
Yaps! Kalian semua tidak salah guys. Nasir ini adalah anak pertama nenek Khadijah dan kakek Idris. Dan dia sudah lama bekerja dengan Emyr selama ini sebagai sopir pribadinya.
Nenek Khadijah dan kakek Idris mengajak Emyr dan Nasir untuk masuk ke dalam rumah.
"Pak! Bu! Perkenalkan. Ini Tuan Emyr! Majikan Nasir."
Nenek Khadijah dan kakek Idris benar-benar terkejut sekali melihat kedatangan Emyr ke rumahnya. Selama ini mereka cuma bisa melihat Emyr dari fotonya saja yang dikirimkan Nasir melalui ponsel. Dan Emyr di dalam foto itu mempunyai jenggot. Sedangkan sekarang yang ada dihadapannya tidak mempunyai jenggot sama sekali. Tentu saja hal itu membuat nenek Khadijah dan kakek Idris tidak bisa mengenalinya. Mereka kira Nasir datang mengajak temannya yang dari kota. Tidak tahunya malah majikannya.
"Tuan Emyr!" ekspresi nenek Khadijah dan kakek Idris terlihat sangat terkejut.
Emyr tersenyum sambil mengangguk pelan. "Iya Ibu, Bapak. Perkenalkan, nama saya Emyr. Ijinkan saya untuk tinggal di sini sementara waktu sambil merilekskan otak sebelum saya bekerja kembali."
"Nasir ternyata tidak berbohong kepada saya. Kampung halamannya benar-benar sangat indah sekali."
"Apakah Bapak dan Ibu mengijinkan saya untuk menginap di sini?" ucap Emyr lagi.
Nenek Khadijah dan kakek Idris langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh Tuan. Silahkan jika Anda ingin menginap di sini selama yang Tuan mau."
Emyr tersenyum. "Terimakasih banyak Pak! Bu!"
"Emm! Bolehkah saya meminta tolong kepada kalian semua?" ucap Emyr.
"Meminta tolong apa ya Tuan?" tanya kakek Idris.
"Tolong jangan memanggil saya Tuan. Panggillah saya seperti kalian memanggil Nasir. Karena saya tidak mau sampai ada yang tahu siapa saya. Dan jika ada yang bertanya, tolong katakan saja jika saya ini temannya Nasir dari kota."
"Lalu kalau saya sendiri harus memanggil Tuan Emyr siapa, Tuan?" tanya Nasir.
"Panggil nama saya saja Nasir."
Tentu saja Nasir tidak mau. Karena dia merasa sangat tidak sopan sekali. "Saya tidak mau Tuan. Itu sangat tidak sopan sekali. Kalau saya memanggil Mas saja bagaimana?"
Emyr mengangguk setuju. "Boleh! Saya rasa itu lebih baik."
"Baiklah. Kami mengerti Nak Emyr. Bukan begitu panggilan yang Nak Emyr inginkan?"
Emyr langsung tersenyum senang sekali mendengar panggilan kakek Idris kepadanya. "Iya Pak! Saya senang dengan panggilan itu."
"Kalau begitu, Nak Emyr tunggulah di sini dulu. Biar kamarnya, Nasir siapkan dulu untuk Nak Emyr. Tapi maaf, jika kamarnya tidak sebagus yang ada di rumah Nak Emyr."
"Tidak apa-apa Bu. Saya tidak mempermasalahkan."
__ADS_1
Nenek Khadijah dan kakek Idris langsung tersenyum kepada Emyr. Mereka berdua juga menyuruh Emyr untuk memanggil mereka dengan panggilan kakek dan nenek sama seperti yang lainnya.
Jika itu yang terjadi di rumah nenek Khadijah dan kakek Idris. Berbeda halnya yang terjadi di rumah kontrakannya Shanum.
Setelah mengikuti petunjuk yang Shanum berikan, akhirnya, Laila sampai juga di rumah kontrakan Shanum dengan naik ojek.
"Shanum!"
"Laila!"
Shanum dan Laila langsung berpelukan untuk meluapkan kerinduan mereka selama ini.
"Ayo masuk!"
Laila dan Shanum lalu masuk ke dalam rumah kontrakan Shanum. Dan mereka berdua saat ini sedang duduk di ruang tamu rumah tersebut.
"Pantas saja kamu betah tinggal di sini. Karena di sini jauh lebih indah dari kampung kita."
Shanum tersenyum di balik niqabnya. "Oh ya Num! Kenapa kamu merubah penampilanmu seperti ini?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih nyaman begini. Selain aku hidup sendirian dan menghindari kejahatan. Aku juga tidak mau membuat para lelaki suka mendekatiku. Dengan berpakaian begini setidaknya bisa membuat mereka sungkan kepadaku."
"Emm! Laila! Di sini ada dua kamar. Tapi kamar yang satunya tidak ada ranjangnya. Tapi aku gunakan untuk ruang sholat. Jadi nanti kamu tidur denganku saja tidak apa-apa 'kan?"
"Kamu tenang saja Shanum. Kayak tidak mengenal aku saja."
Shanum tersenyum dan mengangguk. "Oh ya! Aku mau mengenalkanmu dengan tetangga yang selama ini selalu baik kepadaku. Apakah kamu mau?"
"Tentu saja aku mau dong!" Laila menjawabnya dengan semangat.
"Apakah kamu tidak merasa capek Laila?"
Laila menggelengkan kepalanya. "Tidak! Justru aku sedang merasa senang sekali saat ini."
"Baiklah! Kebetulan sisa makananku cukup banyak. Ayo bantu aku untuk memberikannya kepada mereka. Supaya kita bisa makan bersama-sama dengannya."
"Ayo! Mana? Sini aku bantu membawanya."
Laila lalu ikut dengan Shanum menyiapkan semua makanan yang tadi tidak laku dijual. Setelah menyiapkan makanan itu semua di dalam wadah yang pantas. Shanum langsung menuju ke rumah kakek Idris dan nenek Khadijah, tentu saja dengan berjalan kaki.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Tentu saja salam Shanum langsung dijawab oleh kakek Idris, nenek Khadijah dan Emyr. Iya! Emyr! Karena mereka saat ini masih duduk santai di ruang tamu, sambil menunggu Nasir selesai menyiapkan kamar untuk Emyr.
Shanum sangat terkejut, karena ternyata rumah kakek Idris sedang kedatangan tamu. Dan dia tidak mengenali tamu tersebut. Sebab Emyr 'kan mencukur habis jenggotnya, serta jangan lupakan kaca mata tebal yang menghiasi matanya. Kaca mata itu justru membuat Emyr terlihat tampan.
"Eh Nak Shanum. Ayo mari silahkan masuk."
Dengan malu-malu, Shanum pun langsung masuk ke dalam ruang tamu. Dan Emyr pun terus memperhatikan Shanum dan juga Laila yang saat ini sudah duduk di sofa seberangnya.
"Shanum? Sepertinya nama itu tidak asing di telingaku." Emyr mencoba mengingat.
"Ini Nek, Kek! Shanum bawa makanan untuk kalian semua. Rencananya Shanum ingin mengajak makan siang kalian bersama-sama. Sekaligus ingin mengenalkan teman Shanum," Shanum melirik ke arah Laila.
"Laila, Nek! Kek!" Laila memperkenalkan diri.
Kakek Idris dan Nenek Khadijah tersenyum kepada Shanum dan juga Laila.
"Wah! Kebetulan kalau begitu. Nenek juga sudah memasak banyak, karena anak Nenek hari ini sedang pulang ke rumah."
"Ayo! Kita makan sama-sama di sini saja," ucap nenek Khadijah lagi sambil tersenyum.
Shanum dan Laila kira, laki-laki yang duduk di sofa seberang dengan mereka adalah anak kakek Idris dan nenek Khadijah. Dan kakek Idris yang tahu akan lirikan mata Shanum dan Laila yang mengarah ke Emyr pun langsung menjelaskan.
"Perkenalkan Neng Shanum. Ini teman anak Kakek, namanya Nak Emyr."
"Nak Emyr! Perkenalkan, ini neng Shanum yang tinggal di sebelah rumah. Dia sudah Kakek anggap sebagai anak sendiri."
Shanum hanya mengangguk saja kepada Emyr. Sebaliknya, Emyr hanya tersenyum super tipis sekali kepada Shanum.
"Masyaallah. Ada ya! Laki-laki setampan dia," Shanum berbicara di dalam hatinya.
"Semoga saja laki-laki tampan ini berjodoh dengan Shanum. Aamiin," doa Laila di dalam hati.
"Mas Emyr! Kamarnya sudah siap. Eh ada tamu ... " Nasir sedikit malu karena dia tidak menyadari jika ada Shanum dan Laila di situ.
"Nah! Kalau itu baru anak Kakek, Neng Shanum, Neng Laila. Namanya Nasir."
"Astaghfirullah. Jantungku!" Laila refleks memegangi dadanya ketika melihat Nasir. Ada rasa getaran tersendiri ketika mata mereka tidak sengaja saling menatap.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1