
Nasir tersenyum sendiri melihat Emyr menatap Shanum tanpa berkedip sama sekali. Bahkan ketika Shanum mengucapkan salam kepada mereka berdua, cuma Nasir yang menjawabnya. Emyr malah masih asik menatap Shanum, hingga membuat Shanum menjadi semakin malu saja.
"Kak Emyr!"
Nasir yang gemas dengan Emyr, dengan sengaja langsung memukul pahanya. "Aduh! Kenapa kamu memukulku Nasir!"
"Istighfar Mas! Nanti zina mata. Itu mbak Shanum sudah memanggil Mas Emyr sejak tadi. Tapi Mas Emyr malah diam saja dan memandanginya seperti itu!"
Emyr langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa malu sekali sudah ketahuan terpesona dengan Shanum.
"Kak Emyr! Mas Nasir! Nenek sama kakek di rumah?"
"Ibu sama bapak sedang pergi Mbak. Ada apa memangnya? Apa ada yang bisa kami bantu?"
"Emm! Biasanya saya meminta tolong kepada kakek atau nenek."
"Katakan saja Mbak. Siapa tahu kami bisa membantu."
"Saya ingin meminta tolong dibelikan minyak goreng yang ada di warung pojok sana Mas! Saya takut bila pergi sendirian malam-malam begini."
"Memangnya warung yang didekat situ apa tidak menjual minyak goreng Mbak?"
Shanum menggelengkan kepalanya. Sedangkan Emyr masih terus diam, sambil memperhatikan Shanum.
"Bukannya tidak menjual. Hanya saja sedang tutup. Saya butuh minyak itu Mas untuk memasak besok."
"Jika butuhnya besok. Kenapa tidak beli besok saja Shanum?"
"Tidak bisa Kak! Karena pagi-pagi sekali Shanum sudah harus memasaknya. Dan tentu saja semua warung belum pada buka."
Mendengar kata pagi-pagi sekali. Emyr kira jika Shanum akan memasak untuk suami atau keluarganya.
"Baiklah! Mana uangnya Mbak! Biar Nasir belikan sebentar."
Shanum merasa sangat senang sekali. "Terimakasih banyak Mas Nasir." Shanum juga memberikan uangnya kepada Nasir.
"Tunggu sebentar ya Mbak."
"Saya tunggu di rumah saja ya Mas!"
__ADS_1
Nasir yang mengerti lirikan mata Shanum kearah Emyr pun, langsung mengangguk. Karena memang tidak baik jika mereka berdua saja, sedangkan kakek Idris dan nenek Khadijah sedang tidak berada di rumah.
Nasir lalu segera pergi membelikan minyak goreng untuk Shanum. Dan Shanum pun langsung kembali ke rumah kontrakannya. Sedangkan Emyr masih memilih menikmati suasana di kampung sendirian sambil menunggu Nasir pulang.
Setelah minyak goreng sudah Nasir dapatkan, dia ingin memberikannya kepada Shanum. Akan tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali.
"Mas Emyr! Tolong berikan minyak goreng ini kepada Mbak Shanum! Perutku sakit sekali!"
Nasir langsung berlalu pergi menuju ke dalam kamar mandi. Mau tidak mau, akhirnya Emyrlah yang mengantarkan minyak goreng itu kepada Shanum.
Emyr mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam. Dan orang yang membuka pintunya ternyata Laila.
"Ini ... "
Emyr tiba-tiba berhenti berbicara ketika mendengar suara orang yang sedang mengaji. "Siapa yang sedang mengaji?"
"Oh! Itu si Shanum, Mas Emyr!"
Ingin sekali Emyr berlama-lama mendengarkan Shanum mengaji. Tapi dia merasa malu dengan Laila.
Laila yang melihat ada ketertarikan di mata Emyr kepada Shanum, dia sedikit menggodanya. "Apakah Mas Emyr mau saya kasih nomor ponsel Shanum?" Laila berbicara sedikit berbisik, supaya tidak terdengar oleh Shanum yang sedang mengaji.
Antara mau dan tidak mau mendengar nomor ponsel Shanum. Tapi Emyr malu mau mengatakan iya kepada Laila.
"Ini pasti minyak goreng milik Shanum 'kan Mas?"
Emyr langsung menganggukkan kepalanya. Dan Laila langsung mengambil minyak goreng tersebut dari tangan Emyr.
"Ini! Ambillah nomor ponsel Shanum! Terimakasih atas minyak gorengnya. Dan tenang saja Mas! Shanum saat ini sedang sendirian. Belum ada yang punya."
Emyr masih diam saja. Dia terlihat seperti kebingungan. Bahkan, ketika Laila menyuruhnya untuk cepat pulang pun, Emyr menurut saja seperti robot sambil terus menatap secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel Shanum.
Ketika sudah sampai di halaman rumah kakek Idris. Emyr yang melihat kakek Idris dan nenek Khadijah sudah pulang ke rumah dan sedang berbincang santai dengan Nasir. Dia langsung segera mengantongi kertas tadi.
"Kakek dan Nenek sudah pulang?"
Kakek Idris mengangguk saja. "Darimana? Dari rumah neng Shanum?"
Gantian Emyr yang mengangguk. "Iya Kek! Disuruh Nasir."
__ADS_1
"Sudah sini Nak duduk dulu. Ini nenek dan kakek sudah membelikan makanan untuk kalian berdua."
Emyr pun langsung duduk di kursi yang masih kosong yang ada di situ. Walau saat ini suasana sudah malam. Tapi mereka tetap asik menikmati waktu sambil duduk di teras depan rumah.
"Kasihan neng Shanum!" ucap kakek Idris dengan tiba-tiba.
Nasir yang merasa penasaran langsung bertanya. Sedangkan Emyr hanya diam saja, tapi dia memasang telinga dengan baik-baik. "Kasihan kenapa Pak?"
"Neng Shanum itu masih muda. Tapi sudah janda."
Nasir benar-benar terkejut sekali. Begitupun dengan Emyr. Bahkan dia sampai tersedak makanan yang sedang dia makan, ketika mendengar Shanum sudah janda.
"Hmm! Hati-hati dong Mas, kalau makan!"
Emyr langsung meminum air putih untuk menetralkan rasa sakit di tenggorokannya.
"Kakek tahu darimana jika Shanum itu sudah janda?" Emyr memberanikan diri bertanya.
"Kakek yang bertanya langsung kepadanya dengan siapa dia tinggal di sini."
"Kasihan sekali hidup neng Shanum."
"Kasihan kenapa Bu?" tanya Nasir.
"Wanita sebaik neng Shanum harus merasakan pahitnya berumah tangga, karena suaminya memilih wanita lain daripada dirinya. Bahkan dia hidup sebatang kara di dunia ini. Karena ke dua orang tuanya sudah meninggal sejak lama."
Mendengar Shanum pernah disakiti oleh laki-laki. Entah kenapa hati Emyr merasa marah sekali. Ingin sekali dia menonjok wajah laki-laki yang sudah berani menyakiti Shanum. Dan Emyr belum teringat, jika Shanum yang saat ini mereka bicarakan adalah Shanum yang dulu pernah bertemu dengannya karena seekor kucing.
"Astaghfirullah. Kasihan sekali hidup mbak Shanum," ucap Nasir.
"Lalu kalau mbak Laila itu bagaimana Pak?" tanya Nasir.
"Tidak tahu! Dia 'kan baru saja datang. Mungkin Laila saudara atau temannya neng Shanum. Karena selama ini neng Shanum tinggal sendirian di sini. Dan hampir setiap hari main ke sini," jawab kakek Idris.
Emyr yang tidak tahan mendengarkan kisah Shanum yang menyedihkan. Dia berpamitan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Sesampainya di dalam kamar. Emyr langsung membuka kembali secarik kertas yang Laila berikan tadi kepadanya.
Sedangkan di rumah kontrakannya Shanum. Shanum yang melihat Laila membawa minyak goreng di tangannya, dia sudah merasa lega sekali. Setelah selesai mengaji, dia pun memutuskan untuk beristirahat saja. Karena besok dia akan bangun pagi-pagi sekali.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...