JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
OPA NGRUMPI


__ADS_3

Papa Hisyam sampai tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan tentang maksud dan tujuan Shanum membeli robot dan kain tersebut.


Sedangkan mama Mulan hanya bisa diam saja memandangi semua robot yang sedang berdiri di atas meja depannya.


"Hah!" tiba-tiba papa Hisyam tertawa garing untuk menetralkan rasa keterkejutannya.


"Apakah Emyr sudah tahu ini semua?"


Mama Mulan menggelengkan kepalanya. "Sepertinya belum tahu Pa. Cuma Emyr sudah tahu jika tadi Shanum mengajak Mama pergi ke mall. Sebab Shanum 'kan ijin dulu sama Emyr."


Papa Hisyam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena bisa terlibat sendiri dengan masa mengidam yang aneh-aneh dan membuatnya merasakan hal terbaru di hidupnya.


Tiba-tiba atensi papa Hisyam teralihkan kearah dering ponsel yang ada di saku jasnya. Melihat nama sang kolega, papa Hisyam langsung mengangkatnya.


"Halo Tuan Syafiq. Apa kabar?" ucap papa Hisyam.


Orang yang dipanggil tuan Syafiq pun langsung menjawabnya. "Kabar saya baik."


"Saya dengar dari tuan Vino, Anda sedang ada di Indonesia, makanya saya sengaja menelpon Anda."


"Dan saya dengar lagi, menantu Anda sedang hamil ya, Tuan Hisyam. Kalau begitu, saya ucapkan selamat untuk menyambut cucu pertama Anda."


Papa Hisyam tersenyum diseberang sana. Laki-laki yang sudah seumuran dengannya dan sudah bermitra dengan perusahaannya cukup lama. Bisa dibilang tuan Syafiq adalah teman plus kolega dekatnya.


"Terimakasih-terimakasih."


"Oh ya! Kebetulan Anda menelpon, bagaimana kalau siang ini kita ketemuan. Sudah lama juga 'kan kita tidak saling mengobrol. Mumpung saya juga belum kembali ke Turki," ucap papa Hisyam lagi.


"Wah! Boleh Tuan Hisyam. Kebetulan jadwal saya tidak terlalu padat hari ini. Mau ketemuan di mana?"


"Di restoran biasanya saja, bagaimana?" ucap papa Hisyam.


"Baiklah! Kalau begitu sampai jumpa di sana Tuan Hisyam."


Papa Hisyam langsung menjawabnya. Lalu dia mengakhiri sambungan teleponnya.


Mama Mulan yang daritadi ada di samping papa Hisyam hanya diam saja sambil mendengarkan sang suami sedang berbincang melalui sambungan telepon.


"Papa pergi dulu ya Ma. Sekalian mau makan siang dengan tuan Syafiq. Mama makan siang sendiri dulu sama Shanum."


Mama Mulan menganggukkan kepalanya. "Iya Pa! Hati-hati di jalan."


Setelah berpamitan dengan mama Mulan, papa Hisyam pun langsung bergegas keluar dari dalam rumah. Dia lalu mengendarai mobilnya sendiri menuju ke restoran tempat dia sudah janjian dengan tuan Syafiq.


Sekitar beberapa menit berada di perjalanan, akhirnya papa Hisyam sampai juga di restoran tempat ia sudah janjian.

__ADS_1


Papa Hisyam yang sudah memarkirkan mobilnya, lantas segera masuk ke dalam restoran. Di dalam restoran, papa Hisyam sudah mencari keberadaan tuan Syafiq. Ketika dia sudah melihatnya, papa Hisyam langsung mendekatinya.


"Tuan Syafiq!"


Tuan Syafiq yang mendengar ada seseorang yang memanggilnya langsung mengalihkan pandangannya. "Tuan Hisyam! Mari-mari silahkan duduk!"


Papa Hisyam tersenyum, lalu duduk di kursi yang ada di depan tuan Syafiq. Mereka berdua lalu bertukar sapa dan bertanya keadaan masing-masing.


"Sepertinya, Anda terlihat semakin muda ya Tuan Hisyam," canda tuan Syafiq.


Papa Hisyam tertawa. "Mungkin ini aura baru dari dalam diri saya, karena mendengar sebentar lagi akan mempunyai cucu."


"Benar! Anda benar Tuan! Dulu saya juga seperti Anda." Tuan Syafiq ikut-ikutan tertawa.


Sedang asik berbincang, tiba-tiba pandangan mereka berdua teralihkan kearah seseorang yang menyapa mereka.


"Tuan Bagas! Wah kebetulan bisa bertemu dengan Anda di sini?" papa Hisyam, tuan Bagas dan tuan Syafiq saling bersalaman satu sama lainnya.


"Boleh saya bergabung?"


Papa Hisyam dan tuan Syafiq langsung menganggukkan kepalanya. Laki-laki yang dipanggil tuan Bagas umurnya lebih muda sedikit dari papa Hisyam dan tuan Syafiq. Tapi dia sudah lebih dahulu mempunyai cucu dari papa Hisyam.


"Anda dari mana Tuan Bagas?" tanya tuan Syafiq.


"Kebetulan baru saja selesai meeting dengan klien di sekitar sini. Dan saya ingin ngopi sebentar di sini, tidak tahunya bisa bertemu dengan tuan Hisyam dan tuan Syafiq."


Papa Hisyam mengangguk. "Terimakasih Tuan Bagas."


"Bagaimana? Apakah menantu Anda mengidam yang tidak-tidak seperti anak saya dulu?" tuan Bagas terlihat penasaran.


Mendengar pertanyaan dari tuan Bagas, papa Hisyam langsung tertawa terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat tuan Bagas dan tuan Syafiq merasa heran dengan papa Hisyam.


"Kenapa Anda tertawa Tuan Hisyam?" tanya tuan Syafiq.


"Saya sepertinya ketularan seperti kalian berdua."


"Menantu saya si Shanum, dia mengidam yang aneh-aneh akhir-akhir ini," papa Hisyam masih tertawa.


Papa Hisyam membicarakan Shanum, seolah-olah Shanum adalah putrinya, dan dia bangga rasanya. Sebab dari dulu jika teman-teman koleganya membicarakan menantu atau anak-anak perempuannya yang sedang hamil atau mengidam, dia hanya bisa terdiam dan mendengarkan saja.


"Wah! Mengidam apa kalau boleh tahu Tuan?" tanya tuan Bagas.


"Setidaknya tidak mengidam seperti putriku dulu ya, yang minta dibelikan makanan dari luar Negeri."


"Atau seperti menantu saya, yang minta seluruh rumah di cat warna pink," ucap tuan Syafiq juga.

__ADS_1


"Atau yang paling parah itu anaknya tuan Haidar," ucap tuan Syafiq.


"Memangnya anaknya tuan Haidar mengidam apa tuan Syafiq?" tanya papa Hisyam.


"Anda belum tahu beritanya Tuan Hisyam?" tuan Bagas menggelengkan kepalanya. Dan papa Hisyam juga ikut menggelengkan kepalanya karena tidak tahu sama sekali kabar tersebut.


"Itu! Si Cantika anaknya tuan Haidar, dia mengidam ingin melihat tuan Haidar memakai pakaian serba pink selama sepekan ketika pergi ke kantor. Coba bayangkan bagaimana malunya tuh?" tuan Bagas tertawa.


"Masa sih?" ucap papa Hisyam.


"Iya Tuan Hisyam. Dan suaminya si Cantika disuruh untuk belajar makeup sama dia. Parah nggak tuh?" ujar tuan Syafiq juga.


"Alhamdulillah! Berarti mengidamnya menantuku masih terbilang wajar ya kalau begitu?" papa Hisyam mengusap dadanya.


"Memangnya mengidamnya menantumu bagaimana, Tuan Hisyam?" tanya tuan Syafiq.


"Menantuku kemarin mengidam ingin makan yang asam-asam. Eh tidak tahunya bukan dia yang makan, tapi saya dan Emyr yang disuruh makan."


"Ah! Makan yang asam-asam sih masih mending itu Tuan Hisyam," ucap tuan Bagas.


"Memangnya Anda mau makan, asinan mangga muda dicampur belimbing wuluh yang super asam itu!" tantang papa Hisyam.


Tuan Syafiq yang mendengar ucapan papa Hisyam langsung menelan air liurnya. "Kalau saya sih nggak mau! Takut sakit perut!"


"Nah itu masalahnya!" ucap papa Hisyam.


"Lalu apa ada lagi Tuan Hisyam?" tanya tuan Bagas.


"Ini barusan tadi ketika tuan Syafiq menelpon saya. Saya sedang diperlihatkan mengidamnya menantu saya."


"Apa itu Tuan Hisyam?" tanya tuan Syafiq.


"Masa menantu saya mengidam suka aroma tas baru. Dan tadi dia mengidam membeli robot-robotan canggih yang harganya cukup mahal."


"Itu masih wajar Tuan Hisyam?"


"Masih wajar ya Tuan Syafiq? Kalau robotnya dipakaikan baju syar'i plus hijabnya wajar tidak. Terus lagi, semua daun-daun di taman halaman rumah di cat warna warni, masih wajar ngga itu?"


Tuan Syafiq dan tuan Bagas tercengang ketika mendengarnya. Namun setelah itu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu.


Dasar opa-opa alias kakek-kakek, bisa juga ngrumpi. Hadeuh!


Sekarang papa Hisyam tahu bagaimana keseruan bisa membicarakan anak dan menantu perempuannya yang sedang mengidam.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2