
Emyr tersenyum melihat Shanum sedang menguap dan menggeliatkan badannya ingin bangun dari tidur cantiknya.
"Jam berapa sekarang?" Shanum langsung duduk dari rebahannya sambil mengusap matanya.
Mata Emyr langsung melotot sangat lebar sekali melihat Shanum. Bagaimana tidak melotot, selimut yang menutupi tubuh indahnya malah melorot dan memperlihatkan pemandangan dua bukit nan indah di depan mata.
Emyr yang sedang duduk di sofa langsung menelan air liurnya melihat sang istri begitu cantik natural sekali ketika bangun tidur.
Shanum yang sudah puas menguap dan menggeliatkan tubuhnya, lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja samping ranjang.
"Astaghfirullah! Sudah hampir jam sepuluh pagi!"
Shanum masih belum sadar sama sekali, dia langsung turun dari atas ranjang tanpa menggunakan sehelai benang pun.
"Ehem!" Emyr sengaja berdeham.
"Kak Emyr! Kenapa Kakak melihat Shanum seperti itu?" tanya Shanum.
"Ehem!" senyum menakutkan pun terlihat jelas di wajah Emyr.
Shanum yang merasa aneh dengan tatapan Emyr langsung melihat kearah tubuhnya, yang ternyata ...
Shanum pun langsung menarik selimutnya lagi untuk menutupi tubuhnya. Walau Emyr sudah melihat keseluruhan tubuhnya, tetap saja dirinya merasa sangat malu sekali.
Tubuh yang capek karena semalaman menjamu para tamu undangan yang hadir, tetapi tetap saja tidak menyurutkan niat Emyr ingin bermanja dan bermesraan dengan sang istri.
Selesai sholat subuh tadi, seperti tidak puas dengan semalam, Emyr meminta haknya lagi, dan membuat Shanum tertidur hingga jam segini.
Emyr tertawa. "Kenapa mesti di tutupi sayang. Kakak sudah melihat semuanya. Bahkan sudah tahu di mana saja letak tahi lalat yang ada di tubuhmu."
"Aaaaaaaa! Kakak! Jangan diperjelas juga! Shanum malu!" Shanum terlihat manja sekali.
Emyr tertawa semakin terbahak-bahak. Dia begitu senang sekali menggoda Shanum seperti itu.
"Apakah kamu tidak mau mandi, dan akan bersembunyi di balik selimut terus?" goda Emyr lagi.
"Tapi Kakak tutup mata dulu. Shanum malu!"
"Kalau Kakak tidak mau, apa yang akan kamu lakukan?" tantang Emyr.
"Shanum bisa melakukan sesuatu yang tidak Kakak duga!" jawab Shanum.
"Apa itu?" Emyr menaikan sebelah alisnya ke atas sambil tersenyum menggoda.
Mendengar Emyr menantangnya, Shanum pun perlahan membuka selimut yang dipakainya. Lalu berjalan perlahan mendekati Emyr. Dan Emyr masih terus menatap lekat kearah Shanum seperti tanpa berkedip.
__ADS_1
Sesampainya di depan Emyr, Shanum langsung duduk dipangkuannya, lalu membelai wajahnya dengan mesra, dan mencium bibirnya dengan lembut sekali.
Shanum benar-benar membalas Emyr dengan sentuhan-sentuhan lembutnya. Bahkan dia sengaja menempelkan tubuh mulusnya ke tubuh Emyr, hingga membuat aliran darah Emyr terasa panas.
"Sepertinya yang bawah sudah siap tempur!" bisik Shanum tepat di telinganya.
"Kalau begitu, ayo tuntaskan sayang. Kakak sudah tidak tahan!"
"Dengan senang hati suamiku!" Shanum tersenyum menggoda. Dia beranjak turun dari atas pangkuannya Emyr, lalu mengajak Emyr berdiri dari duduknya. Setelahnya, Shanum langsung berlari kearah kamar mandi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Shanum!" Emyr merasa gemas dengan ulah sang istri.
"Maaf Kak! Shanum sudah kebelet mau setor dulu!" teriak Shanum sambil tertawa.
"Huh! Hah! Ternyata begini rasanya dikerjai sama istri!" Emyr menaruh ke dua tangannya di pinggang sambil menggelengkan kepalanya.
Emyr pun lalu duduk kembali di sofa yang tadi dia duduki, sambil menahan rasa yang sudah membuncah di dalam diri, karena ulah Shanum tadi.
Sedang menenangkan diri karena sudah berhasil dikerjai Shanum, tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Setelah sudah dibuka oleh Emyr, ternyata yang datang adalah Kevin.
"Bagaimana?"
"Semua berjalan seperti yang Anda inginkan, Tuan!" jawab Kevin.
"Lalu kapan Imran akan dimutasikan? Karena saya tidak ingin berada dekat-dekat dengan dia dan keluarganya!"
"Saya mau secepatnya Imran harus sudah dimutasikan dari kantor pusat. Biar dia merasakan hidup yang lebih keras lagi berada di pedalaman atau desa."
Kevin mengangguk. "Baik Tuan."
"Lalu bagaimana dengan istrinya, itu si Linda?" tanya Emyr.
"Saat ini anak buah Anda sedang melakukan pekerjaannya, Tuan," jawab Kevin.
"Saya tidak mau mematikan rejeki orang. Akan tetapi saya ingin memberikan pelajaran kepada dia supaya tidak sombong lagi menjadi orang."
"Cuma mempunyai dua toko saja sombongnya selangit. Tidak ingatkah dia jika masih ada orang yang lebih darinya, akan tetapi tidak sesombong dia."
Kevin hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Dia sangat mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Emyr.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, mereka harus mendapatkan balasannya. Dan untuk ibu Mu'idah, biarkan dia berada di dalam penjara untuk sementara waktu."
"Iya Tuan!" ucap Kevin.
"Jangan sampai Shanum tahu semua ini. Mengerti!"
__ADS_1
Kevin mengangguk lagi. "Mengerti Tuan!"
"Kamu persiapkan semuanya. Karena saya sebentar lagi akan terbang ke Turki untuk liburan sekaligus bulan madu di sana."
"Jadi! Perusahaan untuk sementara kamu yang menghandle dan laporkan semuanya kepada saya."
"Baik Tuan Emyr. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Emyr hanya mengangguk saja. Dan Kevin pun langsung kembali ke Perusahaan setelah selesai memberikan laporan kepada Emyr.
Seperti yang Emyr ucapkan tadi, jika dia memang ingin membalas rasa sakit hati yang sudah Shanum rasakan selama ini. Dan ingin memberikan pelajaran kepada ke tiga orang itu untuk tidak bersikap semena-mena lagi dengan orang lain.
Shanum yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi sambil menggunakan bahtrobenya langsung bertanya kepada Emyr.
"Apakah tadi ada yang datang ke sini Kak?"
Emyr mengangguk. "Iya! Tadi Kevin ke sini."
"Tuan Kevin?"
Emyr mengangguk. "Kakak menyuruhnya untuk menyiapkan perjalanan kita ke Turki, sayang," jelas Emyr.
"Turki?"
Emyr mengangguk lagi. "Iya! Kakak ingin mengenalkanmu dengan keluarga besar Kakak yang ada di sana. Dan Kakak juga akan menunjukan semua destinasi wisata yang ada di sana."
"Tapi-tapi! Shanum 'kan tidak bisa berbahasa Turki, Kak!"
Emyr menjawab sambil berjalan mendekati Shanum. "Kan ada Kakak, kenapa kamu mesti bingung sayang. Lagi pula di sana nanti juga ada mama dan papa yang bisa menemani kamu."
"Baiklah! Janji nanti jagain Shanum ya Kak. Karena itu pertama kalinya Shanum pergi ke luar negeri."
Emyr tertawa sambil mengusap rambut Shanum yang basah. "Tanpa kamu minta. Kakak pasti akan menjaga kamu sayang. Nanti setelah surat-surat milikmu selesai dibuat, kita langsung segera terbang ke Turki."
Shanum mengangguk. Lalu tiba-tiba telinga mereka berdua mendengar suara perut yang berbunyi.
"Sepertinya cacing milikmu sudah kelaparan," goda Emyr.
"Iya!" Shanum tertawa malu. "Karena semalam sama tadi pagi harus bertempur dulu, jadi kehabisan tenaga."
Emyr tertawa terbahak-bahak lagi. Sepertinya semenjak menikah dengan Shanum, otot-otot wajah Emyr bisa berolahraga karena sering tertawa. Beda dengan yang dulu, tersenyum pun cuma waktu tertentu saja.
Emyr pun menyuruh Shanum untuk segera ganti baju. Karena ia ingin mengajak Shanum sarapan plus makan siang di restoran hotel tempat mereka menginap.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...