
Tidak terasa, Emyr dan Shanum sudah menikah selama tiga hari lamanya. Dan selama tiga hari itu, Emyr benar-benar bagai bayi besar yang begitu manja dengan Shanum.
Shanum tidak keberatan sama sekali dengan sikap Emyr yang seperti itu kepadanya. Karena baginya, sikap Emyr sangatlah hangat dan bisa membuatnya nyaman.
Saat ini, Emyr dan Shanum sedang menikmati sarapan berdua di ruang makan rumah mereka. Sedangkan mama Mulan dan papa Hisyam sudah kembali pulang ke Turki sejak kemarin.
"Kamu tidak apa-apa 'kan sayang, Kakak tinggal ke kantor sebentar?"
Shanum tersenyum. "Tidak apa-apa ko sayang. Lagi pula di sini ada si bibi yang bisa Shanum ajak mengobrol."
"Baiklah! Hati-hati ya nanti di rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak."
Shanum mengangguk. "Siap suamiku."
Selesai sarapan, Shanum mengantar Emyr berangkat bekerja hingga ke teras depan. "Oh ya sayang. Kita belum mencoba mobil barumu. Kapan nih, mau mencobanya bersama Kakak?"
"Mobil baru?" Shanum terlihat kebingungan.
"Mobil pemberian papa. Masa kamu lupa sayang?"
"Tapi Shanum tidak bisa naik mobil Kak," ucap Shanum.
"Tenang! Nanti akan Kakak ajari. Lagi pula Kakak tidak melarangmu untuk bisa naik mobil ko." Emyr tersenyum lembut.
"Baiklah! Itu bisa dipikirkan nanti saja. Sekarang, Kakak berangkat bekerja dulu. Dan hati-hati ya di jalan."
Emyr mengangguk. Sebelum dia masuk ke dalam mobil, Emyr mencium mesra dahi Shanum dihadapan Nasir.
"Permisi Mbak Shanum," ucap Nasir setelah menutup pintu mobil untuk Emyr.
"Hati-hati ya Mas Nasir menyetirnya."
Nasir mengangguk. Dan Shanum lalu melambaikan tangannya, ketika mobil yang Nasir kendarai sudah berlalu dari halaman rumah.
"Hmm! Aku enaknya ngapain ya? Mengerjakan ini, nggak boleh. Mengerjakan itu juga nggak boleh. Bosan sekali rasanya." Shanum berbicara sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
"Oh ya mobil! Aku 'kan belum sempat melihat mobil pemberian papa. Aku coba lihat dulu aah!"
Selama berada di rumah Emyr, baru kali ini Shanum masuk ke dalam garasi mobil milik Emyr. Baru saja masuk, Shanum langsung melihat pekerja yang sedang mengelap dan memanasi mobil.
"Nyonya!" ucap sang pekerja.
Shanum tersenyum. "Maaf! Nama kamu siapa ya?"
"Saya Luluk, Nyonya. Sopir juga di sini."
Shanum mengangguk. "Emm! Mas Luluk! .. "
__ADS_1
Belum selesai berbicara, Luluk menyelanya. "Jangan panggil Mas, Nyonya. Nanti saya bisa dimarahi, tuan Emyr. Panggil Luluk saja."
"Baiklah!"
"Luluk. Ini semua mobil milik siapa?" tanya Shanum.
Sebab pasalnya di dalam garasi mobil itu ada sekitar lima mobil mewah, termasuk punya Shanum pemberian dari papa Hisyam kemarin. Total ada enam mobil yang satu sedang Emyr kendarai untuk berangkat bekerja tadi.
"Yang tiga ini milik tuan Emyr, Nyonya." Luluk menunjuk tiga mobil yang terparkir rapi di situ.
"Dan yang dua ini, entah ini mobil tuan Emyr atau tuan Hisyam. Karena ke dua mobil ini hanya dipakai jika ada tuan Hisyam dan nyonya Mulan datang ke sini, Nyonya."
Shanum mengangguk mengerti. "Lalu yang masih terbungkus dengan kain penutup ini. Milik siapa?" Shanum menunjuk mobil yang ada di depannya.
"Oh! Itu milik Nyonya. Yang dari tuan Hisyam," jawab Luluk.
"Punya saya?" Shanum menunjuk dirinya sendiri.
Luluk pun langsung mengangguk membenarkan. Dia lalu berjalan mendekati Shanum untuk membukakan kain penutup mobil tersebut. "Akan saya bukakan kain penutupnya Nyonya."
Setelah kain penutup dibuka. Kaki Shanum tiba-tiba langsung gemetaran. Dia refleks langsung terduduk lemas di lantai, karena baru saja melihat mobil yang benar-benar super mewah dan itu miliknya.
Luluk yang melihat Shanum seperti itu, tentu saja langsung merasa khawatir. Dia berteriak memanggil para bibi untuk membantu Shanum.
Shanum lalu dibantu para bibi yang saat ini sudah membawanya masuk ke dalam ruang keluarga. "Di minum dulu Nyonya."
Shanum meminum segelas air putih yang diberikan oleh pembantunya. "Saya akan menelpon tuan Emyr dulu."
Sang asisten rumah tangga itu pun akhirnya mematuhi ucapan Shanum. "Kalian boleh kembali bekerja. Saya sudah tidak kenapa-kenapa," ucap Shanum ketika sudah mulai merasa tenang.
Mendengar ucapan Shanum. Para asisten rumah tangga itu pun lalu kembali kepada pekerjaannya lagi. Dan tinggallah Shanum seorang diri.
"Apakah papa tidak salah memberikan mobil super bagus seperti itu kepadaku?" Shanum berbicara di dalam hati.
"Jangankan membeli mobil. Dulu saja mau membeli sepeda, aku harus menabung dulu berminggu-minggu."
"Ya Allah! Hamba takut akan kufur nikmat-Mu yang Engkau berikan kepada hamba saat ini ya Allah!"
Shanum benar-benar sangat takut sekali bila dirinya akan menjadi sombong dan lupa diri.
Shanum yang belum bisa mengontrol rasa keterkejutannya, dia memilih masuk ke dalam kamar dan menenangkannya diri di sana.
Sambil sholat dhuha dan mengaji. Setidaknya itu yang bisa Shanum kerjakan sekarang.
Waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul empat sore. Dan itu artinya, sudah waktunya Emyr pulang ke rumah setelah seharian bekerja.
Shanum sudah tidak sabar menyambut kedatangan sang suami dengan perasaan suka cita.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku menyambut kepulangan kak Emyr dari bekerja." Shanum tersenyum sendiri.
Sedang asik berbicara sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering cukup kencang. Melihat nama Emyr di panggilan masuk, Shanum langsung mengangkatnya.
"Halo Kak! Assalamu'alaikum!"
"Halo sayang! Wa'alaikumussalam."
"Kakak sudah pulang?" tanya Shanum.
"Sudah! Hanya saja, Kakak akan pulang sedikit terlambat sayang. Ada pekerjaan yang harus Kakak selesaikan sebentar."
"Kamu tidak apa-apa 'kan sayang?" ucap Emyr lagi.
Shanum mencoba mengerti. "Shanum tidak apa-apa ko Kak. Hati-hati ya di sana. Jaga mata dan jaga hati," pesan Shanum.
"Iya sayang! Kamu tenang saja. I love you. Kakak tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Love you too. Wa'alaikumussalam," jawab Shanum.
Emyr langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan tidak lama, akhirnya dia sampai juga di tempat yang dia tuju.
Emyr datang ke tempat itu diantarkan oleh Nasir. Karena Nasir adalah sopir pribadinya. "Ingat Nasir! Jangan pernah berbicara tentang ini kepada Shanum. Mengerti!"
Nasir mengangguk. "Siap Mas Emyr. Saya sangat mengerti."
"Anak-anak yang lain, sudah kamu kasih tahu untuk menunggu di depan 'kan?"
Anak-anak yang Emyr maksud adalah beberapa bodyguard yang selalu mengikutinya.
"Iya Mas Emyr. Anda tenang saja," jawab Nasir.
"Bagus! Cepat bukakan pintunya!"
Nasir langsung bergegas turun dari dalam mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Emyr.
Dengan setelan jas yang mahal dan apapun yang melekat di tubuhnya serba mahal, Emyr berjalan dengan begitu gagahnya sambil memperhatikan sekitar. Terutama memperhatikan bangunan yang ada di depan matanya.
Sesampainya di depan pintu bangunan tersebut, Emyr langsung mengetuknya dengan sopan.
Tidak lama, pintunya pun langsung terbuka dari dalam, dan orang yang membuka pintu tersebut melihat penampilan Emyr yang begitu berkelas. Matanya langsung berbinar senang dan terkejut. Apalagi ada mobil mewah sedang terparkir di situ.
"Maaf! Anda siapa ya Tuan. Dan sedang mencari siapa datang ke sini?" ucap orang tersebut.
Emyr memandang orang itu dengan tatapan yang menelisik. "Apakah benar ini rumah tuan Imran?"
Ternyata eh ternyata, Emyr saat ini sedang datang ke rumah Imran. Dan yang membukakan pintunya adalah Linda.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...