JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
PENJELASAN


__ADS_3

Sambil mengendarai mobilnya, bibir Emyr terus tersenyum cerah ceria. Sedangkan Shanum hanya diam saja dengan pikiran yang ke mana-mana. Sebab dirinya belum sepenuhnya sadar, jika saat ini di dalam perutnya sudah ada malaikat kecil yang selama ini dinanti-nantikannya.


"Kenapa kamu diam saja sayang?" ucap Emyr.


"Engh! Shanum masih ... "


Emyr langsung menyelanya. "Tidak percaya dan menyangka?"


Shanum mengangguk. "Iya Kak!" Shanum lalu mengusap perutnya yang memang sudah terlihat membuncit. "Di dalam sini, sudah ada malaikat kecil yang sangat Shanum nanti-nantikan."


Emyr tersenyum. "Memang begitu kenyataannya. Ternyata tembakannya Kakak tokcer juga, manjur. Tidak seperti ... "


Emyr menghentikan ucapannya, ketika Shanum menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan menurut Emyr. Dan Emyr langsung tertawa garing sambil menutup mulutnya di saat ditatap Shanum seperti itu.


Shanum lalu mengalihkan pandangannya lagi lurus ke depan. "Masih ingat apa kata dokter 'kan sayang?" ucap Emyr.


Shanum mengangguk dan tersenyum. "Iya Kak!"


Shanum lalu teringat dengan ucapan dari dokter pribadinya Emyr dan penjelasan dari dokter Hilda tadi.


Tadi, setelah melakukan cek USG, dokter Hilda langsung menjelaskan kepada Shanum dan Emyr, jika kandungan Shanum sedikit lemah. Dia disarankan untuk bedrest sampai kandungan Shanum benar-benar kuat.


Tidak lupa juga, dokter Hilda menjelaskan jika usia kandungan Shanum sudah memasuki usia enam minggu.


Shanum dan Emyr banyak bertanya tentang seputar kehamilan kepada dokter Hilda. Dan dokter Hilda menjelaskan dengan jelas kepada mereka berdua.


Setelah selesai sesi tanya jawab dengan dokter Hilda, Emyr mengajak Shanum untuk menemui dokter pribadinya terlebih dahulu.


"Bisa jelaskan kepada saya, Dokter? Kenapa Anda tidak mengatakannya sejak awal ketika masih di rumah?"


"Maafkan saya, Tuan Emyr. Saya pada waktu itu cuma menerka-nerka saja apakah nyonya Shanum hamil atau tidak. Karena saya bukan dokter ahli kandungan," jelas sang dokter pribadi.


"Namun, ketika Anda menelpon saya tadi, saya semakin yakin, jika nyonya Shanum memang benar-benar sedang hamil. Dan kecapekan yang dirasakannya karena faktor kehamilannya," ucap sang dokter lagi.


"Lalu untuk mimisan itu, apakah itu berbahaya untuk kesehatan istri saya, Dokter?"


"Mimisan yang dialami nyonya tidak berbahaya, Tuan. Nyonya Shanum hanya butuh istirahat yang cukup. Insyaallah tidak akan mimisan lagi. Anda tidak perlu khawatir."


"Namun, jika kram perut yang dirasakan oleh nyonya Shanum. Iya! Itu faktor kehamilannya, dan dia terlalu capek." Jelas sang dokter lagi.


"Anda dan nyonya Shanum pasti sudah mendengar penjelasan dari dokter Hilda bukan? Jika nyonya Shanum tidak boleh kecapekan, biar tidak kram perut lagi?"


Emyr dan Shanum mengangguk membenarkan. "Baiklah! Terimakasih atas penjelasannya, Dokter. Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu."


Sang dokter pribadi tentu saja langsung mengantarkan Emyr dan Shanum sampai di depan ruang kerjanya. Selesai berbincang santai dengan dokter pribadi itu, Emyr dan Shanum memutuskan untuk pulang. Sebab Shanum tidak perlu rawat inap, hanya perlu istirahat total di dalam rumah.


Tidak sadar, mobil yang mereka naiki sampai juga di rumah mewah milik mereka. Nasir yang tadi mengantarkan mereka ke rumah sakit, Emyr suruh untuk pulang terlebih dahulu naik taksi. Sekarang dia melihat Emyr sudah pulang, langsung bergegas mendekati mobil Emyr yang saat ini sedang berhenti tepat di depan garasi.


Nasir yang melihat Emyr mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi mobil, semakin penasaran dengan kondisinya Shanum.


"Pelan-pelan sayang. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh jalan kaki untuk sementara waktu," ucap Emyr sambil membantu Shanum keluar dari dalam mobil.


"Mas Emyr! Mbak Shanum sakit apa? Kenapa dia sampai menggunakan kursi roda."


Emyr yang melihat wajah ke khawatiran dari Nasir malah tersenyum. "Akan saya kasih tahu, tapi janji jangan kamu beritahu kepada siapapun dulu, terutama Laila. Karena kami belum ingin memberitahukan kepada semua orang."


Tanpa Nasir sadari, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Nasir janji Mas!" ucap Nasir.

__ADS_1


"Shanum saat ini sedang hamil, Nasir. Hamil! Saya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah!" ucap Emyr dengan riang gembira.


Tubuh Nasir tiba-tiba merinding di sekujur tubuhnya. "Selamat Mas Emyr. Selamat Nasir ucapkan!" bahkan, mata Nasir sampai berkaca-kaca melihat Emyr berbahagia seperti itu.


"Nasir janji, tidak akan membocorkan masalah ini sama siapapun dulu." Nasir mengkode kunci ke mulutnya.


"Kalau begitu, saya masuk dulu Nasir."


Nasir hanya mengangguk saja sambil tersenyum senang sekali. Dan Emyr pun lalu masuk ke dalam rumah sambil mendorong kursi rodanya Shanum.


Untung saja di rumah itu ada lift, jadi Emyr tidak bingung jika keadaannya sedang seperti ini. Emyr yang jarang menggunakan lift, sepertinya mulai sekarang akan sering menggunakan lift itu.


Sesampainya di dalam kamar, Emyr meminta ijin kepada Shanum untuk menghubungi mama Mulan dan papa Hisyam melalui sambungan video call.


"Janji jangan bicara dulu ya sayang!" Shanum mengangguk menurut dan tersenyum kepada Emyr.


Sambungan video call itu langsung dijawab oleh mama Mulan. "Halo! Assalamu'alaikum Emyr. Apakah kamu sudah sampai?"


"Wa'alaikumussalam Ma. Emyr sudah sampai ko sejak tadi. Cuma ... "


"Cuma apa Emyr?" mama Mulan terlihat sedikit penasaran.


Emyr lalu membalik camera ponselnya kearah Shanum dan memperlihatkan kondisi Shanum yang terlihat pucat, apalagi dia saat ini sedang duduk di kursi roda.


"Astaghfirullah! Shanum kenapa Emyr?" mama Mulan terlihat khawatir sekali.


"Ada insiden kecil ketika kita baru saja pulang tadi Ma! Cepatlah ke sini, lihatlah kondisi Shanum." Emyr pura-pura bersedih.


Shanum yang melihat akting Emyr hanya tersenyum saja. Hari ini dia benar-benar sangat bahagia, hingga membuatnya sampai tidak bisa berbicara apa-apa.


"Kalau begitu, Mama tutup dulu teleponnya. Mama mau menelpon papa dulu," ucap mama Mulan lagi.


"Iya Ma!" jawab Emyr. Dan akhirnya, sambungan video call mereka terputus juga.


"Lihatlah sayang, besok mama sama papa pasti sudah ada di sini."


Shanum tersenyum. "Kakak apa tidak kasihan dengan mama. Tadi beliau terlihat sangat khawatir sekali."


"Tidak apa-apa. Sekali-sekali mengerjai mama 'kan nggak dosa sayang." Ucap Emyr sambil tertawa.


Emyr lalu berlutut di depan Shanum. Dia mengusap perut Shanum dengan lembut. "Sehat-sehat ya! Anak-anak Baba."


"Baba?"


"Itu panggilan untuk seorang Ayah di Negara Turki, sayang," jelas Emyr.


"Lalu kalau Shanum, apa Kak?" tanya Shanum.


"Untuk panggilan Ibu atau Mama, Anne."


"Jadi! Baba Emyr maunya Shanum dipanggil Anne?"


Emyr tersenyum dan mengangguk. "Baiklah Baba. Kalau begitu, ijinkan Anne istirahat dulu ya."


"Siap Anne!" Emyr membantu Shanum rebahan di atas ranjang. Setelahnya, Emyr ikut rebahan di ranjang sebelah Shanum sambil terus mengusap perutnya hingga membuat Shanum tertidur dengan sendirinya.


Hari ini yang ingin Emyr lakukan cuma bermalas-malasan saja dengan Shanum dan juga calon buah hatinya.

__ADS_1


Seperti yang Emyr ucapkan kemarin. Keesokan harinya, sekitar jam delapan pagi, mama Mulan dan papa Hisyam tahu-tahu sudah sampai di rumah Emyr.


Ketika mendapatkan telepon kemarin dari Emyr. Pada saat itu juga, mama Mulan langsung mengajak papa Hisyam untuk terbang ke Indonesia. Dan di sinilah mereka sekarang, sedang berada di dalam lift untuk menuju ke kamar Emyr.


"Emyr! Shanum!" teriak mama Mulan.


Yang dipanggil mana mendengar, sebab kamar Emyr kedap udara. Mama Mulan yang sudah sampai di depan kamar Emyr, dia mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.


Emyr yang sedang membantu Shanum mengambilkan baju, sedikit terganggu dengan gedoran pintu kamarnya. Setelah selesai, dia pun segera membuka pintunya untuk melihat siapakah orang yang sudah mengetuk pintu dengan tidak sabaran.


"Eh! Mama, Papa. Cepat sekali kalian sampai sininya?"


"Lama sekali membuka pintunya, Emyr!" marah mama Mulan.


"Tadi Emyr sedang membantu Shanum memakai baju Ma!"


"Kenapa memakai baju sampai kamu yang bantuin Emyr. Apakah Shanum terluka sangat parah?" tanya papa Hisyam.


Mama Mulan yang sudah tidak sabar, langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Ketika sudah masuk, mama Mulan melihat Shanum sedang duduk bersandar di ranjang dengan wajah yang terlihat pucat, sebab dia sedang tidak memakai niqab.


"Shanum! Nak! Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Mama! Papa! Kalian sudah sampai di sini?" Shanum terlihat terkejut.


"Tentu saja kami ada di sini. Mana bisa Mama tidak datang di saat anak Mama sedang sakit."


"Sekarang katakan bagaimana keadaan kamu?" ucap mama Mulan lagi.


Emyr lalu mengambil sebuah amplop yang ada di laci meja sebelah ranjang. Lalu dia memberikannya kepada sang mama yang sedang duduk di pinggir ranjang. Sedangkan sang papa sedang berdiri di samping ranjang bersama dirinya.


"Ini diagnosis dokter, Ma! Bacalah sendiri."


Mama Mulan tidak pakai lama, langsung membuka amplop tersebut. Di dalam amplop itu ada sebuah hasil pemeriksaan Shanum kemarin, dan dua buah lembar hasil USG.


"Ini! Ka-kamu hamil Shanum?"


Emyr tersenyum sangat lebar sekali. Sedangkan Shanum langsung mengangguk.


Papa Hisyam langsung merebut amplop tersebut. "Ini hasil USG kamu, Shanum?" papa Hisyam menunjukkan hasil USGnya.


"Iya Pa! Shanum hamil cucu Papa." Jawab Shanum sambil tersenyum.


"Tapi ko di sini ada dua buah gelembung?" papa Hisyam memperhatikan foto hasil USGnya.


Emyr tertawa. "Itu bukan dua buah gelembung Papa. Tapi calon cucu Papa nanti kembar!"


"Hah! Kembar!" ucap mama Mulan dan papa Hisyam secara bersamaan.


Emyr menaikkan sebelah alisnya ke atas. "Iya! Manjur 'kan kecebong Emyr!" Emyr terlihat bangga.


Mama Mulan langsung memeluk Shanum sangat erat sekali. Dia menangis di pelukannya Shanum, hingga membuat Shanum jadi iku-ikutan menangis.


Sedangkan papa Hisyam seperti mempunyai semangat hidup lagi, untuk ingin terus sehat supaya bisa melihat perkembangan ke dua cucunya, penerus Keluarga Saddam selanjutnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2