JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
FLASHBACK ON-OFF


__ADS_3

Sore tadi sekitar jam tiga sore, Dyah berkunjung ke rumah sang ibu diantar oleh saudaranya Malik.


Ibu Mu'idah yang melihat kedatangan Dyah merasa senang, apalagi dia bisa melihat cucu perempuannya yang tidak setiap hari bisa dia lihat.


Sekitar jam empat sore lebih hampir jam lima sore, Malik pun akhirnya datang menjemput Dyah sekalian dari pulang bekerja. Melihat ada mobil berhenti tepat di depan rumah, ibu Mu'idah awalnya merasa bingung. Namun, ketika melihat yang keluar Malik, senyumnya pun langsung mengembang.


Malik menyalami ibu Mu'idah dengan sopan, dan dia pun lalu mencari keberadaan istri dan juga anaknya di dalam rumah.


Dyah yang melihat sang suami sudah datang menjemputnya langsung beres-beres untuk segera pulang.


"Bu! Ada satu hal yang ingin Dyah sampaikan kepada Ibu sebelum Dyah pulang."


"Apa itu Dyah?" ucap sang ibu.


Dyah lalu mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tas yang dibawanya.


"Ini kartu undangan pesta resepsi pernikahan mbak Shanum dan mas Emyr. Dyah cuma disuruh untuk mengantarkan undangan ini saja."


Ibu Mu'idah langsung mengambil kartu undangan tersebut dan membacanya.


"Apakah Shanum yang sudah menyuruhmu mengantarkan ini? Kenapa dia tidak datang sendiri menemui Ibu. Apa dia malu? Hah! Karena belum bisa memberikan anak kepada suaminya yang sekarang?" ibu Mu'idah terlihat mengejek.


Dyah dengan tenang menjawabnya. "Ibu salah! Justru mbak Shanum tidak tahu jika Dyah memberikan kartu undangan ini."


"Lalu?"


"Ini inisiatif Dyah sendiri atas persetujuan mas Emyr."


"Jika Ibu tidak mau datang, iya! Tidak apa-apa. Kami tidak memaksa ko."


"Ayo Ayah kita pulang. Nanti keburu malam."


Malik hanya mengangguk saja sambil menggendong baby Fatiyah. Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Dyah dan Malik lalu berpamitan pulang kepada ibu Mu'idah.


Setelah Dyah pergi dari rumahnya. Ibu Mu'idah langsung bergegas menuju ke rumah Imran. Baru saja Emyr pergi dari rumah Imran belum ada lima menit, ibu Mu'idah baru sampai. Entah bagaimana ceritanya bila ibu Mu'idah bertemu dengan Emyr tadi.


Meninggalkan mereka, beberapa saat sebelum Emyr datang ke rumah Imran.


Saat ini Laila dan ke dua orang tuanya sedang asik berbincang santai di ruang keluarga rumahnya.

__ADS_1


"Laila! Ibu benar-benar masih tidak menyangka lho sampai sekarang, bila Shanum saat ini sudah menjadi orang kaya!"


Laila tertawa melihat ekspresi sang ibu yang menurutnya lucu.


"Iya Bu! Bapak pun juga merasa heran. Tapi itulah takdir yang diberikan oleh Allah kepada Shanum," sahut sang bapak.


"Jika Ibu teringat dengan rumah tuan Emyr itu Pak! Ibu sampai tidak bisa tidur. Rumahnya benar-benar sudah seperti istana. Sangat besar, mewah dan juga megah. Masyaallah. Kapan kita bisa punya rumah seperti itu ya Pak."


"Bersyukur Bu. Walau rumah kita kecil seperti ini. Setidaknya kita tidak mengontrak dan tidak menyusahkan orang lain."


"Iya! Bapak benar ... "


Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Laila dan ke dua orang tuanya mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di halaman rumah mereka.


Mereka bertiga yang merasa penasaran tentu saja langsung segera keluar rumah.


Laila tidak merasa asing dengan mobil yang dilihatnya sekarang. Dan benar saja, ketika melihat Nasir sudah keluar dari dalam mobil, dia sudah bisa menebak mobil siapakah itu.


"Tuan Emyr!" ke dua orang tua Laila merasa terkejut sekali melihat orang penting dan kaya seperti Emyr mau singgah di rumahnya yang sederhana.


Saat ini Emyr, Laila, Nasir dan ke dua orang tuanya sudah duduk rapi di ruang tamu rumah Laila.


Emyr tersenyum. Begitupun dengan Nasir. "Tidak apa-apa ko Bu, terimakasih," ucap Emyr.


Emyr dan Nasir lalu meminum teh yang sudah disuguhkan untuk mereka berdua.


"Oh ya Laila, Ibu, Bapak! Saya ke sini ingin memberikan kartu undangan resepsi pernikahan saya dengan Shanum kepada kalian. Jangan lupa datang ya."


"Kenapa Tuan Emyr repot-repot sampai mengantarkannya sendiri ke sini. Kami merasa jadi tidak enak," ucap ibunya Laila.


Emyr tersenyum. "Tidak apa-apa ko Bu. Sekalian saya juga ada perlu dengan Laila."


"Oh ya! Kalau begitu kami tinggal ke dalam ya Tuan Emyr. Silahkan mengobrol dengan Laila," ucap sang bapak.


Emyr hanya mengangguk dan tersenyum saja kepada ke dua orang tuanya Laila. Sang ibu dan bapak pun lalu masuk ke dalam rumah dan membiarkan Emyr leluasa mengobrol dengan Laila.


"Apa yang ingin Mas Emyr bicarakan dengan Laila?" Laila sambil melirik kearah Nasir.


Nasir yang menatap Laila dengan tatapan terpesona, membuat Laila sedikit salah tingkah.

__ADS_1


Emyr yang menyadari hal itu, refleks langsung menjitak kepala Nasir. "Biarkan saya berbicara dulu sama Laila! Kamu jangan mengganggu, mau saya colok tuh mata kamu!"


Nasir tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Laila langsung tersenyum malu-malu.


"Begini Laila. Saya ingin tanya sama kamu, di mana alamat rumah Imran?"


Laila yang tersenyum langsung terdiam, karena dia sangat terkejut mendengarnya. "Mas yakin mau datang ke rumah mas Imran?"


Emyr mengangguk. "Iya! Saya yakin, karena saya ingin melihat bagaimana sih perempuan yang dinikahi Imran sekarang."


"Untuk apa Mas? Sekarang Mas sudah bahagia dengan Shanum. Jadi tidak perlu lah mengurusi mereka berdua."


"Saya ingin membalas perbuatan yang sudah mereka berikan kepada Shanum dulu Laila! Saya tidak tega kalau melihat Shanum terkadang masih termenung sendiri jika teringat dengan masa lalunya."


Laila tersenyum tipis. "Laila mengerti ko apa yang Mas rasakan sekarang. Dulu ketika Shanum pertama kali cerita kepada Laila. Laila setiap hari selalu menyumpah serapah mas Imran dan istrinya. Rasanya hati Laila ikut sakit melihat Shanum setiap hari menangis, sampai tubuhnya jadi kurus."


Mendengar ucapan Laila, hati Emyr semakin benci saja dengan orang yang bernama Imran dan istrinya.


Laila lalu menceritakan sedikit cerita tentang Shanum yang belum dia ceritakan sebelumnya. Amarah yang dirasakan Emyr semakin membuncah tak kala mendengar jika Shanum sering direndahkan oleh Linda.


"Sekarang berikan alamat mereka!"


"Ta-tapi Mas Emyr tidak akan membuat keributan 'kan di sana?" Laila terlihat ketakutan.


"Kamu tenang saja Laila. Mas Emyr tidak seperti itu orangnya," jawab Nasir.


"Baiklah!" Laila lalu memberikan alamat rumah Imran yang cuma beda desa dengan rumahnya. Dan jaraknya pun bisa terbilang tidak terlalu jauh.


Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Emyr langsung berpamitan pergi dari rumah Laila untuk menuju ke rumah Imran.


Di rumah Imran seperti yang sudah kita baca di part sebelumnya, Emyr benar-benar meluapkan amarahnya kepada Imran dan Linda.


Orang sombong dibalas dengan kesombongan adalah sedekah. Jadi apa yang dilakukan oleh Emyr untuk menunjukkan kepada Imran terutama Linda. Jika harta kekayaan yang mereka miliki, cuma seujung kuku dengan harta kekayaannya.


Puas melampiaskan uneg-unegnya kepada Imran dan Linda, Emyr pun kembali pulang ke rumah. Dan saat ini dia sudah sampai di rumah super mewahnya dengan selamat.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2