Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 48 Lamaran


__ADS_3

"Dengar, kan Fika. Elang serius sama kamu. Sudah, kamu jangan ragu lagi sama dia. Soal kejadian waktu di Bali, itu hanya untuk mengalihkan perhatian Tuan Wijaya dan Tuan Ageng. Benar begitu, kan Elang?" tanya Calvin.


"Iya, benar Fika. Bagaimana kalau besok kita menikah? Mumpung kita pulang kampung. Laki-laki kan tidak perlu wali. Meskipun keluarga aku tidak ada yang tahu, pernikahan masih bisa terjadi. Lagipula, orang tuaku sudah tiada. Aku tidak butuh persetujuan dari siapa pun," ungkap Erlangga.


"Kayak kawin sama kambing aja sih, Kang. Gampang banget ngomongnya. Aku kan seorang gadis bukan janda yang menikah cukup depan penghulu saja. Aku juga mau ngerasain bagaimana rasanya dilamar, tunangan, siraman, hajatan terus pengantinnya naik kuda renggong kayak orang-orang. Dipajang di pelaminan seharian sambil nonton orang joged di panggung." Rafika menghentikan ucapannya sejenak saat dia merasa tidak ada yang menanggapi.


"Bang Calvin dan Pak Bos, pasti belum pernah ngerasain disawer pake beras, bunga, permen dan uang, kan? Aku tuh cita-citanya ingin seperti itu. Tidak mau asal nikah di depan penghulu saja. Udah kaya digrebek terus dikawinin," lanjutnya.


"Minta tolong keluarga kamu saja untuk menyiapkannya. Kalau persiapannya hanya sehari, apa bisa?" tanya Erlangga sangat antusias.


"Jangan gila dong, Bos! Sewa kuda renggong aja jauh harus ke tonggoh belum sewa pelaminan sama dangdutannya," sanggah Rafika.


"Minggu depan aja, Elang. Kamu melamar dulu, Fika. Lalu minta nikahnya dicepetin," usul Calvin.


"Ayo, Fika! Aku harus melamar ke siapa? Apa cukup sama ibu saja."


Saat Rafika akan bicara kembali, Wa Enok masuk ke dalam rumah. Karena tadi dia tidak sengaja mendengar pembicaraan anak muda itu. Sebagai orang tua, tentu dia harus membantu niat baik laki-laki yang ingin mempersunting Rafika.


"Asep, kalau memang serius ingin menikah dengan Fika, lebih baih bicara dulu dengan Kakeknya Fika. Nanti Uwa suruh datang ke sini. Kalau ingin pesta pernikahan dipercepat, Uwa juga bisa membantu," ucap Wa Enok.


"Wah bagus ada Uwa. Tolong buatkan pesta seperti yang Fika inginkan, Wa! Soal biaya tidak jadi masalah. Kalau bisa aku ingin Minggu depan."


"Wah kalau buru-buru, nanti pada minta uang tambahan. Pasti harga sewa lebih mahal dari harga biasa."


"Tidak apa, Wa. Berapa uang yang harus aku siapkan."


"Seratus juta saja dulu. Nanti kalau kurang, Uwa minta lagi ya!'


Sedikit sekali seratus juta. Gak tembus satu M pun dibilang mahal, batin Calvin.


"Calvin, kamu siapkan uang dua ratus juta. Kalau kurang Uwa bisa minta lagi sama temanku."


Kenapa dia minta sama temannya? Katanya orang kaya tapi kho ngutang dulu, batin Wa Enok.

__ADS_1


Apa-apaan sih Wa Enok. Pada bikin acara sendiri tapi gak nanya dulu aku mau nikah apa enggak sama Kang Asep, batin Rafika.


...***...


Malam harinya, rumah Rafika mendadak ramai. Setelah tadi siang mereka berembuk dengan Wa Enok dan yang lainnya. Akhirnya diputuskan untuk mengadakan acara lamaran sekaligus pertunangan. Sebagai pestanya, Erlangga membeli satu ekor kambing untuk dibuat kambing guling oleh keluarga Rafika.


Namun, entah kemana keberanian Erlangga. Hatinya mendadak menciut saat dia berhadapan dengan kakeknya Rafika yang merupakan ayah dari Bu Sofie. Apalagi saat dia tanpa sengaja beradu pandang dengan Aki Anja. Dia merasakan aura yang berbeda dari kakek tua itu.


"Yang mana orangnya, yang ingin melamar cucuku?" tanya Aki Anja.


"Sa-saya Aki. Saya minta ijin pada Aki untuk mempersunting Fika," ucap Erlangga gugup.


"Apa kamu yakin akan membahagiakan cucuku?"


"Saya yakin, Aki."


"Apa kamu tidak akan menyakiti cucuku? Ingat anak muda, meskipun jauh tapi pikiranku bisa terhubung dengan cucuku. Kalau kamu menyakitinya, aku pun tidak akan segan untuk menyakiti kamu."


"Iya, Aki. Saya janji tidak akan menyakiti Fika karena saya mencintainya."


Rafika tidak langsung menjawab pertanyaan kakeknya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh keluarga yang hadir di sana. Dia menghela napas dalam sebelum memberikan jawaban pada kakeknya.


"Fika bersedia, Aki."


"Syukurlah!" seru Erlangga lantang. Dia langsung mengusap wajahnya seraya menengadah ke atas. Hatinya benar-benar lega mendengar jawaban dari Rafika.


"Elang, malu dilihatin orang." Calvin langsung berbisik pada sahabatnya.


"Hm ... Hm ... Maaf, saya sangat bahagia. Sebagai tanda pengikatnya, saya membawa satu set perhiasan serta cincin tunangan." Erlangga membuka sebuah kotak persegi dan memberikannya pada Rafika.


"Ayo, sekarang kalian bertukar cincin. Biar acara kambing gulingnya tidak terlalu malam," ucap Wa Enok.


Erlangga dan Rafika pun saling bergantian memasangkan cincin ke jari manis. Rafika terlihat malu-malu dilihat semua keluarganya. Apalagi, Erlangga mencium kening gadis itu lama. Sebenarnya ingin sekali dia mengecup bibir ranum Rafika yang terlihat digigit oleh pemiliknya karena gugup. Namun, sebisa mungkin dia menahannya karena menghargai tetua yang ada di sana.

__ADS_1


Selesai memasangkan cincin, orang-orang berhamburan keluar. Hanya tersisa Erlangga, Rafika, Kiranti dan Calvin di ruang tamu Rafika. Mereka memang sengaja tidak ikut ke luar karena ada hal yang ingin dibicarakan.


"Fika, besok ikut pulang ke Cikarang gak?" tanya Kiranti.


"Ikut! Kita harus ketemu Kakek dulu. Bagaimana pun dia pengganti orang tuaku. Kamu jangan takut ya!" Erlangga langsung menjawab pertanyaan Kiranti.


"Tapi bagaimana dengan Ibu?"


"Aku sudah bicara dengan Ibu. Aku akan membayar orang untuk menjaga Ibu. Nanti setelah kita menikah, kita ajak Ibu agar tinggal bersama."


"Kapan bicara dengan Ibu? Aku kho tidak tahu," tanya Rafika.


"Rahasia."


"Kalau kalian menikah, nanti aku tinggal di mana?" tanya Kiranti mendadak cemas. Dia tidak berani kalau harus tinggal sendiri.


"Kamu tinggal sama aku, Kiran. Tapi kalau kamu tidak mau, kamu boleh tinggal dengan Bang Calvin," ucap Rafika asal.


"Kho tinggal sama aku? Kita kan belum halal," tanya Calvin bingung.


"Ya halalkan dulu, Bang."


"Iya bener, Vin. Kamu harus segera menikah agar gak jadi perjaka tua," ucap Erlangga dengan senyum meledek.


"Awas loh, Bos! Gak aku bantu acara pernikahannya. Masa iya aku harus nikah dengan cabe-cabean," ancam Calvin.


"Siapa juga yang mau sama Bang Calvin. Mending sama Baim saja. Bang Calvin kan udah tua pasti udah alot," sinis Kiranti.


"Apa katamu? Aku udah tua? Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku masih gagah?" cerocos Calvin tidak terima.


"Gagah menurut Abang. Tapi menurut aku B aja. Sudahlah, Bang. Aku pun gak mau nikah sama Abang dan aku juga tidak terima dibilang cabe-cabean."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2