
Baru sepuluh menit berada di dalam kamar pribadi yang ada di rumah mereka, akhirnya Shanum terbangun dari pingsannya. Emyr yang baru saja keluar dari dalam ruang walk in closet langsung melihat Shanum sudah duduk dari rebahannya.
Emyr pun bergegas mendekati Shanum. "Sayang! Kamu sudah sadar?"
"Kita sudah ada di rumah ya Kak?"
Emyr mengangguk. "Iya! Kita sudah berada di dalam kamar kita sayang."
"Tadi 'kan kita ... "
Emyr menggenggam tangan Shanum dan menyela ucapannya. "Iya! Tadi kita memang berada di kamar pribadi Kakak yang ada di kantor."
"Tadi kamu pingsan lagi, jadi ya lebih baik Kakak bawa kamu pulang ke rumah saja."
Tadi! Ketika Emyr melihat Shanum pingsan dipelukannya, Emyr pun menjadi terkejut dan sangat ketakutan. Akan tetapi di saat dia menelpon dokter pribadinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sang dokter menyarankan untuk membawa Shanum ke tempat yang nyaman. Dan pikir Emyr, tempat ternyaman untuk Shanum saat ini ya kamar mereka.
Emyr yang keluar dari dalam lift sambil menggendong Shanum, membuat para staf kantornya yang melihat menatapnya aneh. Akan tetapi Emyr tidak peduli. Sesuai dengan perintah Emyr, Kevin pun langsung memegang kendali selama Emyr tidak berada di perusahaan.
Di sinilah mereka sekarang, sudah berada di dalam kamar pribadi mereka yang ada di rumah.
"Apakah kamu membutuhkan sesuatu sayang? Atau mau makan malam di luar sama Kakak?" ucap Emyr.
"Sebentar lagi pesta resepsi pernikahan kita Kak, lebih baik kita bersantai saja di rumah. Karena Shanum yakin, nanti kita akan sibuk."
Emyr tersenyum tipis. "Baiklah! Kakak menurut sama Baginda Ratu."
Shanum tertawa ketika dipanggil Ratu oleh Emyr. Emyr yang melihatnya langsung mengucapkan sesuatu di dalam hatinya. "Kakak berjanji akan selalu menghadirkan tawa itu di wajahmu sayang."
"Kamu mandi dulu sana sayang, sudah hampir sore. Ayo! Kita sholat ashar berjamaah."
Shanum mengangguk saja. Dia pun langsung berlalu menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi sore.
Baru saja Shanum pergi dari hadapannya, tiba-tiba ponsel Emyr berdering. "Iya! Bagaimana?"
"Kami sudah sampai Tuan, semuanya mau ditaruh di mana?" ucap seseorang diseberang telepon.
"Turunkan di situ saja, nanti biar dibawa masuk sama anak buah saya," ucap Emyr.
"Baik Tuan Emyr." Dan setelah itu sambungan teleponnya terputus.
Shanum yang sudah selesai mandi, langsung mengajak Emyr sholat ashar berjamaah. Keadaannya sudah berangsur membaik berkat Emyr yang selalu memberikan kenyamanan di hatinya. Walau Shanum masih merasa takut, bila suatu saat ada yang menghinanya lagi. Mau tidak mau, Shanum harus menghadapinya, apalagi sekarang dia menjadi istri dari orang kaya dan berpengaruh seperti Emyr.
Meninggalkan Shanum dan Emyr. Kita berkunjung ke rumah Imran sebentar.
Imran yang baru saja sampai rumah setelah bekerja, tidak menemukan Linda sama sekali di dalam rumah.
__ADS_1
Baru melepaskan baju di dalam kamar, telinga Imran mendengar ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Imran pun lalu keluar untuk melihat siapakah orang tersebut. Yang ternyata adalah Linda dengan membawa cukup banyak paper bag di tangannya.
"Mas sudah pulang? Nih! Lihatlah! Linda sudah beli banyak baju untuk kita berdua. Pasti cocok untuk Mas!" Linda terlihat bahagia sekali.
"Kamu seharian tadi apa memborong mall, Linda!"
"Maaf Mas! Habisnya Linda khilaf. Nih! Cobain Mas."
"Kamu kenapa membeli pakaian sebanyak ini Linda?" tanya Imran.
"Lho! Kita harus tampil menawan dong Mas di acara pernikahan mantan istri kamu!"
"Linda tidak mau nanti kelihatan kumel dan kucel seperti mantan istri kamu itu!" ucap Linda lagi.
"Hmm! Pokoknya besok sebelum berangkat, aku harus perawatan muka, dan seluruh tubuhku!" gerutu Linda.
Imran yang melihat merasa geram sendiri. "Kamu datanglah sendiri sama ibu! Mas tidak mau ikut!"
Linda yang sedang merasa bahagia langsung menegur Imran. "Tidak! Pokoknya Mas harus ikut. Kita harus perlihatkan kepada mereka, jika rumah tangga kita baik-baik saja dan bahagia."
"Mas tidak mau! Jika kamu ingin mempermalukan diri kamu sendiri datanglah sendiri!" Imran langsung berlalu pergi dari hadapan Linda.
"Mas! Mas Imran!"
Imran tetap tidak peduli, dia terus melangkah pergi menjauhi Linda.
Keesokan paginya. Ketika Shanum dan Emyr yang baru selesai sarapan, pandangan mata mereka teralihkan oleh kedatangan orang yang sangat mereka kenal, siapa lagi jika bukan mama Mulan dan papa Hisyam.
"Mama! Papa!"
Shanum dan mama Mulan langsung berpelukan ala perempuan. Sedangkan Emyr hanya menyalami sopan ke dua orang tuanya saja.
"Mama sama Papa pagi sekali sampai sini nya?" tanya Shanum.
"Iya! Mama sama Papa semalam melakukan penerbangan, biar cepat sampai di sini. Besok 'kan pesta resepsi pernikahan kalian berdua." Ucap mama Mulan.
"Emyr!"
"Iya Pa!" jawab Emyr.
"Ayo ikut Papa sebentar."
Emyr hanya mengangguk saja. Lalu dia beranjak berdiri mengikuti langkah kaki sang papa.
"Sudah biarkan mereka saja, itu urusan laki-laki."
__ADS_1
Shanum hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu dia pun mengobrol membahas pernikahan dengan mama Mulan.
"Oh ya! Rasanya Mama belum pernah melihat itu sebelumnya di sini? Apakah vas bunga itu milikmu Nak?" mama Mulan menunjuk vas bunga yang ada di samping telepon.
Shanum tersenyum malu. "Itu vas bunga milik Shanum, Ma! Kata Kak Emyr, Shanum boleh menaruh barang-barang Shanum di manapun yang Shanum suka."
Mama Mulan terlihat antusias mendengar cerita Shanum. "Oh ya!"
Shanum mengangguk. "Iya Ma! Kemarin kak Emyr memberikan kejutan kepada Shanum, dengan mengambilkan semua barang-barang milik Shanum yang ada di rumah nenek Shanum, dan rumah kontrakan yang di sebelah rumah orang tuanya mas Nasir."
Mama Mulan terlihat senang mendengarkan cerita Shanum. Dia mencoba menjadi ibu mertua yang baik untuknya. Supaya Shanum selalu nyaman dan semakin dekat dengannya.
Shanum terus bercerita dan selalu mendapatkan respon positif dari mama Mulan. Hal itu membuat Shanum menjadi nyaman untuk terus melanjutkan ceritanya.
Sedangkan beralih ke Emyr dan papa Hisyam yang saat ini sudah berada di ruang kerja milik Emyr.
"Emyr! Apakah kamu sudah melakukan tindakan tegas kepada Siska?"
"Papa tahu?"
Papa Hisyam mengangguk. "Iya! Papa tahu semuanya. Itulah sebabnya Papa melakukan penerbangan semalam untuk melihat kondisi Shanum. Apalagi Kevin mengatakan jika Shanum sempat syok dan pingsan."
"Emyr sudah melakukan tindakan yang tegas kepadanya, Pa. Emyr juga sudah memasukkannya ke dalam penjara. Jika dirasa Papa kurang tegas sikap Emyr, lakukanlah saja apa yang Papa suka kepadanya."
"Sekarang Papa tenanglah. Shanum sudah baik-baik saja. Dia cuma butuh kita di sampingnya, dan tolong jangan menyinggung apapun kepadanya."
Papa Hisyam menepuk pelan pundak Emyr. "Papa percaya kepadamu. Dan Papa juga tidak akan tinggal diam jika ada seseorang yang berani macam-macam dengan keluarga kita, Emyr."
"Pastikan besok penjagaan untuk tamu yang datang harus ketat. Karena Papa ingin acara besok berlangsung dengan lancar tanpa hambatan apapun."
Emyr mengangguk. "Baik Pa!"
"Baiklah! Ayo kita bergabung lagi dengan mama kamu dan Shanum. Jangan membuat Shanum merasa curiga kepada kita."
"Siap Pa!" ucap Emyr.
Mereka berdua lalu bergabung kembali dengan Shanum dan mama Mulan. Apa yang dilakukan oleh mama Mulan sebenarnya untuk membantu Shanum menghilangkan rasa trauma yang dialaminya.
Mama Mulan tidak mau, jika Shanum akan terus terpuruk meratapi masa lalunya yang sangat menyayat hati itu.
Begitupun dengan papa Hisyam. Dia juga ingin menjadi papa mertua yang baik. Supaya Shanum tidak merasa sungkan kepadanya jika ingin meminta tolong.
Walau Shanum tidak mempunyai keluarga lagi di dunia ini, akan tetapi masih banyak yang menyayanginya dan melindunginya. Dan esok hari adalah hari spesial yang sudah ditunggu oleh Emyr, terutama mama Mulan yang ingin merayakan pesta pernikahan sang anak sejak dulu.
Karena Emyr anak satu-satunya di keluarga Saddam, bisa dijamin, pesta pernikahan Emyr dan Shanum pasti akan digelar dengan sangat super mewah sekali oleh mama Mulan dan papa Hisyam.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...