JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KEBERSAMAAN SHANUM-EMYR


__ADS_3

Emyr yang sudah masuk ke dalam kamar, dia langsung tersenyum manis. Bagaimana tidak tersenyum manis, biasanya jika dia pulang ke rumah setelah pulang bekerja tidak ada pemandangan yang menyegarkan mata. Tapi sekarang, dia melihat Shanum sedang ketiduran dengan mukena masih dia pakai dan al-quran masih dipelukannya.


Emyr mendekati Shanum yang saat ini ketiduran di atas sofa. Sesampainya di depan Shanum, Emyr tersenyum sambil mengusap pipi Shanum dengan lembut. Dia mengambil al-qur'an itu untuk dia taruh di atas meja.


Emyr membangunkan Shanum dengan cara menciumnya dengan lembut. Shanum yang terkejut langsung membuka matanya. Melihat Emyr sedang berjongkok di depannya sambil tersenyum, dia langsung merasa lega.


"Kakak! Kenapa Kakak suka sekali mengejutkan Shanum!"


Emyr masih tersenyum dan mengusap pipinya dengan lembut. "Apakah kamu kecapekan sayang?"


"Tidak! Hanya saja tadi muraja'ah sebentar malah ketiduran."


"Muraja'ah itu apa sayang?" tanya Emyr.


"Mengulang bacaan yang sudah dihafalkan Kak. Supaya Shanum tidak lupa," jelas Shanum.


"Apa kamu seorang hafidzah?"


Shanum mengangguk pelan sambil tersenyum. Emyr yang melihat hal itu hatinya merasa bangga sekali.


"Masyaallah!" Emyr langsung membawa Shanum ke dalam pelukannya.


Shanum tiba-tiba melepaskan pelukannya. "Ya Allah! Ini sudah jam berapa? Maaf Kak, Shanum malah ketiduran tadi!"


Shanum seperti takut dimarahi oleh Emyr. Karena itulah yang biasanya dia dapatkan dari Imran, jika dia ketiduran menyambut kepulangannya.


"Hei! Sust! Kakak tidak marah sayang! Kakak bukan Imran!"


Shanum terdiam. Dia lupa, jika suaminya sekarang bukanlah Imran, melainkan Emyr.


"Maaf Kak!" Shanum menunduk sambil meneteskan air matanya.


Melihat Shanum menangis setiap kali teringat dengan masa lalunya, itulah yang membuat Emyr nekat mendatangi Imran dan Linda seperti tadi.


Emyr mendongakkan kepala Shanum. Lalu mengusap air matanya dengan lembut. "Sebegitu besarnya kah rasa trauma yang kamu rasakan sayang?"


Shanum hanya terdiam. Dia terus memandang Emyr dengan tatapan sedihnya. "Mau Kakak panggilkan psikiater ke sini?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Shanum tidak butuh psikiater. Yang Shanum butuhkan cuma Kakak seorang yang selalu setia menemani Shanum."


Emyr langsung memeluk Shanum lagi dengan erat. Dia menyalurkan kekuatannya supaya Shanum merasa tenang.


"Akan Kakak berikan apa yang kamu mau sayang. Tenanglah!" Emyr mengusap punggung Shanum dengan lembut.


"Ini sudah jam tujuh malam lebih, kata bibi kamu belum makan malam. Apakah kamu juga belum sholat isya' sayang?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Lalu! Apakah Kakak sendiri sudah sholat isya'?"


"Kakak sudah sholat ko sayang. Sholatlah dulu, setelah itu kita makan malam bersama yuk. Kakak tadi sudah membelikan sesuatu untuk kamu."


"Apa itu?" Shanum merasa penasaran.

__ADS_1


"Nanti lihat sendiri saja di meja makan," jawab Emyr sambil tersenyum.


"Baiklah! Kalau begitu, Kakak mandi dulu biar bersih dan wangi. Shanum mau sholat sebentar."


"Mau di mandiin lagi dong!" Emyr manja sekali kepada Shanum.


"No! Nanti kita nggak mandi-mandi!"


Emyr tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Shanum dan melihatnya seperti sedang merajuk kepadanya.


"Tapi janji nanti malam lagi ya!"


"Iya!" jawab Shanum sambil berlalu pergi menuju ke dalam kamar mandi.


"Asik! Yeay!"


Shanum menggelengkan kepalanya melihat Emyr sangat kegirangan sekali.


Selesai itu semua, saat ini Shanum dan Emyr baru saja sampai di ruang makan. Shanum menatap senang melihat ada makanan yang belum pernah di makannya.


"Ini apa Kak? Sepertinya enak?"


"Di coba saja. Jika kamu suka nanti akan Kakak belikan lagi."


Shanum benar-benar sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya. Semenjak dia tinggal dengan Emyr. Shanum menjadi bisa makan berbagai makanan yang belum pernah di makannya selama ini.


"Hmm! Enak!"


Shanum mengangguk. "Suka! Ini pertama kalinya Shanum makan ini Kak."


Emyr tertawa. "Habiskan. Asal jangan sama piringnya juga!" canda Emyr.


Shanum pura-pura cemberut ketika digoda oleh Emyr.


Selesai makan, Emyr dan Shanum menghabiskan waktu berdua mereka di atas balkon kamar sambil duduk santai di kursi yang ada di situ.


"Kak!"


"Hmm! Apa sayang?" jawab Emyr sambil memandang lekat wajah Shanum.


"Apakah Kakak benar-benar belum pernah dekat dengan perempuan?"


Emyr menggelengkan kepalanya. "Sama sekali belum. Kakak lebih suka menghabiskan waktu Kakak dengan bekerja dan mempelajari bisnis yang sudah diberikan kepada Kakak."


"Apakah waktu sekolah dulu Kakak tidak pernah dekat sama sekali dengan teman perempuan Kakak?"


Emyr menggelengkan kepalanya lagi. "Kakak lebih suka menyendiri di dalam perpustakaan sambil baca buku. Kenapa memangnya sayang?"


"Iya! Heran saja. Laki-laki super kaya seperti Kakak masa tidak ada satu pun perempuan yang mendekati."


Masih sambil menggenggam tangan Shanum, tapi Emyr mengalihkan pandangannya. "Perempuan yang mendekati Kakak sangat banyak sayang. Apalagi Kakak ini tampan, kaya, kurang apa lagi coba."

__ADS_1


"Sombong sekali!" gerutu Shanum, tapi Emyr malah tertawa.


"Tapi mereka mendekati Kakak cuma karena uang semata," lanjut lagi ucapan Emyr.


"Kakak tahu dari mana jika mereka cuma mendekati Kakak karena uang?"


Emyr menceritakan sedikit kehidupannya dulu yang tidak sengaja pernah mendengar pembicaraan dari para teman-teman perempuannya. Jika mereka mendekatinya cuma karena mengincar uangnya saja.


"Tapi! Apa Kakak tidak takut, kalau Shanum bisa mengincar uang Kakak saja?"


Emyr tertawa. "Jika kamu mengincar uang Kakak. Pastilah kamu tidak akan syok ketika melihat mobil pemberian papa. Dan Kakak yakin, pasti kamu setelah itu akan meminta lebih kepada Kakak atau papa. Tapi apa kenyataannya? Kamu sekarang malah duduk diam di sini bersama Kakak, dan tadi malah tidak mau memberitahukan hal itu kepada Kakak."


Mata Shanum melotot. Dia terkejut ketika Emyr mengetahui kejadian tadi pagi di dalam garasi. "Ba-bagaimana Kakak ... "


"Tahu semua itu?" lanjut Emyr. Dan Shanum mengangguk.


"Di dalam rumah ini ada banyak sekali CCTV sayang, apa kamu tidak menyadarinya. Semua CCTV itu terhubung langsung ke hp Kakak."


"Tadi hampir saja Kakak mau kembali pulang ke rumah. Tapi setelah Kakak menelpon Luluk dan para bibi, mereka mengatakan jika kamu tidak mau membuat Kakak khawatir."


Shanum tersenyum. "Apakah Shanum terlihat kampungan sekali ya Kak?"


"Nggak! Justru Kakak yang merasa minder menikah denganmu!" Emyr mengusap pipi Shanum.


"Kenapa? Shanum ini 'kan seorang janda Kak, apa yang bisa Kakak banggakan dari Shanum?" Shanum merasa bingung.


"Ilmu agama Kakak tidak sedalam ilmu agama kamu sayang. Kakak banyak belajar darimu. Sungguh Kakak masih harus banyak belajar untuk menjadi imam yang baik untukmu."


Shanum tiba-tiba beranjak berdiri dari duduknya. Dia lalu duduk di paahaa Emyr dan Emyr memeluk pinggangnya dengan mesra.


"Itulah yang namanya pasangan Kak. Harus saling melengkapi dan mengingatkan."


"Kakak sudah sangat sempurna menjadi seorang suami. Dan Shanum pun juga merasa bangga menjadi istri Kakak. Jadi! Mari kita melangkah bersama untuk menggapai surga-Nya Allah ya Kak."


Emyr mengangguk semangat. "Kakak tidak salah memilih seorang istri. Kita masuk yuk! Di sini dingin. Kakak butuh kehangatan di dalam. Karena tadi ada yang sudah berjanji kepada Kakak."


Shanum tersenyum malu-malu, lalu berbisik mesra tepat di telinga Emyr. "Ayo! Kita lakukan sampai pagi. Sampai Kakak rasanya ingin mengulanginya terus menerus tanpa henti."


Emyr tertawa terbahak-bahak. "Istri Kakak sudah mulai nakal yah!" Emyr sengaja menggelitik perut Shanum


"Stop Kak! Geli!" Shanum terus menghindar dan tertawa.


Emyr yang kaku, sekarang jadi Emyr yang banyak senyum dan mudah tertawa semenjak kedatangan Shanum di hidupnya.


Shanum yang suka bersedih, sekarang dia mempunyai orang yang bisa melipur lara yang dia rasakan selama ini. Dan pada akhirnya, terjadilah apa yang harus terjadi di antara mereka berdua.


Semoga rumah tangga kalian berdua sakinah, mawadah dan warrahmah. Aamiin.


Jangan lupa likenya ya guys!


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2