JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
EMYR SADDAM


__ADS_3

Di dalam angkot, Shanum tiba-tiba ingin melihat ponselnya. Dirinya sangat terkejut sekali ketika sudah mencari di dalam tas yang dibawanya tetap saja tidak menemukan keberadaan ponselnya.


Laila yang melihat Shanum sibuk sendiri daritadi mencoba bertanya kepadanya. "Kamu sedang mencari apa Shanum?"


"Aku sedang mencari ponselku? Tapi tidak ada."


"Mungkin terselip diantara mukena kamu? Coba dicek lagi."


Shanum mencoba mencari disela-sela mukena yang dibawanya. Akan tetapi tetap saja tidak ada. Dan itu membuat Shanum sedikit panik.


"Tidak ada Laila!"


Laila mencoba untuk menghubunginya. "Aku akan mencoba menelponnya."


Shanum hanya mengangguk saja. Laila pun langsung mencoba menghubungi nomor ponsel Shanum.


"Terhubung!" tapi tiba-tiba mati sambungan teleponnya. "Eh! Tapi ko langsung mati? Apa ada yang sengaja mematikan sambungan teleponnya."


Shanum dan Laila kebingungan sendiri. "Aku harus bagaimana dong? Apa terjatuh di masjid tadi?"


"Kalau kita kembali ke sana, pasti nanti sampai rumah akan kemalaman."


"Ya sudah kita kembali ke sana saja yuk. Itu kan alat komunikasi kamu satu-satunya."


Laila mencoba mengalah dan mau mengantarkan Shanum kembali ke masjid tadi.


"Tidak Laila! Sekarang sudah jam lima sore. Kita juga sudah terlalu jauh dari masjid yang kita datangi tadi."


Shanum mencoba tegar dan ikhlas. "Biarlah. Mungkin Allah memang mentakdirkan aku untuk melupakan mas Imran seutuhnya."


"Apa kamu mau pinjam uangku dulu untuk membeli ponsel Num?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Biarlah."


Laila hanya bisa menggenggam tangan Shanum untuk menyalurkan kekuatannya. Laila benar-benar bangga bisa memiliki sahabat seperti Shanum yang selalu berusaha tegar dan ikhlas menerima cobaan yang menerpa.


Sedangkan beralih ke laki-laki yang menemukan ponsel Shanum.


Ketika dia sedang mengendarai mobilnya, tidak sengaja telinganya mendengar dering ponsel. Setelah dia cek, ternyata dering ponsel itu bukan miliknya, melainkan ponsel Shanum. Ia yang ingin mencoba mengangkatnya malah tiba-tiba ponselnya mati, karena baterainya habis.


"Iyah! Habis baterainya."

__ADS_1


Laki-laki tadi mencoba melihat lubang chargernya yang ternyata beda dari ponsel miliknya.


"Ini ponsel model lama. Dan aku tidak punya charger untuk model seperti ini."


Sedang asik berbicara sendiri sambil menyetir. Laki-laki tadi tiba-tiba mendengar dering ponsel lagi yang kali ini berasal dari ponselnya sendiri.


"Halo Ma! Assalamu'alaikum." Ternyata yang menelpon adalah sang mama.


"Wa'alaikumussalam Emyr. Kamu ada di mana? Ko Mama sama papa sampai rumah kamu. Kamunya sendiri tidak ada?"


Yaps! Laki-laki yang menemukan ponsel Shanum bernama Arkanza Emyr Muhammad Saddam. Atau biasa dipanggil Emyr.


Emyr ini keturunan asli Turki - Indonesia. Papa Turki, mama Indonesia. Jadi jangan ditanyakan bagaimana wajahnya yang tampan itu. Dengan tubuh yang tegap semampai nan gagah berotot. Hidung yang mancung dan jenggot yang dia rawat dengan rapi. Wajah putih bersih, khas orang Turki, serta bibir tipisnya yang berwarna pink alami sejak lahir. Para kaum hawa yang melihat, pasti akan salah fokus dengan ketampanannya. Termasuk Shanum sendiri tadi.


Ke dua orang tua Emyr tinggal di Turki. Sedangkan dirinya tinggal di Indonesia sejak berumur dua puluh lima tahun untuk meneruskan bisnis keluarga sang mama. Dan sekarang dia sudah berumur tiga puluh tahun.


Selama tiga puluh tahun itu. Emyr belum pernah sama sekali dekat dengan seorang perempuan. Sebab dia hanya fokus dengan karir dan karir saja. Hingga sampai lupa dengan umur.


Emyr anak tunggal dari pasangan papa Hisyam Saddam dan mama Mulan Saddam.


Di Turki sendiri sang papa juga mempunyai bisnis yang nantinya bakal Emyr teruskan, jika sang papa sudah tidak sanggup lagi mengelolanya. Jadi kalian semua bisa bayangkan bagaimana kayanya keluarga Emyr ini. Karena perusahaan yang ada di Indonesia saja sudah sangat besar dan cabangnya ada di berbagai kota.


Emyr yang mendengar jika sang mama ada di rumahnya. Dirinya merasa sangat terkejut dan juga senang secara bersamaan. Secara sang mama tidak mengabari dirinya terlebih dahulu jika mereka ingin berkunjung ke Indonesia.


"Iya! Cepat pulang!" jawab mama Mulan.


"Ok Ma! Ini Emyr sedang perjalanan pulang."


"Hati-hati naik mobilnya."


"Iya Mamaku yang cantik. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Sang mama langsung mematikan sambungan teleponnya.


Kekayaan Emyr tidak sebanding dengan harta yang dimiliki oleh Imran, yang cuma seorang ASN yang gajinya tidak seberapa. Dan Imran bersama ibu Mu'idah lupa. Jika masih ada langit di atas langit.


Emyr yang sudah sampai di rumah super mewahnya, langsung bergegas keluar dari dalam mobil ketika sudah memarkirkan mobilnya di dalam garasi.


Emyr sudah tidak sabar ingin melihat ke dua orang tuanya yang sudah beberapa bulan belakangan ini tidak pernah bertemu dengannya. Selain dirinya sibuk dengan bisnisnya yang membuatnya tidak sempat mengunjungi sang mama dan papa yang ada di Turki. Emyr pun sengaja menghindar, karena sang mama pasti akan menagih menantu kepadanya.


Terbukti sekarang. Setelah menyalami ke dua orang tuanya, dan baru saja duduk di sofa ruang keluarga. Emyr langsung ditanya pertanyaan yang membuatnya jenuh.

__ADS_1


"Sabarlah Ma! Emyr belum menemukan perempuan yang pas di hati Emyr."


"Mau sampai kapan Emyr? Lihatlah umur kamu yang sudah sangat matang itu!"


"Harta ada. Pekerjaan ada. Pasti kamu sanggup untuk menghidupi istri dan anak kamu nantinya."


"Jika kurang. Jual saja satu perusahaan. Pasti cukup untuk menghidupi keseharianmu nanti bersama istrimu!"


"Sabar Ma. Sabar! Nanti tambah tua!" ucap papa Hisyam.


Mama Mulan menjawab dengan wajah sebalnya. "Papa ini sama saja dengan Emyr!"


Setelah itu, mama Mulan memilih beranjak pergi ke dalam kamar yang biasa dia tempati jika berkunjung ke rumah Emyr.


Emyr dan papa Hisyam hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat sang Ratu mereka yang sedang marah-marah.


"Cepatlah cari istri Emyr. Biar kamu tidak terus-terusan mendengar ceramah mama kamu."


"Emyr belum ada Pa. Dan mau cari di mana. Sedangkan saja kandidatnya belum Emyr temukan."


"Papa doakan semoga kamu segera menemukannya."


Emyr langsung mengaamiinkan ucapan sang papa. "Aamiin. Emyr mau masuk ke dalam kamar dulu ya Pa."


Sang papa cuma mengangguk saja kepada Emyr. Dan Emyr pun langsung berlalu masuk ke dalam kamar pribadinya yang super mewah itu.


Sesampainya di dalam kamar. Emyr langsung bersih-bersih badannya. Dan karena berhubung waktu maghrib sudah tiba sejak tadi. Emyr pun langsung segera menunaikan ibadah sholat maghrib sendirian di dalam kamarnya. Tidak keburu jika dia pergi ke masjid depan kompleks.


Selesai sholat dan mengaji. Emyr baru teringat jika dia membawa ponsel Shanum. Dia mencoba menchargernya menggunakan powerbank canggih miliknya dan berhasil.


Emyr tersenyum sendiri melihat wajah cantik, manisnya Shanum.


Karena ponsel Shanum tidak ada passwordnya. Jadi dengan mudah Emyr bisa melihat apa saja yang ada di dalam ponsel Shanum.


Walau terbilang tidak sopan. Akan tetapi rasa penasaran Emyr sangat besar sekali. Dan dia juga berniat untuk mencari tahu alamat Shanum di dalam ponselnya.


Tidak sengaja mata Emyr melihat ada notif di atas ponsel tentang pengingat. Entah itu pengingat apa. Namun Emyr malah salah pencet membuka documen pribadi yang ada di dalam ponsel Shanum.


Dari kata-kata pembuka sudah membuat Emyr penasaran. Hingga akhirnya dia berlanjut membaca saking asiknya. Entah apa yang dibaca oleh Emyr. Namun yang pasti, Emyr bisa merasakan rasa sesak di dalam dadanya ketika membaca catatan pribadinya Shanum.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2