
Saat ini keluarga papa Hisyam sedang menikmati sarapan bersama dengan Shanum sambil diselingi perbincangan hangat.
"Nak! Ini 'kan sudah pagi. Bagaimana dengan jawaban yang akan kamu berikan kepada Emyr?"
Shanum yang mendengar ucapan mama Mulan langsung menghentikan mengunyahnya. Mata Emyr dan papa Hisyam juga langsung tertuju kearah Shanum. Jantung Emyr pun berdetak dua kali lipat dari sebelumnya.
"Bismillah! Shanum mau Ma!"
"Shanum mau menikah dengan kak Emyr."
Mama Mulan, papa Hisyam dan juga Emyr langsung tersenyum bahagia mendengar Shanum menerima lamarannya. "Alhamdulillah!" ucap semua orang.
"Tapi! Ada syarat yang ingin Shanum ajukan kepada kalian terlebih dahulu."
Mama Mulan, papa Hisyam dan juga Emyr langsung saling pandang, ketika Shanum mengajukan syarat kepada mereka. "Syarat apa itu Shanum?" ucap Emyr.
"Shanum ingin kalian semua ikut ke kampung halaman Shanum, untuk melihat bagaimana kesehariannya Shanum. Supaya kalian semua bisa menilai sendiri bagaimana Shanum, dan apakah kalian mau melanjutkan pernikahan ini."
Dengan mantap Emyr menjawabnya. "Baiklah. Kakak mau! Setelah sarapan, ayo kita ke kampung halamanmu, Shanum."
"Iya! Mama juga mau! Sekalian nanti kita berkunjung ke makam ke dua orang tua kamu ya Nak."
Shanum lalu mengalihkan pandangannya kearah papa Hisyam yang hanya diam saja daritadi. Papa Hisyam yang menyadari jika Shanum menunggu jawaban darinya lalu ikut berbicara. "Papa ok-ok saja! Papa tidak masalah Shanum."
"Baiklah. Shanum sudah selesai. Shanum ijin mau bersiap-siap terlebih dahulu."
Semua orang hanya mengangguk saja kepada Shanum. Dan Shanum pun langsung berlalu menuju ke dalam kamarnya.
Flashback tadi malam.
Malam tadi, Shanum tiba-tiba bisa bermimpi bertemu dengan ke dua orang tuanya.
"Ibu! Ayah!" mata Shanum terlihat berkaca-kaca bisa melihat ke dua orang tuanya lagi.
Ayah Umar dan ibu Yasmin tersenyum sangat manis sekali. Mereka berdua lalu menghampiri Shanum yang sedang duduk termenung sendirian.
"Shanum sangat merindukan kalian berdua!" Shanum langsung memeluk ke dua orang tuanya secara bergantian.
"Ada apa anak Ayah termenung sendiri? Apa ada yang sedang dipikirkan?" ayah Umar membelai kepala Shanum dengan lembut.
"Katakanlah saja Nak," ucap ibu Yasmin.
"Shanum ... "
"Shanum bingung, Ayah, Ibu. Apakah Shanum harus menerima lamaran kak Emyr atau tidak."
Ibu Yasmin tersenyum manis sambil memegang lembut tangan Shanum. "Tanyakanlah saja kepada hatimu, Shanum."
"Tapi Shanum takut sakit hati untuk ke dua kalinya, Ibu."
"Setidaknya kamu sudah berani mencoba dan melangkah memperbaiki masa depan, Nak."
"Iya! Dan untuk seterusnya, serahkanlah kepada Allah, Nak. Karena Allah tidak akan meninggalkan orang-orang yang beriman," sambung ayah Umar.
"Jadi! Shanum harus terima kak Emyr?"
__ADS_1
"Tanyakanlah kepada hatimu, Shanum. Karena kamu yang akan menjalaninya," ibu Yasmin dan ayah Umar beranjak berdiri dari duduknya.
"Ayah sama ibu selalu mendoakan kamu, Nak. Berbahagialah selalu," ucap ayah Umar.
Setelah mengatakan itu, ayah Umar dan ibu Yasmin tiba-tiba menghilang ditelan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Bersamaan dengan itu, Shanum pun langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang berantakan.
Flashback off.
Shanum jadi teringat dengan mimpinya semalam. Itulah mengapa dia mencoba menerima lamaran Emyr. Dan untuk kedepannya, Shanum akan memasrahkan diri kepada sang maha pencipta.
"Bismillah! Semoga ini awal yang baik!"
Selesai bersiap-siap, Shanum lalu keluar dari dalam kamar untuk menunggu semua orang di ruang keluarga. Tapi tidak tahunya, mereka semua ternyata sudah menunggunya.
"Apakah kamu sudah siap Shanum?"
Shanum cuma mengangguk saja. "Iya Kak!"
"Ayo kita berangkat."
Shanum lagi-lagi cuma mengangguk. Dan mereka berempat lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Nasir.
Nasir sendiri sangat senang ketika mengetahui, jika Shanum diperlakukan istimewa oleh keluarga Emyr. Tapi Nasir tidak mengetahui, jika ibu Shanum adalah sahabat baik mama Mulan.
Nasir juga selalu memberi kabar kepada Laila bagaimana keadaan Shanum di sini. Namun, hari ini Nasir tidak mengetahui, jika Emyr dan Shanum akan berkunjung ke kampung halaman Shanum, sebab mereka perginya secara mendadak.
"Saya akan menyetir sendiri, Nasir. Kamu jaga rumah sama yang lainnya."
Emyr hanya mengangguk saja. Sedangkan Shanum cuma tersenyum tipis dibalik niqabnya sambil mengangguk kepada Nasir.
Mereka berempat yang sudah masuk ke dalam mobil, dengan Shanum yang duduk di kursi depan bersama Emyr. Emyr pun langsung bergegas tancap gas menuju ke kampung halamannya.
"Apakah lama Nak sampai di kampung halamanmu?"
"Lumayan lama Ma!" jawab Shanum.
Selama diperjalanan, mereka semua tidak banyak berbincang. Hanya berbincang seperlunya saja jika mama Mulan bertanya tentang ibu Yasmin.
Apa yang dikatakan oleh Shanum benar apa adanya, jika perjalanan yang mereka tempuh cukup memakan waktu yang lumayan lama. Sekitar hampir pukul sebelas siang, akhirnya mobil yang mereka naiki sampai juga di sebuah perkampungan yang masih asri.
"Gang yang sebelah situ, tempat tinggal Laila, Kak." Shanum menunjukkan gang yang menuju ke tempat tinggal Laila.
"Berarti dekat ya dengan rumah kamu?"
Shanum mengangguk. "Sangat dekat sekali Kak."
Para warga kampung yang baru pertama kali melihat mobil super mewah melintas di jalanan kampung mereka, membuat mereka semua bertanda tanya, mobil siapakah itu.
"Itu rumah Shanum, Kak!"
"Itu!" Emyr menunjuk sebuah pintu gerbang.
"Iya!" jawab Shanum.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu gerbang, Shanum turun terlebih dahulu untuk membukakan pintunya, supaya mobil Emyr bisa masuk ke dalam.
Para warga yang melihat mobil mewah itu berhenti di depan rumah Shanum, apalagi Shanum terlihat baru saja turun dari dalam mobil tersebut. Membuat mereka semua semakin penasaran saja. Mereka semua lalu berbisik-bisik dan bergosip tentang Shanum.
Ketika mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah Shanum, mama Mulan, papa Hisyam dan juga Emyr langsung saja turun dari dalam mobil dan saat ini sedang memperhatikan rumah Shanum.
"Ini rumah peninggalan nenek dan ke dua orang tua Shanum, Kak, Ma, Pa."
"Ayo mari silahkan masuk. Maaf, mungkin nanti akan banyak debu, karena sudah lama kosong."
Papa Hisyam, mama Mulan dan juga Emyr setelah mengucapkan kata salam, langsung masuk ke dalam rumah Shanum.
Sesampainya di dalam ruang tamu Shanum, mereka semua disambut banyak foto kenangan tentang keluarga Shanum. Dari ke dua orang tuanya, dari neneknya, bahkan dari Shanum sendiri.
Mama Mulan yang melihat foto ibu Yasmin, langsung berjalan mendekatinya sambil tersenyum dan juga menangis.
"Yasmin! Setelah sekian lama, akhirnya aku tahu di mana kamu tinggal."
Papa Hisyam yang melihat sang istri bersedih, langsung merangkulnya dengan mesra.
"Tenanglah Ma! Jangan seperti ini. Nanti Yasmin bisa bersedih di sana."
Mendengar ucapan papa Hisyam. Mama Mulan langsung mengusap air matanya.
Semua foto-foto yang ada di situ, adalah foto-foto jadul. Bahkan fotonya Shanum saja, sebelum dia menikah.
"Beginilah rumah Shanum, Ma, Pa, Kak Emyr. Silahkan jika mau melihat-lihat. Karena rumah Shanum sangat jauh dari kesan mewah."
Papa Hisyam tersenyum. "Kamu anak yang baik Shanum. Bahkan kamu tidak malu sama sekali kepada kami, di saat orang-orang sedang berlomba-lomba menunjukkan kebaikan dihadapan kami."
"Untuk apa hidup dalam kebohongan Papa. Yang ada nanti kita tidak bakal bisa tenang," jawab Shanum.
"Kamu benar Shanum. Saya sekarang yakin, jika kamu adalah anak yang baik."
Mama Mulan dan Emyr saat ini sedang sibuk melihat-lihat seisi rumah Shanum yang benar-benar sangat sederhana sekali. Rumah jaman dulu, yang tembok dindingnya sudah tidak lagi kokoh.
Melihat keadaannya Shanum yang tergolong orang miskin. Emyr bukannya minder atau berubah pikiran. Tapi dia malah semakin bertekad untuk mendapatkan Shanum.
Setelah puas melihat-lihat, Emyr dan mama Mulan ikut bergabung dengan papa Hisyam dan juga Shanum.
"Bagaimana Ma, Pa, Kak Emyr setelah kalian mengetahui kehidupan Shanum yang jauh berbeda dengan kehidupan kalian."
"Kakak tetap mantap memilihmu, Shanum."
Shanum tersipu malu mendengar jawaban Emyr yang terdengar mantap sekali. Untung saja dia memakai niqab. Jadi tidak terlihat jika pipinya sedang memerah karena malu.
"Iya Nak! Mama dan papa tidak mempermasalahkan ini semua," ucap mama Mulan.
"Alhamdulillah!" ucap Shanum berbisik.
Sedang asik berbincang, tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan kearah orang yang baru saja berdiri di depan pintu.
Mata Shanum langsung melotot sangat lebar sekali ketika melihat orang tersebut. "Mas Imran!"
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...