JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
IMRAN MASIH CEMBURU


__ADS_3

Sebentar-sebentar, kita bahas Imran dulu ya. Rasanya belum afdol, iya 'kan! Wkwkwk.


Imran yang pergi dalam keadaan marah dari rumah Shanum, tempat yang dia tuju bukanlah rumahnya, melainkan rumah sang adik, yaitu Dyah.


Dyah yang saat itu sedang menidurkan baby Fatiyah cukup terkejut, ketika membuka pintu rumahnya yang datang ternyata sang kakak laki-lakinya.


"Mas Imran!"


Saat ini mereka berdua sudah saling duduk di ruang tamu rumah Dyah, dengan teh yang sudah terhidang rapi di depan Imran.


Melihat dari raut wajah Imran, sebagai adik kandung, Dyah sudah sangat mengetahui jika saat ini sang kakak sedang tidak beres.


"Ada apa Mas Imran datang ke rumah Dyah?"


"Apakah benar! Laki-laki yang tadi datang ke rumah Shanum adalah suaminya?"


Dyah cukup kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Imran. Karena pasalnya yang Dyah tahu, Shanum saat ini sedang berada di rumah Emyr.


"Tadi Mas tidak sengaja jalan-jalan dan melihat rumah Shanum kedatangan tamu. Untuk mengurangi rasa penasaran Mas! Mas memilih mendatanginya dan langsung bertemu dengan suaminya. Apakah benar laki-laki itu suaminya, Dyah!"


Dyah berpikir positif. "Iya benar! Laki-laki itu adalah suaminya, Mas! Namanya mas Emyr. Dia seorang pengusaha yang sangat kaya raya!"


Antara yakin dan tidak yakin Dyah menjawab seperti itu kepada Imran. Namun, Dyah meyakinkan dirinya sendiri, jika jawabannya itu adalah benar.


"Kemarin Dyah sudah pernah berkata kepada Mas! Jika mbak Shanum sudah menikah dengan laki-laki tampan, mapan dan juga kaya. Iya itulah orangnya," ucap Dyah lagi.


"Kenapa! Kenapa Mas tanya seperti ini kepada Dyah?"


"Apa Mas merasa kalah saing dengan laki-laki itu? Atau Mas merasa cemburu?" Dyah tersenyum mengejek kepada Imran.


"Jaga ucapan kamu, Dyah!"


"Hah!"


"Terlihat jelas Mas, bagaimana perasaan Mas saat ini kepada mbak Shanum."


Tanpa banyak berbicara dan tidak menjawab satu patah kata pun dari Dyah. Imran pun langsung memilih pergi tanpa meminum teh yang sudah dibuatkan oleh Dyah.


Imran berlalu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Imran langsung disambut hangat oleh Linda.


"Mas Imran sudah pulang? Ayo kita makan Mas! Linda sudah masak spesial untuk Mas," ucap Linda dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Imran mendorong sedikit kasar tubuh Linda. "Jangan menyentuh Mas!"


"Kenapa memangnya Mas? Mas itu kenapa? Pulang-pulang ko marah-marah?" Linda masih berusaha sabar.

__ADS_1


Imran lalu tersadar, jika tidak semestinya dirinya meluapkan amarahnya kepada Linda.


"Maafkan Mas! Mas sedang banyak pikiran."


Linda mengusap lembut dada Imran. "Iya tidak apa-apa! Lebih baik Mas mandi dulu. Biar pikirannya sedikit fresh!"


Imran hanya mengangguk saja. Dia pun langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Setelah mandi, Imran langsung menuju ke ruang makan. Di ruang makan, Linda sudah menunggunya dengan manis.


"Ayo Mas duduk. Mau makan yang mana? Biar Linda ambilkan."


"Yang itu saja," Imran menunjuk menu makanan yang ingin dimakannya.


"Sama ini juga ya! Biar bisa menambah ffiitaliitass untuk Mas."


Imran cuma mengangguk, dan menerima piringnya dengan tenang. Imran dan Linda lalu menikmati makanan itu dengan santai serta diselingi perbincangan hangat.


Namun tiba-tiba Imran marah lagi tidak jelas. "Apa-apaan ini Linda!"


Linda tentu saja merasa kebingungan. "Apa maksudnya Mas!"


"Kenapa kamu masak rasanya hambar begini! Tidak enak!" Imran membanting sendok sangat kasar di atas meja.


"Hambar bagaimana? Menurut Linda masakannya pas. Ini enak ko!"


Tentu saja Linda tidak mau disamakan dengan Shanum. "Linda tidak suka disamakan dengan Shanum ya Mas! Ini Linda! Bukan Shanum!"


"Jika Mas mau dimasakan sama Shanum! Sana! Balikan lagi saja sama dia!"


"Jika itu bisa Mas lakukan! Mas akan melakukannya dan memilih menceraikanmu!"


"Nyesel rasanya Mas dulu memilih kamu daripada Shanum. Bahkan sampai sekarang pun kamu tidak kunjung hamil juga!"


Setan apa yang sudah merasuki Imran. Sehingga membuatnya mudah marah dan melampiaskannya kepada Linda.


Jika dulu Imran marah-marah karena terkena hasutan ibu Mu'idah. Tapi sekarang dia marah-marah karena sikap Linda itu sendiri dan rasa penyesalan di dalam hati.


Ingin sekali Linda membalas ucapan Imran. Namun atensinya tiba-tiba teralihkan kearah ibu Mu'idah yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Apa kalian bertengkar lagi? Kenapa suara kalian sampai terdengar di depan!"


"Anak Ibu yang selalu membanding-bandingkan Linda dengan Shanum!"


"Linda sudah capek-capek masak. Tapi mas Imran tidak mau menghargainya sama sekali," Linda seperti mengadu kepada ibu Mu'idah.

__ADS_1


"Imran! Kenapa kamu begitu Nak! Hargai Linda dong. Dia 'kan sudah capek memasak untukmu."


"Apakah dulu Ibu juga menyuruh Imran untuk menghargai masakannya Shanum?"


Jleb! Ibu Mu'idah terdiam. Dia tidak bisa berbicara apa-apa.


"Karena Ibu dan Linda! Imran harus kehilangan Shanum! Bahkan dia saat ini sudah menikah dengan pengusaha kaya raya dan juga mapan. Apa kalian tidak menyesal sekarang, karena kehidupan Shanum sudah jauh lebih segalanya dari kita!"


"Halah! Palingan si Shanum sudah menjual tubuhnya sama pengusaha itu!"


Plak! Suara tamparan mendarat sempurna di pipi Linda. "Jaga ucapan kamu Linda! Shanum bahkan jauh lebih baik dari kamu!"


"Mas tidak mau lagi mendengarmu menjelekkan Shanum!" Imran terlihat mengancam Linda.


"Jangan bilang jika Mas masih mencintainya! Iya!"


"Mas menyuruh Linda untuk berubah, tapi Mas sendiri malah tega menyakiti Linda! Dasar laki-laki baajiingaan!"


Linda langsung mendorong tubuh Imran sangat kasar dan lalu pergi dari dalam rumah dengan mengendarai mobilnya entah ke mana.


Sekarang! Tinggallah Imran dan ibu Mu'idah saja di dalam rumah. "Apa benar yang kamu bicarakan itu Imran? Jika Shanum sudah menjadi orang kaya raya sekarang?"


"Iya! Memangnya Ibu mau apa!" jawab Imran.


"Apa Ibu mau memerasnya untuk memberikan uang kepada Ibu!"


"Jika itu yang mau Ibu lakukan! Tanyakanlah saja sama Dyah. Dia yang lebih tahu semuanya."


"Dyah!"


"Iya! Karena selama ini Dyah masih berhubungan baik dengan Shanum!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Imran pun lalu pergi lagi dari dalam rumah meninggalkan sang ibu sendirian. Pikirannya saat ini benar-benar sedang kalut dan sangat sumpek sekali.


Seberapa kuat Imran melawan rasa kalut di dalam dirinya. Dia tetap tidak akan bisa merubah kenyataan, jika istrinya sekarang adalah Linda, bukanlah Shanum. Dan Shanum sekarang sedang berbahagia dengan kehidupannya saat ini.


Ibu Mu'idah yang ditinggal sendirian di dalam rumah. Dia pun ikut pergi dan menutup pintu rumah Imran dengan rapat.


Ibu Mu'idah ingin segera mengunjungi Dyah untuk memastikan kebenaran tentang Shanum. Entah kenapa mendengar Shanum sudah sukses menjadi orang kaya karena menikah dengan Emyr. Hatinya merasa tidak rela dan juga tenang. Itulah sebagian sifat manusia, yaitu iri dan dengki.


Dalam surah An-Nisa ayat 32 sudah dijelaskan tentang iri dan dengki.


“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."


Semoga kita semua dijauhkan dari sifat tercela ini. Aamiin-Aamiin yaa robbal 'alamin.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2