JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
SARAPAN BERSAMA


__ADS_3

Mengerjakan pekerjaan dan harus selesai malam ini juga sepertinya itu cuma angan-angan saja. Sebab pasalnya pikiran Emyr tidak bisa konsentrasi sama sekali. Hanya Shanum dan Shanum saja yang menguasai hati dan pikirannya malam ini.


"Aku nggak tahan!"


Emyr memandang semua tumpukan kertas di atas meja dan file yang terbuka di dalam laptopnya. "Apa aku tulis nama Shanum saja di semua file dan berkas ini? Argh! Kenapa cuma Shanum saja yang aku pikirkan sekarang. Aku tidak bisa konsentrasi sama sekali!" Emyr mengacak-acak rambutnya.


"Bisa gila aku ini!" Emyr terlihat frustasi.


"Ya Allah. Ayo segera halalkan hamba dengan Shanum. Jadi bila hamba merasa seperti ini. Setidaknya hamba bisa bermanja di pangkuannya."


Terdengar lucu doa yang Emyr panjatkan. Dia berjalan tidak menentu di dalam kamarnya sambil terus menggigit jarinya.


"Lebih baik aku lihat saja apa yang sedang dilakukan oleh Shanum di ruang keluarga."


Sambil membawa laptopnya, Emyr pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. Sesampainya di lantai bawah, sama-samar telinganya mendengar suara Shanum yang sedang berbicara dengan seseorang. Setelah sampai di ruang keluarga, Emyr mencoba bersembunyi dibalik pilar untuk mendengarkan apa yang sedang Shanum bicarakan di telepon.


"Ternyata dia sedang berbicara dengan Dyah!" ucap Emyr yang mendengar Shanum menyebut nama Dyah.


"Kenapa aku malah menguping begini. Jika sampai ketahuan oleh Shanum, bisa malu aku!"


Emyr lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan dengan santai menuju ke ruang keluarga.


"Emm! Nanti Mbak telepon lagi ya Dyah. Assalamu'alaikum!" Shanum langsung mematikan sambungan teleponnya ketika melihat Emyr berjalan kearahnya.


"Apakah tadi Dyah yang menelponmu?" Emyr sambil duduk di sofa seberang Shanum.


Shanum langsung mengangguk. "Iya! Tadi Dyah yang menelpon Shanum. Dia tanya kabar dan keadaan Shanum di sini."


Emyr bertanya sambil membuka laptopnya. "Lalu kamu jawab apa sama Dyah?"


"Mau tahu banget jawabannya atau biasa saja?" Shanum tertawa menggoda Emyr.


Emyr langsung tersenyum. "Sepertinya kamu sudah berani bercanda sama Kakak!"


Shanum langsung tertawa mendengar ucapan Emyr. Emyr senang bisa melihat dan mendengar Shanum tertawa.


"Jika kamu sudah menjadi istri Kakak. Akan Kakak gigit itu pipimu!"


Mendengar ucapan Emyr. Shanum langsung terdiam seketika. Matanya menatap Emyr dengan tatapan yang entahlah, tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Sedangkan Emyr yang baru saja tersadar mengatakan hal yang tidak semestinya. Dia langsung berdeham untuk menetralkan rasa malunya. "Ehem!"


"Ehem! Kakak bolehkan 'kan mengerjakan pekerjaan Kakak di sini sambil menemanimu?" Emyr mengalihkan suasana.


Sekarang suasana di antara mereka berdua terlihat canggung, karena ucapan Emyr tadi.


"Terserah Kakak saja. Jika Kakak terganggu, biar Shanum masuk ke dalam kamar saja."


"Jangan!" Emyr refleks mencegah Shanum. Shanum yang sudah berdiri dari duduknya, lalu duduk kembali.


"Emm! Ka-kamu tidak mengganggu Kakak ko! Duduklah saja. Kakak senang ada kamu di sini."


"Baiklah! Engh Kak! Boleh Shanum bertanya?"


Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, Emyr langsung menjawabnya. "Tanyakanlah saja."

__ADS_1


"Sampai kapan Shanum akan tinggal di sini? Karena Shanum cuma membawa sedikit baju saja."


Emyr langsung mengalihkan pandangannya kearah Shanum. "Untuk masalah itu, biar besok Kakak meminta tolong sama mama untuk menemanimu membeli baju."


"Eh! Jangan Kak!"


"Kenapa?" tanya Emyr.


"Tidak perlu sungkan. Uang Kakak juga uang kamu ko. Dan sampai kapannya kamu tinggal di sini. Ya jawabannya selamanya. Karena sebentar lagi kita akan menikah."


"Hah!"


"Ta-tapi 'kan Shanum belum mengatakan iya kepada Kakak?" ucap Shanum.


"Kakak yakin kamu pasti akan menerima Kakak."


"Walau Kakak baru mengenalmu, tapi Kakak yakin, kamu menerima Kakak bukan karena uang yang Kakak miliki. Justru jika semua uang Kakak bisa kamu tukarkan, kamu pasti akan menukarkannya dengan kebahagiaan yang abadi yang sudah lama kamu impikan."


Shanum terdiam, karena apa yang dikatakan oleh Emyr memang benar apa adanya. Dia mencintai laki-laki bukan karena hartanya, tapi keimanannya dan bisa membuat hatinya merasa nyaman.


Shanum akhirnya memilih diam dan memfokuskan diri dengan menonton televisi yang ada di depannya. Karena merasa mengantuk, tapi malu meminta ijin kepada Emyr, akhirnya Shanum tertidur di sofa yang dia duduki.


Emyr yang merasa Shanum hanya diam saja, lalu mencoba mendekatinya.


"Ternyata dia tertidur. Kasihan sekali dia." Emyr berdiri di depan Shanum.


Emyr lalu menggoyangkan tangan Shanum dengan perlahan untuk membangunkannya.


"Engh! Maaf Kak! Shanum ketiduran."


"Baiklah! Shanum permisi Kak. Kakak jangan tidur terlalu larut."


Emyr hanya mengangguk saja. Akhirnya, Shanum pun berlalu pergi dari hadapan Emyr untuk masuk ke dalam kamar tamu yang dia tempati.


"Ternyata mengerjakan pekerjaan di temani Shanum membuatku semakin semangat."


"Aku sudah tidak sabar menjadikannya istriku!"


Emyr lalu mematikan sambungan televisinya dan membawa laptopnya untuk dia bawa masuk ke dalam kamarnya.


Pagi harinya, karena sudah terbiasa bangun pagi. Sebelum subuh, Shanum sudah bangun dan ingin membantu memasak di dapur.


Para asisten rumah tangga yang melihat kedatangan Shanum langsung merasa tidak enak.


"Nyonya! Anda istirahat saja. Biar ini semua kami yang memasaknya. Nanti kami bisa dimarahi tuan Emyr."


"Tapi saya tidak ada pekerjaan di sini. Jadi tidak apa-apa 'kan jika saya mau membantu kalian?"


"Tapi Nyonya ... "


"Sudahlah! Nanti saya sendiri yang akan berbicara kepada kak Emyr."


Dengan terpaksa, akhirnya para asisten rumah tangga Emyr mengijinkan Shanum untuk memasak.


Para asisten rumah tangga Emyr merasa senang kepada Shanum. Karena ternyata Shanum bukan orang yang sombong. Bahkan terkesan humble dan mudah akrab dengan mereka semua.

__ADS_1


"Tapi ini semua yang memasak Nyonya. Nanti kalau tuan Emyr, tuan besar dan nyonya Mulan tahu kami tidak ngapa-ngapain, kami bisa dimarahi Nyonya."


Shanum menenangkan para asisten rumah tangga itu. "Kalian tenang saja. Saya jamin kalian tidak akan dimarahi."


"Kalian semua tadi 'kan juga sudah banyak membantu saya. Tenanglah! Ayo bantu saya lagi menyiapkan ini semua di meja makan."


Sesampainya di ruang makan, Shanum langsung melihat mama Mulan yang baru masuk ke dalam ruang makan bersama papa Hisyam.


"Pagi Shanum."


Shanum tersenyum. "Pagi Ma! Pa!"


"Kamu pagi sekali bangunnya Shanum?" tanya papa Hisyam.


"Iya Pa! Karena sudah terbiasa. Sebab biasanya Shanum bangun jam satu dini hari untuk memasak."


"Pagi sekali kamu bangunnya Nak? Apa kamu berjualan?"


Shanum mengangguk. "Iya Ma! Shanum berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhan Shanum sehari-hari."


Pandangan mata mereka semua lalu teralihkan kearah Emyr yang baru masuk ke dalam ruang makan.


"Pagi Ma! Pa! Calon istriku!"


Mendengar Emyr sudah berani mengakui Shanum di depan mereka. Mama Mulan langsung tersenyum menggoda. Sedangkan Shanum langsung menunduk menyembunyikan rasa malunya. Dan untuk papa Hisyam, cuma menggelengkan kepalanya saja melihat sikap Emyr.


"Pagi Nak! Mau makan yang mana?" ucap mama Mulan.


"Semuanya boleh. Sepertinya enak."


"Mau Shanum ambilkan?" Shanum tahu diri sebagai yang paling muda di situ.


"Boleh!"


Shanum langsung menerima piring yang diberikan oleh Emyr. Di atas piring itu, Shanum mengambilkan makanan yang ditunjuk oleh Emyr.


Ketika piring sudah berada di depan Emyr, Emyr langsung memakannya setelah berdoa. Baru satu sendok masuk ke dalam mulut, Emyr sangat tahu sekali siapa yang sudah memasak masakan itu.


"Apakah masakan ini semua kamu yang memasak Shanum?"


Pandangan mata mama Mulan dan papa Hisyam teralihkan kearah Shanum.


Shanum langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Kak! Maaf kalau tidak enak." Shanum terlihat ketakutan.


"Enak ko! Ini enak sayang. Pantas saja rasanya tidak seperti biasanya." Bukan Emyr yang menjawab, melainkan mama Mulan.


"Benar begitu 'kan Pa?" tanya mama Mulan.


Papa Hisyam langsung mengangguk. "Iya benar! Bahkan Papa sudah nambah dua kali. Apa kamu tidak memperhatikannya Shanum."


Shanum tersenyum dibalik niqabnya. Terlebih lagi saat ini dia melihat Emyr sangat begitu lahap sekali dalam menikmati makanannya. Hal itu membuat hati Shanum menghangat.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2