JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
TIBA DI KAMPUNG


__ADS_3

Saat ini Emyr masih berada di perjalanan untuk menuju ke rumah mewahnya. Selama di perjalanan, Emyr merasa jika sopir pribadinya itu terus meliriknya dari kaca spion tengah mobil.


"Nasir! Ada apa kamu daritadi melirik saya terus?"


Nasir yang ketahuan oleh Emyr pun merasa takut jika Emyr marah kepadanya.


"Katakan saja! Apa sudah terjadi sesuatu?"


"Bukankah selama ini saya tidak pernah marah kepadamu, Nasir?" ucap Emyr lagi sambil memainkan ponselnya.


Dengan perasaan takut, Nasir pun mencoba mengungkapkan keinginannya. "Emm! Tuan Emyr! Saya mau ijin pulang kampung sebentar Tuan."


"Iya! Lalu?"


"Saya takut Anda tidak akan mengijinkan saya, Tuan?"


Emyr tertawa mendengar suara ketakutan sopir pribadinya. "Memangnya apa pernah saya melarang kamu untuk menjenguk ke dua orang tuamu, Nasir?"


Nasir refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu. Pergilah. Ingat! Kembalilah seperti biasanya."


Wajah Nasir terlihat lega dan senang sekali. "Terimakasih Tuan Emyr. Terimakasih banyak!"


Emyr tersenyum. "Sama-sama."


"Kalau boleh tahu, di mana kampung halamanmu berada Nasir?"


"Kampung tempat tinggal saya jauh dari sini Tuan. Harus menempuh perjalanan sekitar berjam-jam lamanya untuk sampai di sana."


"Biasanya kamu naik apa kalau pulang ke kampung? Bus, kereta, atau naik motormu itu?" tanya Emyr lagi.


"Saya naik motor saja Tuan. Biar lebih irit."


"Sepertinya jauh sekali ya perjalanan yang harus kamu tempuh?"


Nasir menganggukkan kepalanya, sambil melirik Emyr lagi dari kaca spion tengah. "Tapi rasa lelah itu akan terbayarkan ketika sudah sampai di sana Tuan."


"Pasti karena sudah bisa melihat ke dua orang tua kamu 'kan? Jadi rasa lelahnya bisa terbayarkan?"


Nasir tersenyum. "Iya! Itu salah satunya Tuan. Tapi ada lagi selain itu?"


Emyr sepertinya penasaran dengan ucapan Nasir. "Apa itu?"


"Pemandangan di desaku Tuan. Di sana sangat indah sekali. Ada banyak gunung yang bisa kita lihat dengan jelas. Apalagi masih banyak hamparan sawah dan udaranya sangat sejuk sekali. Berbeda dengan di sini."

__ADS_1


Emyr seperti ingin melihat kampung halaman Nasir. "Sepertinya kampung halaman tempat tinggal kamu menyenangkan, Nasir?"


"Bolehkah saya ikut denganmu besok?"


Tentu saja Nasir sangat terkejut sekali. "Apa Tuan! Tuan mau ikut dengan saya pulang kampung!"


Emyr menganggukkan kepalanya. "Iya! Apakah tidak boleh?"


Nasir refleks menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu Tuan! Hanya saja ini di kampung Tuan. Kehidupannya sangat jauh dari yang namanya perkotaan?"


Belum selesai perbincangan mereka. Tidak terasa mobil yang Nasir kendarai sampai juga di rumah super mewah milik Emyr.


"Jika kamu mengijinkan saya ikut. Besok tunggu saya terlebih dahulu sebelum berangkat."


Nasir menganggukkan kepalanya. "Baiklah Tuan Emyr."


Tentu saja Nasir tidak akan bisa menolak keinginan majikannya itu. Dan setelah mengatakan hal itu kepada Nasir. Emyr pun langsung masuk ke dalam rumahnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar letih.


Sedangkan di rumah kontrakannya Shanum.


Shanum saat ini sedang memotong-motong sayur-sayuran untuk jualannya besok, sambil menerima telepon dari Laila.


Laila mengatakan akan naik bus sekitar jam enam pagi. Jadi itu bisa diperkirakan, siangnya pasti Laila sudah sampai di kampung tempat tinggalnya.


Pagi harinya di rumah Shanum, dia sudah mulai berjualan seperti biasa yang dia lakukan. Jika Shanum sedang berjualan, berbeda halnya dengan Emyr yang saat ini sedang berolahraga pagi di halaman rumahnya.


Selesai berolahraga, Emyr mendekati Nasir yang sedang mencuci mobil. "Nasir!"


Nasir tentu saja langsung menghentikan kegiatannya dan berbalik badan menghadap Emyr. "Iya Tuan Emyr!"


"Nanti kamu jadi pulang jam berapa?"


"Setelah sarapan Tuan. Biar nanti tidak terlalu ke sorean sampai di sana."


"Baiklah! Nanti tunggu saya ya?"


Nasir menganggukkan kepalanya dengan kaku. "Baiklah Tuan!"


Emyr lalu langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menghilangkan keringatnya terlebih dahulu sebelum mandi. Sedangkan Nasir dia menjadi heran sendiri dengan majikannya itu.


"Sebenarnya tuan Emyr itu bercanda apa tidak sih?" Nasir terlihat kebingungan.


"Apa betah nanti tuan Emyr tinggal di rumahku yang jelek itu. Dan lagipula itu di kampung, bukan di perkotaan?"

__ADS_1


"Hah! Biarlah! Jika dia mau ikut. Semoga saja nanti di sana dia tidak mendapatkan kesan yang buruk!"


Nasir langsung melanjutkan lagi mencuci mobilnya, supaya bisa segera pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk ke dua orang tuanya.


Selesai sarapan, Emyr benar-benar ikut pergi dengan Nasir ke kampung halaman Nasir. Kali ini penampilan Emyr sedikit berbeda dari biasanya. Bila biasanya wajahnya akan dihiasi jenggot tipis nan menawan, tapi sekarang, dia mencukur habis jenggotnya itu hingga wajahnya terlihat bersih dan semakin tampan.


Oh ya! Jangan lupa kacamata hitam yang bertengger manis di atas hidung mancungnya itu.


"Ayo Nasir! Saya sudah siap!"


Nasir saja sebagai laki-laki sedikit terpesona melihat ketampanan sang majikan. "Alamak! Tuan Emyr penampilannya, Masyaallah! Pasti nanti sampai di kampung rumahku akan banyak banyak tamu yang datang untuk melihat dia," ucap Nasir di dalam hati.


Nasir malah pusing sendiri, padahal baru memikirkannya saja. Sedang Emyr yang melihat Nasir malah terbengong sambil melihat ke arahnya, dia langsung melihat penampilannya sendiri.


"Nasir! Apakah ada yang salah dengan penampilan saya?"


Nasir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm! Bisakah Tuan tidak berpenampilan seperti ini di kampung?"


"Emm! Maksud saya ... " belum selesai Nasir berbicara, Emyr sudah menyelanya.


"Kamu tenang saja Nasir. Saya mengerti ko apa maksud ucapan kamu. Lagi pula saya juga belum memberitahukanmu 'kan?"


"Memberitahu apa ya Tuan?" tanya Nasir.


"Saya di sana akan menyamar. Dan kamu ikuti saja apa rencana saya. Karena saya sendiri juga tidak mau ada orang yang mengetahui identitasku."


"Tapi ke dua orang tua saya sudah mengetahui siapa Anda, Tuan?"


Emyr tersenyum. "Ya! Nanti katakan juga kepada orang tuamu apa keinginanku, bereskan?"


Nasir mengangguk mengerti. "Baiklah. Ayo Tuan."


Emyr benar-benar ikut bersama Nasir menuju ke kampung halamannya. Emyr menaiki mobilnya sendiri di antar oleh sopir yang satunya. Sedangkan Nasir naik motor miliknya. Sesampainya di terminal, Emyr menyuruh sopirnya itu untuk pulang, dan dia akan naik motor bersama Nasir menuju ke rumahnya.


Benar apa kata Nasir. Jika kampung halaman tempat tinggalnya sangat indah sekali. Dan Emyr langsung jatuh hati ketika pertama kali singgah di kampung halaman tersebut.


Ketika Nasir dan Emyr sudah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih setengah jam dari terminal tadi. Akhirnya, mereka berdua sampai juga di rumah Nasir.


Kedatangan Nasir dan Emyr langsung disambut oleh ke dua orang tua Nasir, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakek Idris dan nenek Khadijah. Dan Emyr sendiri ketika sudah sampai di rumah Nasir, langsung merubah penampilannya menjadi laki-laki sederhana dengan kaca mata tebal yang akan selalu menghiasi wajahnya untuk sementara waktu.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2