
Di dalam ruang kerja Emyr saat ini ada Emyr, Luluk dan juga Kevin. Kevin sendiri adalah sekertaris Emyr sekaligus orang kepercayaannya yang sering membantunya menghandle perusahaan.
Ternyata tidak cuma ada mereka bertiga saja di dalam ruang kerja Emyr, melainkan ada salah satu direksi perusahaannya.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Emyr tidak menuntut jawaban, akan tetapi penjelasan.
Luluk mencoba bercerita terlebih dahulu. "Tadi! Nyonya Shanum meminta diantarkan ke sini Tuan. Dan ketika sampai sini saya ijin sebentar untuk memarkirkan mobil. Akan tetapi, di saat saya sudah kembali ke sini, saya melihat sekertaris perempuan Anda sudah memaki-maki Nyonya Shanum."
"Melihat hal itu, saya langsung segera menghubungi Anda, akan tetapi Anda tidak segera menjawabnya."
Emyr merasa sedikit kecewa dengan dirinya sendiri, ketika mendapatkan telepon dari Luluk malah dia abaikan. Sebab posisinya tadi dirinya sedang meeting. Dan Emyr menyadari akan kesalahannya itu.
Flashback ...
Di saat Emyr sedang meeting, ia yang daritadi tidak mau mengangkat sambungan telepon dari Luluk, tiba-tiba saja ada salah satu direksi perusahaannya yang masuk secara tidak sopan ke dalam ruang meeting lalu mendekati Emyr. Pandangan mata semua orang yang ada di situ tentu saja langsung teralihkan kearah direksi perusahaan tersebut.
Direksi perusahaan yang bernama Doni, langsung membisikkan kepada Emyr tentang kejadian Shanum di lantai bawah.
Doni pada saat itu kebetulan sedang berada di loby dan dia melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Doni tahu, jika Emyr sedang rapat, jadi dia tidak mau menelponnya. Alhasil dia langsung memutuskan untuk naik lift yang satunya untuk memberitahukan kepada Emyr secara langsung. Tanpa banyak berbicara satu patah kata pun, Emyr yang mendapat kabar tersebut, langsung bergegas pergi menuju ke loby kantor.
Melihat kepergian dari sang pemilik perusahaan dengan tergesa-gesa, mengundang banyak tanda tanya dari para staf kantor yang ada di ruang meeting.
Kevin pun juga langsung bergegas menyusul Emyr yang saat ini terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa lift ini rasanya lamban sekali! Jika sampai terjadi apa-apa dengan Shanum. Akan saya bunuh wanita itu!"
Berita pesta resepsi pernikahan Emyr dan Shanum sudah tersebar di semua kantor milik Emyr. Dan yang mendapatkan kartu undangan itu cuma orang-orang penting saja. Sepertinya, Siska belum mengetahui, jika di atas meja kerjanya sudah ada kartu undangan pernikahan Emyr dan Shanum. Makanya dia bisa berbuat nekat seperti itu.
Siska sendiri adalah sekertaris ke duanya Emyr. Dan dialah orang yang sudah berani memaki-maki serta berbuat kasar kepada Shanum.
Siska sebenarnya sudah cukup lama menaruh hati dengan Emyr. Akan tetapi sampai saat ini, dia belum bisa meluluhkan hati Emyr. Apalagi Siska juga sudah muak melihat banyak perempuan yang ingin mendekati Emyr. Itulah kenapa dia bisa berbuat seperti itu kepada Shanum, karena ia kira Shanum sama saja dengan para perempuan yang mendekati Emyr selama ini. Selain Siska takut jika Emyr jatuh hati dengan Shanum, dia juga tidak mau melihat ada lagi para wanita yang mendekati Emyr.
"Mbak Siska! Stop Mbak! Apa yang Mbak lakukan! Ini Nyonya Shanum, dia istri sahnya tuan Emyr!" lerai Luluk.
"Luluk! Kamu itu cuma sopir. Jangan pernah ikut campur! Atau jangan-jangan perempuan ini sudah sekongkol dengan kamu ya! Cepat bawa pergi perempuan ini dari dalam kantor ini!" bantah Siska.
"Mbak Siska akan menyesal!" Luluk terlihat geram. Sedangkan Shanum masih menunduk sambil menutupi wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
"Siska! Ikut dengan saya!" tiba-tiba datang seorang manajer perusahaan yang menegur Siska.
"Ada apa Tuan Bram! Saya tidak mau pergi sampai wanita ini pergi dari sini!" teriak Siska.
"Justru kamu yang harus pergi dari sini! Karena wanita yang kamu hina itu istrinya tuan Emyr!" tegas Bram.
"Apa! Anda jangan bercanda kepada saya Tuan Bram! Ini tidak lucu. Setahu saya tuan Emyr belum menikah!" Siska sudah terlihat sedikit ketakutan.
"Undangan pesta resepsi pernikahan mereka sudah tersebar di semua perusahaan milik tuan Emyr. Dan kita para jajaran tinggi perusahaan semuanya mendapatkan undangan itu. Apakah kamu sudah memeriksanya di atas meja kerja kamu, Siska?"
Siska menggelengkan kepalanya. "Saya baru saja kembali dari meeting di luar, jadi belum naik ke atas!"
__ADS_1
"Bodoh! Cepat minta maaf sama Nyonya Shanum!" tegas Bram.
Para staf karyawan biasa yang ada di situ mereka benar-benar terkejut mendengar ucapan Bram.
Luluk masih memandang marah kearah Siska. Dan belum sempat Siska meminta maaf kepada Shanum, datanglah Emyr lalu menyampirkan jas yang dipakainya ke kepala Shanum.
"Apa yang kamu lakukan kepada istri saya hah!" suara Emyr benar-benar keras sekali. Para karyawan kantor yang tidak pernah melihat Emyr marah, mereka semua sangat ketakutan, terlebih Siska.
"Kecantikannya hanya untuk saya saja, tapi kamu berani-beraninya membuka niqabnya di depan umum seperti ini!" mata Emyr melotot seakan ingin keluar dari tempatnya. Wajahnya yang putih bersih terlihat memerah karena marah. Apalagi otot-otot di lehernya, semuanya terlihat ketarik ke atas. Itu menandakan jika kemarahan Emyr sudah tidak bisa dia kontrol lagi.
"Kamu tunggu hukuman dari saya!" singkat padat jelas.
Emyr lalu membawa Shanum masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia terus memeluk Shanum dengan mesra dengan jas yang masih menutupi kepalanya.
Kevin tahu apa yang harus dilakukannya. Semua orang yang terlibat di situ, disuruh untuk mengikuti Kevin ke ruang meeting. Dan tidak lupa, Kevin juga langsung menghubungi dokter pribadinya Emyr untuk memeriksa keadaan Shanum.
Shanum yang sudah masuk ke dalam kamar pribadi Emyr. Dia hanya diam saja. Menangis pun tidak, akan tetapi matanya menunjukkan keterkejutan yang mendalam.
Shanum terlihat benar-benar sangat syok sekali diperlakukan seperti tadi oleh Siska. Emyr sangat ketakutan setengah mati melihat Shanum tanpa ekspresi seperti itu. "Sayang bicaralah! Jangan diam saja seperti ini!"
Seakan terguncang jiwa Shanum. Shanum tidak merespon sama sekali ucapan Emyr. Tidak lama, sang dokter pribadi sampai juga di kantor Emyr. Dokter itu pun langsung segera memeriksa keadaan Shanum dengan seksama.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter? Kenapa dia tidak menangis atau pun berekspresi sama sekali?" wajah Emyr terlihat kekhawatiran yang mendalam.
"Sepertinya nyonya Shanum mengalami trauma psikologis Tuan Emyr. Dia seperti sudah sering merasakan rasanya dihina dan dikucilkan. Itulah yang membuatnya seakan sulit mengeluarkan ekspresinya atau menangis kali ini. Padahal dia sedang bersedih saat ini," jelas sang dokter.
"Sementara ini saya akan menyuntikkan obat penenang. Biarkan nyonya Shanum beristirahat dengan tenang. Bila dia sudah sadar nanti, ajaklah berbicara dari hati ke hati Tuan. Jika nyonya Shanum memberontak atau menangis berlebihan, Anda harus segera membawanya ke psikiater."
Emyr mengangguk mengerti. Dokter tadi setelah menyuntikkan obat penenang kepada Shanum, langsung berpamitan pergi kepada Emyr.
"Tidurlah dulu yang nyenyak sayang. Kakak keluar sebentar." Emyr mencium kening Shanum sebelum berlalu keluar.
Flashback off.
Di sinilah Emyr sekarang, sedang mendengarkan Luluk yang sedang memberikan penjelasan kepadanya.
"Apakah Siska masih berada di ruang meeting?"
Kevin mengangguk. "Masih Tuan Emyr."
"Ayo kita ke sana, sebelum istri saya sadar!"
Kevin, Luluk dan Doni langsung mengangguk kepada Emyr.
"Luluk! Kamu jaga di depan ruang kerja saya. Kabarkan kepada saya kalau Shanum sudah bangun!"
Luluk mengangguk. "Baik Tuan Emyr."
Emyr hanya mengangguk tipis. Dia lalu bergegas menuju ke ruang meeting bersama Kevin dan juga Doni.
__ADS_1
Sesampainya di ruang meeting, Emyr langsung melihat Siska sedang menunduk ketakutan kepadanya. Di dalam ruang meeting itu juga ada Bram, dan beberapa bodyguard yang tadi ikut melerai Siska yang sedang menghina Shanum.
Emyr tiba-tiba mendekati beberapa anak buahnya, lalu meninju wajah mereka satu persatu hingga hidungnya berdarah. "Kalian kerjanya tidak becus! Mulai hari ini kalian semua saya pecat dan tidak ada pesangon untuk kalian!" teriak Emyr.
Emyr lalu mendekati Bram. Bram pun hanya bisa menunduk saja. "Lain kali kamu harus lebih tegas lagi. Kalau kamu merasa benar, jangan takut!" tegas Emyr.
"Ba-baik Tuan Emyr!" Bram tetap merasa ketakutan, sebab aura di dalam diri Emyr benar-benar menyeramkan.
Lalu Emyr berjalan kearah Siska. "Kamu mau hukuman yang bagaimana Siska?"
Siska lalu bersujud di kaki Emyr. "Ampuni saya Tuan. Saya tidak tahu kalau nyonya Shanum adalah istri Anda." Siska menangis sejadi-jadinya.
"Saya sudah tahu bagaimana sikap kamu selama ini Siska. Dan saya pun juga tahu kalau kamu menyukai saya. Saya masih mempertahankanmu karena kinerja kamu sangat bagus!"
"Untuk para perempuan itu, saya berterimakasih kepadamu. Tapi tidak untuk istri saya! Wanita yang sangat saya cintai!" Emyr benar-benar marah.
"Kalaupun dia bukan istri saya! Setidaknya jangan menghinanya seperti itu, apalagi sampai berani menarik paksa niqabnya!" teriak Emyr.
"Ampun Tuan! Maafkan saya," Siska masih bersujud di kaki Emyr dengan berderai air mata.
"Kevin!"
Kevin maju mendekati Emyr. "Iya Tuan Emyr!"
"Pecat mereka semua, kecuali Bram!" Emyr menunjuk orang-orang yang ada di depannya.
"Blacklist nama Siska dari semua perusahaan dan bisnis saya. Serta katakan kepada semua kolega saya, kalau saya tidak mau bekerjasama dengan mereka, jika mereka sampai memperkerjakan Siska!"
Kevin mengangguk. "Baik Tuan Emyr!"
"Satu hal lagi! Laporkan sikap Siska kepada polisi. Karena saya tidak terima dengan perlakuannya kepada Shanum. Pastikan tidak ada yang bisa mengeluarkannya sampai saya sendiri yang mencabut laporannya!"
"Baik Tuan!" jawab Kevin.
"Tuan! Tolong jangan laporkan saya ke polisi, Tuan Emyr!" Siska terlihat merengek memohon.
Tanpa banyak berbicara, Emyr langsung berlalu pergi dari dalam ruang meeting untuk menuju ke dalam ruang kerjanya kembali.
"Kamu boleh pergi Luluk." Luluk mengangguk kepada Emyr, dan dia pun berlalu pergi dari depan ruang kerja Emyr.
Emyr langsung mengunci ruang kerjanya dari dalam, karena dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Setelahnya, Emyr berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya untuk melihat keadaan sang istri.
Melihat Shanum masih tertidur lelap karena pengaruh obat penenang, Emyr pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Shanum sambil terus memandangi wajahnya.
"Semoga kamu baik-baik saja sayang!" Emyr mengusap pipi Shanum dengan lembut.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1