di mana?" tanya Calvin dengan mengibaskan tangannya.


"Sudah dikontrakkan. Kenapa tidak bareng dengan Kiran?"


"Tuh, dia jalannya lama."


"Bang Calvin bareng Kiran saja ke kontrakan. Aku beli minum dulu," suruh Rafika.


Dia pun segera membayar minuman yang dibelinya. Namun, saat dia kan beranjak pergi ke kontrakannya, Baim kembali berbicara. "Fika, jangan sering bawa cowok ke kontrakan kalau kamu tidak mau digrebek warga sini."


"Iya, Aki!" sahut Rafika. "Baru juga kali ini. Itu pun hanya mampir. Kadang kamu tuh terlalu hiperbol tahu gak Im. Kayak emak-emak sama anaknya," lanjutnya.


"Aku hanya kasih tahu. Karena aku peduli sama kamu."


"Iya, Baim. Aku ngerti, makasih udah ingetin aku. Kalau mau kenalan ayo ikut ke kontrakan! Kamu juga boleh wawancara dia biar lebih yakin."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote, dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2