
Perut terasa lapar. Tapi mulut rasanya sangat susah sekali untuk dia buka dan untuk menelan sesuatu. Itu semua karena masalah yang sedang dihadapinya.
Walau Imran sudah sering menyakitinya. Di saat sedang sarapan seperti ini. Shanum tidak sengaja teringat dengan dirinya yang biasanya sarapan bersama dengan Imran.
Sebenarnya tidak cuma Shanum saja yang merasa sakit hati dengan masalah yang sedang terjadi. Tapi Imran pun sama halnya dengan Shanum. Tapi rasa sakit hati yang Imran rasakan tidak sebesar apa yang dirasakan oleh Shanum.
Ketika Imran sudah selesai mandi dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja ke kantor dinasnya. Imran mungkin lupa jika dia sudah menceraikan Shanum.
"Num! Kenapa sudah jam segini kamu belum menyiapkan sarapan untuk Mas?" ucap Imran sambil membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.
Imran lalu tersadar. Dia langsung menarik nafasnya sangat panjang sekali.
"Astaghfirullah. Aku semalam sudah mentalak Shanum."
Imran mengusap wajahnya dengan kasar. "Di satu sisi aku masih sangat mencintai Shanum. Di sisi lain aku sudah sangat ingin sekali mempunyai anak."
"Apa aku sudah terlalu berdosa kepada Shanum ya Allah?"
Shanum dan Imran belum pernah periksa atau cek sama sekali untuk kesehatan mereka. Imran yakin jika dirinya sehat. Sebab di dalam keluarganya tidak ada yang namanya mandul. Jadi! Ketika Shanum mengajaknya untuk periksa ke dokter tentang masalah mereka. Imran selalu menolak dan mengatakan jika Shanumlah yang mandul.
Kita semua belum tahu. Siapakah yang mandul di antara Shanum dan Imran. Semua itu bisa ketahuan nanti jika mereka sudah memiliki pasangan lagi.
Imran yang tidak mau larut memikirkan Shanum supaya hatinya tidak menjadi gundah. Dia pun memilih langsung bergegas berangkat bekerja.
Imran belum sadar. Jika proses perceraiannya dengan Shanum sudah menjadi buah bibir di kampung tempat tinggalnya.
Apakah Imran mempunyai seorang bapak. Jawabannya bapak Imran sudah meninggal cukup lama. Jadi dia cuma memiliki ibu Mu'idah saja bersama adik perempuannya, yaitu Dyah. Saking menyayangi dan menjunjung tinggi martabat ibunya. Imran sampai salah menempatkan posisi bagaimana menuruti permintaan sang ibu demi kehidupannya.
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” [HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548].
Namun kita sebagai seorang anak. Terutama sebagai seorang anak laki-laki. Harus bisa memilah dan memilih perintah mana yang baik bagi kita dari orang tua. Terutama ibu kita.
Jika dalam kasus Imran yang terlalu patuh kepada ibu Mu'idah, hingga dia sampai dzalim kepada Shanum. Tentu saja Imran termasuk suami durhaka dan dia tinggal menunggu saja kapan Allah akan memberikan balasan kepadanya.
Kembali kepada Shanum lagi.
Karena dia tidak mau sampai jatuh sakit untuk kesekian kalinya. Sedangkan hatinya saja saat ini sedang terluka. Shanum tetap memaksakan makan makanan yang sudah dibelinya tadi.
__ADS_1
Selesai sarapan. Shanum memilih untuk bersih-bersih rumah dengan sisa-sisa tenaganya. Sambil bersih-bersih rumah. Shanum berniat sekalian mengalihkan pikirannya dari Imran dan dari masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
Membersihkan rumah sendirian saja walau tidak terlalu besar. Tetap saja membuat tubuh kita akan terasa capek dan letih.
"Capek sekali tubuhku. Kira-kira sekarang jam berapa ya?"
Karena di dalam rumah tidak ada jam dinding. Shanum pun memilih untuk mengecek ke dalam ponselnya. Ponsel yang sudah ketinggalan jaman, karena dia tidak mau dibelikan yang baru oleh Imran.
"Sayang sama uangnya Mas. Lebih baik di simpan untuk masa depan kita."
"Lagipula, ponsel ini masih bagus. Tidak rusak. Masih bisa untuk semuanya. Cuma ya ketinggalan jaman."
Begitulah jawaban yang akan Shanum berikan kepada Imran. Ketika Imran menawarinya ingin membelikan ponsel baru.
Shanum mengaktifkan mode pesawat yang ada di dalam ponselnya. Karena dia sedang tidak ingin dihubungi oleh siapapun.
"Ternyata sudah jam setengah dua belas siang. Cepat sekali," ucap Shanum.
Dari dalam kamar. Shanum mendengar ada seseorang yang mengucapkan salam dari depan rumahnya. Shanum pun tentu saja langsung keluar dari dalam kamar untuk melihat, siapakah orang yang bertamu ke rumahnya. Yang ternyata Laila.
"Wa'alaikumussalam. Eh! Laila! Ayo silahkan masuk."
"Maaf ya Laila. Di rumahku belum ada apa-apa. Adanya cuma air putih saja."
Laila tersenyum. "Aku ke sini bukan untuk meminta air minum kepadamu Shanum."
"Ini! Lagipula aku ke sini juga sudah membawa makanan yang tadi aku beli. Sekaligus masakan dari ibu tadi. Katanya untuk kamu."
Shanum merasa senang sekali. "Masyaallah. Terimakasih banyak Laila."
"Kalau begitu, aku mau mengambil piring dulu ya. Kita bisa makan bersama-sama nanti."
Laila mengangguk saja. Shanum lalu beranjak ke dalam dapur untuk mengambil perlengkapan makan, sekaligus dua gelas air putih.
"Oh ya Num! Ayo segera ceritakan semuanya kepadaku. Hari ini aku bebas. Aku sudah ijin sama ibu. Jadi aku bisa pulang ke rumah sesukaku. Ibu juga tahu jika aku ke sini."
"Emm! Aku mandi dulu ya. Gerah sekali. Karena daritadi aku sibuk bersih-bersih rumah," jawab Shanum.
__ADS_1
"Kalau kamu mau makan dulu. Makanlah tidak apa-apa."
"Nanti saja. Sekalian menunggu kamu selesai mandi."
Shanum mengangguk saja. Dia lalu ijin mandi sebentar kepada Laila dan meninggalkan Laila sendirian di situ.
Laila ini teman masa kecil Shanum. Jadi Laila dan Shanum sudah sangat akrab sekali. Dan Laila juga dulu sering main ke rumah nenek Shanum, sebelum Shanum menikah dengan Imran. Serta sebelum dia bekerja di luar kota.
Selesai mandi. Shanum terlihat lebih segar dan juga fresh. Dia yang sudah memakai hijabnya yang bersih, lalu menemui Laila di ruang tamunya.
"Sekarang kamu sudah segar. Sekarang sambil makan, ayo cepat ceritakan kepadaku. Apalagi daritadi aku tidak melihat mas Imran sama sekali di sini."
"Baiklah akan aku ceritakan semuanya kepadamu."
Laila mengangguk dan memasang telinganya dengan baik sambil menikmati makanan yang dibawanya.
Shanum lalu menceritakan kepada Laila apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya bersama Imran. Tidak semuanya Shanum ceritakan. Karena dia masih menjaga aib rumah tangganya.
Walau Laila tahu Shanum tidak menceritakan keseluruhan cuma intinya saja. Akan tetapi sebagai seorang wanita, Laila bisa ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Shanum sekarang. Bahkan Laila sampai menghentikan mengunyah makanannya karena terkejut mendengar kisah Shanum yang menyedihkan.
"Ya Allah, Shanum! Sungguh malang sekali nasib kamu. Semoga mas Imran dan ibu mertua kamu itu terkena adzab dari Allah. Karena sudah dzalim kepadamu."
Shanum langsung menegur ucapan sang sahabat. "Hust! Jangan berdoa seperti itu Laila. Tidak baik. Nanti bisa berbalik kepadamu sendiri."
"Yang sabar ya Shanum. Semoga Allah segera menggantikan hal terindah dan terbaik dari ini semua."
"Allah tidak tidur. Percayalah! Suatu saat nanti pasti Allah sudah menyiapkan kebahagiaan yang selama ini kamu harapkan."
Laila sangat tulus sekali mendoakan Shanum. Dan Laila menjadi membenci Imran serta ibu Mu'idah. Karena sudah membuat sahabat masa kecilnya bersedih seperti itu.
Laila juga berjanji akan selalu menemani Shanum lagi sampai Shanum menikah lagi. Sebab Shanum cuma seorang diri di dunia ini. Tidak ada lagi orang yang bisa dia ajak berbagi keluh kesahnya.
Sahabat yang baik. Adalah sahabat yang bisa membuat kita masuk ke dalam surga Allah bersama-sama. Oleh karena itu, jika kita mempunyai sahabat yang senantiasa mengingatkan kita tentang akhirat. Genggamlah tangannya. Jangan kamu lepaskan. Sejatinya, sahabat yang seperti itu adalah sahabat yang akan menemanimu nanti di surga.
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17].
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...