
Emyr masih terus sibuk memandangi wajah Shanum. Hatinya sakit melihat sang istri mengalami rasa trauma yang mendalam. Dia tidak menyangka, jika menjadi orang miskin bisa membuat hidup sang istri banyak mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan.
Kaya dan miskin tidak ada yang tahu kita akan berada di posisi mana. Setidaknya, jika kita berada di posisi lebih dari yang lainnya, janganlah suka merendahkan mereka. Sebab tanpa kita tahu, omongan yang kita anggap sekilas atau sepele, tidak tahunya akan membekas di hati mereka. Mungkin seperti itulah yang dialami oleh Shanum.
"Apakah kamu selama ini begitu menderita sayang?" Emyr berbicara sendiri sambil terus mengusap pipi Shanum.
Emyr tiba-tiba beranjak berdiri dari atas ranjang, dia lalu mencoba menelpon Dyah untuk mencari tahu tentang Shanum lebih lanjut lagi.
"Halo! Assalamu'alaikum Mas Emyr."
Emyr langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Dyah."
"Saya ingin tanya sesuatu kepadamu, apakah saya mengganggumu?" ucap Emyr.
"Tidak! Kebetulan anak Dyah baru saja tidur. Ada apa memangnya Mas?" jelas Dyah.
"Bisakah kamu menceritakan bagaimana kehidupan Shanum ketika belum menikah dengan Imran?"
"Kalau soal itu, Mas lebih baik tanya sama mbak Laila deh. Karena dia 'kan sudah berteman dengan mbak Shanum sejak kecil. Apalagi, mbak Laila juga teman sekolahnya mbak Shanum."
"Ok! Baiklah. Terimakasih infonya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Dyah.
Dyah sebenarnya sangat penasaran sekali, apakah ada hal yang sudah terjadi dengan Shanum. Akan tetapi dia sungkan untuk bertanya kepada Emyr. "Semoga mbak Shanum baik-baik saja. Aamiin."
Sedangkan Emyr selesai menghubungi Dyah, langsung menghubungi Laila.
Laila yang sedang istirahat makan siang, langsung mengangkat sambungan teleponnya. "Halo! Assalamu'alaikum Mas Emyr."
"Wa'alaikumussalam. Apa saya mengganggumu Laila?"
"Tidak Mas! Kebetulan Laila sedang istirahat makan siang. Ada apa Mas?"
"Emm! Bisakah kamu menceritakan bagaimana kehidupan Shanum dari kecil?"
Perasaan Laila sudah merasa tidak enak, ketika mendengar pertanyaan Emyr. "Ada apa dengan Shanum, Mas?"
"Hmm! Ada sedikit masalah di sini. Dan saya bingung harus berbuat apa? Karena Shanum terkena trauma psikologis."
"Trauma psikologis? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi dengan Shanum di sana Mas?" suara Laila terdengar khawatir.
Emyr akhirnya menceritakan perihal kejadian tadi kepada Laila. "Astaghfirullah! Bila Laila ada di situ, sudah Laila robek tuh mulutnya!"
Emyr terdengar tertawa pelan. Laila yang mendengarnya merasa malu. "Maaf Mas! Laila kelepasan."
"Tidak apa-apa. Sekarang ceritakan kepada saya, bagaimana kehidupannya Shanum yang dulu."
Laila seperti mengenang kehidupannya dulu waktu kecil bersama Shanum. "Shanum sejak kecil sudah mencari nafkah sendiri Mas. Dia sudah sering mendapatkan cacian, hinaan dari orang-orang bahkan dari teman sebaya kami sendiri."
"Shanum juga harus berdiri dengan kakinya sendiri. Di saat anak seusianya sedang asik menghabiskan waktunya dengan keluarga atau teman-temannya, dia harus banting tulang mencari nafkah untuk bisa bertahan hidup."
"Shanum anak yang baik Mas. Dan Shanum selalu menyimpan perasaan sedihnya dihadapanku."
__ADS_1
"Dia seperti tidak ingin ada yang tahu tentang kesedihannya."
"Dulu Laila tidak sengaja pernah mendengar tentang doa Shanum." Cerita Laila lagi.
"Apa itu Laila?" tanya Emyr.
"Dia berdoa, jika suatu saat keadaan berbanding terbalik dengan kehidupannya waktu itu, dia tidak mau menjadi orang yang kufur dan sombong, Mas," jelas Laila.
"Hati Shanum mudah rapuh Mas. Bila Shanum merasakan rasa sedih di dalam hatinya, dia akan lebih memilih berdiam diri dan menjauh dari orang-orang yang dia sayangi. Supaya mereka semua termasuk kita tidak merasa khawatir kepadanya."
Dada Emyr terasa sesak mendengar cerita Laila. Begitupun dengan Laila yang sudah tidak kuat lagi menceritakan kisah Shanum kepada Emyr.
"Mas! Sepertinya Laila harus lanjut bekerja lagi. Salamkan kepada Shanum ya Mas. Nanti bila ada waktu, Laila akan mengunjungi Shanum. Assalamu'alaikum."
"Iya! Wa'alaikumussalam." Dan pada akhirnya, sambungan telepon mereka terputus juga.
Emyr menarik nafasnya sangat panjang sekali. Rasanya oksigen di dalam dadanya seakan menipis ketika mendengar cerita tentang Shanum. "Pantas saja kamu mengalami trauma psikologis Shanum. Selain kamu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Imran dan ibunya. Sejak kecil kamu sudah harus hidup menderita."
Emyr lalu berjalan mendekati Shanum lagi, dia duduk di ranjang sebelahnya sambil terus mengusap wajahnya. "Cepatlah sadar sayang. Karena Kakak ingin selalu melindungimu."
Semenjak kejadian tadi, berita Emyr yang sudah menikah semakin meluas beritanya. Bahkan sampai office boy pun sudah pada mengetahuinya. Berita terhangat dan terpopuler hari ini adalah tentang Emyr dan Shanum.
Semua para kaum hawa sangat iri dengan Shanum yang bisa meluluhkan laki-laki sejuta umat itu.
"Ternyata tipe perempuan tuan Emyr seperti nyonya Shanum. Pantas saja selama ini dia tidak pernah melirik kita," ucap salah satu karyawan perempuan yang sedang bergosip.
"Iya! Aku juga sudah bela-belain perawatan setiap bulan, supaya selalu terlihat cantik di kantor," sahut yang lainnya.
"Walau tidak modis, pasti baju yang ia kenakan bermerek semua. Tidak mungkin tuan Emyr memberikan pakaian murahan untuk istrinya, secara uangnya tidak bakal habis tujuh turunan," ucap karyawan yang satunya.
"Kamu benar juga. Huft! Harapan kita untuk menggaet hati tuan Emyr pupuslah sudah."
"Kalau aku tidak akan pantang menyerah. Tidak bisa menjadi nomor satu, setidaknya menjadi nomor dua atau tiga pun boleh."
Sang teman pun langsung memukul tangan temannya. "Jaga ucapanmu! Kalau kedengaran tuan Emyr dan orang-orang kepercayaannya, lidahmu bisa-bisa di potong sama mereka."
Karyawan tadi langsung menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.
"Tapi kamu percuma saja ingin menggaet hati tuan Emyr. Dia laki-laki setia. Lihatlah saja selama ini dia setia menjomblo daripada pacaran. Padahal banyak sekali perempuan-perempuan yang jauh lebih cantik dari kita yang mendekatinya," nasihat dari teman yang satunya.
"Sudahlah! Ayo kita kembali bekerja. Supaya tuan Emyr tidak marah lagi seperti tadi. Seram tahu, baru pertama kali melihat tuan Emyr mengamuk."
"Tapi aku puas melihat Siska dimarahi tuan Emyr. Karena dia selama ini selalu kecentilan dan kegatelan, sebab bisa selalu berdekatan dengan tuan Emyr."
Iya! Sekiranya begitulah banyak gosip dan perbincangan hangat di dalam perusahaan Emyr.
Emyr sendiri tanpa sadar juga ketiduran di samping Shanum. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, barulah dia terbangun dari tidurnya, sebab dirinya belum menunaikan ibadah sholat dhuhur.
"Astaghfirullah aku ketiduran!"
Emyr lalu melihat kearah Shanum yang masih asik tertidur. "Dia masih tidur."
"Lebih baik aku sholat dhuhur dulu," ucap Emyr lagi.
__ADS_1
Emyr pun lalu beranjak turun dari atas ranjang untuk menuju ke dalam kamar mandi. Setelahnya, dia pun langsung menunaikan ibadah sholat dhuhur. Baru saja dia mengucapkan kata salam, dia mendengar Shanum seperti tersadar dari masa istirahatnya.
"Kepalaku pusing!"
Emyr langsung bergegas mendekati Shanum. "Sayang! Kamu sudah sadar? Syukurlah." Wajah Emyr terlihat lega sekali.
Mata Shanum tidak sengaja melihat jam yang menempel di dinding kamar, "Astaghfirullah! Sudah jam dua siang!"
Shanum lalu turun dari atas ranjang untuk menuju ke dalam kamar mandi, akan tetapi dia merasa sedikit kebingungan berada di dalam kamar itu. "Aku ada di mana sekarang?"
Emyr yang daritadi memperhatikan Shanum langsung menjawab. "Kita ada di kamar pribadinya Kakak, sayang."
"Lalu di mana kamar mandinya, Kak?"
Emyr langsung menunjuk letak kamar mandinya. Shanum pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu terlebih dahulu sebelum menunaikan ibadah sholat dhuhur. Baru keluar dari dalam kamar mandi, dia teringat jika mukenanya ketinggalan di dalam mobil.
"Astaghfirullah!"
Emyr sangat khawatir dengan Shanum. "Ada apa sayang?"
"Mukena Shanum ketinggalan di dalam mobil Kak!"
"Mau Kakak ambilkan dulu?" ucap Emyr.
Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Kak. Shanum sholat pakai ini saja. Lagipula Shanum pakai kaos kaki dan juga handsock, jadi tetap bisa sholat asal bersih. Dan Shanum yakin semua ini masih bersih, sebab Shanum baru memakainya dari dalam lemari."
"Shanum sholat dulu Kak." Emyr hanya mengangguk saja. Dia memilih menunggu Shanum yang saat ini sedang sholat dengan khusuk.
Selesai sholat, Shanum bersimpuh dan sujud sambil menangis sesenggukan. Emyr yang tidak tahan dengan suara tangisan sang istri langsung mendekatinya.
"Sayang! Apakah kamu baik-baik saja?"
Shanum mengangkat kepalanya dari sujudnya. Emyr melihat wajah Shanum penuh linangan air mata. "Ada apa sayang?" Emyr terlihat khawatir.
"Shanum cuma ingin mencurahkan rasa sakit yang Shanum alami kepada-Nya Kak."
"Shanum merasa buruk karena banyak orang yang merendahkan Shanum," Shanum semakin tersedu-sedu dalam menangis.
Emyr pun langsung membawa Shanum ke dalam pelukannya. "Tenanglah! Kakak janji tidak akan membiarkan satu orang pun untuk menghinamu lagi."
"Kakak janji akan selalu bersamamu sayang," Emyr mengusap air mata Shanum dengan lembut.
"Ta-tapi wanita itu mengatakan jika Kak Emyr ... "
"Sust! Jangan dengarkan dia. Hati Kakak cuma untukmu seorang, tidak ada wanita lain yang memilikinya selain dirimu."
"Percayalah! Hanya kamu yang Kakak cintai Shanum." Emyr memeluk Shanum lagi.
Shanum masih sesenggukan karena perasaan membuncah di dalam dada. Hatinya masih terasa sesak atas kejadian tadi yang dialaminya. Dan pada akhirnya, dia pun pingsan di dalam pelukannya Emyr.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1