JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KEDATANGAN DYAH - MALIK


__ADS_3

Selesai sarapan, Emyr yang sedang bersantai menikmati suasana di desa untuk pertama kalinya, tiba-tiba mendengar ponselnya berdering cukup kencang. Melihat nama sekretarisnya, Emyr memilih mengangkat sambungan teleponnya di dalam kamar.


Sedangkan di rumah Shanum. Tidak seperti biasanya, baru jam delapan, sisa makanan yang ia jual masih sisa beberapa biji saja.


Shanum yang merasa senang, dia memutuskan untuk menutup warungnya. Dan sisa makanan tadi, dia pilih untuk makan siangnya bersama Laila.


"Alhamdulillah Laila. Hari ini laku banyak."


Laila senang melihat Shanum terlihat bahagia sekali. Sambil terus menghitung uang yang ia dapatkan. Laila bisa melihat kebahagiaan terpancar di wajah Shanum.


"Aku ikut senang Shanum."


Shanum tersenyum melihat Laila mendukungnya. Sedang asik menghitung uang, ponsel Shanum terdengar berbunyi. Ketika sudah dilihat oleh Shanum, ternyata yang menelpon adalah Dyah.


"Halo! Assalamu'alaikum Dyah."


"Wa'alaikumussalam Mbak Shanum. Apakah Dyah sedang mengganggu Mbak?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak! Mbak baru saja menutup warung. Di temani Laila juga."


"Wah! Senang ya, kalian bisa berkumpul begitu. Dyah kapan bisa bertemu dengan Mbak lagi."


Shanum merasa bersedih. Karena sejatinya dia juga rindu dengan Dyah. "Semoga saja Allah memberikan kita umur yang panjang. Agar kelak kita bisa bertemu lagi. Aamiin."


Ucapan Shanum, tentu saja langsung di aamiinkan oleh Dyah. Dan Dyah meminta ijin memutuskan sambungan teleponnya, karena baby Fatiyah sedang rewel.


Kembali ke rumah kakek Idris lagi.


Nenek Khadijah sedang beres-beres rumah, kakek Idris dan Nasir sedang berkebun di sebelah rumah. Sedangkan Emyr sedang menerima telepon di dalam kamar.


Mereka semua yang sedang sibuk dengan kegiatan yang mereka lakukan, dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang datang ke rumah kakek Idris.


"Assalamu'alaikum. Kakak!" teriak orang itu sambil masuk ke dalam rumah.


Nasir, kakek Idris serta nenek Khadijah, tentu saja bergegas keluar untuk melihat siapakah orang yang baru saja mengucapkan salam itu. Ketika sudah dilihat, ternyata yang datang adalah Medina, adik perempuan Nasir.


"Medina!"


Nasir langsung memeluk sang adik, karena dia begitu merindukannya. Media akan selalu pulang ke rumah kakek Idris dan nenek Khadijah jika mendengar sang kakak sedang pulang kampung.


"Hei! Keponakan Om yang makin lucu!"


Nasir gantian memeluk anak dari Medina yang masih berumur dua tahun.


"Sudah makin besar ya si Naura." Nasir mencubit gemas pipi Naura.


Suami Medina yang bernama Rafi tentu saja langsung menyalami sopan ke dua mertuanya dan juga kakak iparnya.

__ADS_1


Mendengar di luar kamar sedikit berisik, Emyr pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.


Pandangan mata Medina dan Rafi teralihkan kearah Emyr yang sedang berjalan kearah mereka.


"Itu ... "


"Perkenalkan Medina. Itu majikan Kakak, namanya Tuan Emyr."


"Majikan?" wajah Medina terlihat terkejut mendengarnya.


"Iya! Dia ingin liburan sementara waktu di sini," jawab Nasir.


"Emyr!" Emyr memperkenalkan diri.


"Tapi mohon maaf sebelumnya. Tolong panggil Mas saja sama seperti Nasir. Biar tidak ada orang yang tahu siapa saya."


"Apakah Tuan Emyr sedang menyamar?"


Emyr langsung menganggukkan ucapan Rafi. Dan Rafi bersama Medina langsung mengerti maksudnya.


"Apakah ini anak kalian? Lucu sekali wajahnya." Emyr menggoda Naura yang sedang digendong oleh Emyr.


"Iya Tuan. Ini anak kami. Semoga Tuan Emyr betah tinggal di sini."


Emyr tersenyum lagi. Dan dia langsung mengingatkan, jika sedang banyak orang jangan sampai memanggilnya Tuan.


Di rumah Shanum. Shanum dan Laila yang sedang santai sambil menonton televisi tiba-tiba dikejutkan dengan suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah kontrakannya.


Shanum masih memperhatikan, siapakah orang yang memarkirkan mobilnya di halaman rumah kontrakannya. Dan ketika sudah melihat siapa pemiliknya. Wajah Shanum di balik niqab langsung terlihat cerah sekali.


"Dyaaahh!"


Shanum berteriak sambil berjalan menghampiri Dyah yang sedang menggendong baby Fatiyah.


Yaps! Orang yang memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah kontrakan Shanum, adalah Malik.


Malik datang bersama Dyah dan baby Fatiyah untuk mengunjungi Shanum. Mereka berdua sengaja memberikan kejutan kepada Shanum dengan bertanya kepada Laila, di mana tempat tinggalnya.


"Alhamdulillah! Kalian berdua sudah sampai."


Mendengar ucapan Laila, Shanum langsung merasa curiga. "Apakah kamu sudah tahu, jika Dyah dan Malik akan datang ke sini?"


Laila mengangguk. "Iya! Karena mbak Dyah bertanya kepadaku di mana alamat rumahmu."


Shanum hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum dibalik niqabnya.


"Apapun itu. Mbak sangat senang sekali, kalian mau datang ke sini untuk menemui Mbak. Ayo masuk Dyah, Malik. Sini! Biar keponakan Mbak yang cantik ini, Mbak saja yang menggendongnya."

__ADS_1


Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah kontrakan Shanum. Dan mulai mengobrol santai di dalam ruang tamu.


"Tadi kamu 'kan menelpon Mbak, Dyah?"


" Apakah tadi pas menelpon Mbak, kamu sudah di perjalanan?"


Dyah mengangguk sambil tersenyum. "Iya Mbak! Tadi Dyah sengaja menghubungi Mbak. Untung saja tidak keceplosan jika mau ke sini."


"Ish! Kamu ya! Bisa saja memberikan Mbak kejutan seperti ini."


"Apakah Malik tidak bekerja? Ini 'kan bukan tanggal merah atau hari libur."


"Mbak tenang saja. Malik sudah mengambil cuti ko untuk beberapa hari."


Shanum hanya mengangguk dan tersenyum saja. Dyah juga bertanya tentang perubahan Shanum yang mantap memakai niqab. Setelah Shanum jelaskan, apapun itu, Dyah dan Malik tetap mendukungnya.


Sedang asik berbincang santai, karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Tiba-tiba lagi pandangan mata Shanum dan mereka semua teralihkan kearah orang yang bertamu ke rumah kontrakan Shanum.


"Medina!" Shanum terlihat senang melihat orang yang datang ke rumahnya.


Yaps! Ternyata yang datang ke rumah Shanum adalah Medina, adik Nasir.


Shanum langsung berdiri untuk menyapa Media dan memeluknya sesama perempuan. Shanum dan Media sudah cukup mengenal, karena selama Shanum tinggal di situ, dia sudah berkenalan dengan Medina, ketika Medina sering berkunjung ke rumah kakek Idris dan nenek Khadijah.


"Kapan datang?"


"Baru saja! Emm! Medina mengganggu ya? Sepertinya Mbak sedang kedatangan tamu?"


Dyah, Malik dan Laila, langsung tersenyum ramah kepada Medina yang sedang tersenyum kepada mereka.


"Tidak ko! Ayo sini masuk. Kenalan sama keluarga Mbak."


Shanum lalu mengajak masuk Medina untuk berkenalan dengan Dyah, Malik dan juga Laila.


"Medina," sapa Medina juga.


"Sebenarnya, Medina ke sini disuruh sama Ibu, untuk mengajak Mbak dan Mbak Laila untuk makan bersama di rumah. Tapi, jika Mbak Dyah, sama Mas Malik mau. Ayo saja, malah nanti makin asik, karena banyak orang. Apalagi anak Medina pasti senang punya teman baru seperti baby Fatiyah."


Shanum lalu mengalihkan pandangannya ke arah Dyah dan Malik. "Bagaimana Dyah, Malik? Apakah kalian mau berkunjung ke rumah kakek Idris. Orang yang sudah sangat membantu Mbak, selama Mbak tinggal di sini."


"Boleh! Jika tidak merepotkan."


Medina sangat senang sekali mendengar jawaban Dyah. Dia sangat excited ingin segera berkumpul di rumah ke dua orang tuanya.


Saat ini mereka semua sedang berjalan menuju ke rumah kakek Idris. Dan sesampainya di rumah kakek Idris. Emyr yang melihat kedatangan Dyah dan Malik. Matanya langsung melotot sangat lebar sekali.


Sedangkan Dyah dan Malik, belum menyadari Emyr, karena Emyr merubah penampilannya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2