JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
MAKAN MALAM


__ADS_3

Sekitar jam setujuh malam, Emyr yang sudah selesai sholat maghrib dan mengaji, saat ini mencoba ingin memanggil Shanum yang ada di dalam kamarnya.


Sesampainya di depan pintu kamar Shanum, gerakan tangan Emyr yang ingin mengetuk pintu tiba-tiba terhenti, karena dia mendengar suara seorang yang sedang mengaji.


Emyr terdiam, karena dia sedang mendengarkan suara Shanum yang sedang mengaji. Mendengar jika Shanum sudah selesai mengajinya, Emyr pun langsung mengetuk pintunya.


"Shanum! Shanum!"


Shanum yang baru saja selesai mengaji langsung menatap kearah pintu kamarnya. "Iya!"


Shanum langsung berjalan kearah pintu dengan mukena yang masih dia pakai dan al-qur'an kecil yang masih dipegangnya.


Bukan penampilan cantik yang membuat Emyr terpesona melihat Shanum. Melihat Shanum masih memakai mukena, tidak lupa niqabnya yang baru saja dia pakai, serta Al-qur'an yang dipeluknya. Hati Emyr merasa hangat dan matanya menunjukkan rasa kagum kepada Shanum.


"Ada apa Kak Emyr mencari Shanum?"


Lamunan Emyr buyar ketika Shanum berbicara. "Eh! Itu! Ayo kita makan malam dulu."


Shanum cuma mengangguk saja kepada Emyr. "Shanum mau melepaskan mukena ini dulu ya Kak."


Gantian Emyr yang mengangguk. "Kakak tunggu di ruang makan ya?"


Ketika Emyr berbalik badan ingin melangkah pergi, Shanum tiba-tiba mencegahnya. "Ada apa Shanum?"


"Emm! Shanum tidak tahu di mana ruang makannya. Rumah Kak Emyr membuat Shanum pusing." Shanum malu-malu ketika berbicara seperti ini.


Emyr yang mendengar malah tertawa terbahak-bahak. Menurutnya, Shanum sangatlah lucu dan juga terlalu jujur.


"Baiklah! Kakak akan menunggu di sini. Cepatlah lepaskan mukena kamu dulu."


Shanum mengangguk, dia langsung segera melepaskan mukenanya, supaya Emyr tidak menunggunya terlalu lama.


Sekitar lima menit kemudian, Shanum yang sudah selesai melepaskan mukenanya, dia pun langsung menemui Emyr yang masih menunggunya di depan kamar.


"Ayo!"


"Engh! Apakah mama dan papa belum pulang Kak?" tanya Shanum.


"Mungkin sebentar lagi. Tadi katanya sedang perjalanan pulang."


Shanum hanya mengangguk saja. Mereka berdua terus berjalan menuju ke ruang makan rumah Emyr. Di dalam ruang makan itu, Shanum lagi-lagi terpukau melihat ruangannya.


"Bahkan ruang makannya lebih besar dari rumahku!"


Emyr tersenyum mendengar gerutuannya Shanum. "Nanti rumah ini juga akan menjadi milikmu ko Shanum."


"Hah!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa! Ayo mari makan!" ucap Emyr.


"Makanannya banyak sekali. Masyaallah, alhamdulillah."


Emyr sedikit terkejut melihat Shanum seperti ingin menangis. "Eh! Kenapa kamu mau menangis Shanum?"


"Shanum baru pertama kali ini bisa melihat makanan sebanyak dan seenak ini Kak, tanpa bersusah payah terlebih dahulu. Selama ini makanpun Shanum pas-pasan, dan kalau tidak bekerja Shanum tidak bisa makan."


Tes!


Tanpa sadar air matanya menetes membasahi niqab. Emyr yang melihat hatinya begitu sakit sekali.


Shanum terlihat seperti melamun. "Bahkan dulu sebelum Shanum menikah dan cuma tinggal dengan nenek. Selama satu minggu Shanum dan nenek cuma makan singkong rebus saja yang nenek tanam dipinggir rumah. Karena kami tidak punya uang sama sekali." Shanum langsung menunduk menyembunyikan kesedihannya sambil mengusap air matanya.


Hati Emyr terenyuh dan tidak menyangka, jika Shanum begitu tidak berdaya melawan kehidupan nyata yang ada di depan mata.


"Setidaknya, Shanum masih bersyukur karena bisa makan daripada tidak sama sekali," ucap Shanum lagi.


Shanum yang melihat Emyr menatapnya dengan penuh arti, dia langsung mengalihkan pembicaraan.


"Maafkan Shanum malah curhat sama Kakak. Kakak mau makan yang mana? Mau Shanum ambilkan?"


"Terserah kamu saja Shanum. Apapun yang akan kamu ambilkan untuk Kakak. Kakak akan memakannya."


Shanum hanya tersenyum saja. "Kalau begitu, Kakak makan ini saja. Ini sayuran bagus untuk Kakak, supaya Kakak selalu sehat. Karena Kakak mempunyai tanggung jawab kepada semua pekerja di perusahaan Kakak."


"Sama ini juga dagingnya. Supaya gizi di tubuh Kakak seimbang. Minumnya jangan kopi, kalau ada teh hijau atau jus. Karena itu baik untuk menetralkan kandungan daging di dalam tubuh."


"Setidaknya air putih lebih bagus dan sehat daripada kopi."


Emyr hanya diam saja. Dia merasa tidak salah sudah jatuh cinta dengan seorang perempuan.


Kopi yang ada di sebelah piringnya rencananya memang akan dia minum nanti setelah makan. Sebab dirinya akan lembur malam ini mengerjakan semua pekerjaannya yang sedang menumpuk.


Akan tetapi mendengar ucapan Shanum. Tanpa mau membantah sedikitpun, Emyr menurut saja dengan apa yang diucapkan oleh Shanum.


Shanum. Walau dia seorang janda. Emyr yakin, jika Shanum adalah jawaban dari doa-doa yang dia panjatkan selama ini.


"Apakah Kakak suka makan buah-buahan?"


Dengan ekspresi terpesona, Emyr langsung menganggukkan kepalanya.


"Baguslah! Itu juga bagus untuk kesehatan. Biasakan makan buah terlebih dahulu sebelum makan nasi. Setidaknya sekitar dua puluh atau tiga puluh menit sebelumnya."


"Iya!" jawab Emyr.


"Sudah yuk makan Kak. Maaf! Daritadi Shanum banyak berbicara."

__ADS_1


"Kakak suka!"


"Hah!"


"Kakak suka mendengarmu berbicara daritadi. Dan Kakak merasa seperti sedang diperhatikan oleh seorang istri."


Shanum langsung menunduk. Dia merasa malu mendengar ucapan Emyr. Tapi tidak dia pungkiri, jika dirinya merasa senang mendengarnya.


Mereka berdua lalu makan bersama sambil berbincang santai. Tapi lebih ke dominan Emyr yang bertanya, sedangkan Shanum yang menjawabnya.


Emyr yang biasanya tidak lahap jika makan. Setelah mendengar cerita dari Shanum. Dia langsung merasa bersyukur. Dan Emyr makan dengan lahap dan juga habis.


Ada dua orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Siapa lagi orangnya jika bukan mama Mulan dan papa Hisyam.


Mama Mulan dan papa Hisyam sebenarnya sudah pulang sejak tadi. Hanya saja ketika mereka akan menyusul Emyr dan Shanum di meja makan, malah melihat pemandangan manis antara Shanum dan Emyr.


"Lihatlah Pa! Emyr sepertinya tidak salah memilih calon istri."


Papa Hisyam menganggukkan kepalanya. "Semoga saja Shanum benar-benar wanita yang baik."


"Tentu saja baik Pa! Mama tahu betul siapa itu Yasmin," jawab mama Mulan.


"Ayo Pa!"


"Ke mana?" tanya papa Hisyam.


"Lebih baik kita makan di luar saja. Biarkan mereka menikmati waktu berdua mereka. Kita jangan mengganggunya."


Mama Mulan menarik tangan sang suami untuk segera pergi dari situ sebelum ketahuan Emyr.


Selesai menikmati makan malam, Emyr berpamitan kepada Shanum untuk masuk ke dalam kamarnya. Karena dia ingin segera sholat isya' lalu mengerjakan semua pekerjaannya.


"Jika kamu mau menonton televisi, maaf! Kakak tidak bisa menemani. Karena pekerjaan Kakak sangat banyak malam ini."


Shanum tersenyum dibalik niqabnya. "Iya! Jangan tidur malam-malam Kak. Jaga kesehatan itu yang utama."


Emyr tersenyum. "Terimakasih!"


Shanum hanya mengangguk saja. Setelah itu, Emyr berlalu naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya.


Ketika sudah sampai di lantai atas, Emyr tidak sengaja berpapasan dengan asisten rumah tangganya yang akan turun ke bawah.


"Bi! Apakah mama dan papa belum pulang daritadi?"


"Tuan dan nyonya sudah pulang sejak tadi Tuan Emyr. Hanya saja mereka memilih pergi lagi."


Emyr hanya mengangguk saja. Sedangkan sang asisten rumah tangga tadi langsung berpamitan pergi kepada Emyr.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2