
Meninggalkan keterkejutan Emyr. Beralih sejenak ke Imran, Linda dan ibu Mu'idah.
Ketika ibu Mu'idah sedang berbelanja di tukang sayur yang biasanya lewat di depan rumahnya. Dia pun langsung ditanya oleh salah satu tetangganya tentang Imran dan Linda.
"Bu Mu'idah!"
Ibu Mu'idah yang sedang memilih sayur, tentu saja langsung mengalihkan pandangannya kearah ibu tersebut. "Iya Ibu Desi! Ada apa?"
"Bagaimana kabar menantu Ibu, itu si Linda? Apakah sudah hamil?" tanya bu Desi.
"Bukankah pernikahan mereka sudah berjalan sekitar enam bulan ya kalau tidak salah?" ucap ibu-ibu yang lainnya.
Ibu Mu'idah lalu tersenyum. "Belum Ibu-ibu. Doakan saja. Semoga Linda cepat hamil."
"Mungkin si Imran kali Bu yang mandul?" ucap ibu yang satunya lagi.
Ibu Mu'idah langsung merasa tidak suka dengan ucapan ibu tersebut. "Jangan asal berbicara ya Bu! Imran itu tidak mandul. Di keluarga saya tidak ada keturunan mandul."
"Lho! Ibu jangan salah! Laki-laki itu bisa saja mandul. Walau di keluarga ibu tidak ada keturunan mandul, tapi pola hidup dan kebiasaan sangat mempengaruhi sekali Bu!" jawab bu Desi.
"Apalagi Ibu sudah kualat sama mbak Shanum. Bisa saja mbak Shanum mendoakan mas Imran dan mbak Linda tidak mempunyai anak. Ingat Bu! Doa orang teraniaya langsung dikabulkan oleh Allah!" sambung ibu yang lainnya juga.
Sambil menaruh sayuran yang tadi dipilihnya, ibu Mu'idah langsung saja pergi dari tukang sayur tersebut. Karena sudah tidak betah mendengarkan ceramah singkat dari para tetangganya.
Ibu Mu'idah ternyata tidak pulang ke rumahnya, melainkan ke rumah Imran. Imran yang sedang memanasi motor dinasnya dan akan berangkat ke kantor, sedikit terkejut ketika melihat sang ibu datang dengan ekspresi yang sangat tidak enak dipandang.
"Imran! Mana Linda!"
"Ada di dalam Bu! Ada apa memangnya?"
Ibu Mu'idah tanpa banyak menjawab ucapan Imran, dia langsung saja masuk ke dalam rumah, dan melihat Linda sedang menyapu rumah.
Imran yang sangat penasaran lalu mengikuti langkah kaki sang ibu yang ingin menemui Linda.
"Linda!"
"Iya! Ada apa Bu?" jawab Linda sambil terus menyapu.
"Kamu sudah hamil belum? Kalian menikah sudah sekitar enam bulan, kenapa Ibu belum mendengar kabar baik dari kalian?" ibu Mu'idah menunjuk Imran dan Linda secara bersamaan.
"Belum. Linda belum hamil Bu." jawab Linda.
__ADS_1
"Kenapa bisa kamu belum hamil Linda! Apa jangan-jangan kamu juga mandul seperti Shanum!"
Linda tentu saja tidak terima dikata mandul oleh ibu Mu'idah. "Hei Bu! Jangan sembarangan ya kalau berbicara. Jika sapu ini tidak mau melayang ke mulut Ibu yang kasar itu!" Linda mengacungkan gagang sapu yang dipegangnya.
Jika Shanum di kata seperti itu, dia cuma bisa menunduk dan menangis, tapi berbeda dengan Linda. Dia berani dan tidak mau ditindas sama ibu Mu'idah.
"Lalu! Kalau bukan mandul, apa namanya?"
"Ibu apa lupa. Dua bulan mas Imran tidak bisa ngapa-ngapain karena kecelakaan. Lalu selama satu bulan, Linda harus sibuk ini dan itu, karena toko Linda sedang ramai dan Linda malah sibuk mengurus mas Imran. Apa Ibu tidak sadar akan hal itu. Padahal selama ini, Ibu juga ikut menikmati hasil dari toko Linda. Jangan macam-macam sama Linda ya Bu. Atau sini kembalikan uang yang sudah Linda berikan sejak sebelum Linda menikah dengan mas Imran. Jika ditotal semuanya, bisa lebih dari lima puluh juta!"
Ibu Mu'idah langsung terdiam. Dia seperti kalah telak mendengar ancaman Linda. Sedangkan Imran hanya diam saja dengan pikiran yang sudah stres sekali.
"Sudah cukup!" akhirnya, Imran ikut buka suara juga.
"Aku sudah capek mendengar pertengkaran kalian berdua terus menerus. Terserah kalian kalau mau melanjutkan lagi perdebatan yang tidak bermanfaat ini. Aku berangkat!"
Imran langsung berbalik badan dan meninggalkan Linda bersama ibu Mu'idah.
"Ini semua gara-gara Ibu. Jika Linda beneran hamil. Jangan harap Ibu bisa menggendong anak Linda!"
Linda lalu membanting sapu yang dibawanya. Setelahnya, dia pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu Mu'idah yang hanya diam saja.
Rumah tangga dan keluarga yang sangat indah dipandang oleh para tetangga bukan? Karena para tetangga pasti ada bahan gosip untuk dibicarakan. Wkwkwk.
Saat ini mereka semua sudah pada duduk manis di ruang tamu rumah kakek Idris. Tadi setelah sampai di rumah kakek Idris. Medina langsung memperkenalkan Dyah dan Malik kepada keluarganya. Dan beruntungnya, kakek Idris, nenek Khadijah dan juga Nasir menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Tapi tidak dengan Emyr.
Karena Emyr masih berpikir, jika Dyah dan Malik yang ada dihadapannya saat ini adalah orang yang pernah bertemu dengannya di masjid dulu.
"Saya permisi sebentar mau ke kamar mandi."
Semua orang hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Emyr. Tapi ternyata Emyr tidak masuk ke dalam kamar mandi, melainkan masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar. Emyr langsung mencoba menghubungi nomor ponsel Dyah. Dyah yang sedang sibuk mengobrol langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedang menelpon.
"Tuan Emyr!" ucap Dyah di dalam hatinya.
"Maaf! Saya permisi sebentar."
Semua orang hanya mengangguk saja, ketika Dyah berpamitan ingin mengangkat teleponnya.
Ketika Dyah sudah sedikit menjauh dari mereka semua. Dyah langsung mengangkat sambungan telepon dari Emyr. "Halo! Assalamu'alaikum Tuan Emyr."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Nona Dyah. Jika boleh tahu, Anda ada di mana sekarang?"
Walau sedikit merasa bingung, Dyah tetap menjawabnya. "Dyah sedang mengunjungi mantan kakak ipar saya, Tuan, mbak Shanum."
"Apakah saat ini Anda berada di rumah kakek Idris?"
Dyah benar-benar merasa terkejut. "Ba-bagaimana Anda bisa tahu?"
"Saya laki-laki yang berkacamata yang duduk di sebelah Nasir."
"Hah! Apa!" Dyah benar-benar terkejut sekali. Karena tadi, Emyr belum memperkenalkan diri, tapi sudah keburu masuk ke dalam kamar.
"Ja-jadi, laki-laki itu Anda?"
"Iya! Dan sekarang saya sudah tahu, siapa Shanum yang tinggal di sebelah rumah kakek Idris."
"Dia mbak Shanum yang dulu pernah kehilangan ponselnya, Tuan. Dan saya mohon, Anda jangan memberitahukan jika ponselnya berada di saya."
Semua kilasan balik cerita dari kakek Idris tentang Shanum. Cerita dari Dyah, kisah yang dia baca di diary ponsel Shanum dulu teringat diingatan Emyr sekarang.
"Baiklah! Saya mengerti. Bukankah dulu dia tidak memakai cadar?"
"Iya! Semua itu, mbak Shanum lakukan untuk memperbaiki diri dan menjaga diri dari para laki-laki."
Entah kenapa Emyr merasa bahagia mendengar penjelasan dari Dyah tentang Shanum.
"Nanti kita lanjutkan lagi mengobrolnya, supaya tidak ada yang curiga sama kita. Kamu bergabunglah lagi sama yang lainnya. Dan berpura-puralah kita belum saling mengenal."
"Baik Tuan Emyr."
Setelah itu mereka sepakat untuk mengakhiri sambungan teleponnya. Selesai menelpon Dyah, Emyr langsung kembali bergabung dengan yang lainnya. Begitupula dengan Dyah, yang juga ikut bergabung bersama mereka.
Mereka berbincang santai, makan bersama dan menikmati kelucuan dari baby Fatiyah dan juga baby Naura.
Ketika sudah mengetahui siapa Shanum yang saat ini ada di depan matanya. Entah kenapa mata Emyr semakin tidak mau lepas darinya. Dia selalu mencuri pandang, apalagi ketika melihat Shanum tersenyum dan tertawa seperti sekarang. Rasanya Emyr ingin selalu menghadirkan tawa itu di wajah Shanum.
Walau dia baru mengenal Shanum hitungan jari, tidak tahu kenapa, Emyr seperti bisa merasakan rasa sakit yang sudah dirasakan oleh Shanum selama ini. Dia ingin sekali menjadi pelangi di kehidupan Shanum setelahnya. Dan memberikan kebahagiaan yang selama ini cuma ada di dalam mimpinya saja.
Tidak ada yang menyadari jika Emyr selalu curi pandang kearah Shanum. Kecuali Dyah. Dan Dyah nanti akan bercerita dengan Malik siapa itu Emyr. Karena Malik tadi terlihat sedikit terkejut, ketika mendengar teman Nasir bernama Emyr.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...