
Imran tidak bisa berbicara apa-apa. Mulutnya seakan terkunci otomatis mendengar semua ungkapan kekecewaan dari sang adik yang sangat dia sayangi itu.
"Apa Mas tahu? Jika mbak Shanum sangat sakit hati sekali atas perbuatan Mas dan ibu!"
Dyah lalu mundur dua langkah ke belakang sambil tersenyum miring menatap Imran. Rupanya kemarahan Dyah belum selesai dia luapkan kepada sang kakak.
"Tapi sekarang Dyah bersyukur mbak Shanum bisa lepas dari laki-laki bodoh seperti Mas!"
"Sekarang Dyah mohon. Mas pergi dari rumah Dyah dan jangan pernah kembali lagi ke sini! Dyah muak melihat muka Mas Imran!" Dyah berteriak sambil menunjuk pintu keluar.
"Kamu mengusir Mas, Dyah?"
"Iya!"
"Selama Mas masih menikah dengan si wanita pelaacur itu. Sampai kapanpun Dyah tidak akan mengakui Mas sebagai kakak Dyah sendiri!"
"Apakah ibu juga?" tanya Imran.
Dyah sedikit memelankan ucapannya ketika membahas ibu Mu'idah. "Ibu masih Dyah anggap sebagai ibu, Dyah. Tapi jika Dyah disuruh untuk datang ke sana menjenguknya, Dyah akan berpikir dua kali. Sebab Dyah juga muak melihat ibu yang terlalu tunduk dengan Linda."
"Mbak Shanum yang tidak pernah berbuat macam-macam selalu Mas dan ibu sakiti. Tapi Linda sudah merendahkan Mas dan ibu, apa yang kalian lakukan? Hah! Jawab!"
Imran tidak bisa menjawabnya sama sekali. Sungguh benar-benar laki-laki yang bodoh.
"Silahkan pergi Mas! Dan jangan pernah kembali lagi ke sini!"
Dyah memelankan suaranya dan memilih berlalu pergi dari hadapan Imran untuk masuk ke dalam kamarnya.
Imran tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun juga tidak bisa membantah semua ucapan sang adik yang sedang diluapkan kepadanya. Dengan langkah pelan, Imran pun akhirnya berlalu pergi dari rumah Dyah dengan wajah yang terlihat semakin murung.
Sedangkan di rumah Imran sendiri. Ibu Mu'idah yang masih mencuci baju tiba-tiba didekati Linda.
"Ibu! Mana mas Imran!"
Ibu Mu'idah sedikit terkejut ketika Linda berbicara kepadanya. "Mana Ibu tahu Linda. Ibu 'kan daritadi ada di sini untuk mencuci baju-bajumu ini."
Linda pun lalu memilih pergi dari situ untuk keluar rumah mencari Imran. Linda juga sudah mencoba menghubungi Imran, tapi tidak tahunya ternyata Imran tidak membawa ponselnya.
__ADS_1
Linda pun memilih masuk lagi ke dalam rumah, lalu duduk di ruang keluarga untuk menunggu kedatangannya Imran. Para tetangga yang pada lewat di depan rumah Imran dan melihat ibu Mu'idah sedang menjemur baju milik Imran dan Linda, mereka semua terang-terangan menyindir ibu Mu'idah.
"Menjemur baju Bu Mu'idah?"
Sambil menahan malu, ibu Mu'idah lalu menjawabnya. "Iya!"
"Wah enak sekali ya menantunya itu. Ada yang mencucikan semua baju-bajunya, gratis pula," sindir salah satu ibu.
"Sungguh malang niang nasib mbak Shanum dulu ya. Jadi menantu tidak pernah dicucikan bajunya. Justru malah dihujat dan dihina," sindir lagi dari ibu yang lainnya.
Ibu Mu'idah hanya diam saja. Dia terus menjemur baju tanpa bisa berkata apa-apa.
"Andai saja saya punya anak laki-laki, pasti akan saya jadikan mantu itu Nak Shanum," sindir terus dari para ibu-ibu.
"Ya Allah. Terimakasih ya Allah. Engkau telah memberikan balasan yang setimpal kepada orang yang sudah menyakiti Nak Shanum."
Ibu-ibu itu setelah puas menyindir ibu Mu'idah, lalu pergi dari hadapan ibu Mu'idah sambil tertawa terbahak-bahak. Sebab mereka puas melihat wajah ibu Mu'idah yang seperti itu.
Ibu Mu'idah yang sudah selesai menjemur bajunya, lalu masuk ke dalam rumah dalam keadaan kesal, hingga tidak sengaja membanting ember yang dibawanya tadi untuk menjemur baju.
"Astaga! Emberku pecah!" Linda terkejut.
"Maafkan Ibu, Linda! Ibu tidak bermaksud memecahkan ember milikmu."
Linda yang sedang tersulut emosi, langsung mendorong ibu Mu'idah sampai kepalanya terbentur tembok rumah.
"Rasakan itu! Dasar mertua tidak berguna!" Linda pun langsung pergi dari hadapan ibu Mu'idah dan tidak mempedulikan ibu Mu'idah sama sekali yang sedang kesakitan.
Apa yang dilakukan oleh Linda kepada ibu Mu'idah, sama persis dengan apa yang dilakukannya kepada Shanum dulu. Dulu ibu Mu'idah sedang mencari Shanum yang sedang mencuci baju. Tidak sengaja dia terpeleset sendiri dan jatuh persis di depan Shanum.
Shanum tentu saja merasa khawatir dengan keadaan sang ibu mertua. Dengan penuh perhatian, Shanum pun membantu ibu Mu'idah berdiri. Bukannya berterimakasih, ibu Mu'idah malah mendorong Shanum hingga dia jatuh dengan kepala terbentur tembok rumah.
"Dasar menantu tidak berguna!" dengan langkah tertatih, ibu Mu'idah memilih masuk ke dalam ruang keluarga untuk mengistirahatkan pinggangnya yang sakit.
Ternyata penderitaan Shanum tidak sampai di situ saja. Imran yang sedang bekerja, tiba-tiba pulang ke rumah. Itu karena ibu Mu'idahlah yang menelpon Imran untuk pulang. Dan ibu Mu'idah langsung mengadu kepada Imran, jika Shanum sudah mendorongnya hingga jatuh. Padahal bukan seperti itu kenyataannya.
Imran yang tidak terima mendengar pengaduan sang ibu, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari sang istri terlebih dahulu, langsung memarahi Shanum dan mengata-ngatainya dengan ucapan yang sangat tidak enak didengar.
__ADS_1
Begitupun dengan sekarang. Setelah Linda masuk ke dalam kamar. Tidak lama Imran sampai di rumahnya. Linda yang mendengar suara motor Imran di depan rumah. Dia langsung saja keluar dari dalam kamar.
"Mas! Ibu Mas!"
Imran yang baru saja datang, tentu saja merasa bingung dengan Linda yang tiba-tiba merengek kepadanya.
"Ada apa dengan ibu?" Imran merasa sangat khawatir sekali.
Kebetulan ibu Mu'idah juga keluar dari dalam rumah sambil memegangi kepalanya. "Ibu! Ibu kenapa?" Imran mendekati sang ibu.
"Ibu tadi sudah memukul kepala Linda menggunakan ember yang untuk mencuci baju hingga ember itu pecah Mas! Ibu marah karena tidak terima Linda suruh mencuci baju."
Nah 'kan! Karma berlaku sekarang. Ibu Mu'idah yang mendengar ucapan Linda, langsung ingin menjelaskan kepada Imran. Tapi Imran sudah keburu marah kepada sang ibu, tanpa mau mendengarkan duduk permasalahannya terlebih dahulu seperti dulu.
"Apa benar begitu Ibu!"
Ibu Mu'idah menggelengkan kepalanya. "Tidak Imran. Ibu bisa menjelaskannya."
Linda tersenyum puas melihat ibu Mu'idah dimarahi Imran.
"Sudah cukup Bu! Dulu Shanum sudah ibu sakiti. Sekarang Linda. Lalu siapa? Imran!"
"Sekarang Ibu pulang saja ke rumah. Kepala Imran pusing. Imran mau beristirahat dan tidak mau mendengarkan keributan lagi di dalam rumah ini!"
Ibu Mu'idah meneteskan air matanya mendengar Imran mengusirnya. Dengan langkahnya yang sudah tua. Ibu Mu'idah lalu pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Imran.
Setelah kepergian sang ibu dari rumahnya, Imran pun langsung masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan pikiran dan hatinya yang sedang kacau.
Sedangkan Linda, langsung tersenyum puas melihat ibu Mu'idah menderita.
Hahaha! Sungguh sangat indah sekali bukan? Keluarga Imran sekarang jauh dari kata damai. Ya! Seperti itulah yang terlihat saat ini.
Kehidupan yang indah dan tentram dengan istri yang sholeha, Imran buang. Demi mendapatkan neraka yang menyiksa hati dan pikiran secara perlahan.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1