
Meninggalkan Imran kita beralih kepada Emyr.
Emyr saat ini sedang berada di dalam mobil bersama sang papa.
"Kenapa Papa malah ikut naik mobil bersama Emyr. Bukankah Papa bawa mobil sendiri?"
"Memangnya kenapa kalau Papa ikut sama kamu Emyr? Nggak boleh?" ucap papa Hisyam.
"Bukannya begitu. Lalu mobilnya Papa tinggal di sana begitu?"
"Nanti dibawa pulang sama anak buah Papa," jawab papa Hisyam.
"Emm! Kamu sendiri bukankah tadi ijin sama Shanum mau pergi ke kantor. Kenapa malah jadi pergi ke kampungnya Imran?"
"Bagaimana Papa bisa tahu?" tanya Emyr.
"Papa tidak sengaja mendengarnya ketika baru saja keluar dari dalam kamar. Dan Papa sangat penasaran dengan sikap kamu itu. Jadi Papa menyuruh anak buah Papa."
Emyr hanya mengangguk-angguk saja. "Emyr sebenarnya juga tidak ingin pergi ke situ Pa." Ucap Emyr.
"Lalu?"
"Emyr merasa tidak enak saja sama Dyah. Jadi ya ... Emyr putuskan untuk ke situ untuk mengucapkan rasa belasungkawa."
Papa Hisyam tersenyum tipis. "Huh! Tapi kamu mempermalukan diri kamu sendiri 'kan jadinya."
Emyr tertawa. "Emyr biasa saja Pa. Lagi pula Emyr tidak mengenal mereka. Yang lebih malu tuh si Imran," ucap Emyr.
"Iya! Kamu benar Emyr. Dia bodoh!" kata papa Hisyam.
Meninggalkan Emyr dan papa Hisyam, kita beralih kepada Shanum.
Setelah kepergian Emyr tadi, Shanum terlihat terdiam. Dan mama Mulan yang melihat menjadi penasaran.
"Kamu kenapa Shanum? Suami kamu 'kan cuma pergi ke kantor sebentar." Mama Mulan kira, Shanum sedih karena ditinggal Emyr pergi.
"Bukan itu Ma."
"Lalu?" tanya mama Mulan.
"Shanum ingin makan yang asam-asam," jawab Shanum.
"Oh! Lagi mengidam tho. Mau makan apa? Bilang saja sama Mama."
Shanum langsung menjelaskan jika dia ingin makan sesuatu yang sangat asam sekali. Dan yang membuat harus mama Mulan sendiri.
Mama Mulan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika sudah mendengar Shanum ingin makan apa.
Beberapa saat kemudian, Emyr dan papa Hisyam datang ke rumah dalam keadaan tergesa-gesa.
"Mama! Apa yang terjadi dengan Shanum?" tanya Emyr dengan nafas yang terengah-engah.
Karena pasalnya tadi setelah mama Mulan selesai menyiapkan makanan yang diinginkan oleh Shanum. Shanum malah tidak mau memakannya, dan ingin melihat Emyr dan papa Hisyam yang memakan makanan itu.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya kepada Shanum. Mama Mulan sengaja mengerjai Emyr dan papa Hisyam untuk segera pulang ke rumah.
"Emyr! Cepat pulang Emyr! Shanum ... "
Mendengar suara mama Mulan yang panik seperti itu, tentu saja Emyr menjadi ikutan panik juga. Begitupun dengan papa Hisyam yang sedang bersama Emyr.
__ADS_1
"Shanum kenapa Ma!"
"Cepat kamu pulang! Nanti kamu tahu sendiri!" setelahnya mama Mulan mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Emyr yang merasa khawatir langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang supaya bisa segera sampai di rumah.
Di sinilah Emyr sekarang bersama papa Hisyam dalam keadaan terengah-engah.
"Sayang! Kamu kenapa?" Emyr berjalan mendekati Shanum.
"Ma! Ada apa sebenarnya?" tanya papa Hisyam juga.
"Duduklah dulu Pa, Emyr," kata mama Mulan.
Emyr dan papa Hisyam lalu duduk di sofa seberang mama Mulan dan Shanum.
Saat ini mereka berempat sudah duduk di ruang keluarga dengan dua mangkok cukup besar yang berada di tengah-tengah meja.
"Apa ini Ma?" Emyr menunjuk ke dua mangkok tersebut.
"Itu makanan yang diinginkan sama istri kamu. Tapi dia inginnya kamu sama papa yang makan itu," jelas mama Mulan.
Emyr dan papa Hisyam langsung saling pandang dengan tatapan aneh.
"Ayo dong Baba, Opa. Shanum mau melihat kalian makan itu." Shanum terlihat manja sekali.
Melihat Shanum manja kepada mereka, papa Hisyam dan Emyr mana tega menolaknya.
Emyr mencoba memulai terlebih dahulu. Dia menyendok satu sendok lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Setelah itu ...
"Wleeekk!" Emyr memuntahkannya.
Mama Mulan yang melihat Emyr makan malah memejamkan matanya. Dan ketika mendengar Emyr muntah, langsung membuka matanya kembali.
"Mama tidak mau menjawab sebelum papa mencobanya juga," jawab mama Mulan.
Firasat papa Hisyam mengatakan ada yang tidak beres. Apalagi ia sudah melihat Emyr memuntahkan makanannya tadi.
"Ayo Pa cobain juga. Biar Papa tahu bagaimana rasanya," Emyr menahan suara tawanya.
"Bolehkah Papa menyerah saja Shanum?"
Shanum langsung menggelengkan kepalanya kepada sang papa mertua.
Dengan gerakan kaku, perlahan-lahan papa Hisyam mencoba mencicipi sedikit makanan tadi, lalu dia masukkan ke dalam mulutnya.
Wajah papa Hisyam langsung berubah sangat jelek sekali, sebab rasanya benar-benar sangat super asam.
"Astaghfirullah! Ini makanan apa?" ucap papa Hisyam setelah meminum satu gelas air putih.
Emyr yang melihat sang papa akhirnya langsung tertawa puas.
"Itu asinan mangga muda, di campur sama belimbing wuluh muda yang super segar Pa. Enak 'kan rasanya?" bukan mama Mulan yang menjelaskan, akan tetapi Shanum sendiri.
Mata papa Hisyam dan Emyr langsung melotot sangat lebar sekali.
"Ayo Pa, Baba! Habiskan ya. Kasihan mama sudah capek membuatkan makanan ini untuk kalian."
"Iya! Ayo cepat habiskan! Mama juga sudah capek beli buah mangga dan belimbing wuluh nya di supermarket. Cepat makan!"
__ADS_1
Mendengar titah dari mama Mulan dan Shanum. Papa Hisyam dan Emyr tidak kuasa menolaknya.
Walau tidak enak, karena rasanya sangat asam sekali, tapi Emyr dan papa Hisyam mencoba memakannya lagi sambil memperlihatkan wajah anehnya.
"Sudah sayang! Ampun! Kakak nggak kuat. Sebagai gantinya kamu mau beli apapun akan Kakak berikan!" Emyr tepar sambil bersandar di sandaran sofa.
"Papa juga Shanum. Lebih baik kamu mengidam ingin beli mobil baru, tas branded terbaru, atau membeli saham di perusahaan. Semua itu akan papa berikan, daripada papa harus disuruh makan makanan seperti ini," papa Hisyam ikut mengeluh.
Shanum benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali. Dan dia juga tidak sadar jika dirinya sedang mengidam saat ini.
"Sekarang! Papa sama Kakak cuci piring bekas makan kalian."
"Hah!"
"Kan ada bibi sayang?" ucap Emyr.
"Semua bibi, Shanum suruh pergi ke mall untuk jalan-jalan, Kak"
Emyr dan papa Hisyam langsung mengalihkan pandangannya kearah mama Mulan. Dan mama Mulan menganggukkan kepalanya kepada mereka berdua.
Mau bagaimana lagi. Karena tidak ada bibi di rumah, akhirnya Emyr dan papa Hisyam lah yang mencuci mangkok serta sendok bekas makan mereka sendiri.
Sedangkan Shanum yang masih duduk bersama mama Mulan, tidak sengaja melihat tas yang dibawa oleh sang mama mertua.
"Ma! Itu tas baru ya? Ko Shanum tidak pernah lihat?" Shanum menunjuk tas yang ada di sebelah mama Mulan.
"Iya! Ini baru beli kemarin, Shanum," jawab mama Mulan.
"Boleh lihat nggak Ma."
Mama Mulan langsung memberikan tasnya kepada Shanum. Namun, mata mama Mulan dibuat melotot ketika melihat Shanum mengendus dan mencium seluruh permukaan tasnya. Bahkan di dalam tasnya juga.
"A-apa yang kamu lakukan Shanum? Bila kamu mau tasnya, ambil saja."
"Nggak mau Ma! Pasti mahal ya harganya?" ucap Shanum.
"Nggak mahal ko, cuma lima ratus juga saja."
Shanum tentu saja merasa terkejut mendengar harga tas milik mama Mulan. "Mahal sekali Ma!" ucap Shanum sambil mencium tasnya.
Emyr yang sudah selesai cuci piring bersama papa Hisyam, sekarang mereka malah diperlihatkan sikap aneh Shanum, dan itu membuat mereka berdua merasa heran sendiri. "Apalagi sekarang? Kenapa dia mencium tas seperti itu. 'Kan lebih enak menciumku!" gerutu Emyr.
"Sepertinya istrimu gila, Emyr!" mata Emyr melotot kepada sang papa. Namun papa Hisyam malah cuek saja.
"Kamu kenapa sayang? Suka sama tasnya mama?" tanya Emyr sambil duduk di sofa yang tadi dia duduki.
"Nggak! Shanum nggak suka sama tasnya Mama. Hanya saja Shanum suka aroma tas barunya. Aromanya enak."
Mama Mulan, Emyr dan papa Hisyam terbengong mendengar ucapannya Shanum.
"Papa sudah sering mendengar cerita dari teman-teman Papa yang mempunyai menantu atau anak perempuan yang mengidam aneh-aneh. Sekarang Papa mengalaminya sendiri," gerutu papa Hisyam.
"Ayo Ma, Pa, Baba. Kita pergi ke toko tas!"
"Mau beli tas baru ya Shanum?" tanya mama Mulan.
"Nggak! Shanum cuma ingin mencium aromanya saja," Shanum berujar dengan santainya. Tidak mempedulikan wajah aneh dari ke tiga orang yang ada di depannya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...