
Shanum tiba-tiba keluar dari dalam kamar, karena dia ingin memberikan bantal kepada Malik untuk tidur di sofa yang ada di situ. Setelahnya, dia pun langsung bersih-bersih badannya untuk segera tidur.
Melihat Shanum sudah pergi lagi dari hadapan mereka bertiga, Dyah, Malik, dan Laila, langsung melanjutkan lagi pembicaraannya.
"Mbak Dyah! Sebenarnya yang Mbak bicarakan apa sih? Aku tidak paham sama sekali."
"Mas Emyr saat ini sedang menyamar. Dia bukan orang miskin, sebenarnya dia orang yang sangat kaya raya."
Masih dengan suara berbisik, Laila bertanya lagi. "Bagaimana Mbak bisa tahu? Jika mas Emyr adalah orang kaya?"
"Kami pernah bertemu dengannya sebelumnya, untuk membahas ponsel mbak Shanum."
"Ponsel Shanum? Ponsel Shanum yang hilang dulu?"
Dyah langsung mengangguk. "Iya! Dan yang menemukan adalah mas Emyr. Kebetulan aku mencoba menghubungi mbak Shanum. Akhirnya, kami ketemuan untuk mengembalikan ponsel mbak Shanum."
"Mas Emyr benar-benar orang kaya raya Mbak Laila. Dan sepertinya dia dari kalangan orang yang elite."
Laila terlihat melamun. Malik yang melihat, langsung menegurnya. "Kenapa kamu malah melamun Mbak Laila?"
Laila menggelengkan kepalanya. "Eh! Tidak kenapa-kenapa Mas. Hanya kepikiran dengan Shanum saja."
"Jadi ponsel Shanum yang lama, saat ini ada sama Mbak Dyah dan Mas Malik?"
Dyah dan Malik langsung mengangguk. "Iya! Dan kami sengaja tidak memberikannya. Supaya mbak Shanum bisa melupakan mas Imran."
Laila mengangguk mengerti. Dirinya sendiri juga ingin melihat Shanum bangkit dari keterpurukannya.
Sore harinya. Entah kenapa, tiba-tiba Shanum merasa tidak enak badan. Laila yang kebetulan ingin bertanya kepadanya, tidak sengaja melihat wajah Shanum terlihat pucat. Laila lalu mencoba memegang dahinya.
"Astaghfirullah! Badan kamu panas sekali Shanum!" Laila sangat terkejut.
Laila yang mengetahui badan Shanum panas, langsung mencari persediaan obat di dalam rumah Shanum. Tapi, karena berhubung dia tidak mengetahui di mana Shanum menyimpan kotak obatnya, malah membuatnya bingung sendiri.
Laila yang sedikit panik dan merasa khawatir dengan keadaan Shanum, langsung memberitahukan kepada Dyah dan Malik.
Dyah dan Malik yang sedang asik menonton televisi, sambil bercanda dengan baby Fatiyah, tentu saja juga merasa terkejut mendengar ucapan Laila.
Dyah dan Malik langsung bergegas mengecek keadaannya Shanum.
"Iya! Panas Ayah! Panas sekali malahan ini."
"Biar Ayah membeli obat dulu di warung terdekat sini."
Dyah dan Laila hanya mengangguk saja. Setelahnya, Malik bergegas pergi untuk membelikan obat bagi Shanum.
Dengan suara lirih, tiba-tiba Shanum berbicara. "Laila! Dyah! Itu sayuran yang sudah Mbak beli, tolong bagikan ke tetangga saja. Bagikan sama nenek Khadijah juga.
"Kenapa dibagi-bagikan Mbak?" tanya Dyah.
__ADS_1
"Mbak 'kan nggak punya kulkas, nanti daripada busuk, malah mubadzir," jawab Shanum.
Dyah dan Laila mengerti sekarang. "Biar Laila saja Mbak Dyah yang membagikannya. Mbak Dyah jagain Shanum dulu di sini."
Dyah cuma mengangguk saja kepada Laila. Dan Laila langsung memasukkan beberapa sayuran yang sudah dibeli Shanum untuk dia berikan kepada nenek Khadijah terlebih dahulu.
Kebetulan yang membukakan pintunya adalah nenek Khadijah sendiri. Dan nenek Khadijah cukup terkejut melihat kedatangan Laila sambil membawa satu buah kantong kresek yang cukup besar.
"Wa'alaikumussalam. Eh Neng Laila. Ada apa ya Neng?"
"Nek! Ini ada sayuran dari Shanum. Shanum tiba-tiba sakit Nek. Badannya sangat panas sekali. Daripada semua sayuran yang sudah dibelinya busuk. Shanum menyuruh Laila untuk membagikannya saja."
Nenek Khadijah sangat terkejut mendengar Shanum sakit. Dia langsung khawatir dengan keadaan Shanum. Orang baik seperti Shanum, pastilah banyak yang perhatian bila ia sedang kesusahan.
"Neng Shanum sakit!"
Laila langsung mengangguk. Tiba-tiba dari arah belakang nenek Khadijah ada yang ikut menyahut ucapan mereka. "Apa! Shanum sakit!"
Laila dan nenek Khadijah langsung menolehkan pandangannya kearah orang yang baru saja berbicara itu. Dan ternyata orang itu adalah Emyr.
Laila dan nenek Khadijah bisa melihat, jika raut wajah Emyr memperlihatkan kekhawatiran yang mendalam.
"Iya Mas! Shanum sakit," jawab Laila.
"Nek ini sayurannya, mohon diterima, Laila harus segera kembali."
Sebelum tangan nenek Khadijah sampai di kantong plastik itu. Emyr langsung mengambilnya terlebih dahulu.
Laila langsung menjelaskan kepada Emyr, apa maksudnya dia memberikan sayuran itu kepada nenek Khadijah.
"Bawa pulang kembali sayurannya. Nanti saya yang akan memasak untuk dagangannya besok."
Mata nenek Khadijah dan Laila langsung melotot sangat lebar sekali.
"A-apa Mas Emyr bercanda?"
"I-iya tentu saja saya serius. Tapi! Saya tidak bisa memasak sendirian."
Laila tersenyum tipis melihat wajah aneh dari Emyr. "Baiklah kalau begitu. Nanti akan Laila dan mbak Dyah bantuin."
"Kalau begitu, nanti saya akan mengajak Nasir juga."
Cuma mendengar nama Nasir, jantung Laila langsung berdegup kencang sekali.
"Ba-baiklah Mas."
"Kira-kira jam berapa memasaknya?" tanya Emyr.
"Jam satu pagi Mas. Jadi setengah enam sudah harus matang semua."
__ADS_1
Gantian mata Emyr yang melotot. "Oke! Siapa takut. Nanti jam satu dini hari saya akan ke sana bersama Nasir."
Laila cuma mengangguk saja. Dia lalu berpamitan pulang kepada Emyr dan juga nenek Khadijah. Baru saja Laila melangkah beberapa langkah, tiba-tiba dia dipanggil Emyr lagi.
"Ada apa ya Mas?"
"Apakah Shanum sudah minum obat?" Emyr terlihat malu-malu bertanya kepada Laila.
"Lagi dibelikan sama mas Malik, Mas!"
"Okelah!" Emyr cuma mengangguk saja. Setelahnya, Laila langsung bergegas pulang ke rumah kontrakan Shanum.
Sesampainya di rumah kontrakan Shanum, Dyah yang baru saja keluar dari dalam dapur sambil membawa teh hangat, sedikit terkejut. Pasalnya, sayuran yang harusnya diberikan kepada nenek Khadijah kenapa dibawa pulang kembali.
"Nanti mas Emyr yang mau memasak Mbak. Tapi dia meminta tolong kepada kita berdua."
"Hah!" Dyah membuka mulutnya lebar. Sedangkan Laila langsung tersenyum sambil mengangguk.
"Besar sekali cinta mas Emyr itu kepada mbak Shanum."
"Sepertinya. Semoga saja mereka cepat bersatu." Wajah Laila terlihat bersedih.
"Untung saja kita masih ada di sini, di saat mbak Shanum sedang sakit sekarang. Coba kalau ... "
Ucapan Laila disela Dyah. "Kamu benar Mbak Laila. Semoga mas Emyr cepat menikah dengan mbak Shanum. Jadi mbak Shanum tidak akan hidup sebatang kara lagi."
Laila langsung mengangguk pelan ucapan Dyah.
Beralih ke rumah kakek Idris lagi. Setelah kepergian Laila tadi, Emyr langsung menemui Nasir yang berada di dalam kamarnya.
"Ada apa Mas?"
"Nanti malam kita datang ke rumah Shanum."
Nasir terlihat sedikit kebingungan. "Mau apa Mas?"
"Mau masak."
Nasir terdengar terkejut. "Hah! Masak?"
"Memangnya Mas Emyr bisa masak?"
"Tidak bisa! Nanti kamu yang masak sama Laila dan Dyah. Saya cuma bagian mencicipi."
Nasir memasang wajah sebalnya. Dan itu membuat Emyr langsung tertawa terbahak-bahak.
Nasir senang. Karena semenjak Emyr ikut dengannya pulang kampung, dirinya bisa lebih dekat dengan sang majikan, yang selama ini sangat dia hormati.
Semenjak mengenal Emyr cukup dekat. Nasir menjadi tahu, kalau Emyr tidak seperti yang dia pikirkan selama ini. Nasir menilai, jika Emyr sangat enak dan nyambung untuk dijadikan teman mengobrol. Dan Nasir juga merasa khawatir, ketika mendengar dari Emyr, jika Shanum sedang sakit saat ini.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...