
Meeting saat ini sedang berlangsung. Emyr pun memperhatikan karyawannya yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya di depan. Mata Emyr memang memandang lurus ke depan. Tapi pikirannya entah melayang terbang ke mana.
Ya! Kita kembali ke Emyr lagi. Laki-laki yang ketampanannya sejuta umat. Jenggot tipis nan rapi justru menambah kesan manly yang enak dipandang untuk Emyr. Punya jenggot saja Emyr terlihat sangat tampan, apalagi tidak punya, justru pastinya akan semakin tampan saja.
Sepertinya ketampanan yang Emyr punya tidak membuatnya merasa nyaman. Karena percuma saja mempunyai ketampanan, sebab perempuan yang mendekatinya cuma memandang fisiknya saja, kalau tidak ya! Memandang isi dompetnya yang tebal.
Emyr jenuh! Iya! Emyr memang merasa jenuh. Karena setiap wanita yang mendekatinya, semuanya cuma ada maunya saja, tidak ada yang tulus. Hati tidak bisa dibohongi. Dari matanya saja Emyr bisa melihat bagaimana sifat perempuan yang berusaha mendekatinya.
Selain ilmu agama yang kuat di dalam hati. Emyr sendiri memang enggan mendekati yang namanya pacaran. Dia ingin ta'aruf dan langsung menikah. Tapi apalah daya, calon pun sampai sekarang dia tidak punya.
Sebenarnya, Emyr tidak masalah jika dijodohkan oleh ke dua orang tuanya. Akan tetapi dari tatapan pertama saja jika hati Emyr merasa tidak sreg atau suka, Ya! dia akan memberontak seperti kemarin. Pergi seenaknya sendiri di acara pertemuan dua buah keluarga.
"Tuan Emyr! Apakah ada yang ingin Anda dipertanyakan lagi?" tanya sang karyawan yang presentase di depan.
"Tuan Emyr!" panggil karyawan itu lagi.
Pandangan mata semua peserta rapat tertuju ke arah Emyr yang saat ini sedang menggigit bolpoin sambil menatap lurus ke depan.
Sang sekretaris yang melihat Emyr malah asik melamun, mencoba menyadarkannya. "Tuan Emyr!" bisik sang sekretaris.
"Eh iya ada apa?" Emyr terlihat terkejut.
Emyr lalu sadar dengan kode mata dari sekretarisnya. Dia malu dilihat oleh semua karyawannya saat ini.
"Maafkan saya. Saya sedang banyak pekerjaan, jadi sedikit tidak bisa konsentrasi."
"Rapat kita lanjutkan lain kali saja. Semua pekerjaan kalian, yang sudah kalian selesaikan, berikanlah kepada sekretaris saya. Permisi!"
Emyr pun langsung berlalu pergi meninggalkan ruang rapat tanpa menunggu jawaban dari para karyawannya terlebih dahulu.
Emyr yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, langsung melonggarkan dasinya yang seakan mencekik lehernya.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku harus cari calon istri. Selain umurku yang sudah matang, telingaku tidak betah mendengar mama meminta cucu dan menantu terus!"
Emyr berbicara sendiri sambil meneguk segelas air putih yang ada di atas meja kerjanya.
"Tapi bagaimana caranya aku mencari calon istri yang sesuai dengan apa yang aku inginkan?" Emyr berbicara di dalam hatinya, sambil menatap ke luar jendela kantornya yang berada di lantai tertinggi.
Dengan memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celananya, Emyr pun berdoa di dalam hatinya. "Ya Allah. Jika jodoh hamba sudah dekat, pertemukanlah ya Allah. Jika jodoh hamba masih jauh, tolong bimbing hamba untuk bisa segera menemukannya."
__ADS_1
Hari itu pikiran Emyr sedang blank. Dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali untuk bekerja. Karena pikirannya sedang tertuju dengan jodohnya yang entah berada di mana.
Meninggalkan Emyr. Beralih lagi ke laki-laki bodoh kita. Siapa lagi jika bukan Imran.
Imran yang sudah pergi dari depan rumah Shanum, dia memilih tidak langsung pulang. Melainkan berkunjung ke rumah Dyah yang berbeda desa.
Dyah yang sedang berjemur dengan baby Fatiyah di depan rumah, cukup terkejut melihat kedatangan sang kakak laki-lakinya. Selama Imran sakit, Dyah sama sekali belum menjenguknya. Karena dia masih marah dengan sikap Imran yang bodoh itu.
"Mas Imran!" ekspresi Dyah terlihat terkejut.
"Eh, Nak Imran!" ucap mertua Dyah dengan wajah yang ramah.
Kebetulan mertua Dyah sedang main ke rumah Dyah, untuk melihat cucu perempuannya itu.
"Ayo Nak! Silahkan masuk," ucap mertua Dyah lagi.
Imran hanya tersenyum saja sambil menyalami mertua Dyah dengan sopan. Dan dia pun langsung duduk di ruang tamu rumah Dyah setelah dipersilahkan masuk oleh mertua Dyah tadi.
"Sana Dyah. Buatkan minum dulu untuk kakak kamu. Biar Fatiyah. Ibu saja yang mengajaknya."
Dyah tersenyum dan menganggukkan kepala kepada ibu mertuanya itu. Setelah memberikan baby Fatiyah kepada ibu mertuanya, Dyah pun langsung membuatkan minum untuk Imran. Sedangkan mertua Dyah tadi memilih berpamitan pergi saja kepada Imran, setelah memperlihatkan baby Fatiyah kepada Imran sebentar.
Sebagai ibu mertua juga. Mertua Dyah sangat menyayangkan sekali sikap ibu Mu'idah dan Imran yang bersikap seperti itu kepada Shanum. Walau ibu mertua Dyah tidak terlalu mengenal Shanum. Tapi dia sangat yakin, jika Shanum adalah wanita yang baik.
"Ini Mas! Di minum dulu tehnya."
Imran hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis kepada Dyah.
Dyah tidak mau memulai berbicara terlebih dahulu, jika tidak Imran mengajaknya berbicara.
"Mas ke sini cuma ingin tanya sesuatu kepadamu, Dyah!"
"Tanya apa Mas?" ucap Dyah.
"Kamu pasti tahu ke mana Shanum pergi. Iya 'kan!"
"Tolong katakan kepada Mas. Ke mana Shanum pergi Dyah!"
Dyah tersenyum miring dan mengejek. "Kenapa Mas mau mencari Mbak Shanum? Apa Dyah tidak salah mendengar?"
__ADS_1
"Atau karena istri Mas yang seksi itu sudah tidak bisa melayani Mas dengan baik?" sindir Dyah.
"Mas cuma tanya ke mana Shanum pergi. Kenapa kamu malah membahas yang lainnya Dyah!"
"Hah! Percuma saja Mas mencari mbak Shanum. Mbak Shanum sudah menikah lagi dengan laki-laki kaya dan tampan sejak satu bulan yang lalu. Kemarin Dyah datang menghadiri pesta pernikahannya yang sangat megah dan mewah itu."
Imran yang mendengar, langsung berdiri dari duduknya. "Kamu pasti bohong 'kan Dyah sama Mas!"
Dengan santai Dyah pun menjawabnya. "Untuk apa Dyah berbohong kepada Mas. Apa untungnya bagi Dyah?"
"Jika benar Shanum sudah menikah dengan laki-laki yang kamu maksud. Mana lihat fotonya! Mas mau melihat buktinya sendiri."
Sebelum menjawab ucapan sang kakak. Dyah pun ikut berdiri terlebih dahulu dari duduknya. "Mas! Mas itu siapanya mbak Shanum? Ngaca Mas! Ngaca!"
"Sampai kapanpun Dyah tidak akan memperlihatkan foto mbak Shanum dan suaminya. Karena Dyah tidak mau merusak kebahagiaan mbak Shanum lagi!"
"Dan apa Mas lupa? Jika di dalam rumah mas itu ada jin yang siap menerkam Mas kapan saja, jika Mas ketahuan menyimpan foto mbak Shanum!"
Imran masih diam saja mendengarkan Dyah yang berbicara panjang lebar kepadanya.
"Walau Dyah jarang berkunjung lagi ke sana. Tapi Dyah sangat tahu sekali Mas. Apa saja yang terjadi dengan Mas dan ibu yang sudah dijadikan pembantu sama menantu kesayangannya itu."
"Dyah!" Imran mengangkat tangan kanannya ingin menampar Dyah, tapi berhasil dia tahan.
"Apa!" Dyah sangat berani sekali menantang sang kakak.
"Mas mau menampar Dyah seperti Mas menampar mbak Shanum dulu?"
Dyah lalu mengambil tangan Imran dan dia tempelkan ke pipinya. "Tampar saja Mas! Tampar!"
"Bagaimana perasaan Mas, jika Dyah diperlakukan seperti itu oleh mas Malik dan ibu mertua Dyah? Apakah Mas Imran suka dan senang?"
"Jawab Mas! Jawab!" teriak Dyah di depan wajah Imran.
Dyah benar-benar muak melihat wajah Imran. Dan sandiwara Dyah bisa sama persis dengan sandiwara Laila. Karena tadi setelah Laila sampai di rumahnya, Laila langsung menghubungi Dyah dan menceritakan semuanya kepadanya.
Dyah tidak marah ketika Laila mengatai kakak laki-lakinya. Karena Imran memang pantas mendapatkannya. Eh! Tidak tahunya, Imran juga berkunjung ke rumahnya. Dan terjadilah seperti ini. Dyah meluapkan emosinya kepada Imran.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...