
Saat ini jenazah ibu Mu'idah sudah dibawa pulang ke rumahnya oleh Imran dan juga Dyah.
Semua para tetangga pada berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ibu Mu'idah.
Imran terus mengeluarkan air matanya dalam diamnya. Semua penyesalan seakan sudah tidak bisa ditahannya lagi, karena kematian sang ibu.
Dyah yang melihat sang kakak terpuruk karena kesalahannya sendiri dan kesalahan sang ibu, tidak mampu berbuat apa-apa. Semuanya dia pasrahkan kepada Sang Maha Pencipta.
Dyah lalu menyingkir sejenak untuk menghubungi seseorang, dan orang itu adalah Emyr.
Emyr yang saat ini sedang duduk bersantai dengan Shanum dan mama Mulan di ruang keluarga langsung memilih menghindar dari mereka berdua.
"Baba mau mengangkat ini dulu. Ini dari Kevin," Shanum hanya mengangguk saja. Lalu Emyr sedikit menjauh dari Shanum dan mama Mulan.
Emyr sengaja berbohong, sebab ia takut jika Dyah akan membicarakan hal rahasia dengannya, terutama tentang ibunya.
Setelah dirasa sudah cukup jauh dari mereka berdua, Emyr langsung mengangkat sambungan teleponnya.
"Halo! Assalamu'alaikum Dyah."
"Wa'alaikumussalam Mas Emyr." Suara Dyah terlihat pelan, sedih dan seperti baru saja menangis. Itulah tebakannya Emyr. Dan pada kenyataannya memang begitu.
"Suara kamu kenapa begitu Dyah? Apa sudah terjadi sesuatu kepadamu atau keluargamu?" tanya Emyr.
"Ibu meninggal Mas."
Emyr perlahan mencerna ucapan Dyah. "Ibu kamu maksudnya?" tanya Emyr.
"Iya," jawab super singkat dari Dyah.
Emyr cukup terkejut mendengar berita kematian ibu Mu'idah. "Bu-bukankah dia masih berada di dalam penjara? Atau ibu kamu selama ini mengidap penyakit serius Dyah?" Emyr mencoba tenang.
Dyah lalu menjelaskan apa yang membuat sang ibu meninggal. Semua itu karena kabar dari Imran dan juga Linda yang sulit untuk punya anak.
Emyr sampai tidak bisa berbicara apa-apa ketika mendengar cerita dari Dyah. Dia hanya bisa mengucapkan kata innalilahi, tapi di dalam hatinya saja. "Lalu! Untuk apa kamu menghubungi saya, Dyah?" Emyr terlihat seakan tidak peduli.
"Dyah tahu, Mas Emyr masih marah dengan ibu. Dyah menelpon Mas hanya untuk meminta maaf kepada Mas atas semua kesalahan yang sudah ibu lakukan kepada Mas Emyr dan mbak Shanum."
"Tolong maafkan kesalahan ibu, Mas. Supaya ibu bisa pergi dengan tenang," ucap Dyah lagi.
"Iya baiklah. Saya akan memaafkan semua kesalahan ibu kamu. Tapi kamu harus berjanji kepada saya."
"Terimakasih Mas. Janji apa ya?" ucap Dyah.
"Berita ini jangan sampai terdengar oleh Shanum. Karena saya tidak mau kalau dia sampai kepikiran. Saya juga tidak mau jika sampai terjadi apa-apa kepadanya atau kepada ke dua calon anak saya! Mengerti Dyah!"
"Iya Mas, Dyah mengerti. Terimakasih atas waktunya. Dyah tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."
Emyr langsung menjawab salam Dyah, dan lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan telepon dari Dyah, Emyr lalu berpamitan pergi kepada Shanum.
"Sayang! Baba mau ke kantor sebentar. Ada hal yang harus Baba urus bersama Kevin." Bohong Emyr lagi.
"Hati-hati ya Baba," jawab Shanum. Emyr lalu mencium kening Shanum dengan mesra.
"Titip Shanum sebentar ya Ma!" mama Mulan hanya mengangguk saja. Dan setelahnya, Emyr langsung bergegas ganti baju untuk segera pergi.
Papa Hisyam yang baru saja keluar dari dalam kamar dan melihat Emyr pergi dengan tergesa-gesa, dia pun tidak tinggal diam saja.
Papa Hisyam lalu menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu ke mana Emyr sedang pergi sekarang. Tidak lupa juga, Papa Hisyam mencoba mengikuti mobil yang dikendarai oleh Emyr seorang diri.
"Tuan Hisyam!" lapor sang anak buah melalui sambungan telepon.
"Bagaimana?"
"Tuan Emyr menuju ke daerah perkampungan Tuan," jelas sang anak buah.
"Perkampungan?" papa Hisyam menjadi tanda tanya sendiri.
"Kamu terus ikuti Emyr. Sampai saya datang ke sana," ucap papa Hisyam.
"Baik Tuan!" dan pada akhirnya, sambungan telepon mereka terputus.
"Bukankah tadi Emyr ijin kepada Shanum untuk pergi ke kantor. Kenapa dia sekarang malah pergi ke daerah perkampungan?" papa Hisyam berbicara sendiri.
Ternyata perkampungan yang sedang didatangi oleh Emyr adalah tempat tinggal ibu Mu'idah dan juga Imran.
Melihat ada sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari rumah ibu Mu'idah, para pelayat menjadi sangat penasaran sekali dengan pemilik dari mobil mewah tersebut.
Ketika Emyr keluar dari dalam mobil dengan setelan jas mahalnya, mata para warga yang sedang melayat langsung dibuat terkejut. Ada sebagian orang yang langsung mengenali siapa itu Emyr. Sebab Emyr sudah sering keluar masuk televisi.
"Bukankah dia suaminya Shanum?" begitulah yang diucapkan oleh banyak orang.
Mendengar semua orang sedang berbisik tentang Emyr. Dyah dan Imran langsung ke luar dari rumah duka.
Imran yang melihat Emyr sedang berdiri menatap kearah rumah sang ibu, dia lalu berjalan mendekatinya.
"Untuk apa kamu datang ke sini! Apa untuk menghina dan mengejek kami lagi, hah!"
Dyah yang berada di samping sang kakak, langsung menegurnya. "Mas! Yang sopan ada banyak orang di sini!"
"Mas tidak peduli Dyah! Karena dia, ibu meninggal!"
Emyr masih diam saja menatap santai kearah Imran.
"Saya sengaja datang ke sini untuk berbela sungkawa kepada Dyah, bukan kepada Anda Tuan Imran! Sekaligus saya ingin memaafkan dengan tulus semua kesalahan yang sudah kalian lakukan kepada saya dan juga Shanum."
"Dan ... Kematian ibu Anda bukanlah karena saya, melainkan sudah menjadi takdirnya. Apalagi beliau mempunyai anak seperti Anda. Kalau saya pribadi, juga lebih baik memilih mati, daripada terus hidup untuk melihat Anda Tuan Imran," jawab Emyr dengan tenang.
__ADS_1
Para pelayat yang awalnya sibuk mengaji, malah sekarang sibuk memperhatikan dan menonton Emyr bersama Imran.
"Bukankah ini yang kamu harapkan dari kami, Tuan Emyr yang terhormat!" Imran menggertakkan giginya.
Emyr tersenyum tipis, lalu dia berjalan mendekati Imran. "Bisakah Anda berbicara lebih pelan sedikit suaranya. Apa Anda tidak malu Tuan Imran di perhatikan oleh para tetangga Anda?" bisik Emyr.
Pikiran yang sedang kacau, membuat Imran tidak bisa berpikir dengan jernih. Tiba-tiba dia langsung memukul wajah Emyr dengan kuat sekali, hingga membuat Emyr jatuh tersungkur ke tanah.
Dyah tentu saja langsung melerainya. Begitupun dengan para bapak-bapak yang melihat kejadian itu.
"Hentikan!" suara tenang dan berwibawa terdengar jelas di telinga semua orang. Dan orang tersebut adalah papa Hisyam.
Papa Hisyam yang sudah sampai di depan Emyr langsung membantunya berdiri. "Memang dasarnya orang tidak berpendidikan ya begini. Sedikit-sedikit emosi! Tidak tahu sopan santun!" papa Hisyam terlihat tenang dan mengintimidasi.
"Anak saya sudah datang baik-baik dengan niat yang baik, tapi begini kah sambutan yang Anda berikan kepadanya. Apakah Anda tidak malu dengan jenazah ibu Anda yang ada di dalam sana?" ucap papa Hisyam lagi.
Papa Hisyam sudah tahu semuanya. Tidak sulit mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi dengan Imran dan juga Linda.
Ketika papa Hisyam sampai di kampung tempat tinggalnya Imran, dia memilih memperhatikan saja dari jarak jauh. Tapi tidak tahunya, Imran malah membuatnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Imran hanya bisa diam saja mendengar ucapan papa Hisyam.
"Ayo Emyr kita pergi dari sini!" Emyr hanya mengangguk saja. Lalu mereka berdua berbalik badan untuk pergi dari hadapan Imran dan yang lainnya.
"Jangan pernah lagi menampakkan wajah kalian dihadapanku! Atau kalian akan menyesal nanti!" suara ancaman Imran terdengar jelas di telinga Emyr dan papa Hisyam.
Emyr dan papa Hisyam langsung menghentikan langkah kakinya. Lalu Emyr berbalik badan untuk menghadap Imran lagi.
"Huh! Lakukan apa yang bisa Anda lakukan!"
"Sebelum Anda berbuat lebih jauh, saya pasti sudah lebih dulu menghancurkan Anda!"
"Dan satu hal lagi! Jangan pernah menemui Shanum lagi, atau ... "
"Saya bisa berbuat nekat kepada Anda!" ucap Emyr untuk kesekian kalinya.
Setelah itu, Emyr pun benar-benar pergi dari hadapan Imran dan para pelayat.
Ketika Emyr dan papa Hisyam sudah pergi dari situ, Dyah tiba-tiba langsung menampar sang kakak dengan sangat keras.
"Dyah malu punya kakak seperti Mas Imran yang bodoh sekali!"
"Ibu meninggal juga karena Mas! Bukan karena Mas Emyr! Ibu meninggal karena mendengar Mas Imran mandul! Dyah benci sama Mas Imran!" teriak Dyah.
Dyah lalu pergi dari situ dengan berlinang air mata. Malik yang melihat sang istri dalam keadaan seperti itu, langsung mengejarnya.
Situasi yang harusnya berkabung dan khidmat, malah menjadi ajang tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin inilah adzab untuk ibu Mu'idah yang semasa hidup sudah menyakiti hati banyak orang. Bahkan sampai ia meninggal pun, bukannya mendapatkan doa untuk mengantarkannya bertemu Sang Pencipta, malah adegan kebodohan dari anak laki-lakinya.
Para tetangga sekarang juga menjadi tahu, kalau ternyata Imranlah yang mandul dan bukannya Shanum.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...