
Imran dan Linda yang berada di dalam mobil hanya bisa diam dengan pikiran mereka masing-masing. Saat ini mereka berdua sedang menuju ke kantor polisi. Iya kantor polisi, sebab mereka sedang ingin mengunjungi ibu Mu'idah yang masih mendekam di dalam penjara.
Ibu Mu'idah yang mendapatkan kunjungan dari Imran dan Linda begitu sangat senang sekali.
"Imran! Pasti kamu datang ingin membebaskan Ibu dari sini 'kan?" wajah ibu Mu'idah terlihat senang. Akan tetapi berbeda dengan Imran dan Linda.
Imran tidak banyak berbicara, dia lalu mengeluarkan ponselnya dan memutar berita tentang Shanum yang sudah hamil.
"Apa ini?" ibu Mu'idah terlihat penasaran.
"Lihat dan baca sendiri Ibu," jawab Imran.
Ibu Mu'idah lalu melihat rekaman berita tentang Shanum dari ponsel Imran. Setelah melihat berita tersebut, ibu Mu'idah benar-benar sangat terkejut sekali.
"I-ini! Ini Shanum ha-hamil?" Imran cuma mengangguk pelan.
"Bu-bukankah dia baru menikah ke-kemarin?" ibu Mu'idah terlihat benar-benar syok. Dan lagi-lagi Imran cuma mengangguk saja.
"Lalu! Apakah kamu sudah hamil Linda?"
Linda terdiam. Dia tidak mengangguk maupun mengiyakan ucapan sang ibu mertua. Begitupun dengan Imran. Hanya raut wajah datar yang mereka tunjukkan kepada ibu Mu'idah.
"Jawab Ibu, Linda! Imran!"
"Kalian itu sudah menikah cukup lama, bahkan hampir satu tahun, masa kalah sama Shanum yang baru menikah kemarin!"
Imran menyuruh Linda untuk mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas yang dibawanya. Amplop itu lalu mereka berikan kepada ibu Mu'idah.
"Amplop apa ini?"
"Bacalah sendiri Ibu!" jawab Linda.
Ibu Mu'idah lalu membuka amplop tersebut. Dia membaca isinya dengan seksama, namun tetap saja ibu Mu'idah tidak mengerti apa-apa.
"Jelaskan apa maksud dari amplop ini, Linda, Imran! Ibu tidak mengerti sama sekali."
Imran akhirnya angkat berbicara. Dia menjelaskan kepada sang ibu apa isi dari amplop tersebut. Dengan sangat gamblang Imran menjelaskan kepada sang ibu seperti apa yang dikatakan oleh sang dokter tadi kepadanya.
Wajah ibu Mu'idah memperlihatkan keterkejutan yang mendalam. "Ja-jadi selama ini ... "
Imran mengangguk. "Iya Ibu. Imranlah yang mandul," ucap Imran.
__ADS_1
"Ba-bagaimana mungkin? Di keluarga kita tidak ada silsilah mandul." Wajah ibu Mu'idah masih terlihat tidak percaya.
"Semua itu bisa terjadi Ibu, walau di keluarga kita tidak ada keturunan mandul," jelas Imran.
"Lalu kalau Linda?" tanya ibu Mu'idah lagi.
Lagi-lagi Imran menjelaskan masalah yang dihadapi oleh Linda sama seperti yang dikatakan oleh dokter.
"Hah!" ibu Mu'idah menghela nafasnya karena kecewa.
"Dan asal Ibu tahu. Yang memasukkan Ibu ke dalam penjara adalah suaminya Shanum!"
"Jadi! Mana mungkin kami bisa melawan mereka!" jelas Linda lagi.
Semakin syok saja ibu Mu'idah mendengar itu semua. Hingga tiba-tiba dia merasakan sesak nafas yang teramat sangat sesak sekali.
Imran yang khawatir langsung memanggil sipir untuk membantu dan membawa ibunya ke rumah sakit.
Selama Ibu Mu'idah di dalam penjara, Dyah baru dua kali menjenguknya. Sebab dia masih merasa kecewa dan marah dengan sikap sang ibu. Jika boleh memilih, Dyah sebenarnya tidak mau berkomunikasi dengan ibu Mu'idah ataupun Imran lagi. Namun semua itu tidak mungkin bisa dilakukannya, sebab ibu Mu'idah adalah ibu kandungnya, dan Imran adalah kakak laki-laki kandungnya.
Imran menunggu dengan tidak tenang di depan ruang perawatan sang ibu. Pikirannya kacau dan hatinya sedang hancur berkeping-keping rasanya.
Imran merasa tidak ada tempat sandaran lagi baginya sekarang. Sebab apa yang diharapkannya seakan sirna dari muka bumi ini, yaitu memiliki seorang anak.
Emyr yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya, tersenyum senang melihat dan membaca berita tentang kehamilannya Shanum.
"Cepat atau lambat, pasti si Imran akan mengetahui berita tentang kehamilannya Shanum," ucap Emyr.
"Ya Allah! Bukannya hamba ingin sombong. Hanya saja hamba ingin membuktikan kepada mereka, jika Shanum ternyata tidak mandul seperti yang selama ini mereka tuduhkan kepadanya." Emyr berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Terimakasih ya Allah atas semua nikmat yang Engkau berikan kepada hamba. Mempunyai istri yang baik dan calon anak kembar yang Engkau titipkan kepada kami berdua." Doa Emyr di dalam hati.
"Semoga Engkau senantiasa memberikan kesehatan kepada kami semua, terutama untuk Shanum dan ke dua calon buah hati hamba," Emyr masih berdoa di dalam hatinya. Akan tetapi kali ini sambil menatap Shanum yang sedang beristirahat.
Kembali ke Imran lagi.
Imran yang teringat dengan Dyah langsung mencoba menghubunginya. Dyah yang mendengar kabar jika sang ibu masuk ke rumah sakit, langsung bergegas menuju ke sana. Akan tetapi sebelumnya, dia menitipkan baby Fatiyah kepada ibu mertuanya. Sedangkan Malik saat ini masih bekerja.
Ibu mertuanya Dyah sudah mengetahui, bila sang besan masuk ke dalam penjara. Dyah sebenarnya juga merasa malu dengan kelurga besar sang suami. Hanya saja, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sesampainya di rumah sakit tempat sang ibu dirawat, Dyah langsung bertanya kepada Imran.
__ADS_1
"Mas Imran! Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah ibu masih di penjara, kenapa tiba-tiba bisa masuk ke rumah sakit."
"Semua ini salah Mas, Dyah!" ucap Imran dengan suara lirih.
"Apa maksud ucapan Mas?" tanya Dyah lagi. Sedangkan Linda memilih sedikit menjauh dari mereka berdua.
Imran lalu menjelaskan apa yang membuat sang ibu masuk ke rumah sakit. Tentang diagnosis dokter untuk dirinya dan juga Linda, Imran menjelaskannya dengan jelas kepada Dyah.
"Ja-jadi ... Mas sudah tahu, kalau mbak Shanum saat ini sedang hamil?"
"Mas yakin kamu pasti sudah tahu lebih dulu dari Mas."
Dyah mengangguk. "Iya! Dyah memang sudah tahu sejak kemarin. Karena mas Emyr mengundang Dyah untuk makan-makan di rumahnya, sebagai syukuran kehamilannya mbak Shanum," jelas Dyah.
"Sekarang apa yang akan Mas lakukan bersama istri Mas itu?" tanya Dyah.
"Entahlah! Mungkin ini balasan untuk Mas dari Allah, karena sudah menyakiti Shanum dan menyia-nyiakannya."
"Jika bisa berobat ke dokter. Berobatlah Mas, dan perbaiki pola hidup. Bismillah! Semoga saja Allah mengabulkan keinginan Mas yang ingin punya anak." Dyah mencoba menyemangati sang kakak.
Selain Imran yang mandul, gejala seperti Linda akan sangat sulit untuk hamil.
Imran hanya tersenyum tipis menanggapi semangat dari Dyah. Hingga tiba-tiba atensi mereka berdua teralihkan kearah pintu ruang perawatan sang ibu yang terbuka dari dalam.
Melihat sang dokter keluar, Dyah dan Imran berjalan mendekatinya. "Dokter! Bagaimana keadaan dari ibu saya?" tanya Imran.
"Mohon maaf sebelumnya, Tuan Imran."
Imran dan Dyah masih diam mendengarkan kelanjutan ucapannya sang dokter.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu Anda, Tuan. Hanya saja Allah berkehendak lain," ucap sang dokter.
"Apa maksud ucapan Dokter?" kata Dyah.
"Nyonya Mu'idah terkena serangan jantung mendadak. Dan nyawanya tidak berhasil kami selamatkan. Maafkan kami, Nyonya."
Dunia Dyah dan Imran seakan runtuh, mendengar jika sang ibu dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung.
Lengkap sudah penderitaan batin yang dialami oleh Imran. Rasa sakit yang dialaminya sekarang, bahkan rasanya jauh lebih sakit dari rasa yang dialami oleh Shanum dulu.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...