JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
GETARAN ASMARA


__ADS_3

Meninggalkan Shanum sejenak yuk, tidak apa-apa 'kan. Karena kita akan beralih kepada Imran sebentar.


Saat ini Imran sedang makan siang di kantin kantornya. Dia yang sedang menikmati kopi sambil melamun, tiba-tiba didekati oleh salah satu temannya.


"Kenapa dengan mukamu itu Imran?"


Imran langsung mengalihkan pandangannya kearah sang teman yang sudah duduk di kursi seberangnya.


"Tidak apa-apa!"


Sang teman yang tidak percaya dengan Imran, terus mendesaknya untuk bercerita kepadanya.


"Ayolah! Jangan kau berbohong kepadaku. Aku bisa melihatnya dengan jelas di matamu itu!"


"Apa ini masalah Linda lagi?" ucap sang teman lagi.


Imran langsung mengangguk. Dan sang teman yang bernama Ali pun langsung melanjutkan lagi ucapannya.


"Memangnya kali ini apa yang sudah dilakukan oleh Linda, Imran?"


"Dia sudah jarang sekali memperhatikanku seperti dulu. Dia lebih memilih sibuk di tokonya. Bahkan aku menikah dengannya bisa dihitung pakai tangan bisa makan di rumah atau makan bersama dengannya."


"Sangat kebalikan sekali ya dengan Shanum?" ucap Ali.


Refleks Imran menganggukkan kepalanya pelan.


"Apakah kamu tidak ada kata menyesal setelah mencampakkan Shanum seperti itu Imran?"


"Menyesal. Sepertinya kata itu tidak cocok untukku!"


"Kenapa?" Ali sedikit bingung.


"Percuma saja aku menyesalinya, karena aku juga tidak akan bisa memiliki Shanum lagi."


"Jujur aku lebih suka kamu dengan Shanum. Akan tetapi, ini jalan hidupmu yang sudah kamu pilih, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa akan hal itu."


"Iya! Aku menyesal kenapa dulu tidak mendengarkan nasihatmu."


"Aku doakan semoga Linda bisa berubah dan segera memberikanmu seorang anak seperti yang kamu mau."


Imran hanya mengangguk saja. Dan setelah mereka selesai menikmati makan siangnya. Imran dan Ali kembali bekerja lagi.


Sedangkan kembali ke rumah kakek Idris lagi. Emyr, Shanum, Nasir, Laila, kakek Idris dan juga nenek Khadijah, saat ini ternyata sudah selesai makan, namun mereka masih asik duduk di situ sambil berbincang santai.


"Sepertinya, saya dan Laila harus pamit undur diri dulu Nek! Kek!"


Nenek Khadijah dan kakek Idris menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih ya Neng Shanum."


Shanum mengangguk. "Sama-sama Nek."

__ADS_1


Shanum lalu mengalihkan pandangannya ke arah Emyr. "Kak Emyr! Sekali lagi maafkan Shanum."


Emyr tersenyum super tipis sekali melihat Shanum selalu menunduk malu ketika berhadapan dengannya.


"Tidak apa-apa Shanum."


"Kalau begitu, Shanum dan Laila permisi dulu. Assalamu'alaikum."


Salam dari Shanum dan Laila langsung dijawab oleh mereka semua. Nenek Khadijah dan kakek Idris tersenyum melihat tingkah Emyr dan Nasir yang terus menatap kepergiannya Shanum dan Laila, hingga mereka sudah tidak terlihat lagi.


"Ehem!"


Emyr dan Nasir langsung tersadar mendengar dehaman dari kakek Idris.


"Saya harap, kalian tidak menyukai wanita yang sama!" ucap kakek Idris sambil tersenyum.


"Tidak Pak! Tentu saja mas Emyr menyukai mbak Shanum. Bukan begitu Mas?"


Tanpa sadar Emyr langsung menganggukkan kepalanya. Dan hal itu membuat Nasir langsung tertawa.


"Kalau begitu, bolehkah Nasir mengatakannya kepada nyonya dan tuan, jika Mas Emyr sudah menemukan wanita yang cocok dijadikan istri?"


"Eh!" sepertinya Emyr baru ngeh apa yang tadi dikatakan oleh Nasir kepadanya.


Nasir masih tertawa melihat Emyr yang linglung begitu. Baru kali ini Nasir melihat Emyr bisa bersikap seperti saat ini.


"Memangnya kamu mau bilang apa sama mama dan papa?"


"Cepat katakan! Tadi kamu mau bilang apa sama mama dan papa!"


"Nasir mau mengatakan kepada nyonya dan tuan, jika mas Emyr mau melamar mbak Shanum!"


"Apa!" Emyr berteriak sangat kencang sekali.


Nenek Khadijah dan kakek Idris yang melihat Emyr dan Nasir berdebat seperti itu, malah terlihat seperti kakak adik yang saling menyayangi. Bukan seperti majikan dan anak buah. Karena di mata mereka, walau Emyr anak orang kaya raya, tapi dia tidak ada rasa sungkan sama sekali tinggal di keluarga miskin seperti mereka.


Jika Emyr dan Nasir saling menggoda, berbeda halnya dengan Shanum dan Laila.


Shanum dan Laila yang sudah sampai di rumah kontrakan. Mereka berdua langsung bersih-bersih tubuhnya sebelum tidur siang.


"Kamu kenapa Laila? Kenapa setelah pulang dari rumah kakek Idris tersenyum terus begitu?" goda Shanum.


"Siapa yang kamu taksir? Mas Nasir atau kak Emyr?"


"Tidak mungkin mas Emyr! Eh! Tapi ko kamu memanggilnya kakak sih? Sedangkan mas Nasir, kamu panggil mas, bukannya kakak juga?"


Shanum mengangkat ke dua pundaknya. "Entahlah! Menurutku kak Emyr tidak pantas dipanggil Mas."


"Apa karena wajahnya terlihat bule ya?"


Shanum mengangguk. "Iya! Dan jujur aku takut khilaf jika melihatnya."

__ADS_1


Laila tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Shanum yang menurutnya terlalu polos sekali.


Shanum yang melihat Laila mentertawakannya, dia menjadi bingung. "Kenapa kamu tertawa Laila?"


"Lucu saja! Kamu seperti tidak pernah melihat laki-laki tampan saja, Shanum?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Memang tidak pernah."


Laila langsung menepuk dahinya sendiri. "Astaghfirullah. Aku lupa. Kamu 'kan nggak pernah pergi."


"Sudahlah! Jangan dibahas lagi. Aku mau beristirahat dulu. Capek sekali tubuhku."


Laila cuma mengangguk saja. Dan mereka lalu memutuskan untuk tidur siang.


Jika Shanum sedang ingin mengistirahatkan tubuhnya. Begitupula dengan Emyr yang mencoba beristirahat juga tapi tidak bisa. Bukan karena tempatnya yang tidak mewah seperti rumahnya. Hanya saja setiap dia menutup matanya, selalu Shanum yang terbayang-bayang di matanya.


"Ada apa denganku?" Emyr bertanda tanya sendiri.


"Jantungku selalu berdebar-debar walau cuma mengingat namanya saja." Emyr memegangi jantungnya yang sedang berdebar cukup kencang.


"Apa ini yang namanya jatuh cinta? Atau cuma suka biasa?"


"Rasanya ko aku ingin selalu berdekatan dengannya terus!" Emyr langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


"Astaghfirullah. Ya Allah tunjukkan apa yang sedang hamba rasakan kali ini?"


Malam harinya seperti biasanya, ketika selesai sholat maghrib, Shanum akan menyiapkan bahan-bahan untuk dimasaknya esok hari.


Kali ini Shanum menyiapkan itu semua dibantu oleh Laila.


"Apakah seperti ini pekerjaanmu setiap hari Shanum?"


Shanum mengangguk. "Iya Laila. Karena ini mata pencaharianku."


"Tapi ini banyak lho Shanum? Kamu bisa menyelesaikannya sendiri?"


Shanum tersenyum melihat Laila yang merasa heran kepadanya. "Iya! Memangnya kenapa? Jika mau berhasil 'kan harus bersusah-susah dahulu?"


Laila merasa sangat salut sekali dengan apa yang dilakukan oleh Shanum. Karena dia terlihat sangat pekerja keras.


Ketika Shanum sedang ke dapur untuk menaruh beberapa bahan yang sudah siap diolah. Tidak sengaja matanya melihat minyak gorengnya tumpah ke lantai.


Shanum pun sedikit panik, karena ini sudah malam. Shanum lalu ijin keluar sebentar kepada Laila untuk membeli minyak goreng lagi. Namun, alangkah sialnya Shanum, karena warung yang cukup dekat dengan rumah kontrakannya malah tutup. Alhasil, Shanum harus membeli minyak goreng ke warung yang jaraknya sangat jauh dari rumah kontrakannya.


Seperti biasanya, jika Shanum ada apa-apa selalu meminta tolong kepada kakek Idris maupun nenek Khadijah. Dan ketika Shanum baru saja sampai di halaman rumah kakek Idris. Ada Emyr dan Nasir yang sedang bermain gitar di teras.


Entah kenapa, melihat Emyr sedang menatap kearahnya. Jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Dan ternyata tidak Shanum saja, melainkan Emyr pun sama halnya. Bahkan dia sampai terpesona melihat Shanum yang sedang berjalan anggun kearahnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TB~...

__ADS_1


__ADS_2