JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KEJADIAN YANG SERING TERJADI


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Shanum dan Emyr. Kita sekarang akan membahas Imran sebentar ya guys!.


Jangan lupa setiap baca, kasih like saja kalau tidak mau komentar. Ok!


...__-*-__...


Imran dan Linda saat ini sedang berduaan saja di dalam kamar. Linda sudah memakai baju yang super seekssi untuk menggoda Imran. Tapi Imran sepertinya tidak meresponnya sama sekali.


"Mas! Ayo kita melakukan itu!"


"Malas!" Imran menjawabnya super singkat sekali.


"Ayolah Mas! Kita sudah cukup lama tidak melakukan itu. Apa Mas tidak kangen?"


Imran menggelengkan kepalanya sambil menutup matanya. "Tidak! Tidurlah! Mas rasanya capek sekali."


"Huft!" Linda cemberut dan merasa sebal sekali karena dicuekin oleh Imran.


Dirinya sudah capek-capek merias diri supaya terlihat cantik malam ini dihadapan Imran, malah Imran sama sekali tidak mau melihatnya.


Linda lalu mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, setelahnya dia tidur membelakangi Imran.


Imran yang melihat sikap Linda merajuk kepadanya. Dia tidak peduli sama sekali. Padahal dengan Shanum dulu, dirinya tidak pernah absen untuk melakukan itu. Malam itu, tiba-tiba Imran merasa sangat rindu sekali dengan Shanum. Itulah kenapa dia tidak naafsuu melihat Linda.


Imran lalu beranjak turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari dalam kamar. Linda yang merasa Imran pergi, dia pun cuma menoleh sebentar sambil memajukan bibirnya.


"Huh! Mas Imran menyebalkan!" gerutu Linda.


Linda lalu menutupi wajahnya menggunakan bantal. Dia menyembunyikan perasaan sebalnya, supaya tidak sampai meledak dan pada akhirnya dirinya akan berantem dengan Imran.


Imran sendiri saat ini sedang menuju ke dalam dapur untuk membuat minuman. Linda yang penasaran tadi mencoba mengintip sebentar. Dan dia melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Imran.


"Buat saja sendiri! Malas sekali aku membuatkan minum untuk Mas!"


Linda kembali lagi ke dalam kamar sebelum ketahuan oleh Imran. Imran yang sudah selesai membuat minum, dia memilih berlalu menuju ke dalam ruang tamu.


Di atas meja ruang tamu, dia melihat ada undangan pernikahan Emyr dan Shanum. Dirinya mengingat semua kejadian ketika Emyr datang ke rumahnya tadi. Imran lalu mengambil undangan pernikahan itu dan membacanya sekali lagi.


Imran bimbang, antara ingin datang ke pesta resepsi pernikahan Emyr dan Shanum apa tidak. Hanya keheningan yang dirasakannya malam ini.


Pagi harinya, Imran tidak bisa konsentrasi bekerja. Dia terus kepikiran dengan undangan pernikahan Shanum dan Emyr yang kurang dua hari lagi.


Ketika jam istirahat, Imran yang sedang menyendiri sambil menikmati kopi susu pesanannya, tiba-tiba didekati teman satu kantornya.


"Hei Bro! Kenapa daritadi aku perhatikan kamu seperti sedang tidak bergaaiirah begitu?"


"Apa ada masalah lagi dengan istri barumu itu?" canda sang teman.


Imran menggelengkan kepalanya. Dia lalu mendorong kartu undangan pernikahan Emyr dan Shanum yang ada di atas meja. Saking bingungnya, Imran sampai membawa kartu undangan tersebut ketika dia sedang bekerja.


Sang teman yang melihat kartu undangan pernikahan Emyr dan Shanum langsung membacanya. "Emyr - Shanum!"


Sang teman lalu membuka lembar berikutnya yang berisi foto prewedding antara Shanum dan Emyr setelah menikah kemarin.


"Hah!"


Imran yang melihat wajah keterkejutan dari sang teman menjadi penasaran. "Kamu kenapa? Seperti baru melihat hantu saja."


"Ini jauh lebih dahsyat dari hantu," jawab sang teman.


"Apa memangnya?" tanya Imran.

__ADS_1


"Kamu hebat sekali bisa dapat undangan pernikahan dari tuan Emyr, Imran? Apakah kamu teman baiknya?" ucap sang teman.


"Apa maksud ucapan kamu?"


Sang teman lalu membuka ponselnya dan mencari siapa itu Emyr di internet. Setelah ketemu, sang teman langsung memberikan ponselnya kepada Imran.


Imran membaca dengan seksama link artikel tersebut. Dan matanya melotot sangat lebar sekali setelah siapa tahu siapa Emyr yang sebenarnya.


"Jadi! Pemilik perusahaan besar yang ada di kota dan beberapa pabrik di daerah kita, miliknya!"


Sang teman mengangguk semangat. "Iya! Dan kamu hebat bisa mendapatkan kartu undangan pernikahan darinya," sang teman terlihat bangga kepada Imran. Tapi Imran tidak merasa bangga sama sekali. Justru dia merasa minder.


"Apa yang perlu dihebatkan dariku. Lihatlah siapa nama istrinya."


Sang teman sepertinya belum menyadari nama istri Emyr. "Shanum!"


"Apakah Shanum yang ini adalah mantan istri kamu?"


Imran mengangguk pelan sambil menikmati kopi susunya. "Iya!"


"Wao! Hebat sekali si Shanum. Wah! Pasti Shanum tidak akan menyesal sudah diceraikan olehmu. Karena dia bisa mendapatkan penggantimu yang jauh lebih segalanya dari kamu, Imran."


Sang teman tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Melihat tatapan Imran yang begitu menusuknya, sang teman pura-pura tidak mengetahuinya. "A-aku sepertinya mau masuk dulu. Jangan melamun terus, nanti bisa kesurupan!"


Sang teman langsung bergegas pergi dari hadapan Imran dengan terburu-buru. Dia mengutuk dirinya sendiri bisa memuji Shanum dan menjatuhkan Imran di hadapannya langsung.


Imran yang mendengar ucapan sang teman, hanya bisa termenung saja. Sebab dia sudah sadar diri ketika melihat penampilan Emyr. Apalagi ditambah dia baru saja membaca artikel tentang Emyr.


Meninggalkan Imran. Kita beralih kepada Shanum dan Emyr.


"Sayang! Maaf ya! Kakak harus berangkat bekerja lagi. Padahal pesta resepsi pernikahan kita kurang dua hari lagi."


Shanum tersenyum sambil membenarkan dasi yang dipakai oleh Emyr. Sekarang Shanum bisa memakaikan dasi untuk Emyr, setelah diajari oleh Emyr dan dia belajar sendiri setiap hari di dalam kamar.


"Manis sekali sih istriku ini!" Emyr mencubit mesra pipi Shanum.


Shanum pura-pura merajuk kepadanya. "Sakit! Jadi merah pasti pipi Shanum."


Emyr langsung mencium pipinya dengan mesra, lalu berpindah ke bibirnya. Mereka berciuman hanya sebentar saja, karena Shanum lebih dulu mengakhirinya. "Sudah Kak! Sana berangkat. Jadilah contoh yang baik sebagai pimpinan, karena semua itu nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat.''


"Siap Ratuku!" Emyr memasang sikap hormat kepada Shanum.


Shanum lalu mengantar Emyr sampai ke teras depan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Emyr mengatakan sesuatu kepada Shanum.


"Janji deh! Nanti setelah rapat, Kakak akan pulang untuk menemanimu."


"Iya!"


Emyr mencium dahi Shanum dengan mesra. "Kakak berangkat ya! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam!" Shanum melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.


"Hati-hati ya Mas Nasir!"


Nasir mengangguk. "Baik Mbak!" dan pada akhirnya, mobil yang Nasir kendarai berlalu pergi dari halaman rumah menuju ke kantor.


Sekitar jam sepuluh pagi, tiba-tiba Shanum ingin sekali pergi mengunjungi Emyr ke kantor.


"Aku ingin memberikan kejutan kepada Kakak. Aku buatkan makanan kesukaannya saja ah!"


Shanum dengan semangat membuatkan makanan kesukaan Emyr. Dia menatanya begitu cantik di tempat makan yang ada di situ. Tidak lupa, Shanum juga sudah menyiapkan buah-buahan segar untuk cuci mulutnya nanti. Setelah selesai, dia memanggil Luluk untuk mengantarkannya ke kantor.

__ADS_1


"Iya Nyonya!" ucap Luluk.


"Kamu tahu di mana kantor suami saya berada?" tanya Shanum.


"Tahu Nyonya!" jawab Luluk.


"Kalau begitu, antarkan saya ke sana yuk! Saya mau memberikan kejutan untuk kak Emyr."


Luluk mengangguk. "Baik Nyonya. Biar saya keluarkan mobil dulu."


Shanum mengangguk pelan saja. Dan ketika dia sudah berada di dalam mobil, Luluk langsung menjalankan mobilnya menuju kantor Emyr.


Sesampainya di kantor Emyr, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Waktu yang pas untuk menikmati makan siang.


Shanum memandang gedung perusahaan milik sang suami dengan begitu kagum sekali. "Gedung yang sangat besar!" ucap Shanum.


"Nyonya!" Shanum langsung mengalihkan pandangannya kearah Luluk.


"Kantor tuan Emyr ada di lantai paling atas sendiri Nyonya."


"Kalau begitu, ayo antarkan saya saja Luluk. Saya takut menyasar," ucap Shanum.


"Baik Nyonya. Tapi mohon maaf sebelumnya, Nyonya mau 'kan menunggu sebentar. Saya mau memarkirkan mobilnya terlebih dahulu."


Shanum mengangguk. "Nyonya tunggu saja di depan lift yang ada sebelah sana. Itu lift khusus untuk tuan Emyr." Luluk menunjuk lift khusus petinggi perusahaan.


Shanum menatap lift itu sambil mengangguk. "Baiklah!" ucap Shanum.


Luluk lalu berpamitan pergi untuk memarkirkan mobilnya. Dan Shanum pun langsung menuju ke lift yang tadi sudah ditunjuk oleh Luluk.


Ketika Shanum sedang menunggu di depan lift tersebut, tiba-tiba dia didekati oleh perempuan yang berpakaian modis, yang sepertinya ingin naik lift yang sama dengan Shanum.


"Maaf! Anda siapa Nona? Dan ada keperluan apa Anda datang ke sini?" tanya perempuan itu.


"Ini lift khusus untuk para petinggi perusahaan!" perempuan itu memandang sebelah mata penampilan Shanum yang syar'i.


"Di sini tidak menerima sumbangan Nona. Silahkan pergi saja dari sini!" Shanum masih diam saja melihat sikap kurang sopan dari wanita di depannya.


Shanum menjawabnya dengan sikap sopan. "Saya ke sini tidak mau mencari sumbangan Nona. Tapi saya ke sini ingin menemui suami saya."


"Suami! Memangnya siapa suami Anda Nona?"


"Arkanza Emyr! Dia suami saya," Shanum sangat tenang menjawabnya.


Suara tawa mengejek terdengar di telinga Shanum. "Hah! Apa saya tidak salah mendengar. Trik murahan seperti Anda sudah tidak mempan lagi di sini Nona."


"Apalagi dengan berpura-pura memakai niqab seperti ini. Jangan dikira saya bisa tertipu!"


"Tuan Emyr itu milik saya!"


Deg! Jantung Shanum seakan berhenti berdetak mendengar ucapan sang perempuan.


"Pergi sana! Dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Dasar kampungan!"


Sang perempuan itu mendorong tubuh Shanum, hingga Shanum sampai terhuyung ke belakang. Bahkan dia sampai berani menarik paksa niqab yang dipakai Shanum hingga terlepas.


Suara rantang makanan jatuh ke lantai pun langsung mengundang mata semua orang yang berlalu lalang. Dan Shanum tentu saja langsung menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya, ketika niqabnya di tarik paksa oleh perempuan tersebut.


Sepertinya perempuan itu mau mati di usia muda!


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2