
Tidak cuma Laila saja yang jantungnya sedang berdebar-debar. Nasir pun sama halnya dengan Laila. Dia merasa malu dan salah tingkah ketika melihat wajah Laila. Ada rasa di dalam hati Nasir ketika melihat wajah manis Laila.
"Nasir! Ayo sini Nak! Kenalan dulu dengan Neng Shanum dan Neng Laila."
Nasir langsung melangkahkan kakinya mendekati nenek Khadijah dan lalu duduk di sofa yang tadi dia duduki.
Nasir sendiri masih berumur sekitar tiga puluh dua tahun. Dan dia juga belum punya istri, sama seperti Emyr. Karena dia lebih memilih sibuk bekerja daripada sibuk mencari calon istri.
"Neng Shanum, Neng Laila. Perkenalkan, ini anak Nenek, namanya Nasir."
Shanum dan Laila langsung menganggukkan kepalanya kepada Nasir.
"Shanum, Mas Nasir."
"Saya Laila, Mas."
"Nasir." Nasir terlihat terus mencuri pandang ke arah Laila. Dan Emyr justru sebaliknya. Dia curi-curi pandang dengan Shanum.
"Sudah tiba waktunya makan siang. Sana Nek, siapkan dulu makanannya. Biar kita bisa segera makan siang."
Nenek Khadijah pun langsung siap ingin menyiapkan makanan yang sudah ia masak.
"Shanum bantu ya Nek," ucap Shanum.
"Laila juga Nek," ucap Laila ikut-ikutan.
"Ayo sini. Nenek jadi senang ada yang bantuin."
Mereka bertiga lalu menuju ke dalam ruang makan untuk mengeluarkan semua masakan yang sudah dimasak oleh nenek Khadijah tadi.
Kakek Idris sengaja mengajak makan di ruang tamu dengan menggelar tikar di lantai. Supaya kedekatan mereka semua terjalin bisa lebih akrab lagi.
Walau Emyr baru pertama kali makan bersama seperti itu, tapi dia bisa mengikutinya tanpa ada rasa sungkan sama sekali.
Emyr sebenarnya tidak ada rencana ingin ikut Nasir ke kampungnya. Hanya saja dia sedang tidak ingin bekerja dan ingin liburan sejenak, sekaligus untuk merilekskan otaknya dari permintaan ke dua orang tuanya yang sudah ingin melihatnya menikah.
Tidak tahunya, hati Emyr tergerak ingin ikut Nasir ke kampung halamannya. Dan kampung halaman Nasir membuat Emyr langsung jatuh hati untuk pertama kalinya.
Setelah makanan sudah terhidang semua di tengah-tengah mereka beserta minumannya juga. Entah kebetulan atau tidak, Emyr dan Shanum bisa duduk saling bersebelahan. Bahkan ketika mereka ingin menyendok nasi, tangan mereka bisa mengambil secara bersamaan.
Laila, Nasir, kakek Idris, dan juga nenek Khadijah tersenyum melihat kejadian manis yang terjadi di depan mata mereka.
__ADS_1
"Silahkan Anda dulu Nona."
Shanum menganggukkan kepalanya. Dan alangkah terkejutnya Emyr, ternyata Shanum malah menyendokkan nasi untuknya terlebih dahulu. "Apakah nasinya sudah cukup Kakak?"
Emyr yang terbengong karena sikap tidak terduga dari Shanum. Dia langsung menggelengkan kepalanya untuk menetralkan perasaanya. "Eh! Bisa tambah sedikit lagi."
Dengan senang hati, Shanum mengambilkan sedikit lagi nasi untuk Emyr. "Sudah cukup?"
Emyr mengangguk. "Sudah. Terimakasih."
"Apakah mau Shanum ambilkan lauknya juga? Kakak mau makan yang mana?"
Emyr malah terbengong lagi diperhatikan oleh Shanum. Karena baru kali ini dia bertemu perempuan yang perhatian seperti itu kepadanya. Sederhana, tapi terlihat manis menurut Emyr. Biasanya para perempuan yang bertemu dengannya akan memasang wajah sok cantik, sikap manja, dan gelagat tubuh yang tidak Emyr sukai. Tapi dengan Shanum, dia berbeda, apa adanya, dan justru perhatian kecilnya, mampu membuat Emyr terpaku.
Apalagi suara lembut Shanum yang dia ucapkan kepadanya. Membuat jantung Emyr bertalu-talu rasanya.
"Ehem!" Laila sengaja berdeham untuk menyadarkan Emyr.
Emyr langsung tersadar ketika mendengar suara dehaman dari Laila tadi.
"Mas Emyr! Itu mbak Shanum menawari Mas mau makan yang mana? Bilang saja, kapan lagi diperhatikan sama perempuan selembut mbak Shanum."
Dengan kaku, Emyr menunjuk makanan yang tadi dibawa oleh Shanum. Tanpa sungkan dan tidak ada maksud apa-apa, Shanum pun mengambilkan makanan yang ditunjuk oleh Emyr.
Emyr refleks menggelengkan kepalanya. "Tidak. Terimakasih. Kamu makanlah saja, nanti saya mengambil sendiri."
Shanum hanya mengangguk dan tersenyum tipis dibalik niqabnya. Dan mereka semua lalu makan siang bersama untuk pertama kalinya sambil berbincang santai.
Emyr pertama kali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dia langsung merasa cocok dengan masakannya Shanum. "Masakannya enak," ucap Emyr di dalam hatinya. Dan tanpa sadar pun Emyr sangat lahap sekali makannya.
"Sepertinya, Nak Emyr ini menyukai masakannya neng Shanum."
Mendengar godaan dari kakek Idris, Emyr langsung tersedak. Berhubung Shanum yang duduk di sebelahnya, dia langsung memberikan segelas air putih kepada Emyr sambil menepuk punggungnya.
Emyr menengguk segelas air putih itu langsung sekali tegukan sambil melirik ke arah Shanum. Mereka berdua sudah terlihat seperti sepasang suami istri yang mesra.
"Apakah sudah lebih baik? Mau minum lagi?"
Emyr menggelengkan kepalanya, dan memberikan gelas kosong tadi kepada Shanum.
"Kalian terlihat mesra sekali, padahal baru saja bertemu. Apa tidak lebih baik kalian berdua menikah saja?"
__ADS_1
Mata Shanum langsung melotot sangat lebar sekali kepada Laila yang sudah berani menggodanya seperti itu.
"Emm! Maafkan saya Kak Emyr yang sudah lancang ... "
Emyr menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Saya mengerti. Jika saya berada diposisi kamu pasti saya juga akan bertindak refleks sepertimu tadi."
Shanum merasa senang, karena Emyr mengerti maksudnya, dan dia menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi jika Mas Emyr mau menikah dengan mbak Shanum, saya setuju saja Mas. Siapa tahu mbak Shanum belum ada yang punya dan memang jodoh yang selama ini Mas cari?" Nasir ikut-ikutan menggoda Emyr.
Sedangkan kakek Idris dan nenek Khadijah hanya tersenyum saja. Karena itu urusan anak muda. Sebab dulu mereka sudah pernah muda dan tahu bagaimana situasi yang sedang merasa hadapi saat ini.
Emyr yang digoda oleh Nasir untuk pertama kalinya, dia langsung menatap Nasir dengan tatapan tajamnya. Tapi Nasir kali ini bukannya takut, malah tertawa dengan senang.
"Atau biar mereka bersatu, kenapa tidak kalian berdua saja dulu yang menikah, Nak?"
Mata Laila, dan Nasir langsung melotot sangat lebar ketika mendengar godaan dari nenek Khadijah.
"Ibu! Kenapa Ibu bicara seperti itu. Nanti jika kekasihnya neng Laila dengar bisa marah."
"Tenang saja Mas Nasir. Laila ini masih jomblo ko. Jomblo abadi sejak lahir."
"Shanum!" Laila menggertakan giginya merasa malu dengan Nasir.
Di dalam hati, Nasir ketika mendengar jika Laila masih jomblo, entah kenapa dia merasa sangat senang sekali.
Sedangkan Shanum yang berhasil menggoda Laila balik, dia tertawa dibalik niqabnya. Dan tidak tahu kenapa, Emyr senang mendengar suara tawa Shanum.
Saking senangnya Shanum melihat Laila bisa tersipu malu seperti saat ini, dirinya sampai tidak sengaja menyenggol segelas air minum yang ada di depannya. Alhasil air minum itu tumpah dan mengenai celana yang dipakai oleh Emyr.
Shanum sekali lagi refleks mengusap celana Emyr bahkan menggunakan gamis panjangnya.
"Maafkan saya! Saya tidak sengaja Kakak!"
"Tidak apa-apa! Ini cuma kain, nanti bisa kering sendiri."
Ketika Shanum mendongak menatap wajah Emyr. Wajah mereka bisa berhadapan sangat dekat sekali hingga mata Emyr tidak bisa berkedip ketika melihat mata Shanum.
Pandangan mereka terputus ketika nenek Khadijah memberikan sebuah kain untuk mengelap tempat yang basah itu.
Hah! Jadi canggung! Authornya pun jadi ikut-ikutan canggung melihat interaksi antara Emyr dan Shanum.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...