JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
BERSENANG - SENANG


__ADS_3

Dyah, mama Mulan dan juga Shanum, saat ini benar-benar sedang bersenang-senang di mall.


Dyah dan mama Mulan mencarikan banyak baju muslimah untuk Shanum menggunakan kartu kreditnya Emyr.


Emyr yang berada di rumah tersenyum sendiri, melihat banyak notif pengeluaran dari kartu kreditnya. Hatinya merasa bahagia bisa mencukupi kebutuhan yang Shanum inginkan. Dia berjanji jika mereka sudah benar-benar sah menjadi sepasang suami istri, Emyr akan memberikan apa saja yang Shanum inginkan.


"Kenapa Mama dan Dyah membuat Shanum pusing!"


"Kalau pusing, beli saja semuanya. Iya!"


Dyah mengangguk setuju. "Betul itu Nyonya. Ayo kita masukkan ke dalam keranjang."


Mama Mulan dan Dyah begitu kompak sekali. Shanum hanya bisa mengikuti mereka dari belakang sambil menggelengkan kepala.


Seumur-umur Shanum baru kali ini bisa berbelanja banyak tanpa melihat harga dan tanpa berpikir uangnya akan habis. Semua itu berkat Emyr.


Untuk pertama kalinya pergi berbelanja dengan anak perempuan, mama Mulan benar-benar merasa sangat bahagia sekali.


"Ternyata begini rasanya pergi berbelanja dengan anak perempuan. Kapan-kapan kita pergi lagi ya!"


Dyah mengangguk. "Siap Nyonya. Tapi kalau saya berkunjung ke rumah mas Emyr. Rumah saya 'kan cukup jauh dari rumah mas Emyr."


"Kamu tenang saja untuk masalah itu. Bisa diatur lah. Lagi pula sebentar lagi saya juga akan pulang ke Turki. Jadi, pastinya saya akan merindukan masa-masa berbelanja seperti ini."


"Turki, Nyonya?" ucap Dyah.


Mama Mulan mengangguk. "Iya! Saya 'kan menetap di Turki sama papanya Emyr."


"Jadi mas Emyr tinggal di sini sendirian dong?"


Shanum hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Iya! Emyr tinggal di sini sendirian untuk mengurus bisnis keluarga," jawab mama Mulan.


"Kalau boleh tahu, bisnis apa iya Nyonya?" tanya Dyah lagi.


"Perusahaan, PT dan pabrik yang berlebel A.E Corporation."


"A.E Corp?" Dyah terlihat terkejut.


Mama Mulan mengangguk. "Iya! Kenapa memangnya Nak Dyah?"


"Apakah semua bisnis itu milik keluarga Nyonya?"


Mama Mulan mengangguk lagi. "Iya! Itu bisnis milik keluarga saya. Sekarang diteruskan oleh Emyr."


"Sebenarnya nama bisnis itu bukan A.E, tapi nama almarhum ayah, Mama. Tapi sudah diganti cukup lama sama Emyr."


"Lalu, A.E singkatan dari apa ya Mama?" kali ini Shanum yang bertanya.


"Itu nama kepanjangan Emyr. "A.E, Arkanza Emyr," jawab mama Mulan.


"Dyah mau pingsan mbak Shanum!" Dyah berpura-pura memegangi kepalanya.


Shanum yang melihat langsung tertawa. "Kemarin Mbak juga rasanya mau pingsan mendengar keluarga mama sangat kaya raya."

__ADS_1


"Jadi kamu sudah tahu Nak?" tanya mama Mulan.


"Sudah Ma! Kemarin kak Emyr yang cerita sendiri kepada Shanum."


"Tapi Mama yakin, jika kamu bukan mengincar uangnya."


Shanum tersenyum dibalik niqabnya sambil mengangguk.


"Sudah yuk! Kita berbelanja lagi. Mama rasanya belum puas. Ayo kita habiskan uang Emyr." Mama Mulan menggandeng tangan Shanum dan juga Dyah.


Mereka bertiga yang kelelahan berbelanja, akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil membeli makanan di salah satu cafe yang ada di situ.


"Shanum mau ke kamar mandi dulu."


Mama Mulan dan Dyah hanya mengangguk saja kepada Shanum.


Sekarang tinggallah mama Mulan dan Dyah saja di meja itu. "Semoga mbak berbahagia."


"Aamiin," ucap mama Mulan.


Mama Mulan lalu memilih memainkan ponselnya sambil menunggu makanan yang mereka pesan sudah jadi. Sedangkan Dyah malah tiba-tiba melamun, keingat dengan kejadian di rumahnya sebelum dirinya berangkat pergi tadi.


Dyah yang mendengar pintu rumahnya diketuk dari luar, langsung saja segera membukanya. Melihat sang ibu datang ke rumahnya, tentu saja Dyah langsung menyuruhnya masuk.


Dyah dan ibu Mu'idah saat ini sudah duduk berdua di ruang tamu rumah Dyah. "Dyah! Tolong jawab dengan jujur."


"Jawab apa Ibu?" tanya Dyah.


"Apakah benar kalau Shanum sudah menikah dengan pengusaha kaya raya?"


Dyah tidak menyangka kalau tebakannya benar. Jika sang ibu sampai mengetahui tentang Shanum, dia akan bertanya langsung kepadanya.


Dyah tiba-tiba membuka ponselnya. "Ini suami mbak Shanum, ibu. Itu foto ketika kami berkunjung ke rumah teman kami."


Dyah memperlihatkan foto kebersamaannya kemarin dengan Emyr dan Shanum, ketika selesai menjual hasil dagangan hasil masakan mereka.


Foto itu diambil di ruang tamu rumah kontrakan Shanum sebagai kenang-kenangan.


"Lalu! Mana Shanumnya?" ibu Mu'idah tentu saja tidak mengenali Shanum yang saat ini sudah memakai niqab.


"Wanita bercadar yang duduk disebelahnya itu mbak Shanum, Ibu."


Ibu Mu'idah tidak percaya jika itu adalah Shanum. "Terserah Ibu mau percaya atau tidak. Yang pasti, mbak Shanum saat ini sudah memakai niqab."


"Semua itu mbak Shanum lakukan untuk menjaga dirinya dan menyenangkan hati suaminya."


"Ibu boleh saja tidak percaya. Tapi mas Imran sudah melihat sendiri, bagaimana perubahan mbak Shanum saat ini," lanjut lagi ucapan Dyah.


"Lebih baik Ibu jangan mengurus kehidupan mbak Shanum yang sudah berbahagia dengan suaminya, Bu. Ibu urus saja menantu kesayangan Ibu itu yang katanya jauh lebih baik dari mbak Shanum."


"Memang Linda jauh lebih baik dari Shanum!" bantah ibu Mu'idah.


"Baik apanya Ibu? Jangan Ibu kira Dyah yang jarang berkunjung ke sana tidak tahu apa-apa?"


"Apakah versi baik menurut ibu adalah seorang istri yang tidak bisa memasak, tidak bisa mengurus suami, selalu maunya menang sendiri, selalu merasa lebih baik dari suaminya. Dan selalu membuat suaminya tidak merasa nyaman di rumah. Seperti itukah versi baik menurut Ibu!"

__ADS_1


"Huh! Kamu sama saja seperti Shanum! Suka membantah!"


Ibu Mu'idah langsung beranjak pergi dari rumah Dyah setelah mengatakan hal itu. Padahal yang suka membantah adalah Linda, bukannya Shanum.


Dyah yang mendengar ucapan sang ibu hanya bisa menghela nafasnya saja sambil mengucap istighfar sebanyak banyaknya.


"Hayo! Kamu melamun ya Dyah!"


Dyah benar-benar terkejut ketika Shanum mengejutkannya. "Mbak membuat Dyah terkejut."


"Melamunkan apa sih? Mbak tinggal ke kamar mandi sebentar ko sudah melamun begitu?"


Dyah menggelengkan kepalanya. "Tidak melamunkan apa-apa. Hanya sedang menikmati suasana di sini." Tidak mungkin Dyah berkata jujur apa yang tadi sedang dia lamunkan.


Shanum hanya mengangguk saja, dan ketika dirinya ingin mengambil ponsel di dalam tasnya, dia menemukan sesuatu yang tidak asing, yaitu dompet Emyr.


"Lho! Ini 'kan dompet kak Emyr. Kenapa bisa berada di dalam tas Shanum?"


Mama Mulan yang sedang membalas pesan temannya langsung mengalihkan pandangannya kearah Shanum sambil tertawa. "Hehehe! Mama yang sudah memasukkannya di situ.


"Mama! Bagaimana bisa Mama memasukkan dompet kak Emyr ke sini. Sedangkan tadi, Shanum sudah mengembalikan kepadanya?"


"Tadi Mama lihat dompetnya tergeletak sembarangan di sofa. Jadi Mama ambil diam-diam lalu Mama masukkan ke dalam tas kamu."


Mama Mulan seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Dia menjelaskan sambil tertawa senang. Dyah yang ada di situ hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


Sedangkan Emyr sendiri yang saat ini sudah masuk ke dalam kamarnya, setelah selesai berbincang dengan Malik dan papa Hisyam. Dia baru menyadari jika dompetnya tidak ada di saku celananya.


"Dompetku bukannya tadi sudah dikembalikan sama Shanum ya? Lalu di mana?"


Emyr lalu mencoba mencarinya di ruang tamu rumahnya. Tapi tetap saja tidak menemukannya.


"Aku coba tanya Shanum."


Eh! Baru saja mau memencet nomor telepon Shanum. Orang yang bersangkutan sudah menelponnya terlebih dahulu.


"Halo! Assalamu'alaikum sayang."


Shanum tersipu malu, karena Emyr memanggilnya sayang. "Wa'alaikumussalam Kak."


"Emm! Apakah Kakak sekarang sedang mencari dompet Kakak?"


"Bagaimana kamu tahu Shanum. Tadi bukankah sudah kamu kembalikan ke Kakak ya! Ko Kakak cari tidak ada ya di sini?"


"Dompetnya Shanum bawa Kak. Maaf!" jelas Shanum.


"Syukurlah kalau kamu bawa. Takutnya hilang, nanti mengurusnya lama." Emyr merasa lega sekali.


"Itu ada uang di dompet Kaka. Pakai saja jika kurang. Kakak tidak marah ko kalau kamu mau membuka dompet Kakak."


"Terimakasih atas kepercayaannya Kak. Akan Shanum simpan saja dompetnya dengan baik. Nanti bila Shanum sudah pulang, dompetnya akan Shanum kembalikan."


"Iya. Terserah kamu saja."


Mereka lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Sedangkan mama Mulan dan Dyah hanya mendengarkan saja pembicaraan antara Shanum dan Emyr melalui sambungan telepon.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2