JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
BERBINCANG


__ADS_3

Sedangkan bergeser ke Dyah.


Setelah kepergian Imran dari dalam rumahnya, Dyah langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Emyr.


Kebetulan Emyr pada saat itu baru sampai rumah dan juga baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Emyr yang ingin beristirahat sedikit terganggu ketika mendengar ponselnya tiba-tiba berdering kencang. Melihat nama Dyah, Emyr tentu saja langsung mengangkatnya.


"Halo! Assalamu'alaikum Dyah!"


Dyah langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Mas! Emm! Bolehkah Dyah bertanya sesuatu?"


"Tanyakanlah saja Dyah!" jawab Emyr.


"Engh! Apakah tadi Mas Emyr dan mbak Shanum berkunjung ke rumah mbak Shanum?"


Emyr sudah menebak apa yang akan Dyah tanyakan kepadanya. "Iya! Dan saya bertemu dengan Imran juga. Kakak kamu!"


"Jadi benar apa yang tadi ditanyakan mas Imran kepada Dyah."


"Apa maksud ucapan kamu Dyah?" tanya Emyr.


Dyah langsung menjelaskan kepada Emyr, jika sang kakak baru saja datang ke rumahnya dan bertanya tentang kebenaran status pernikahan Emyr dengan Shanum.


"Lalu kamu jawab bagaimana kepadanya?" Emyr sedikit was-was.


"Iya! Dyah menjawab jika Mas memang benar suaminya. Kalian memang sudah menjadi sepasang suami istri."


Emyr merasa lega. "Syukurlah! Lega rasanya."


"Maafkan sikap mas Imran ya Mas Emyr. Tolong jaga dengan baik mbak Shanum, Mas. Mbak Shanum masih trauma dan sakit hati akan apa yang sudah diberikan oleh ibu dan mas Imran."


"Bisakah kamu menceritakan tentang Shanum kepadaku Dyah?"


Dyah sebenarnya enggan menceritakan masa lalunya Shanum kepada Emyr. Namun, setelah Dyah pikir-pikir, Emyr berhak tahu bagaimana masa lalu Shanum. Sebab Dyah sangat yakin sekali, jika Emyr bertanya kepada Shanum. Shanum pasti tidak akan mau menjawabnya.


"Mbak Shanum dulu orangnya periang Mas. Sangat mencintai mas Imran dan perhatian dengan ibu. Tapi ... "


"Tapi apa Dyah?" Emyr terdengar sangat penasaran sekali.


"Tapi musibah itu datang ketika ibu mendengar Dyah hamil. Ibu terus memprovokasi mas Imran, sebab mbak Shanum belum hamil juga," jawab Dyah.


"Semenjak mendapatkan provokasi dari ibu. Sikap mas Imran yang awalnya manis seperti Mas saat ini kepada mbak Shanum, langsung berubah seratus delapan puluh derajat."


"Mas Imran suka marah-marah tidak jelas kepada mbak Shanum. Selalu mencari kesalahannya mbak Shanum apapun itu. Ditambah dengan ibu juga yang selalu ikut campur masalah mbak Shanum dan mas Imran."


"Dan yang terakhir, ibu sengaja mengenalkan perempuan yang saat ini menjadi istri mas Imran, Mas!"


"Mas Imran lebih memilih perempuan itu dibandingkan mbak Shanum. Bahkan mas Imran dengan teganya membela wanita itu dengan menampar wajah mbak Shanum sebanyak dua kali dihadapan ibu dan wanita itu, Mas."


"Sungguh sangat menyakitkan sekali melihat orang yang kita sayangi harus disakiti oleh orang terdekat kita," jelas Dyah lagi dengan suara yang menahan rasa sedihnya.


Sekarang Emyr tahu, kenapa Shanum sedikit sulit membuka hatinya kembali. Hatinya sendiri bahkan sangat sakit sekali mendengar cerita dari Dyah tentang Shanum. Emyr tidak menyangka, jika masa lalu Shanum sangat menyayat hati sekali.

__ADS_1


"Terimakasih Dyah atas semua ceritanya," ucap Emyr.


"Emm! Bolehkah saya meminta tolong kepadamu?"


"Boleh Mas! Apa itu?" tanya Dyah.


"Tidak jadi. Nanti kamu akan tahu dari Malik, suamimu."


Walau merasa penasaran, Dyah tetap mengiyakan saja ucapan Emyr. Dan setelahnya mereka sepakat untuk mengakhiri sambungan teleponnya.


Selesai menerima telepon dari Dyah. Gantian Emyr menghubungi Malik.


Malik yang sedang bekerja, melihat nama Emyr disambungan teleponnya memilih masuk ke dalam kamar mandi supaya lebih leluasa dalam berbicara.


"Assalamu'alaikum Mas Emyr."


"Wa'alaikumussalam Malik. Apakah saya sedang mengganggumu?"


"Tidak juga. Ada apa ya Mas?" tanya Malik.


"Emm begini. Bolehkah saya meminta tolong kepadamu."


"Boleh. Mas mau meminta tolong apa ya sama Malik?"


"Tolong ajaklah Dyah berkunjung ke rumah saya. Supaya dia bisa menghibur Shanum. Karena tadi kita baru saja bertemu dengan Imran dan sekarang Shanum terlihat bersedih."


Malik sangat terkejut mendengar ucapan Emyr. "Mas bertemu dengan mas Imran?"


"Iya! Dan dia terlihat masih mencintai Shanum. Ajaklah Dyah ke sini. Kalian menginaplah di rumah saya."


Seperti ucapan Malik tadi kepada Emyr. Malik benar-benar mengajak Dyah pergi ke rumah Emyr.


Setelah berputar-putar mencari alamat Emyr, akhirnya Dyah dan Malik menemukannya. Pertama kali Dyah menginjakkan kakinya di halaman rumah Emyr. Dyah benar-benar merasa sangat takjub dan terpesona melihat bangunan rumah yang begitu megah dan juga mewah.


"Apakah benar ini rumah mas Emyr, Ayah?" mata Dyah sambil menatap bangunan rumah Emyr.


"Dari alamat yang dia berikan sih benar ini Mama."


"Wah! Itu garasi mobil apa showroom mobil? Banyak sekali mobil mewahnya."


"Sudah Ma! Jangan malu-maluin. Ayo kita masuk ke dalam."


Di sinilah Malik dan Dyah sekarang, sudah duduk bersama Shanum dan mama Mulan di ruang tamu rumah Emyr.


Mereka semua yang sedang asik berbincang, tiba-tiba atensinya teralihkan kearah Emyr dan papa Hisyam yang baru saja datang.


"Malik! Dyah! Kalian sudah sampai?" Emyr langsung memilih duduk di sebelah Shanum.


"Iya Mas! Kita baru saja sampai," jawab Malik.


"Oh ya Pa! Ma! Perkenalkan, dia Dyah dan suaminya, Malik. Mereka .... "


"Iya! Mama sudah tahu ko mereka siapa. Tadi kita sudah berkenalan."

__ADS_1


Emyr hanya mengangguk saja kepada sang mama.


"Kebetulan kamu ada di sini Dyah. Tolonglah temani mama membeli baju untuk Shanum."


"Kak Emyr!" ucap Shanum


"Iya sayang kenapa?"


"Ehem!" Dyah sengaja berdeham. Dan itu membuat Shanum merasa malu.


"Bukannya kata kamu baju-bajumu habis?"


Emyr lalu mengeluarkan salah satu kartu kreditnya untuk dia berikan kepada Shanum. "Ini pakailah sesuka kamu untuk membeli baju atau keperluan kamu yang lainnya."


Shanum menolaknya. "Ta-tapi Mas!"


"Sudah Nak! Nggak perlu tapi-tapian. Lagi pula uang Emyr tidak akan habis bila kamu menghabiskan uang yang ada di dalam kartu kreditnya," ucap papa Hisyam.


"Apa kurang? Ini bawalah semua dompet Kakak," Emyr menyerahkan dompet tebalnya kepada Shanum.


Shanum hanya bisa terbengong dan terpaku melihat sikap Emyr yang begitu baik dan royal kepadanya.


"Jika kamu menatap Kakak seperti itu. Rasanya Kakak ingin mengurungmu di dalam kamar saja."


"Huuuu!" Emyr langsung mendapatkan lemparan bantal dari mama Mulan. Dan hal itu membuat Shanum langsung tersadar sambil tersenyum malu-malu.


"Sudah yuk Nak kita berangkat. Kita bersenang-senang," ucap mama Mulan.


"Mama sudah sangat lama sekali ingin pergi berbelanja dengan anak perempuan. Selama ini Mama ingin ditemani Emyr ketika berbelanja. Tapi dia selalu mencari alasan," mama Mulan memajukan bibirnya pura-pura cemberut.


"Nyonya kan sudah ada mbak Shanum sekarang. Jadi nanti Nyonya bisa sepuasnya berbelanja bersamanya."


"Benar sekali Nak Dyah! Ayo kita berangkat. Mama sudah tidak sabar sekali," mama Mulan terlihat bersemangat.


Mereka bertiga, yaitu mama Mulan, Dyah dan juga Shanum, lalu pergi bersenang-senang, berbelanja menggunakan kartu kredit milik Emyr sepuas mereka. Sedangkan baby Fatiyah sengaja Dyah titipkan kepada Malik.


Tinggallah para laki-laki saja yang ada di situ. "Mas Emyr! Emm! Bolehkah Malik berbicara sesuatu?"


Emyr mengangguk. "Boleh! Katakanlah saja Malik."


"Mas 'kan bilang sama mas Imran jika Mas sudah menikah dengan mbak Shanum. Lalu kalau tiba-tiba terdengar jika Mas baru menikahi mbak Shanum, saya tidak bisa menjamin jika mas Imran bakalan diam saja."


Emyr terlihat berpikir. "Kamu benar Malik. Kenapa saya tidak kepikiran sampai di situ."


"Lalu apa kamu ada usul untuk saya?" tanya Emyr.


"Lebih baik pernikahan kalian diselenggarakan secara tertutup. Nanti pesta resepsinya barulah boleh besar-besaran. Karena saya yakin, orang seperti Mas Emyr akan sering diburu sama wartawan," jawab Malik.


"Benar apa kata Malik, Emyr. Lagipula Shanum 'kan sudah sering berkata, jika dia tidak mau pesta pernikahan yang meriah. Hanya keluarga saja yang hadir. Yang penting sah!" papa Hisyam ikut berbicara.


"Mengertilah perasaan Shanum, Emyr. Dia tidak mau pesta pernikahan meriah bukan karena dia seorang janda. Tapi karena dia sudah tidak ada ke dua orang tuanya di sisinya."


Emyr hanya diam saja. Dia mencerna semua saran dan ucapan dari papa Hisyam dan juga Malik. Karena bagaimanapun juga apa yang diucapkan oleh papa Hisyam dan Malik itu benar apa adanya. Akan sangat terlihat egois jika dia memaksakan kehendaknya kepada Shanum.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


...~TBC~...


__ADS_2