
Saat ini Imran, Linda, dan juga Emyr sudah duduk anteng di ruang tamu rumah Imran. Dari tatapan Imran, Emyr sangat tahu sekali, jika dia tidak menyukai kedatangannya ke rumahnya.
Emyr tersenyum tipis sebelum memulai berbicara. Sedangkan Linda daritadi sudah memasang sikap sok kalem dan sok baik dihadapan Emyr.
"Tuan Imran! Senang bisa bertemu lagi dengan Anda."
"Mau apa Anda datang ke rumah saya!" Imran terlihat judes sekali.
"Mas! Yang sopan dong. Dia itu tamu kita!" tegur Linda, tapi Imran tidak mempedulikannya.
Emyr terus tersenyum misterius. "Tidak apa-apa Nyonya. Saya ke sini cuma ingin memberikan ini kepada suami Anda."
Emyr lalu mengambil sebuah kartu undangan pernikahannya yang ada dibalik jasnya.
Emyr menaruh kartu undangan itu ke atas meja, dan Imran langsung segera mengambilnya.
Imran dan Linda membaca kartu undangan pernikahan tersebut dengan seksama. "Shanum!" ucap Linda.
"Shanum mantan istrinya Mas!"
Imran mengangguk. "Iya!"
Linda menunjuk Emyr. "Ja-jadi! Tuan ini suaminya Shanum yang Mas ceritakan kemarin?"
Lagi-lagi Imran mengangguk. "Iya!"
Emyr hanya diam saja sambil mendengarkan Linda dan Imran sedang membicarakannya.
Imran tiba-tiba menaruh kartu undangan tersebut di atas meja dengan cukup kasar. "Saya tidak akan datang!"
Emyr santai sekali menanggapinya. "Terserah Anda. Setidaknya saya sudah ingin menyambung silaturrahmi dengan Anda."
"Tunggu dulu! Anda orang kaya, tapi kenapa di undangan ini tidak ada title di belakang namanya?"
Emyr tersenyum miring. "Sengaja saya tidak memberikannya Nyonya. Karena saya ingin membuat nyaman istri saya."
"Karena kenyamanan hatinya adalah tujuan utama saya menjadikannya seorang istri," ucap Emyr lagi.
"Benar begitu 'kan Tuan Imran," senyumannya Emyr memperlihatkan semuanya. Jika dia saat ini sedang menyindir dan mengejek Imran.
Imran tanpa sadar mengepalkan ke dua tangannya di atas paahaanya.
"Apa yang sudah wanita jaalaang itu berikan kepada Anda. Hingga orang terpandang seperti Anda bisa takhluk kepadanya!"
Tentu saja Emyr tidak terima mendengar Linda memanggil Shanum wanita jaalang. Dia yang awalnya terlihat santai, langsung memperlihatkan wajah iblisnya.
"Jaga ucapan Anda Nyonya! Jika Anda tidak mau menyesal. Saya bisa mengusir dan menggusur toko rongsokan Anda, bila Anda tidak bisa menjaga sikap dan ucapan Anda."
Linda sangat terkejut dan merasa ketakutan bila itu benar-benar terjadi.
"Saya bisa membuat Anda dan Tuan Imran hidup sebagai pengemis jika saya mau. Tapi saya tidak mau melakukannya!" Emyr sudah terlihat tenang. Tidak se emosi tadi.
"Karena apa?"
"Karena saya orang yang berpendidikan. Saya punya hati nurani yang tidak merebut suami orang lain hanya karena naafsu belaka!"
Jleb! Ucapan Emyr tepat sasaran. Imran dan Linda tidak bisa membantahnya.
__ADS_1
Untung saja Emyr bisa mengontrol sikapnya dan cuma memberikan ucapan pedas nan menusuk. Coba saja jika Emyr lepas kendali, jangan harap muka Linda yang suka perawatan itu bisa terlihat mulus lagi.
Mendengar ucapan Emyr. Linda langsung tersulut emosi. Dia yang ingin memaki Emyr langsung di stop oleh Imran.
"Cukup Linda! Kamu jangan membuat Mas malu!"
Linda hanya bisa pasrah ketika Imran memarahinya di depan Emyr. Tamu yang awalnya dia kira akan mendatangkan hal baik kepadanya atau kepada Imran, ternyata dugaannya salah besar.
"Sepertinya sudah malam. Istri saya sudah menunggu saya daritadi. Dia katanya sudah menyiapkan masakan spesial untuk saya," Emyr sambil berdiri dari duduknya.
"Saya permisi Tuan Imran, Nyonya Linda!"
Walau Imran dan Linda menunjukkan wajah yang tidak suka, tapi Emyr tetap tenang dengan senyum formal yang terus menghiasi wajahnya.
Sebelum berlalu keluar dari rumah Imran, Emyr berbalik badan sejenak untuk menghadap Imran dan Linda yang masih duduk di sofa.
"Oh ya Tuan Imran!" Imran hanya menatapnya saja tanpa menjawab apapun.
"Saya lupa belum mengucapkan terimakasih kepada Anda." Imran masih diam saja.
Dengan gaya khas para pembisinis yang ingin menjatuhkan lawannya, Emyr melanjutkan lagi ucapannya dengan tenang.
"Terimakasih sudah melepaskan Shanum. Wanita yang benar-benar sholehah, yang selalu mengingatkanku beribadah untuk lebih dekat kepada-Nya." Emyr sengaja sambil melirik kearah Linda dengan tetapan mengejek. Dan Imran pun menyadari tatapan Emyr kepada Linda.
"Wanita yang tidak berpendidikan tinggi, tapi akhlaknya jauh lebih tinggi dari orang yang berpendidikan." Emyr tersenyum miring.
"Benar begitu 'kan Tuan Imran?"
"Satu hal lagi! Shanum selalu berkata kepada saya untuk selalu jaga mata, jaga sikap dan yang terpenting jaga hati."
"Walau Shanum tidak berkata seperti itu. Saya tetap akan menjaga hati saya. Karena itu prinsip saya bila sudah menikahi seorang perempuan. Tidak cuma harta kekayaan dan tubuh saya yang akan saya berikan kepadanya. Tapi seluruh hati saya cuma milik dia dan hanya dia saja yang menempatinya."
"Dan untuk Anda Nyonya Linda!" tidak lupa Emyr memperingatkan Linda.
"Shanum yang sekarang bukanlah Shanum yang dulu. Dia bahkan bisa membeli harga diri Anda menggunakan uangnya. Bila Anda melihat nominal uang yang ada di rekeningnya, saya jamin Anda pasti rela memberikan ginjal Anda untuk ditukarkan dengan uangnya." Emyr tersenyum miring mengejek.
"Huh! Bahkan garasi mobil saya jauh lebih besar dari rumah kalian!"
"Selamat malam!"
Emyr setelahnya langsung berlalu masuk ke dalam mobilnya yang sudah dibukakan pintunya oleh Nasir.
Nasir tentu saja langsung meninggalkan halaman rumah Imran untuk kembali pulang ke rumah Emyr. Di dalam mobil, Emyr melonggarkan dasinya yang seakan mencekiknya.
"Huh! Aku seperti baru saja keluar dari dalam neraka!"
Nasir tertawa mendengar gerutuan Emyr. "Apakah segitunya Mas Emyr berada di dalam rumah mas Imran?"
"Imran bodoh dan saya suka Nasir. Jika dia pintar, pasti saya tidak akan bisa menikah dengan Shanum."
Nasir mengangguk. "Benar Mas Emyr. Dan saya mendoakan Mas Emyr langgeng sama mbak Shanum." Ucapan Nasir langsung di aamiinkan oleh Emyr.
"Sungguh bodoh si Imran. Rela melepaskan bidadari hanya demi wanita seperti Linda yang tidak berhijab dan pakaiannya sungguh saya tidak suka."
Nasir tertawa lagi. "Jodoh mencerminkan diri kita Mas."
"Kamu benar Nasir. Sudahlah! Jangan membahas mereka lagi. Perutku jadi mual, apalagi si Linda tadi berani sekali mengatai Shanum seorang jaalang dihadapanku."
__ADS_1
"Hah! Apa benar itu Mas! Kalau Nasir dengar, sudah Nasir tampar tuh mulutnya!"
"Nanti kamu bisa masuk penjara mau! Karena menampar istri orang!"
"Iya! Nasir menamparnya nggak pakai tanganlah Mas!" jawab Nasir.
"Kalau nggak pakai tangan, lalu pakai apa? Bibir kamu!"
"Idih! Nggak sudi Mas!"
"Lalu mau pakai apa?" tanya Emyr lagi.
"Pakai kotoran ayam!" Nasir tertawa terbahak-bahak sambil terus mengendarai mobilnya.
Emyr hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sikap Nasir yang menghiburnya malam ini.
Sedangkan kembali ke rumah Imran. Setelah kepergian dari Emyr tadi, Imran langsung masuk ke dalam kamar dalam keadaan menahan amarah.
"Mas! Apakah Mas akan datang ke resepsi pernikahan mereka!"
Dengan tegas Imran menjawab. "Tidak!"
"Lebih baik datang saja Mas. Linda kepingin membuktikan sendiri, apakah laki-laki itu benar-benar suami Shanum atau cuma membual saja!"
"Apa yang ingin kamu buktikan Linda. Apa kamu ingin mempermalukan diri kamu sendiri di sana?"
"Iya! Iya nggak! Tapi 'kan Mas!"
"Jika kamu ingin datang! Datanglah sendiri! Mas tidak mau!"
Imran langsung memilih memainkan ponselnya dan tidak mempedulikan Linda sama sekali.
Linda hanya bisa cemberut saja ketika Imran mencuekinnya. Tiba-tiba telinga mereka berdua mendengar seseorang sedang memanggil nama mereka. Ketika sudah Linda lihat, ternyata yang datang ke rumahnya adalah ibu Mu'idah.
"Linda! Mana Imran!"
Imran pun ke luar dari dalam kamar. "Ada apa Bu?"
"Ibu tadi mendapatkan undangan resepsi pernikahan dari Dyah. Katanya itu resepsi pernikahan Shanum dan suaminya. Apakah ini benar?"
Imran sedikit terkejut, ketika sang ibu ternyata mendapatkannya juga. "Iya benar Bu. Bahkan tadi suaminya baru saja pulang dari sini."
"Apa!" ibu Mu'idah sangat terkejut mendengarnya.
"Iya Bu! Tadi laki-laki yang mengaku suaminya Shanum baru saja datang ke sini. Dia mengantarkan langsung undangan pernikahannya kepada kami."
"Dan laki-laki itu benar-benar sangat sombong sekali. Linda tidak suka!" ucap Linda
"Lalu! Apakah kalian berdua akan datang ke sana?"
"Mas Imran tidak mau Bu!"
"Datang saja Imran. Ibu penasaran apakah itu benar Shanum atau bukan. Atau jangan-jangan cuma orang iseng yang mempermainkan kita saja."
Imran menghela nafasnya. "Nanti akan Imran pikirkan lagi."
Imran lalu masuk kembali ke dalam kamar dan memilih meninggalkan Linda serta ibu Mu'idah yang hanya bisa menatap kosong kepergiaannya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...