JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KEJADIAN TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Alarm pun berbunyi. Bertepatan dengan suara alarm berbunyi terdengar suara pintu diketuk dari luar. Malik yang memang tidur di ruang tamu rumah kontrakan Shanum dengan mata mengantuk, perlahan membuka pintunya sedikit untuk melihat tamu yang datang. Melihat Emyr dan Nasir yang datang, Malik langsung membuka lebar pintunya.


"Mas Emyr! Mas Nasir! Ayo mari silahkan masuk!" ucap Malik dengan suara khas masih mengantuk.


"Sepertinya mengantuk sekali kamu Mas?"


Malik mengangguk membenarkan ucapan Nasir. "Saya ijin ke kamar mandi sebentar, mau cuci muka."


Emyr dan Nasir hanya mengangguk saja. Mereka lalu menunggu Malik yang ingin ke kamar mandi.


Emyr terus memperhatikan ruang tamu rumah Shanum. Dan tidak ada yang menarik sama sekali. Tidak ada pajangan yang berarti selain kaligrafi yang terpajang di dinding situ.


Dyah yang baru saja keluar dari dalam kamar, cukup terkejut melihat Emyr dan Nasir sudah datang.


"Mas Emyr! Mas Nasir! Kalian cepat sekali datangnya?"


"Kami baru saja sampai ko Mbak," jawab Nasir.


"Lalu! Mana suami saya?"


Emyr langsung menjawabnya. "Lagi ke kamar mandi."


Dyah hanya mengangguk saja. Setelahnya, tidak lama, Laila pun bangun juga dari tidurnya. Dan jantungnya langsung berdegup kencang melihat Nasir sudah datang. Sedangkan dirinya masih terlihat muka bantal.


Nasir tersenyum penuh arti dan hal itu membuat Laila semakin tidak karuan saja rasanya.


Dyah yang melihat Malik sudah keluar dari dalam kamar mandi, ingin bergegas masuk ke dalam sana untuk cuci muka. Tapi sebelum Dyah masuk, sudah keduluan Laila. Karena Laila sangat malu sekali dilihat Nasir dalam keadaan seperti itu.


Dyah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Laila. Dan setelah Laila selesai dengan rutinitasnya di dalam kamar mandi, Dyah langsung segera masuk ke dalam kamar mandi juga.


Selesai dari dalam kamar mandi, Dyah langsung mengomando semua orang. "Ayo! Mari sini kita ke dapur. Saya akan membagi tugas untuk kalian semua! Biar cepat selesai matangnya."


Seperti menurut ucapan Dyah. Mereka semua lalu masuk ke dalam dapur kecil rumah Shanum.


"Mbak Laila dan saya yang akan bagian memasak. Mas Nasir, Ayah dan Mas Emyr. Kalian bertiga yang bagian memotong-motong semua sayuran, cabai dan juga bawang serta bahan-bahan yang lainnya."


Mereka semua langsung mengangguk setuju. Nasir yang sudah terbiasa memotong-motong sayuran, karena sering membantu nenek Khadijah memasak dia tidak terlihat kaku lagi. Begitupula dengan Malik yang sudah sering membantu Dyah memasak.


Sedangkan Emyr, dia malah bingung sendiri bagaimana cara memotong sayuran yang ada di depannya.


"Saya jujur tidak tahu bagaimana cara memotong ini?"


"Apakah ini bayam?" ucap Emyr lagi.

__ADS_1


"Iya! Itu bayam Mas! Begini cara memotongnya."


Nasir langsung mengajari Emyr untuk memotong-motong sayur bayam.


Ada dua menu yang saat ini sedang dimasak oleh Dyah dan Laila. Dan para laki-laki langsung menyiapkan bahan untuk menu yang selanjutnya.


"Lebih baik, Mas Emyr potong cabai saja deh yang mudah," ucap Malik.


"Bagaimana cara memotongnya?" tanya Emyr.


"Beginikah?" Emyr langsung memotongnya.


"Kalau Mas memotongnya seperti itu, yang ada nanti yang makan langsung tersedak," ucap Nasir. Dan membuat yang lainnya langsung tertawa.


Nasir langsung mengajari bagaimana cara memotong cabai yang bagus sesuai dengan apa yang mereka masak kali ini.


"Atau Mas mau potong bawang saja, nih! Tapi harus yang tipis dan rapi ya!"


Setelah dirasa lebih sulit, akhirnya Emyr memilih memotong cabai saja. "Saya motong cabai saja!"


"Terserah Mas saja," jawab Malik.


Saat ini Dyah dan Laila sedang terlihat memasak di depan kompor, Nasir sedang memotong tiga bawang, alias bawang putih, bawang merah dan juga bawang bombai. Untuk Malik, dia yang membantu mengupaskan semua bawangnya. Sedangkan Emyr, dia memotong cabai untuk menumis sayuran selanjutnya.


Sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Padangan mata semua orang teralihkan kearah sang punya rumah.


Melihat kedatangan Shanum, tidak sengaja Emyr malah mengiris jarinya sendiri pakai pisau.


"Aargh!" Emyr terlihat kesakitan.


Shanum yang melihat langsung merasa khawatir sekali. Melihat Shanum mendekatinya, Emyr refleks langsung ingin menurunkan kaca matanya, tapi tidak tahunya malah tidak sengaja matanya kecolok tangannya sendiri yang baru saja mengiris cabai.


"Aaarggh! Pedas!"


Lengkap sudah penderitaan Emyr. Hanya dengan tidak bisa menguasai diri, membuatnya jadi salah tingkah dan menyakiti diri sendiri.


"Astaghfirullah Kak Emyr!" teriak Shanum.


Shanum yang jadi orang tidak tega melihat orang sakit. Tentu saja langsung menarik tangan Emyr untuk diajak masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Shanum langsung menyuruh Emyr untuk mencuci muka. Dengan perlahan, Emyr mencuci mukanya dengan tangannya yang tidak sakit.


"Apakah sudah lebih baik?"

__ADS_1


Emyr cuma mengangguk saja dengan mata yang terpejam. Lalu Shanum menarik tangan Emyr lagi untuk dia ajak duduk di ruang tamu rumahnya.


Emyr menurut saja dengan mata yang masih terpejam, sebab matanya masih terasa perih.


"Sebentar! Akan saya ambilkan kotak P3K dulu."


Emyr tidak menjawab. Dan Shanum langsung segera berlalu pergi dari hadapan Emyr.


Setelah kembali dari mengambil kotak P3K, Shanum langsung duduk di sebelah Emyr lagi. Melihat darah yang masih keluar dari jari Emyr. Tanpa sungkan, Shanum langsung menghiisaap jari tersebut.


Emyr yang awalnya menutup matanya, refleks langsung membukanya karena sikap Shanum kepadanya.


Emyr menatap sangat lekat sekali kearah wajah Shanum yang saat ini masih memakai niqab. Dan Shanum belum menyadari apa yang saat ini dilakukannya kepada Emyr.


Shanum yang belum sadar dengan sikapnya. Refleks membuka sedikit sadarnya untuk gantian meniup mata Emyr.


Emyr masih terus diam saja dengan apa yang dilakukan oleh Shanum kepadanya. Dia terpesona melihat wajah Shanum yang ternyata jauh lebih cantik dari sebelumnya. Itu menurutnya.


Shanum tiba-tiba sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini. Apalagi wajahnya berada tepat di depan wajah Emyr. Dan mata mereka saat ini sedang saling pandang tanpa berkedip sama sekali.


Shanum langsung melototkan matanya ketika teringat, jika dia baru saja melepaskan niqabnya untuk membantu Emyr. Setelah teringat, Shanum langsung menutupnya kembali dan merasa malu dihadapan Emyr.


Hukum memakai cadar atau niqab adalah makruh. Tidak ada kewajiban bagi kaum perempuan untuk menutupi wajahnya. Yang benar dan wajib adalah menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Karena wajah dan telapak tangan, bukanlah aurat bagi seorang perempuan.


Jadi, tidak berdosa bagi perempuan yang ingin melepaskan cadar atau niqabnya. Yang berdosa bila perempuan muslimah yang sudah baligh tapi tidak memakai hijab atau menutup auratnya.


Namun, alangkah lebih baik jika sudah berniat dan menganggap niqab itu adalah kewajiban untuk menutupi wajahnya. Janganlah sesuka hati untuk melepas pakainya dengan seenaknya sendiri.


Yang dilakukan oleh Shanum saat ini karena dia refleks dan merasa khawatir dengan keadaan Emyr.


Saya tidak bisa membenarkan atau menyalahkan apa yang dilakukan oleh Shanum. Yang namanya manusia tidak luput dari yang namanya lupa dan juga salah. Apalagi Shanum sebelumnya tidak pernah memakai niqab sama sekali.


"Maaf Kak!"


Shanum langsung bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan Emyr sendirian di ruang tamunya.


Emyr hanya bisa diam saja melihat kepergiannya Shanum. Sebab jantungnya saat ini sedang tidak normal karena baru saja melihat kecantikan Shanum yang murni tanpa make up.


Dyah, Malik, Nasir, dan juga Laila. Mereka yang tadinya merasa khawatir dengan keadaan Emyr. Sekarang mereka malah senyum-senyum sendiri tidak jelas, karena baru saja melihat pemandangan manis antara Shanum dan Emyr.


Yaps! Mereka berempat malah asik mengintip dibalik gorden penyekat pintu daripada melanjutkan memasaknya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2