JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
SEDIKIT DEMI SEDIKIT


__ADS_3

Kembali ke Shanum lagi yuk.


Shanum yang sudah sampai di rumah kontrakannya langsung menuju ke belakang rumah. Walau rumah di kampung tidak terlalu luas atau besar, tapi jangan salah, lahan di belakang, samping dan depan rumah masih bisa dibilang luas dan lebar.


Tanah kosong yang biasanya Shanum gunakan untuk menjemur semua baju-bajunya, sekarang akan dia gunakan untuk bercocok tanam.


Shanum mempraktekkan cara menanam semua bibit itu sama persis dengan apa yang diberitahukan oleh kakek Idris tadi.


Walau capek, tapi Shanum sangat senang sekali mengerjakannya. Karena dari dulu dirinya memang sangat suka kegiatan tanam menanam.


Setelah berjam-jam lamanya dia menanam semua bibit tersebut, akhirnya kegiatan itu selesai juga.


Shanum mengusap peluh yang membasahi wajah dan dahinya. "Alhamdulillah selesai juga."


"Semoga semua bibit ini tumbuh dengan sehat dan subur. Aamiin."


Shanum pun lalu memilih mengadem di dalam di rumahnya, untuk menghilangkan keringatnya di depan kipas yang sudah dibelinya kemarin dengan meminta tolong kepada pak RT.


"Aku sangat senang tinggal di sini. Selain udaranya yang sejuk, di sini juga tidak terlalu bising dengan kendaraan yang berlalu-lalang."


"Kapan aku bisa membeli sepeda sendiri ya, biar jika butuh apa-apa di pasar, aku bisa ke sana naik sepeda itu." Shanum berbicara sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.


Shanum lalu beranjak bangun dari rebahannya di pinggir ranjang untuk menuju ke dalam lemari baju miliknya. Lemari yang sengaja sang pemilik rumah tinggalkan.


Shanum lalu menghitung sisa uang tabungan dan uang gono gini hasil perceraiannya dulu dengan imran.


"Alhamdulillah masih cukup untuk modal berjualan. Tapi tidak cukup untuk beli sepeda."


"Biarlah. Aku mau menabung dulu, untuk sementara waktu aku harus mengirit."


Tidak terasa, tibalah saatnya bagi Shanum berjualan lauk pauk untuk pertama kalinya. Semua lauk pauknya ada berbagai macam jenis sayur-sayuran yang tentunya sehat. Setidaknya ada sekitar sepuluh macam menu yang bisa dipilih oleh para pembelinya. Semua masakan itu sudah dibungkus rapi oleh Shanum. Jadi dia cuma menjual saja tanpa perlu repot-repot lagi membungkuskan satu persatu.


Pelanggan pertama sudah datang. Shanum dengan ramah menyambutnya dan menjelaskan sayur apa saja yang dimasaknya. Pelanggan ke dua juga sudah datang, ke tiga, ke empat dan seterusnya sudah mulai berdatangan untuk mencicipi masakannya Shanum.


Untuk hari pertama jualan, pembeli yang datang ke warung Shanum termasuk sudah alhamdulillah. Senyum Shanum terlihat sangat ceria sekali, karena sisa dagangannya tidak terlalu banyak.


"Alhamdulillah ya Allah. Cuma sisa segini."

__ADS_1


"Lebih baik, aku bagikan saja kepada orang-orang yang membutuhkan, daripada mubadzir."


Shanum lalu memasukkan sisa dagangannya itu ke dalam kantong plastik yang cukup besar. Setelahnya, dia mencoba meminjam sepeda kepada kakek Idris yang alhamdulillah diijinkan.


Shanum mengayuh sepeda itu dengan santai sambil menikmati suasana kampung tempat tinggalnya. Ketika Shanum melewati hamparan sawah, dia tidak sengaja melihat beberapa orang sedang bekerja di sawah.


"Lebih baik aku berikan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu itu. Siapa tahu mereka belum bawa bekal makanan."


Shanum lalu turun dari atas sepeda. Dan memanggil salah satu bapak atau ibu-ibu yang sedang bekerja di sawah. "Pak! Ibu!"


"Iya Mbak!" sahut dari para ibu-ibu dan bapak-bapak itu sambil berteriak.


"Saya ada makanan, ini untuk kalian saja!" teriak Shanum lagi.


"Ambillah," ucap Shanum.


Salah satu bapak dan ibu itu pun langsung berjalan mendekati Shanum yang ada di pinggir jalan.


Sesampainya di depan Shanum. Shanum pun langsung memberikan sisa dagangannya yang tidak laku tadi kepada mereka.


"Pak! Bu! Ini ada sedikit makanan untuk kalian. Ambillah, daripada mubadzir."


Shanum langsung menganggukkan kepalanya. "Benar Ibu. Saya yang mengontrak rumah sebelah rumah kakek Idris."


"Apa Mbak jualan?" tanya sang bapak juga.


"Iya Pak! Saya mulai hari ini berjualan lauk pauk yang siap makan. Daripada ini mubadzir lebih baik saya bagikan saja."


"Masyaallah. Terimakasih Mbak. Nanti kapan-kapan saya mau beli masakannya Mbak."


Shanum tersenyum dibalik niqabnya. "Iya Bu! Kalau begitu, saya permisi dulu ya Bu. Sudah hampir dhuhur, assalamu'alaikum."


"Terimakasih ya Mbak. Wa'alaikumussalam," ucap ibu dan bapak itu secara bersamaan.


Shanum pun langsung berlalu kembali pulang ke rumahnya. Sedangkan sang bapak dan ibu tadi langsung mendekati para teman-temannya untuk menikmati makanan pemberiannya Shanum.


Menurut mereka, masakannya Shanum termasuk enak dan bisa masuk dengan lidah mereka semua. Mereka semua termasuk cocok dengan masakannya Shanum. Rasa masakannya termasuk pas di lidah.

__ADS_1


Kembali ke ibu Mu'idah sejenak. Setelah dia pulang dari rumah Imran tadi. Di dalam rumah, dia terus menangis dan malah teringat dengan Shanum terus.


Ibu Mu'idah teringat dengan semua sikapnya kepada Shanum yang sekarang sudah dia alami sendiri.


Ibu Mu'idah tidak menyangka, menantu yang dia bela mati-matian, malah berani menjadikannya pembantu dan juga memfitnahnya. Menyesal pun tiada guna untuknya sekarang. Karena apa yang kamu tanam, itulah apa yang akan kamu tuai.


Imran pun hampir sama dengan sang ibu. Dia hampir setiap saat dan waktu bertengkar terus dengan Linda.


Pulang bekerja, bukannya disambut dengan senyuman dan masakan yang enak. Imran justru disambut dengan kesunyian, karena Linda masih sibuk di tokonya.


"Linda! Kamu ada di mana? Suami pulang bukannya di rumah, malah kamu tidak ada!"


"Linda ada di tokolah Mas! Ingat Mas! Ini Linda! Bukan Shanum! Yang selalu dua puluh empat jam berada di rumah dan melayani Mas! Memangnya Linda ini pembantu apa!"


Linda pun langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan Imran langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Dia jadi teringat dengan Shanum yang selalu menyambutnya ketika pulang bekerja. Sekarang sambutan itu sudah tidak Imran dapatkan sejak beberapa bulan yang lalu.


Bahkan sekarang Imran merasa menyesal sudah pernah berbuat kasar kepada Shanum sebelum mereka bercerai dulu. Imran berharap jika ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang suatu saat dia bangun sudah kembali seperti semua. Bisa bersama dengan Shanum lagi. Akan tetapi ini semua bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang sudah Imran pilih dan hadapi.


Kembali ke Shanum lagi. Tidak terasa, Shanum berjualan hasil masakannya itu sudah sekitar satu bulan lamanya. Dan pelanggan Shanum semakin bertambah. Bahkan Shanum pun sudah mempunyai pelanggan tetap.


Shanum sangat terkejut ketika tahu yang beli masakannya itu berasal dari desa sebelah. Shanum kira masakannya itu cuma yang beli para tetangganya saja, tapi tidak tahunya, sudah menyebar sampai ke mana-mana.


Shanum yang sedang menghitung uangnya ternyata sudah terkumpul cukup banyak, dan dia merasa senang sekali.


"Alhamdulillah. Uangnya sudah cukup untuk membeli sepeda." Shanum tersenyum kegirangan.


Dengan semangat sekali. Shanum meminta tolong kepada tetangga sebelah rumahnya untuk mengantarkannya pergi ke pasar.


"Terimakasih Bu. Sudah mau mengantarkan Shanum pergi ke pasar."


Tetangga Shanum pun tersenyum. "Sama-sama Mbak Shanum. Saya temani memilih sepedanya ya?"


Shanum menggangguk semangat. "Boleh Bu!"


Shanum dan ibu itu lalu memilih-milih sepeda yang terpajang di toko sepeda. Setelah beberapa saat memilih sepeda, akhirnya, hati Shanum terpikat dengan sepeda berwarna putih coklat dengan keranjang yang warnanya senada.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2