JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
TINDAKAN BODOH


__ADS_3

Kaki terpaku, mata berbinar dengan mulut terbuka lebar, terlihat jelas saat ini di wajah ke tiga orang yang sedang berdiri di depan pintu masuk ballroom. Siapa lagi jika bukan Imran, Linda dan juga ibu Mu'idah.


"Mas! Apakah kita salah masuk tempat resepsi?"


"Cubit Linda, Mas!"


Dengan santainya, Imran mencubit tangan Linda, hingga membuat Linda berteriak pelan. "Aw! Sakit!"


"Itu artinya kamu tidak sedang bermimpi dan tidak salah tempat!" ucap Imran.


"Sekarang kita sudah berada di sini. Kamu mau apa? Kamu sama ibu sudah melihat sendiri 'kan, bagaimana acara resepsi pernikahan Shanum dan suaminya?"


"Tapi Linda belum merasa puas jika belum melihat Shanum secara langsung Mas!" ucap Linda.


"Lihatlah saja sendiri. Mas tunggu di sini!"


Linda tidak mau mendengar penolakan, dia langsung menyeret tangan Imran untuk ikut bergabung dengan para tamu undangan. Ibu Mu'idah yang tertinggal langsung segera menyusul mereka berdua.


"Eh! Tunggu Ibu!"


Mata ibu Mu'idah selain terpesona dengan dekorasi pernikahan Shanum yang benar-benar megah dan mewah. Dia juga sudah ngiler mencium aroma masakan dan makanan yang terhidang untuk para tamu undangan.


"Perutku jadi lapar! Makanannya semuanya enak-enak!" ucap ibu Mu'idah di dalam hatinya sambil mengusap perutnya dan menelan air liurnya.


Akhirnya, langkah kaki mereka bertiga hampir sampai di depan panggung pelaminan.


"Itu Shanum, Mas! Kenapa memakai niqab sekarang?" Linda menunjuk Shanum yang ada di atas pelaminan.


Imran hanya diam saja, matanya memandang terpesona dengan jantung yang berdetak sangat kencang, karena melihat kecantikan Shanum yang benar-benar terpancar sempurna hari ini.


Imran menatap Shanum tanpa berkedip sama sekali. Rasa penyesalan semakin besar hinggap di dadanya. Apalagi saat ini dia melihat dengan jelas, bagaimana bahagianya Shanum bersama Emyr berada di atas pelaminan.


Sedang asik menyalami para tamu undangan, tidak sengaja mata Shanum dan Emyr melihat Imran, Linda dan juga ibu Mu'idah yang sedang menatap kearahnya.


Tiba-tiba kaki Shanum seakan kaku untuk digerakkan. Senyumannya yang daritadi selalu terlihat merekah, langsung hilang seketika karena melihat ke tiga orang yang tidak ingin dilihatnya.


Dyah dan Malik yang melihat kehadiran mereka pun memilih diam dan memperhatikan saja apa yang ingin sang ibu, sang kakak lakukan saat ini.


Emyr langsung menggenggam tangan Shanum dengan erat. "Tenanglah! Ada Kakak di sini. Kakak tidak akan membiarkan mereka merendahkanmu lagi." Bisik Emyr dengan mesra. Akan tetapi Shanum hanya diam saja.


"Shanum enak sekali sudah menjadi orang kaya. Huh! Aku tidak yakin jika dia benar-benar Shanum. Karena sekarang dia memakai niqab. Bisa jadi, laki-laki itu juga belum melihat wajah Shanum," gerutu ibu Mu'idah.


"Ibu! Stop! Jangan mempermalukan diri Ibu sendiri!" tegur Imran.


"Ibu tidak mau mempermalukan diri Ibu, Imran. Ibu berbicara apa adanya. Apakah seluruh tamu undangan yang ada di sini sudah tahu, kalau Shanum itu seorang janda? Kalau Ibu bocorkan aib ini pasti keluarga mereka akan malu. Bukankah kata kamu laki-laki itu orang berpengaruh di dunia perbisnisan?" ibu Mu'idah tersenyum miring.


Imran menatap lekat kearah sang ibu. "Ibu jangan aneh-aneh! Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat ibu menyesal nantinya."


Sedangkan Emyr dan Shanum masih terus menatap kearah mereka sambil terus menyalami para tamu undangan. Seluruh tamu undangan hampir semuanya bisa berbahasa Indonesia. Kecuali orang Turki dan beberapa tamu yang dari luar Negeri saja yang tidak bisa mengerti bahasa Indonesia.


"Lihat saja Shanum! Apa yang bisa ibu lakukan kepadamu! Ibu tidak terima kamu menjadi orang kaya sekarang!" ucap ibu Mu'idah lagi.


Linda bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Di satu sisi, dirinya juga membenci Shanum, karena sudah menjadi orang kaya melebihi dirinya. Namum, di sisi lain, dirinya tidak mau mencoreng nama baiknya di tempat umum begitu.


"Ibu! Ibu! Stop Bu!" ibu Mu'idah tidak mendengarkan ucapan Imran. Sedangkan Linda hanya bisa diam saja ketika ibu Mu'idah berjalan mendekati panggung live musik.

__ADS_1


Papa Hisyam yang melihat ada seseorang berjalan naik ke atas panggung, langsung bertanya kepada Emyr. "Siapa dia?"


Emyr langsung menjelaskan siapa itu ibu Mu'idah kepada sang papa. Dan papa Hisyam pun juga langsung menjelaskan kepada mama Mulan. "Oh! Jadi itu mantan mertuanya Shanum! Hmm!" mama Mulan terlihat tidak suka sama ibu Mu'idah.


"Selamat siang semuanya!" semua mata para tamu undangan langsung tertuju kearah ibu Mu'idah.


"Mau apa dia naik ke atas panggung!" gerutu mama Mulan, namun masih didengar jelas oleh papa Hisyam, Emyr dan juga Shanum.


"Apa yang akan dilakukan sama ibu! Bodoh ibu!" gerutu Dyah.


"Suruh turun Ma! Ayah takut, nanti tuan Hisyam dan mas Emyr mengamuk kepada ibu!" ucap Malik.


"Siang!" jawab serempak dari semua para tamu undangan yang mengerti bahasa Indonesia.


Sedangkan Shanum hanya diam saja sambil menata perasaannya yang sudah tidak karuan rasanya.


"Saya di sini ingin menyampaikan satu atau dua patah kata kepada kalian semua. Apakah kalian ada waktu sebentar?"


"Silahkan!" ucap sebagian orang.


"Baik! Terimakasih," ucap ibu Mu'idah sambil tersenyum.


"Ibu! Apa yang akan ibu lakukan!" gerutu Imran sambil memijat dahinya.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Mu'idah, mantan mertuanya Shanum. Mempelai perempuan yang berdiri di sana," ibu Mu'idah sengaja berbicara seperti itu sambil menunjuk Shanum.


Semua orang yang belum mengetahui jika Shanum seorang janda langsung merasa terkejut. Sebab pasalnya, laki-laki tampan dari keluarga mapan dan terpandang, mau menikah dengan seorang janda. Padahal masih banyak peerawaan yang mengantre untuk menjadi istrinya. Begitulah yang dipikirkan oleh sebagian tamu undangan.


"Apakah kalian semua merasa terkejut, jika Shanum ternyata seorang janda?" sungguh pintar sekali dalam berbicara ini si ibu Mu'idah.


Shanum tanpa sadar sampai mereemaas tangan Emyr yang sedang memegangnya. Emyr menatap Shanum dengan tatapan yang sulit diartikan. Emyr dan papa Hisyam masih menunggu apa lagi yang akan dilakukan oleh ibu Mu'idah di atas panggung.


Imran mengepalkan ke dua tangannya, karena tidak tahan melihat sikap sang ibu yang mempermalukan dirinya sendiri. Imran lalu naik ke atas panggung dengan Linda yang terus mengikutinya dari belakang.


"Ibu! Ayo kita turun! Malu Bu dilihat semua orang!"


Ibu Mu'idah tetap tidak mau turun dari atas panggung, walau Imran sudah mengingatkannya dan ingin menyeretnya turun.


Pandangan mata semua orang termasuk Emyr dibuat terkejut, ketika Shanum tiba-tiba turun dari atas pelaminan untuk menuju ke panggung live musik.


Melihat sikap ibu Mu'idah yang tidak jera menghinanya, dia jadi teringat dengan nasihat dari mama Mulan kemarin di saat sedang mengobrol bersama. "Nak! Jika ada orang yang menghinamu. Kamu jangan diam saja. Kamu punya harga diri walau kamu orang miskin."


"Apalagi sekarang kamu sudah menjadi istrinya Emyr. Kamu harus bisa mempertahankan harga dirimu dan buktikan kepada semua orang, jika kamu pantas mendampingi Emyr walau kamu seorang janda."


Imran, ibu Mu'idah dan Linda sangat terkejut melihat Shanum tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.


Tanpa banyak berbicara, Shanum langsung mengambil mikrofon yang sedang dipegang oleh ibu Mu'idah.


"Assalamu'alaikum semuanya!" Semua yang beragama islam langsung menjawab salam dari Shanum.


"Sebelumnya Shanum mau mengucapkan terimakasih kepada mantan ibu mertua Shanum yang sungguh baik hati sekali ini, karena sudah mengingatkan siapa Shanum sebenarnya," Shanum berbicara dengan suara lembut sekali.


Semua mata yang ada di dalam ruang ballroom itu menatap lekat kearah Shanum. "Menjadi seorang janda bukanlah pilihan. Jika saya boleh memilih, saya juga ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi apalah daya, suami saya lebih memilih wanita lain daripada saya istrinya sendiri dan tidak mau mempertahankan rumah tangga kami." Tenang, santai dan dalem sekali dalam berbicara.


Imran langsung melotot sangat lebar mendengar Shanum malah mengumbar aib mereka di depan umum.

__ADS_1


Hei! Jangan salahkan Shanum bila dia bersikap begitu. Itu semua karena ibu Mu'idah yang memulai.


Shanum lalu berjalan kearah Imran dan Linda. "Laki-laki ini, dialah suami pertama saya. Namanya Imran, dan perempuan yang disampingnya, namanya Linda, perempuan yang sudah merebut mas Imran dari saya."


"Dan dia!" Shanum menunjuk ibu Mu'idah. "Adalah mantan mertua saya, yang sengaja menyuruh suami saya untuk menceraikan saya untuk menikahi wanita ini."


Shanum bertepuk tangan sebentar. "Menurut kalian, apakah saya harus bertahan dengan orang-orang seperti itu, yang selalu menindas dan merendahkan saya setiap hari?"


"Bukankah jika seperti itu keadaannya, saya lebih baik menjanda, daripada hidup dengan laki-laki yang tidak punya pendirian dan ibu mertua yang mulutnya belum pernah terkena adzab?"


Mata ibu Mu'idah seakan ingin lepas dari tempatnya mendengar ucapannya Shanum.


"Sungguh sudah benar jalan yang Anda pilih Nyonya Emyr!" sahut dari salah satu koleganya Emyr.


Emyr, papa Hisyam, mama Mulan, Dyah, Malik dan semua orang yang mengetahui kisah Shanum langsung tersenyum senang. Sebab Shanum sudah bisa melawan sikap ibu Mu'idah.


"Terimakasih Tuan!" Shanum tipis dibalik niqabnya.


Ibu Mu'idah, Imran, dan Linda, hanya bisa diam terpaku dengan wajah yang sangat malu. Niat hati ingin mempermalukan Shanum, malah mereka sendiri yang merasa malu.


Tiba-tiba ada seseorang yang menyahut ucapan Shanum. "Asal kalian semua tahu! Saya yang jauh lebih beruntung bisa mencintai dan menikahi Shanum."


"Banyak perempuan yang lebih cantik dari Shanum. Banyak perempuan yang lebih kaya dari Shanum. Tapi ... "


"Tidak ada perempuan yang jauh lebih baik dari dia!" Emyr melirik sinis kearah Imran.


Emyr lalu mengajak Shanum untuk turun dari atas panggung live musik. Baru saja Emyr dan Shanum turun dari atas panggung, naiklah mama Mulan yang ingin mengungkapkan uneg-unegnya.


"Di sini saya ingin menyampaikan satu atau dua patah kata." Gantian mata semua orang tertuju kearah mama Mulan.


"Terimakasih Nyonya! Karena sikap bodoh Anda kepada Shanum, jadi saya bisa mempunyai kesempatan untuk menjadi mertuanya." Mama Mulan tersenyum mengejek.


"Dan bagi para wartawan yang ada di sini, tolong tulis berita yang baik. Jika tidak mau perusahaan kalian saya robohkan rata seperti tanah!" mama Mulan menunjuk para wartawan yang sedang meliput.


Tentu saja banyak wartawan yang hadir ke pesta resepsi pernikahan Shanum dan Emyr.


"Sebentar-sebentar! Para wartawan lihat dan dengarkan baik-baik!" ucap mama Mulan.


Tiba-tiba ... Plak! suara tamparan menggema di situ. Semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mama Mulan kepada ibu Mu'idah.


"Terimakasih! Karena saya jadi bisa mempunyai kesempatan untuk menampar mulut wanita tua ini."


"Saya yakin, jika kalian menjadi saya, pasti tidak akan menamparnya saja. Bisa jadi kalian akan menonjok mulutnya hingga giginya rontok," mama Mulan tertawa mengejek.


"Ingat para wartawan! Tulis berita yang baik!" para wartawan langsung menganggukkan kepalanya dengan kaku.


Setelah mengatakan itu semua dan mengancam beberapa wartawan, mama Mulan langsung turun dari atas panggung live musik untuk kembali ke atas panggung pelaminan.


Imran langsung menarik paksa sang ibu dari atas panggung dan Linda tentu saja langsung mengikutinya dari belakang. Mereka bertiga langsung mendapatkan sorak mengejek dan menghina dari para tamu undangan yang hadir.


Dyah yang melihat sendiri kelakuan sang ibu, merasa malu dengan seluruh keluarganya Emyr. Dan sangat marah dengan sang ibu.


Setelah kepergian mereka bertiga dari dalam ballroom hotel, Shanum langsung terduduk lemas di atas kursi pelaminan. Nafasnya tersengal-sengal, karena dadanya terasa sesak. Tentu saja semua orang yang melihat Shanum langsung merasa khawatir.


Likenya guys! Jangan lupa!

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2