JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
HMM SAKIT BENERAN ... ?


__ADS_3

Akhirnya, dokter pribadinya Emyr datang juga ke rumah Emyr. Emyr sendiri saat ini sedang memperhatikan sang dokter yang sudah berumur sedang memeriksa keadaannya Shanum. Dokter yang sudah menjadi dokter pribadi keluarga Emyr sejak Emyr masih kecil.


"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Emyr ketika melihat sang dokter sudah selesai melakukan pemeriksaannya.


"Nyonya Shanum sepertinya cuma kecapekan saja. Dia hanya kurang tidur."


"Tapi ... "


"Tapi apa Dokter!" tanya Emyr dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Kita lihat saja dulu nanti bagaimana keadaan dari istri Anda Tuan Emyr. Jika nyonya Shanum sadar, tapi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, segera hubungi saya. Saya akan segera menjadwalkan dengan salah satu Dokter yang ada di rumah sakit," jelas sang dokter.


"Ini resep yang harus Tuan Emyr tebus. Sementara ini, biarkan nyonya Shanum beristirahat dengan tenang."


Emyr langsung mengangguk. Tidak lupa, dia juga mengucapkan terimakasih kepada sang dokter. Dan dokter itu pun akhirnya berpamitan pergi ketika pekerjaannya sudah selesai.


Setelah dokter itu pergi, Emyr menyuruh salah satu pekerjanya untuk menebus obat yang tadi sudah diresepkan oleh dokter. Dan setelahnya, dia pun langsung menemani Shanum yang masih belum sadarkan diri.


"Maafkan Kakak, sayang. Tidurlah yang nyenyak, Kakak mau mandi dulu," ucap Emyr sambil mengusap kepala Shanum.


Puas berbicara dengan Shanum, Emyr langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Nasir tadi yang melihat Shanum terlihat sedang sakit, langsung mencoba menghubungi Laila sang calon istri.


"Assalamu'alaikum, Mas Nasir."


Nasir tentu saja langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam, Laila."


"Ada apa Mas? Apa Mas tidak bekerja hari ini?" tanya Laila.


"Mas tentu saja bekerja dong Laila, untuk mengumpulkan uang buat menikahi kamu besok."


Laila tertawa diseberang sana. "Mulai deh!"


"Iya-iya maaf! Emm! Mas cuma mau mengabari, sepertinya mbak Shanum sedang sakit deh! Soalnya tadi ketika baru saja pulang dari bandara, dia pingsan di saat akan masuk ke dalam rumah."


Laila yang mendengar merasa terkejut. "Apa! Shanum sakit, Mas?"


Nasir mengangguk. "Iya!"


"Tapi Laila belum bisa datang untuk menjenguknya. Mas terus kabari Laila ya! Nanti kalau ada waktu, Laila pasti akan datang ke sana untuk menjenguk Shanum."


"Dan biar Laila sendiri nanti yang menelpon Shanum," ucap Laila lagi.


"Baiklah! Cuma itu yang ingin Mas sampaikan. Kamu baik-baik ya di sana."


"Iya Mas! Laila lanjut bekerja lagi ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Dan pada akhirnya sambungan telepon mereka terputus.


Kembali kepada Emyr dan Shanum lagi.

__ADS_1


Emyr yang sudah selesai mandi langsung menuju ke dalam ruang walk in closetnya. Baru saja selesai ganti baju dan keluar dari dalam ruang walk in closet, dia langsung melihat Shanum ternyata sudah sadar dari pingsannya.


"Sayang! Kamu harus istirahat. Dokter melarang kamu untuk jangan terlalu capek," ucap Emyr sambil bergegas mendekati Shanum.


"Apakah Shanum pingsan lagi Kak?"


Emyr pun langsung menganggukkan kepalanya. Dia lalu menggenggam tangan Shanum dengan mesra. "Sudah! Kamu istirahat lagi saja ya sayang. Maafkan Kakak yang tidak menjaga kamu dengan baik."


Shanum tersenyum di wajahnya yang pucat. "Tidak apa-apa. Kakak tidak perlu meminta maaf. Shanum justru ingin berterimakasih kepada Kakak, karena Kakak sudah mengajak Shanum ke banyak tempat ketika ke Turki."


"Istirahat lagi ya sayang."


"Iya nanti. Sekarang Shanum mau ke kamar mandi dulu Kak." Jawab Shanum.


"Mau Kakak antar?" kata Emyr.


"Tidak perlu. Shanum masih bisa sendiri ko Kak."


"Baiklah! Hati-hati ya sayang." Shanum hanya mengangguk saja. Dan dia langsung segera beranjak turun dari atas ranjang menuju ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Emyr memilih menunggu Shanum sambil mengecek semua email dan pesan masuk yang ada di dalam ponselnya.


Shanum yang sudah selesai dari rutinitasnya di dalam kamar mandi, saat ini dia sedang berjalan mendekati Emyr.


Emyr yang melihat Shanum langsung lekas membantunya berjalan ke ranjang. "Kepala Shanum pusing sekali Kak."


Walau sedang tidak naafsuu makan sama sekali, tapi Shanum tetap memaksakan makan walau cuma beberapa suap saja. Sedang asik makan, tiba-tiba hidung Shanum mengeluarkan darah alias mimisan.


"Darah! Kamu mimisan sayang." Emyr benar-benar sangat khawatir sekali. Dia segera memberikan tissue kepada Shanum.


Kepala Shanum semakin sangat pusing sekali. Malah lebih menyusahkannya lagi, tiba-tiba perutnya terasa kram yang teramat sakit sekali. "Aaargghh! Kak perut Shanum sakit sekali. Aarrggh!" Shanum menggeliat kesakitan.


Emyr yang panik, langsung segera menelpon dokter pribadinya. Dan setelah mendapatkan saran dari sang dokter, Emyr pun segera membawa Shanum ke rumah sakit untuk menemui dokter yang sudah dirujuk kan oleh dokter pribadinya.


"Cepat sedikit Nasir mengendarai mobilnya!"


Iya! Saat ini Emyr sudah membawa Shanum ke dalam mobil. Dia benar-benar sangat khawatir, hingga menyuruh Nasir untuk menambah kecepatannya.


Tidak cuma Emyr saja yang merasa khawatir, tapi Nasir pun juga. Karena bagaimana pun Shanum adalah sahabat baik dari calon istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Emyr ternyata sudah ditunggu oleh dokter pribadinya. Sang dokter langsung menyuruh para perawat untuk segera membawa Shanum ke ruangan yang sudah disediakan sebelumnya.


Emyr terlihat panik sekali melihat Shanum kesakitan seperti itu. "Tuan Emyr tunggu dulu di sini. Biar nyonya Shanum saya cek dulu kondisinya."


Emyr hanya menganggukkan kepalanya kepada sang dokter pribadi. Akhirnya, pintu ruang perawatan pun tertutup dan Emyr hanya bisa menunggu sambil kebingungan sendiri.


Tidak lama, sekitar lima belas menit kemudian, pintu ruang perawatan Shanum terbuka dari dalam. Emyr yang melihat langsung mendekati sang dokter yang sedang mengeluarkan brankar pasiennya Shanum.


"Mau dibawa ke mana istri saya, Dokter?"

__ADS_1


"Tuan Emyr tenang dulu. Ayo ikut dengan saya," ucap sang dokter.


Emyr tidak banyak bertanya lagi. Dia terus menggenggam tangan Shanum dan mendampinginya hingga Shanum akhirnya masuk ke dalam salah satu ruangan dokter.


"Tuan Emyr! Nyonya Shanum sekarang akan saya pasrahkan kepada dokter Hilda, karena dia yang lebih tahu."


Emyr mengangguk. "Terimakasih Dokter."


Setelahnya, dokter itu pun berlalu pergi dari dalam ruangan dokter Hilda. Dokter Hilda yang melihat Shanum masih sadar, dia pun menyuruhnya untuk pindah ke ranjang pasien yang ada di dalam ruangannya.


Emyr dan para asisten dokter Hilda langsung membantu Shanum yang terlihat sangat lemas sekali. Setelah Shanum sudah rebahan di ranjang yang diinginkan, Dokter itu langsung membuka perut Shanum dan mengolesinya gel.


Ketika gel sudah dioleskan dengan rata, dokter Hilda langsung memeriksa perut Shanum melalui layar USG. Iya USG! Shanum dan Emyr masih belum sadar dengan apa yang dilakukan oleh dokter Hilda.


"Selamat Tuan! Lihatlah! Ada malaikat kecil di dalam perut istri Anda."


Krik! Krik! Krik!


Shanum dan Emyr masih belum nyambung dengan ucapan dokter Hilda. Mereka malah diam saja dengan wajah terbengong satu sama lainnya.


"Tuan Emyr!"


Ucapan sang dokter yang mengejutkannya, berhasil menyadarkan Emyr dan Shanum. "Apakah Anda tidak mendengarkan saya?" tanya sang dokter.


"Emm! Bisa diperjelas apa maksud ucapan Dokter?" tanya Emyr untuk lebih memastikannya.


Dokter Hilda langsung menunjukkan sebuah embrio kecil di dalam perut Shanum di layar monitor yang nantinya bakal menjadi calon anak mereka berdua.


"A ... i ... emm .. a a a a ... " Emyr sampai tidak bisa berbicara.


"Is-istri saya ha-hamil, Dokter?" ucap Emyr dengan terbata-bata.


Dokter Hilda tersenyum. "Iya Tuan Emyr. Istri Anda saat ini sedang hamil."


"Hamil! Saya hamil Dokter?" Shanum terlihat syok dan tidak percaya.


Dokter Hilda tersenyum dan mengangguk kepada Shanum. "Iya Nyonya. Anda sekarang sedang hamil."


Dada Shanum terasa panas. Matanya langsung menangis, darahnya terasa mengalir sangat deras di sekujur tubuhnya. Kakinya terasa kaku, bahkan waktu pun terasa berhenti berputar tat kala dokter Hilda menyatakannya jika dirinya positif hamil.


"Aku hamil?" Shanum masih terlihat tidak menyangka.


Senyum Emyr pun bahkan sudah merekah sangat lebar sejak tadi. Wajahnya yang tampan, terlihat semakin berseri-seri ketika mendengar jika dirinya sebentar lagi akan mempunyai seorang anak.


Sungguh hari ini adalah hari yang paling bersejarah dan dinanti-nantikan oleh Emyr dan Shanum.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2